Sabtu, 27 Februari 2010

Melacak jaringan ulama Nusantara

Melacak Jaringan Ulama Melayu dan Perannya
NADWAH adalah pertemuan para tokoh berbagai bidang dalam bentuk kajian dan seminar untuk mengenang jasa ulama Nusantara. Nadwah Ulama Nusantara III yang melibatkan Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina berlangsung pada 15-17 April di tapal batas Negeri Pulau Pinang, Malaysia.
Nadwah kali ini bertema ''Ulama Penjana Tamadun Melayu''. Artinya, ulama menjadi penunjang keterwujudan peradaban Islam Melayu. Tema ini cocok karena ulama menjadi penentu corak kehidupan masyarakat. Sangat besar peran mereka dalam mewujudkan peradaban Islam di bumi bangsa-bangsa Melayu terutama dalam membentuk masyarakat berilmu.
Jaringan Ulama
Tidak disangkal, adanya jaringan ulama Nusantara sejak abad 17 telah menunjang penyebaran keilmuan dan keintelektualan Islam di Melayu. Mereka berperan besar dalam menunjang kemajuan dan peradaban Islam. Mereka antara lain Syekh Ahmad Al Fathani, Syekh Nik Mat Kecik Al Fathani, dan Syekh Ahmad Khatib Abdul Latif al-Minangkabawi.
Syekh Ahmad al-Fathani lahir di Jambu, Thailand selatan pada 1856 M/ 1272 H. Dia lahir dalam kondisi negerinya tertindas dan terjajah sehingga bersama orang tuanya merantau ke Makkah. Di kota suci ini dia menunjukkan diri sebagai anak yang rajin belajar dan luar biasa hafalannya. Dalam usia 12 tahun, dia sanggup mengajar ilmu tata bahasa Arab (nahwu, sharaf, dan lain lain).
Dari Makkah, dia menuntut ilmu ke Baitul Muqaddis dan belajar ilmu kedokteran/ilmu tabib. Menurut riwayat, beliaulah orang Melayu pertama yang mahir ilmu tabib dan mendapat pendidikan khusus di bidang itu yang berlainan dengan tabib-tabib tradisional saat itu. Kembali ke Makkah, dia belajar kepada guru-guru Patani, seperti Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani. Setelah itu, dia menuntut ilmu ke Mesir yang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan keislaman dengan kemegahan Al-Azharnya.
Dai orang pertama dari Asia Tenggara yang belajar di Mesir. Sekembali dari Mesir, dia mengajar di Makkah hampir 15 tahun. Dia termasuk salah satu ulama Melayu yang mempunyai ilmu menyeluruh dan menulis 160 kitab. Yang berbahasa Arab 32 buah, berbahasa Melayu 22 buah, dan bidang pentashihan 36 kitab. Dia wafat di Mina ketika berhaji sunnah pada 11 Zulhijah 1325 H dan dimakamkan di MaĆ­la, dekat Umul Mukmin Siti Khadijah.
Hubungan Ulama Melayu-Jawa
Murid utama Syekh Achmad al Fathani adalah Kiai Haji Muhammad Khalil. Dia dari keluarga ulama di Desa Kemayoran, Bangkalan, Madura. Pendidikan dasar agama dia peroleh dari keluarga. Menjelang dewasa, dia dikirim ke berbagai pesantren. Antara lain ke Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan, Tuban, Jatim. Dia melanjutkan pelajarannya ke Makkah. Di sana, bersahabat dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.
Ulama-ulama Melayu di Makkah yang seangkatan dengannya, selain Syekh Nawawi (lahir 1230 H/1814 M) adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani (1233 H/1817 M), Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (1234 H/1818 M), dan Kiai Umar bin Muhammad Saleh Semarang (Kiai Soleh Darat Semarang). Sebelum berangkat ke Makkah, Kiai Khalil menghafal beberapa matan dan yang dia kuasai dengan baik, yaitu matan Alfiyah Ibnu Malik yang terdiri atas 1.000 bait ilmu nahwu. Selain itu, dia adalah hafiz (penghafal Alquran) dengan tujuh cara membacanya (qiraah).
Ketika di Makkah, Kiai Khalil tak pernah lelah belajar, kendati gurunya lebih muda, yaitu Syekh Ahmad al-Fathani. Dia sangat hormat dan tekun mempelajari ilmu yang diberikan sang guru. Sepulang dari sana, dia tersohor sebagai ahli nahwu, fikih, dan tarekat di Jawa. Untuk mengembangkan pengetahuan keislamannya, Kiai Khalil mendirikan pesantren di Desa Cengkebuan. Dia wafat dalam usia 106 tahun pada 29 Ramadan 1341 H atau 14 Mei 1923 M.
Kiai Khalil Al-Maduri termasuk generasi pertama yang mengajarkan karya Syekh Ahmad al-Fathani berjudul Tashilu Nailil Amani, kitab tentang nahwu di pesantrennya di Bangkalan. Karya al-Fathani kemudian berpengaruh dalam kajian ilmu nahwu di Madura dan Jawa sejak itu.
Bahkan, hingga sekarang masih dipelajari di banyak pesantren tradisional (salaf) Jawa dan Madura. Murid-murid Kiai Khalil yang mengikuti jejaknya adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Pesantren Tebuireng, Jombang dan pendiri NU.
Kemudian, KH Abdul Wahhab Hasbullah, pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang; KH Bisri Syamsuri, pendiri Pesantren Denanyar, Jawa Timur; KH Ma'shum, pendiri Pesantren Lasem, Rembang; KH Bisri Mustofa, pendiri Pesantren Raudhatul Thalibin, Rembang; dan KH As'ad Syamsul Arifin, pendiri Pesantren Asembagus, Situbondo, Jatim. (41j)
- Drs H Bedjo Santoso MT, ketua Forum Studi Ekonomi Islam dan Kebijakan FE Unissula Semarang, pemateri pada Nadwah Ulama Nusantara III di Pulau Pinang, Malaysia
http://www.suaramerdeka.com/harian/0604/24/nas17.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar