Sabtu, 27 Februari 2010

Kesultanan Majapahit 3

KESULTANAN MAJAPAHIT 3

DARI CANDRA SENGKALA
“ILANG SIRNA KERTANING BHUMI” (1478) HINGGA
ARMADA SABILILLAH DEMAK
(1521)

1466-74
Bhre Pandan Salas/ Singha Wikrama Wardhana memerintah Majapahit Barat di Bhreng Daha
selama 8 tahun

Bhre Pandan Salas bergelar Prabu Singha Wikrama Wardhana. Putranya bernama Rana Wijaya dipersiapkan menggantikan tahtanya. Beliau memerintah Majapahit Barat berpusat di Bhreng Daha (Kediri).


1466M/ 1388 Saka
(Dwi Naga Salira Wani)
Masjid Demak Bintara Mulai Dibangun

1. Panglima Demak Bintara pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan, memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/ Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.
2. Candra sengkala ini terdapat di pintu utama masjid Demak. Angka tahun ini besar kemungkinan menunjukkan tahun awal pendirian masjid Demak.
3. Kyai Ageng Sela pada awal pembangunan masjid Demak “memegang” petir di halaman Masjid Demak. Beliau melakukan hal itu di hadapan wali-wali lainnya. Peristiwa ini kemudian abadikan sebagai ornamen pintu utama masjid. Peristiwa ini merupakan pertanda mulai dibangunnya Demak Bintara.
4. Kyahi Ageng Sela bernama Sayyid Abdurrahman adalah putra Kyahi Ageng Sayyid Getas Pendawa (Kyahi Ageng Tarub III), cucu dari Kyahi Ageng Tarub II (Kyahi Ageng Sayyid Bondhan Kejawan) + Dewi Nawangsari

Bhre Kertabhumi Maneges

Bhre Kertabhumi manages. Beliau berkelana dan berguru kepada Sunan Ngampel di Ngampel Denta , Surabaya.

Bhre Kertabhumi Menjadi Adik Ipar Sunan Ngampel

Di Ngampel Denta Bhre Kertabhumi dinikahkan dengan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Gusti Ayu Andarawati Al Akbar adalah adik Sunan Ngampel atau R. Rakhmat Al Akbar. Beliau berdua adalah putra-putri Syekh Ibrahim Al Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja). Jadi silsilah beliau berdua adalah:

R. Rakhmat Al Akbar dan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar bin/binti Syekh Ibrahim Al Akbar (Campa) bin Syekh Maulana Al Akbar (Gujarat, India).
Nama-nama Al Akbar-As Shaghir, Al Kubro-As Sughro, adalah nama-nama khas keturunan Imam Besar Ali bin Abithalib. Beliau adalah Amirul Mukminin, Khalifah Umat Islam seluruh dunia bertahta di Kuffah tahun 656-661M.


1468-78
Bhre Kertabhumi (Bhrawijaya V) menobatkan diri sebagai raja Majapahit Timur di Tumapel
selama 10 tahun

Kertabumi menjadi raja Majapahit Timur dan berpusat di Kota Tumapel, bekas ibukota Majapahit Timur (di masa Wikrama Wardhana). Ia adalah putra Bhre Pamotan/ Rajasa Wardhana, sebelum masa vakum pemerintahan Majapahit. Bhre Wirabhumi bergelar Sultan Bhrawijaya V. Beliau adalah cikal bakal raja-raja di Jawa. Memiliki banyak istri dan 117 anak.

1474-1519
Rana Wijaya/ Girindra Wardhana memerintah Majapahit Barat di Breng Daha selama 45 tahun

Beliau adalah Sunan Giri Sepuh/ Prapen?

1478M/ 1400 Saka:
Prapanca’s Ilang Sirna Kertaning Bhumi

Mpu Prapanca memperkirakan akan datangnya sebuah era keruntuhan Islam di seluruh dunia. Sesanti beliau berbunyi ilang sirna kertaning bhumi yang juga sebagai candra sengkala (penanda tahun oleh para pujangga jaman dahulu) sebagai 1400 tahun saka atau 1478 Masehi.

1478: Sultan Girindrawardhana Menyatukan Kembali Majapahit Barat-Timur

Tahun 1478, Sultan Girindrawardhana mempersatukan kembali Majapahit. Bhre Kertabhumi menyerahkan tahta Tumapel. Majapahit bersatu kembali dan diperintah Girindra Wardhana selama 41 tahun.

Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) Berkelana

Setelah mengundurkan diri dari tahta Majapahit Timur di Tumapel, Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) melarikan diri/ berkelana ke Barat. Beliau lalu mempersiapkan berdirinya Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara. Hal ini dilakukan demi menghalau masuknya Portugis ke Selat Malaka. Sebagaimana diramalkan oleh Ulama Besar Majapahit Mpu Prapanca.
Beliau mempersiapkan semua ini bersama-sama para wali tanah Jawa. Di samping itu juga melibatkan putra-putra beliau, antara lain:
1. R. Fatah Al Akbar/ P. Jimbun/ Sayyid R. Bagus Kusen dari Ibunda Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Beliau adalah putra Sultan Bhrawijaya V yang kelak terpilih menjadi Panglima Perang Armada Sabilillah Lautan Majapahit. Gelarnya Syah Alam Akbar I.
2. R. Harya Katong/ Bethara Katong/ P. Lembu Kanigara/ R. Joko Piturun (Dari istri Nyahi Ageng Bagelen, dimakamkan di Bagelen, Purworejo). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Ponorogo. Ulamanya Kyahi Ageng Mirah/ Kyahi Ageng Muslim putra bin Kyahi Ageng Gribig , Jatinom (Klaten). Mereka dimakamkan di Ponorogo.
3. R. Harya Gugur / P. Lembu Kenanga/ R. Kudha Penoleh (juga dari istri Nyahi Ageng Bagelen ). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Pamekasan, Madura.
4. Kangjeng Ratu Pembayun, istri Kyahi Ageng Wuking I/ Sri Hamengkurung Handayaningrat yang menjabat sebagai Adipati Majapahit di Pengging . Makam beliau berada di Masaran, Butuh, Sragen.
5. Pangeran Bondhan Kejawan/ R. Lembu Peteng/ Kyahi Ageng Tarub III. Makam beliau di Sela, Purwadadi.
6. Pangeran Bondhan Surati, seperti kakaknya juga menjadi Kyahi Ageng Bondhan Surati. Makam beliau berada di wilayah Sada, Paliyan, Gunung Kidul.
7.

1479M/1401 Saka: Candra Sengkala Penyu (Kura-kura) di Masjid Demak, berdirinya Masjid Demak Bintara

1. Candra sengkala penyu di dinding pengimaman Masjid Demak ini menunjukkan tahun berdirinya masjid Demak Bintara. Kepala berarti angka 1, kakinya berjumlah empat berarti angka 4, badan penyu berarti angka 0, dan ekor penyu berarti angka 1. Jadi keseluruhan simbol tersebut berarti angka tahun 1401 Saka atau 1479 masehi.
2. Masjid Demak Bintara didirikan oleh Wali Sanga. Teras masjid Demak ini merupakan pusaka dari Majapahit sebagai tanda restu dan legalitas Majapahit atas berdirinya Kerajaan Demak Bintara. Pusaka Majapahit tersebut berupa saka pendapa Majapahit Timur di Tumapel, yang diantarkan langsung oleh Prabu Brawijaya V dan putra beliau Pangeran Bondan Kejawan dan Pengeran Bondan Surati.
3. Pangeran Bondan Kejawan ini mengundurkan diri sebagai penerus Brawijaya V, ia memilih hidup sebagai ulama-kyai bernama Kyahi Ageng Tarub III .
4. Pangeran Bondan Surati juga menjadi Ulama-Kyahi diwilayah selatan Jawa.

1480(?): Adipati Yunus Lahir

Adipati Yunus lahir. Beliau adalah putra R. Muhammad Yunus (Wong Agung Jepara, adipati MAjapahit di Jepara) + putri Pembesar Majapahit. Nama beliau sesungguhnya adalah R. Abdul Qadir Al Idrus. Silsilahnya adalah sebagai berikut:
R. Abdul Qadir Al Idrus bin R. Muhammad Yunus Al Idrus bin Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam.
Ayah Pati Unus adalah R. Muhammad Yunus Al Idrus seorang Bupati Majapahit di Jepara. Beliau bergelar Wong Agung Jepara.
Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam, leluhur Pati Unus adalah seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husayn (Qaddasallohu Sirruhu) putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra.
1481: Syah Alam AkbarI Dinobatkan
Senapati Sarjawala di Demak Bintara yang pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan. Beliau memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/ Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.
A. Ong Tien (Putri Ming Hong Ki) datang ke Cirebon
Putri Kaisar Ming Hong Ki yakni putri Ong Tien datang ke Cirebon. Beliau dikirimkan ayahandanya untuk bergabung dengan Sunan Gunung Jati. Putri Ong Tien akhirnya menjadi istri Sunan Gunung Jati. Pernikahn inisekaligus menjadi lambang dukungan Kaisar Ming terhadap Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala.
Sebagai cenderamata kepada S. Gunung Jati, Kaisar Ming menghadiahkan nama China untuk beliau yakni Tan Beng Hoat. Di samping itu beliau dihadiahi sepasang dipan yang terbuat dari batu Giok.
Sunan Gunung Jati ketika itu berusia 40 tahun. Istri beliau yang keturunan raja Sunda baru saja wafat. Beliau bernama Nyahi Ageng Pakungwati.

B. Sunan Gunung Jati dinobatkan Menjadi Imam Nuswantara

S. Gunung Jati dinobatkan menjadi Imam di Nuswantara. Beliau bergelar: Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala. Hal ini dilakukan Orang muslim Nuswantara untuk mengantisipasi runtuhnya wewenang Islam di Eropa dan Timur Tengah. Upacara ini dilakukan di Masjid Cipta Rasa, Cirebon.

1486: Putri Ong Tien Wafat

Istri Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala, yakni Gusti Ayu Ong Tien, wafat. Beliau baru 5 tahun mendampingi sang Khalifah.

***

31 Maret 1492
Runtuhnya Granada di Spanyol

Secara perlahan-lahan seluruh wilayah daulat Islamiyah di Spanyol -yang sebelumnya dikuasai Dinasti Ummayah- menyerahkan diri kepada Ratu Isabella (Spanyol) dan Raja Ferdinand (Portugis).

1 April 1492
Dekrit Alhambra

“April Mop”, Jum'at Wage, 1 April 1492M, 23 Jumadilawal 1409, tahun Wawu, Windu Kuntara, 23 Jumadilawal 897H adalah hari diberlakukannya Dekrit Alhambra. Dekrit Alhambra yang ditandatangani oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, diberlakukan. Masjid Alhambra yang terbesar kedua di dunia, kemudian berubah fungsi menjadi gereja Katolik Kerajaan Spanyol.
Dengan berlakunya dekrit ini, seluruh dunia muslim (Islamistand) dianggap telah menjadi hak milik Spanyol dan Portugis. Islamistand dibagi menjadi dua wilayah, yakni Hindia Timur (Oost Indische) atau Nuswantara dan Hindia Barat (West Indische) atau benua Amerika sekarang.
Hal ini merupakan suatu pernyataan dari kaum Kolonial bahwa seluruh Islamistan secara legal-formal telah menjadi milik Spanyol dan Portugis. Raja Ferdinand segera menyiapkan Armada besar untuk menguasai Oost Indische/ Hindia Timur/ Nuswantara. Mereka menyandarkan hak mereka atas wilayah tersebut kepada Dekrit Alhambra ini.
Denikian halnya dengan Spanyol, mereka menyiapkan Armada yang dipimpin Christopher Colombus ke West Indische (Amerika).

Dekrit Alhambra
“The Kings Ferdinand and Isabella, by the grace of God, King and Queen of Castile, Leon, Aragon and other dominions of the crown - to the prince Juan, to dukes, marquees, counts, the holy orders, priors, knight commanders, lords of the castles, cavaliers, and to all Jews, men and women of whatever age, and to anyone else this letter may concern - that health and grace be unto them. It is well known that in our dominion, there are certain bad Christians that became 'Judaized' and committed apostasy against our Holy Catholic faith, much of it the cause of interactions between Jews and Christians. Therefore, in the year 1480, we ordered that the Jews be separated from the cities and towns in our domains and that they be given separate sectors, hoping that with such separation the situation would be remedied, and we ordered that the Inquisition be established in such domains; and at the end of twelve years it has worked and the Inquisition has found many guilty persons. Furthermore we are informed by the Inquisition and others of the great harm that persists to the Christians as they interact with the Jews, and in turn these Jews try by all manners to subvert our Holy Catholic faith and are trying to prevent faithful Christians to grow close to their beliefs.
These Jews have instructed these Christians in the ceremonies and observances of their laws, circumcising their children, and giving them books with which to pray, and declaring unto them the days of fasting, and meeting with them to teach them the histories of their laws, notifying them when to expect the celebration of Passover and how to observe it, giving them the unleavened bread and ceremonially prepared meats, and instructing them in things from which they must abstain, both with regard to food items and other things requiring observance of the laws of Moses, making them fully understand that there is no other law or truth outside of this. And this is made clear based on the confessions from such Jews as well as those perverted by them that it has resulted in great damage and detriment of our Holy Catholic faith.
And since we knew the true remedy of such damages and difficulties lay in the interfering of all communications between the said Jews and the Christians and sending them forth from all our dominions, we sought to content ourselves with ordering the said Jews from all the cities and villages and places of Andalusia where it appeared that they had done the most damage, and believing that this would suffice so that those and other cities and villages and places in our reigns and holdings would be effective and would cease to commit the aforesaid. And because we have been informed that neither this, neither is the case nor the justices done for some of the said Jews found very culpable in the said crimes and transgressions against our Holy Catholic faith have been a complete remedy to obviate and to correct such opprobrium and offense. And to the Christian faith and religion it appears every day that the said Jews increase in continuing their evil and harmful purposes wherever they reside and converse; and because there is no place left whereby to more offend our holy faith, as much as those which God has protected to this day as in those already affected, it is left for this Holy Mother Church to mend and reduce the matter to its previous state, due to the frailty of the human being, it could occur that we could succumb to the diabolical temptation that continually combats us, therefore, if this be the principal cause, the said Jews if not converted must be expelled from the kingdom.
Because when a grave and detestable crime is committed by some members of a given group it is reasonable that the group be dissolved or annihilated, and the minors by the majors will be punished one by the other; and those who permit the good and honest in the cities and the villages, and by their contact may harm others, must be expelled from the group of peoples, and despite minor reasons, will be harmful to the Republic, and all the more so for the majority of these crimes, would be dangerous and contagious. Therefore, the Council of eminent men and cavaliers of our reign and of other persons of knowledge and conscience of our Supreme Council, and after much deliberation, it is agreed and resolved that all Jews and Jewesses be ordered to leave our kingdoms and that they not be allowed to ever return.
We further order in this edict that all Jews and Jewesses of whatever age that reside in our domain and territories leave with their sons and daughters, servants and relatives large or small, of all ages, by the end of July of this year, and that they dare not return to our lands and that they do not take a step across, such that if any Jew who does not accept this edict is found in our kingdom and domains or returns will be sentenced to death and confiscation of all their belongings.
We further order that no person in our kingdom, notwithstanding social status, including nobles, that hide or keep or defend any Jew or Jewess, be it publicly or secretly, from the end of July and following months, in their homes or elsewhere in our reign, risking as punishment loss of all their fiefs and fortresses, privileges and hereditary rights.
So be it that the Jews may dispose of their households and belongings in the given time period, for the present we provide our compromise of protection and security so that by the end of the month of July they may sell and exchange their belongings and furniture and any other item, and dispose of them freely per their assessment, that during said time no one is to do them harm or injury or injustice to their persons or to their goods, which would be unjustified, and those who would transgress this shall incur the punishment that befalls those who violate our royal security. We grant and give permission to the above mentioned Jews and Jewesses to take with them and out of our reigns their goods and belongings, by sea or by land, excepting gold and silver or minted money or any other item prohibited by the laws of the kingdom. Therefore, we order all councils, magistrates, cavaliers, shield-bearers, officials, good men of the city of Burgos and of other cities and villages of our kingdom and dominions, and all our vassals and subjects, that they observe and comply with this letter and all that is contained in it, and that they give all the type of help and favor necessary for its execution, subject to punishment by our sovereign grace and by confiscation of all their goods and offices for our royal house. And so that this may come to the notice of all, and that no one may pretend ignorance, we order that this edict be proclaimed in all the plazas and meeting places of all cities and in the major cities and villages of the diocese, that it be done by the town crier in the presence of the public scribe, and that no one nor anybody do the contrary of what has been defined, subject to the punishment by our sovereign grace and annulation of their offices and confiscation of their goods to whosoever does the contrary. And we order that it be evidenced and proven to the court with signed testimony specifying the manner in which the edict has been carried out.
Given in this city of Granada the thirty first day of March in the year of our Lord Jesus Christ 1492. Signed, I, the King, I the Queen, and Juan de Coloma, Secretary of the King and Queen who has written it by order of our Majesties.”

