Senin, 08 Maret 2010

Penderitaan

penderitaan
0:11 [hudoyo] met malam, bu fiona.
maaf, saya agak terlambat, karena komputer saya harus saya reboot.

[fiona] malam pak....
dari tadi saya masuk keluar, soalnya belum ada siapa2
pak, mungkin yang lain tidak tahu malam ini ada chatting loh

[hudoyo] iya, bu fiona, baru tadi sore saya umumkan.

[hudoyo] @biasa: rekan 'biasa', tolong nama asli anda?

[biasa] sy ika sofa pak...slmt mlm
sy br pertama ikut chat, blom tau aturannya, mhn petunjuk...

[hudoyo] oh, met mlm, mbak ika.
"aturannya" ya cuma: jangan sampai melakukan flaming. :)

[fiona] topiknya apa ya pak untuk malam ini?

[hudoyo] belum ada :)
Anda punya topik menarik?

[fiona] tentang penderitaan saja bagaimana?
ttg hidup adalah dhukkha

[hudoyo] ya, silakan kalau mau bicara tentang penderitaan.

[hudoyo] @ika: anda di forum MMD terdaftar dengan nama apa ya?

[biasa] "biasa" pak...
msh newbie pak...br daftar :)

[hudoyo] oh, ya, anda member yang 'terbaru' ya. slamat datang di forum MMD
tahu dari mana ada situs mmd?

[biasa] terima kasih... :) sy friend'nya Bpk d FB... :)

[hudoyo] @ika: apa yang menarik anda untuk jadi friend saya?
...
@fiona: mungkin pertanyaan pertama, apa artinya dukkha?

[fiona] menurut saya ya ini pak... bukan menurut kitab2 suci

[hudoyo] @fiona: setuju sekali. tinggalkan kitab suci dlm pembicaraan di sini. :)

[fiona] dukkha adalah gejolak batin yg terus berubah
perubahan itu dukkha

[hudoyo] mengapa perubahan menghasilkan dukkha?

[fiona] saya merasakan gejolak batin ini yang membuat saya menderita

[hudoyo] ya, coba lebih dalam lagi: mengapa gejolak batin yang anda rasakan membuat anda menderita?

[fiona] gejolak batin yang tidak enak (takut, kecewa, marah, dendam, tidak puas, dst) itu tentu dukkha

[biasa] sy tdk tau dmn menarik'nya, hny berteman sj, dl sy prnh dengar ceramah Bpk d Dps Bali

[hudoyo] ceramah yang di mana? yang di restoran di Renon?

[biasa] iya Pak...

[hudoyo] @fiona: ya tentu emosi-emosi yg anda sebutkan itu tidak enak.
lalu, mengapa anda takut, kecewa, marah dst itu?

[fiona] nah gejolak batin yang enak (nyaman, gembira, senang) kok ya ternyata dukkha, karena setelah beberapa saat saya langsung menyadari bahwa semua kesenangan itu semu.
apalagi jika saya berpikir bahwa kehidupan manusia itu akan menjadi tua, sakit & meninggal

[hudoyo] pertanyaannya sama saja: mengapa timbul emosi yang enak?

[fiona] semua emosi karena bereaksi terhadap faktor2 di luar diri, menanggapi

[hudoyo] bagaimana kalau anda tidak memikirkan itu?

[fiona] itu otomatis lho pak

[hudoyo] jadi, emosi itu reaksi batin? itukah yang menyebabkan dukkha?

[fiona] ya pak

[hudoyo] otomatis karena tidak disadari.

[fiona] benar juga sih pak

[hudoyo] @ika: anda tidak tertarik untuk mencoba retret mmd di singaraja?

[biasa] skrg sy tinggal di yogya pak...

[hudoyo] @fiona: segala sesuatu berubah, berakhir. Apakah fakta itu yang menyebabkan dukkha?

[fiona] ya betul pak

[hudoyo] @ika: oh, anda pindah ke yogya. belajar?

[biasa] tdk pak, sy sdh menikah dan hidup dg suami

[hudoyo] oh, ya, sudah punya momongan?

[biasa] blm pak...

[hudoyo] mbak ika pernah ngobrol soal meditasi dengan suami?

[hudoyo] @fiona: jadi kalau begitu, selama kita hidup, karena segala sesuatu berubah, kita tidak akan pernah bebas dari dukkha?

[fiona] segala sesuatu pasti berubah... saya tahu jika batin ini diam, tidak ada gejolak yg timbul krn perubahan itu
itulah yang disebut "bukan dukkha"
tapi itupun sementara

[hudoyo] fakta bahwa segala sesuatu berubah, apakah itu yang membuat kita menderita?
lupakan dulu 'bukan dukkha' itu.

[fiona] iya betul pak
segala yang berubah, itulah sumber penderitaan saya

[hudoyo] apa iya? apa anda tidak melompat?
anda melihat segala sesuatu berubah. mengapa anda menderita melihat itu?

[fiona] terutama kalo hal2 yang saya senangi, berubah menjadi yang tidak saya senangi

[biasa] sy sendiri msh awam dgn meditasi kok pak...

[hudoyo] @ika: di mendut, tidak jauh dari yogya, ada sebuah vihara tempat retret MMD 4x setahun. pernah berkunjung ke sana?

[biasa] belum pak.. :)

[hudoyo] @ika: sekali2 main ke borobudur, lalu mampir melihat2 ke vihara mendut.

[biasa] smoga ada kesempatan pak...

[hudoyo] @fiona: masalahnya msh belum terjawab: mengapa kalau melihat hal2 yang disenangi berubah menjadi tidak disenangi menyebabkan penderitaan?
mengapa kita menyenangi sesuatu & tidak menyenangi yang lain?

[fiona] berarti saya berharap tidak ada perubahan

[hudoyo] ya, anda berharap tidak ada perubahan. apakah harapan yang tidak tercapai itu penyebab penderitaan?

[fiona] ya pak

[hudoyo] mengapa ada harapan agar tidak ada perubahan?
apakah karena anda menyenangi sesuatu yang anda harapkan tidak berubah?

[fiona] ya tentu saja pak

[hudoyo] jadi bisakah dikatakan, bahwa saya melekat pada sesuatu (fakta atau cita-cita)?

[fiona] tentu saja
sudah pasti itu kemelekatan

[hudoyo] nah, bukankah kelekatan itu sebab dari penderitaan?
artinya, kalau anda tidak melekat, anda tidak menderita, sekalipun segala sesuatu berubah.

[fiona] tentu saja :)

[hudoyo] itulah Kebenaran Kedua yang diajarkan Sang Buddha: Sebab Musabab Penderitaan adalah Kelekatan!

[fiona] ya pak :)

[hudoyo] Dari situ, gampang saja: Kebenaran Ketiga, bila kelekatan berakhir, penderitaan juga berakhir.
...
Sekarang, bagaimana caranya supaya tidak melekat?

[fiona] tapi mungkinkah saat kita menjalani kehidupan sebagai umat awam, kita tidak memiliki kemelekatan thd apapun?
saya melekat bahkan dgn mobil saya lho pak, pdhl itu benda mati

[hudoyo] Mungkin atau tidak tergantung pada kita masing-masing.
Yang penting sadari saja: kemelekatan adalah sumber penderitaan.
Mau melekat, silakan, pasti ada konsekuensinya.
tidak mungkin orang melekat tanpa menderita.
Kembali pertanyaannya: seandainya Anda tidak ingin melekat, bagaimana caranya?

[fiona] ya, bagaimana caranya pak? apalagi dlm menjalani kehidupan sehari2 sbg orang biasa ini
saya terinspirasi dgn kehidupan K

[hudoyo] Ngomong-ngomong, hidup sebagai bhikkhu pun tidak berarti bebas dari kelekatan lho. :)
sebagai orang awam atau sebagai rahib (bhikkhu) sama saja.

[fiona] bhikkhu jaman skrg kemelekatannya banyak pak
kpd handphone, laptop, viharanya, rekening bank nya, dst

[hudoyo] hehe ... betul, iming-iming punya account pribadi di bank.
sama saja dengan kita-kita.

[fiona] maka jadi bhikhhu byk kamuflase, saya menyebutnya hipokrisi terbesar abad ini

[hudoyo] bukan hanya di abad ini, melainkan sepanjang masa.
kembali pertanyaannya: bagaimana caranya supaya tidak melekat?

[fiona] ya bagaimana pak?
saya terus terang ingin mencoba hidup seperti K

[hudoyo] coba direnungkan, bagaimana caranya supaya tidak melekat?

[fiona] saya benar2 ingin mencoba, saya sedang memikirkan caranya
kalo tidak melekat total, saya belum tahu caranya
tapi kalo tidak melekat sedikit2... ini yang saya lakukan
saya tidak menimbun barang2 pak, tidak baju/sepatu/buku/atau apapun

[hudoyo] apa ada yang disebut "tidak melekat sedikit2"?