1493
Perjanjian Caetera
Antara Potugis dan Spanyol

1494
Perjanjian Tor de Silas
Antara Portugis dan Spanyol

1500: R. Abdul Qadir Al Akbar Al Idrus (Adipati Yunus) Menikah dengan Gusti Ayu binti Al Fatah Al Akbar

Pada usia 20 tahun, Adipati Yunus menikah dengan Gusti Ayu putri binti P. Fatah Al Akbar. P. Fatah juga memiliki darah Champa/ China dari ibunya Ratu Ayu Andarawati istri Brawijaya V dan Arya Damar (sebagai garwa triman). Dari pernikahan ini mendapat dua orang putra gagah berani. Yang pertama sebut saja Cucu R. Fatah (belum diperoleh keterangan) dan yang kedua dikenal sebagai Sayyid R. Abdullah Al Idrus.
Setelah pernikahan ini beliau diangkat menjadi Adipati Majapahit di Jepara (meneruskan ayahnya: R. Muhammad Yunus, Wong Agung Jepara).

1506
Pelayaran I Christophorus Colombus

1. Christophorus Colombus mantan terpidana mati di Spanyol ditugaskan Ratu Isabela untuk berlayar melintasi lautan Pasifik menuju ke daratan Amerika, atau disebut juga sebagai Hindia Barat. Amerika kemudian menjadi tempat pembuangan bagi para narapidana dari Spanyol.
2. Perjanjian Tor de Silas
3. Pelayaran Vasco de Gama
4. Pelayaran Alburqurque
5. Pelayaran Magelhans

***

1509
Benteng Mataram Islam Kotagedhe berdiri

1. Benteng Mataram Kotagedhe didirikan ketika Demak Bintara baru 36 tahun berdiri. Pemrakarsanya Kyai Ageng Sela (Sayyid Abdurrahman) dan putranya Kyai Ageng Anis/ Henis/ Ngenis dari Grobogan, Boyolali. Kyai Ageng Henis dimakamkan di Makam Pajang Laweyan, belakang Masjid peninggalan Pajang di Laweyan, Solo. Sedangkan makam Nyai Ageng Henis dimakamkan di tengah langgar/ mushala pusaka Kerajaan Islam Mataram Kotagedhe.
2. Di lingkungan Benteng Mataram Kotagede sudah tinggal keluarga Pangeran Jayaprana (keturunan Majapahit) dan keluarga Kyai Ageng Mangir.
3. Peristiwa dan situs ini menjadi penanda bagi sistem petanda bahwa Kerajaan Islam Mataram telah dipersiapkan 77 tahun sebelumnya oleh para raja, wali, ulama, dan kyai di tanah Jawa.
4. Hal ini terjadi karena para leluhur tanah Jawa telah mempersiapkan sebuah benteng pertahanan Islam di pesisir selatan pulau Jawa.
5. Panembahan Senapati kelak dinobatkan menjadi Panglima Perang di area pertahanan ini tahun 1586M (77 tahun kemudian).

1510-47
Sultan Daeng Matanre
bertahta di Gowa-Tallo, Sulawesi Selatan
selama 37 tahun

Sultan Daeng Matanre menyatukan seluruh kekuatan di Sulawesi Selatan menjadi satu kekuatan Gowa-Tallo . Peristiwa ini menjadi penting terkait dengan dukungan ahli-ahli pembuat kapal kayu dalam mempersiapkan 375 unit kapal untuk Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara.

1511: Malaka Jatuh ke Tangan Portugis

1. Kerajaan Malaka penjaga selat Malaka, dikuasai Portugis. Selat malaka adalah pintu masuk pintu masuk Armada Kolonial ke Nuswantara.
2. Adipati Yunus Al Idrus dinikahkan dengan Putri Ayu binti Sunan Gunung Jati Al Athas. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang putra gagah berani yang gugur syahid di medan perang Malaka.
3. Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah Al Athas juga keturunan China dari Dinasti Ming Islam, sehingga memiliki nama China sebagai Tan Eng Hoat.

Catatan:
Secara probabilistik di Nuswantara Majapahit terbentuk wajah-wajah kombinasi Parsi-China.

Adipati Yunus Diangkat Menjadi Senapati Sarjawala

Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah Al Athas sebagai sesepuh para waliyullah mengangkat Adipati Yunus sebagai Senapati Sarjawala. Beliau menjadi Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Majapahit. Armada ini merupakan gabungan dari Demak-Banten-Cirebon. Markas besarnya adalah di Pelabuhan Armada Laut Majapahit Demak Bintara.
1512: P. Pandanaran Hijrah ke Selatan

1. Pangeran Adipati Majapahit di Pandanarang I, hijrah dari pesisir utara (Semarang) ke pesisir selatan (Tembayat, Klaten). Di Tembayat beliau bergelar Sunan Tembayat/ Sunan Pandanarang/ Risang Guru Hyang Wisnumurti.
2. Beliau hijrah bersama istrinya dan dikawal oleh Syeh Dumba.

1512: Kerajaan Samudra Pasai Jatuh ke Tangan Portugis

Salah satu penjaga selat Malaka yakni Kerajaan Samudra Pasai jatuh ke tangan Portugis. Putra Mahkota kerajaan bernama Tubagus Pasai/ Fatahillah/ Faletehan/ Faltehan melarikan diri ke Demak dan bergabung dengan Armada Laut Sabilillah. Kelak beliau ini menggantikan posisi Adipati Yunus.
Jatuhnya Malaka dan Pasai ke Portugis merupakan ancaman bagi keindahandan ketentraman hidup di Nuswantara yang muslim sejak dahulu kala. Apalagi Portugis membawa Naskah Alhambra (1492), Caetera (1493), dan Tor de Sillas (1494). Ini berarti awal dari sebuah penguasaan atas seluruh tanah Hindia Timur atau Nuswantara oleh Armada Kolonial/ Portugis.
Dengan demikian ramalan Prapanca terbukti. Bahwa Nuswantara yang tata titi tentrem kerta raharja dan gemah ripah loh jinawi akan segera sirna. Akan segera berganti dengan jaman Kalabendu, yakni jaman penguasaan Armada Kolonial di seluruh dunia muslim. Ilang sirna kertaning bhumi.
Maka untuk menghalau mahapralaya ini tidak ada kemungkinan lain kecuali melawannya dengan perang suci, perang sabilillah. Para wali di tanah Jawa dan seluruh Nuswantara kemudian bersatu dan seia sekata untuk maju kemedan laga. Sesepuh untuk peperangan sabilillah Nuswantara ini adalah Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah/ Sayyid R. Tan Eng Hoat. Seorang ulama keturunan Parsi-China dan berdarah keturunan Nabi Muhammad SAW.

Tomi Pires (mata-mata Portugis) masuk ke Tuban

Pengelana dan mata-mata Portugis bernama Tomi Pires datang keTuban. Ia datang satu abad setelah Gan Eng Cu menulis tentang kekagumannya di Tuban.

1513: Ekspedisi Pengintaian Dikirim ke Malaka

Sunan Gunung Jati mengirim sepasukan pengintai yang bertugas menembus Benteng Portugis di Malaka. Pasukan ini kembali ke Demak Bintara dan melaporkan betapa dahsyatnya persiapan dan kesiapan Armada Laut Kolonial Portugis. Tak ada jalan lain bagi Armada Laut Majapahit Nuswantara, selain melakukan persiapan secepatnya secara besar-besaran.
Armada Majapahit Nuswantara segera menghubungi saudaranya yang berada di Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka adalah para “sayyid Bugis” jago-jago maritim yang terkenal ke seluruh dunia. Mereka menguasai area maritime yang sangat luas dari Formosa/ Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Maluku hingga ke Australia. Para sayyid Bugis ini dikenal sebagai Penguasa Lautan di Benua Timur.
Dengan bantuan dari sesama “sayyid”/ keturunan Rasulullah SAW di Gowa, maka Armada Sabilillah Laut Majapahit membangun 375 buah kapal dengan ukuran besar.
Di samping itu di daratan, terjadi persiapan dan penataan para wali, ulama, dan kyahi demi menghadapi kemungkinan terburuk dari mahapralaya ini. Bala bencana akan segera datang sebagai air bah dan badai yang dahsyat. Tak mungkin melawannya dan takmungkin membendungnya, seakan sudah menjadi ketetapan Ilahi. Maka yang bisa dilakukan kaum muslimin hanya memohon pertolongan Allah SWT belaka.
Sejak saat itu maka seluruh Nuswantara/ Majapahit hanya memiliki satu tekad yakni melaksanakan perang suci, sabilillah. Tak ada jalan lain. Kolonialisme adalah sebuah takdir yang harus diterima kaum Muslimin dunia, termasuk yang hadup di Nuswantara/ Majapahit. Sudah 1000 tahun sejak Rasulullah SAW masih hidup, kaum muslimin menjadi Tuan bagi ummat manusia, sayyidul ummah. Di atas hamparan geografis yang maha luas, meliputi seluruh dunia. Dan melaksanakan perang suci, sabilillah menjadi satu-satunya kewajiban dan pilihan yang bisa dilakukan kaum muslimin saat itu. Hanya dengan ini saja cara kaum muslimin bertahan.
Maka sejak Kyahi Ageng Prapanca menyatakan sabdanya ilang sirna kertaning bhumi, menandakan akan terjadinya sebuah perubahan. Perubahan besar pada jaman dan dunia tempat manusia menggantungkan hidupnya. Tak mungkin manusia menghindari. Sunan Kalijaga berpesan dalam hal ini, manuta mili playuning banyu, nanging ywa kongsi keli. Ikutilah arus perubahan jaman itu, namun jangan sampai hanyut. Sebuah pilihan yang sulit.

1513: Sultan Daeng Matanre Membangun Kapal-kapal Armada Sabilillah

Para ahli teknologi maritim dari Gowa-Tallo sejak 1513 mulai membuat kapal-kapal laut untuk Armada Laut Sabilillah Nuswantara/ Majapahit. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara benar-benar sebuah Armada Kesatuan seluruh Nuswantara. Bukan hanya Demak-Banten-Cirebon (di P. Jawa) yang bersatu, namun juga Gowa-Tallo berikut seluruh sekutunya di seluruh Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Australia.
Sementara yang bela adalah Kekuatan Islam di Sumatera Utara. Terutama Kerajaan Malaka dan Pasai sebagai penjaga arus masuknya kapal layar ke Nuswantara dari Selat Malaka.

1521: Perang Sabilillah Melawan Kumpeni Portugis di Selat Malaka

Demak Bintara: Syah Alam Al Akbar II/ Adipati Unus/ P. Sabrang Lor/ Senapati Sarjawala menghadang Portugis di Selat Malaka. Peristiwa ini disebut sebagai ekspedisi Sabrang Lor, terjadi peperangan selama 3 hari 3 malam. Armada Kolonial Kumpeni Portugis saat itu sudah menguasai Malaka dan Pasai.
Penguasaan Portugis terhadap wilayah raja Malaka dan Pasai merupakan langkah awal bagi mereka dalam melaksanakan 3 Naskah (Dekrit Alhambra, Caetera, dan Tor de Sillas) di perairan Nuswantara.
Meskipun tidak diakhiri dengan perjanjian dengan Pihak Portugis di Selat Malaka, namun Perang Besar Sabilillah di Selat Malaka ini menjelaskan mengapa Kumpeni Portugis kemudian mengarahkan ekspedisinya ke Indonesia Timur seperti Manado, Ambon, dan Maluku. Kumpeni Portugis mengurungkan niatnya memasuki Jawa.
Para syuhada yang gugur syahid pada Sabilillah ini adalah Adipati Yunus sendiri, berikut dua orang putra beliau. Satu cucu dari R. Fatah dan satunya lagi cucu dari Sunan Gunung Jati. Panglima sementara dipegang oleh R. Hidayat sampai seluruh Armada Sabilillah Majapahit kembali ke Jawa.


1. Demak Bintara: Syah Alam III (Raden Trenggana) menghadang Portugis di Selat Malaka, bersama-sama dengan Cirebon dan Banten. Mobilisasi ini sekaligus mengakhiri kepemimpinan Demak Bintara, karena penerus Trenggana (Sunan Prawata) memilih menjadi ulama-kyahi dari pada menjadi putra mahkota Demak.
2. Putra Trenggana (Raden Prawata) mengundurkan diri sebagai calon pengganti Sultan Syah Alam III. Beliau menjadi ulama-kyai bergelar Batara Guru/ Sunan Prawata. Sunan Prawata beristrikan Ratu Kalinyamat.
3. Sunan Prawata tewas dibunuh Arya Penangsang. Istrinya (Ratu Kalinyamat) didampingi 2 orang saudarinya (sebut saja Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2) melakukan munajat/ bertapa, menuntut balas kematian Sunan Prawata.
4. Ratu Kalinyamat bertemu Danang Sutawijaya (kelak menjadi Panembahan Senapati). DS berjanji akan menuntutkan balas kepada Arya Penangsang.
5. Arya Penangsang mengundurkan diri dari menghendaki tahta Demak dan Pajang dan wafat sebagai kyai bergelar Seda Lepen. Makamnya terdapat di Kadilangu dan Kaliwungu.
6. Sebagai rasa terima kasih, Ratu Kalinyamat mengawinkan DS dengan Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2. Dari perkawinannya dengan mereka, DS dikaruniai seorang putera yang kelak sangat sakti mandraguna bernama Raden Rangga.

1. Terjadi eksodus para sunan, wali, dan kyahi dari pesisir utara ke pesisir selatan. Peristiwa ini menunjukkan terjadinya perpindahan pusat pemerintahan dalam menghadapi kolonialisme dari Demak ke Mataram. Kerajaan Pajang sebagai pengantara saja.
2. Sultan Hadiwijaya (Raja Pajang) mempersiapkan berdirinya Mataram dengan menugaskan Tiga Serangkai: Kyai Ageng Pemanahan, Panembahan Senapati, dan Kyai JuruMartani.
3. Sultan Hadiwijaya bertahta di Pajang didampingi penasihat Kyai Ageng Singaprana II.


***

1515
Belanda menjadi Negara Bagian (Jajahan) Spanyol

Kerajaan Belanda menjadi jajahan Kerajaan Spanyol di bawah duli Ratu Isabela. Kerajaan Spanyol waktu itu baru 19 tahun menguasai Andalusia. Dalam masa ini maskapai dagang orang-orang Belanda ikut meramaikan wilayah jajahan Spanyol termasuk Nuswantara.

1518: R. Fatah Al Akbar/ P. Jin Bun Wafat

Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Laut Pertama, yakni Raden Fatah/ Pangeran Jin Bun/ Raden Bagus Kasan, bergelar Syah Alam Al Akbar I, wafat. Sunan Gunung Jati dan Armada Sabilillah harus memilih pemimpin baru. Mereka harus mengangkat kembali seseorang yang telah dipersiapkan Allah SWT untuk memimpin Armada Sabilillah Laut Majapahit ini. Seseorang yang akan memagku amanat dan bergelar Syah Alam Al Akbar II (tsaniy).
Sebelum wafat, R. Bagus Kasan berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Adipati Demak Bintara berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Sayyid R. Abdul Qadir bin Yunus Al Akbar Al Idrus, Adipati Majapahit di Jepara. Beliau menjadi Syah Alam Al Akbar II atau AtsTsaniy.

1519-21: Rana Wijaya/ Prabu Girindra Wardhana Raja Majapahit wafat

1537: Sunan Pandanarang wafat di Tembayat, Wedi, Klaten
1. Sunan Pandanaran/ Sunan Tembayat (ketika masih di Semarang bernama Pangeran Adipati (Majapahit) di Pandanarang I) wafat di Tembayat, Wedi, Klaten.
2. Beliau wafat setelah mukim 25 tahun di sana. Metode syiar Islamnya disebut sebagai anjala wukir kamulyanta. Artinya, menjaring para kesatriya (arab: mujahid) yang hidup dalam kemulyaan dan keluhuran budi pekerti. Kelak Sultan Agung Hanyakrakusuma memindah makam beliau ke puncak bukit Tembayat tahun 1633, demi memuliakan beliau. Dan membangun candi “bla-bla?” sebagai pintu-pintu gerbang menuju Makam Sunan Tembayat.
3. Juga bergelar Risang Guru Hyang Wisnumurti, artinya Sang juru dakwah/ ulama yang mengajarkan perihal keutamaan Rasulullah SAW.

1542: Candi Sukuh berdiri

Candi Sukuh berdiri di lereng Lawu, Sukaharja. Candi ini dipersembahkan untuk Sultan Brawijaya V dari putra beliau Syah Alam Al Akbar I (Pangeran Jimbun/ R. Fatah/ Sayyid Raden Bagus Kusen Al Akbar) di Demak Bintara. Hal ini bisa dilihat dari lambang penyu/ kura-kura yang menjadi simbul utama candi. Simbul penyu’ kura-kura ini merupakan simbol Demak Bintara (terdapat di dinding pengimaman Masjid Demak).
Candi ini sebagaimana raja-raja Majapahit sebelumnya (misal, Candi Tigawangi dan Wanacala di Kedhiri), digunakan untuk menyepi dan tahanuts. Hal ini ditandai dengan relief Sudamala (artinya pertobatan, pensucian diri dari kehidupan dunia).

1544: Mata-mata Portugis Antonio de Paiva dari Malaka menyusup ke Gowa-Tallo

1549: Sunan Prawata wafat
1. Sunan Prawata adalah sultan ke IV Demak Bintara. Ia bergelar Sultan Syah Alam IV. Ia adalah adik Sultan Syah Alam III/ Raden Trenggana.
2. Permaisurinya adalah Ratu Kalinyamat. Selir-selirnya antara lain adalah Putri Semangkin dan Putri Prihatin.
3. Sunan Prawata wafat dibunuh Arya Penangsang, yang menuntut tahta Kesultanan Demak Bintara.

***

2 komentar:

  1. Salam kenal ..., klo tidak keberatan silahkan datang dan follow blog aku di http://majapahit1478.blogspot.com, aku dah follow blog anda, ku tunggu refollownya

    BalasHapus
  2. Salam kenal, tulisan yang informatif, kunjungi juga blogku yaaa!!! Jejak perjuangan Ki Bagus Wanabaya Putra Mangir Wanabaya
    Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah suami Kanjeng Roro Sekar Pembayun, putri Panembahan Senopati ing Mataram, perkawinan tunggalnya menghadirkan putra ki Bagus Wanabaya yang lahir di Pati Jawa Tengah pada tahun 1588, Bagus Wanabaya bersama ibunya sempat berguru pada Pangeran Benawa otra Joko Tingkir diwilayah Kendal Jawa tengah. Pada tahun 1818 bagus Wanabaya bertempur dipihak Mataram dibawah pimpinan Ki Bahurekso melawan Pos VOC di Jepara Jawa Tengah, pertempuran Jepara tersebut dimenangkan oleh pihak Mataram. Selanjutnya Ki bagus Wanabaya bersama keluarga besar Kanjeng Roro Sekar Pembayun hijrah ke Pajajaran untuk bertemu dengan orangtua Nyimas Linggar Jati istri Ki Bagus Wanabaya, adik dari sahabat karibnya yaitu Purwagalih atau disebut Ki Jepra (jenazahnya dimakamkan didalam Kebon Raya Bogor Jabar) selanjutnya karena mereka sudah berkomitment untuk membangun jaringan intelejen mataram di Batavia rombongan veteran Perang Jepara 1618 itu kembali menduduki pos di wilayah Banjaran Pucung Cilangkap Tapos Depok tepat di mata air Kali Sunter, mereka mendirikan basis gerilya dengan bimbingan Pangeran Jayakarta yang saat itu berkedudukan di Batavia diwilayah Jatinegara. Ki Bagus Wanabaya memimpin sekitar 80 tentara Mataram yang merupakan pasukan khusus yang bergerak dalam wilayah Benteng Batavia, merekalah pasukan Pandu Mataram yang kelak mempunyai peranan penting saat Sultan Agung menyerang Batavia di tahun 1628 - 1629. Sayangnya Kanjeng Roro Pembayun tak bisa menikmati buah kemenangan Mataram, beliau meninggal di Jatinegara 1625 tertembak pasukan VOC yang sedang menyerbu Pos Pangeran Jayakarta. Jenazahnya dimakamkan di Keramat Kebayunan Tapos Depok. Pada tanggal 20 September 1629 Nyimas Utari Sandijayaningsih, putri Bagus Wanabaya yang menyamar sebagai penyanyi cafe Batavia berhasil menjebak Jaan Pieters Soen Coen kedalam kamar pribadinya dan malam itu Yaan Pieter Soen Coen gubernur jendral VOC terbunuh . Dalam laporan resmi VOC JP Coen wafat akibat penyakit kholera pada tanggal 21 September 1629 kedudukannya digantikan oleh gubernur jendral Jaques Specx. Pasukan sandi khusus Mataram yang berhasil membunuh JP Coen membawa kepala JP Coen untuk diserahkan kepada Panembahan Juminah sebagai Jendral Mataram di Batavia, keberhasilan ini membuat Sultan Agung menerima saran Panembahan Juminah untuk menghentikan serbuan Mataram ke Batavia. Walaupun tak ada jasa bagi Ki Bagus Wanabaya dan keluarganya atas semua jerih payah perjuangan di benteng VOC, namun ia masih tetap berjuang hingga wafat dan dimakamkan di dekat ibunya di Kebayunan Tapos Depok, http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/2013/01/perjuangan-utari-sandijayaningsih-dalam.html

    BalasHapus