[fiona] begitu barang saya agak banyak, saya berikan orang lain
saya hidup dgn apa yg saya butuhkan saja

[hudoyo] o ya, bagus itu :)

[fiona] itu yang say sebut tidak melekat sedikit2
tapi saya masih melekat dgn keluarga, kakak2 saya

[hudoyo] 'tidk melekat' itu soal sikap batin, bukan tergantung pada banyaknya barang yang dimiliki.

[fiona] ya benar itu pak, tetapi tetap saja masih ada kemelekatan

[hudoyo] jadi, bagaimana caranya menghilangkan kemelekatan itu? Apakah kemelekatan itu bisa dilawan?

[fiona] saya ingin tahu, bgmn agar tidak melekat total?

[hudoyo] "keinginan untuk tidak melekat", apakah itu tidak menjadi kemelekatan baru?

[fiona] kemelekatan hanya bisa hilang dgn dipahami bhw itu menimbulkan penderitaan
maka tidak bisa dilawan, dibenci, ingin dihilangkan

[hudoyo] bukan dipahami "bahwa itu menimbulkan penderitaan"
kalau begitu anda ingin melawan kemelekatan itu untuk mencapai cita-cita bebas dari penderitaan.

[fiona] jadi bagaimana pak?
tidak mau melawan... karena seperti pikiran ini, kalo dilawan ngga bisa berhenti malah menjadi2
kalo pikiran, disadari langsung melemah

[hudoyo] lihat saja kemelekatan itu seperti apa adanya, tanpa mengharapkan ia akan lenyap.

[fiona] apakah nantinya ia akan lenyap?

[hudoyo] tidak tahu.
tapi lihat kelekatan itu berubah objeknya terus-menerus.
semakin lama semakin halus.
itu saja yang disadari.

[fiona] ya pak

[hudoyo] apakah bisa lenyap atau tidak, itu pikiran lagi, yang menimbulkan kelekatan baru.

[fiona] seringkali saya merasa hidup ini melelahkan :)
dgn begitu banyaknya kemelekatan

[hudoyo] jadi, tidak ada jalan atau metode untuk melenyapkan kelekatan.

[fiona] ya pak, understood

[hudoyo] setiap jalan--seperti jalan mulia berunsur delapan dalam buddhisme--hanya akan menimbulkan kelekatan baru.
itulah sikap meditatif ... yang berbeda dari sikap orang beragama.

[Raharja] selamat malam semua

[hudoyo] met mlm, Mas Raharja.

[Raharja] topiknya tentang kemelakatan ya?

[hudoyo] tentang penderitaan.

[Meyliana] malam semuanya..

[Raharja] oh maaf saya baru masuk, jadi asal tebak

[hudoyo] met mlm mbak mey.

[Meyliana] romo.. penderitaan batin ketika pikiran bergerak..?

[hudoyo] tadi sudah dibahas: mengapa pikiran bergerak menyebabkan penderitaan?

[Meyliana] yap.. hehe.. baru nyimak romo..

[hudoyo] ada apa di dalam pikiran yang bergerak itu, sampai menimbulkan penderitaan?
bukankah karena ada aku, dan aku itu melekat?
bukankah kelekatan itulah sebab penderitaan?

[Meyliana] iya romo, kadang kalau udh melekat, menimbulkan rasa sakit di dalam atau mata yg pedih.. hehe..

[fiona] pak, 8 jalan mulia itu benarkah dibabarkan oleh Sang Buddha? Beliau tercerahkan, pasti memahami bahwa jalan apapun akan menimbulkan kelekatan... K bilang Truth is a pathless land

[hudoyo] aku atau pikiran itu SELALU melekat, sedikit atau banyak.

[fiona] Jadi saya kini meragukan.... mungkin saja 8 jalan mulia itu adalah buatan bhikkhu2 setelah jaman Sang Buddha... merupakan kesimpulan2

[Meyliana] iya, kadang merasa hidup di dalam pikiran.. mendengarkan pikiran yg berkomentar..

[hudoyo] saya tidak tahu lagi apa sebenarnya yang diajarkan oleh Sang Buddha.
Sang Buddha pernah berkata kepada seorang bhikkhu senior (Anuradha): "Dari dulu sampai sekarang hanya inilah yang kuajarkan: Dukkha dan Lenyapnya Dukkha."

[fiona] ha ha... sama pak, saya juga jadi gak tahu lagi
karena ternyata semua dokumen tertulis ttg Sang Buddha itu ditulis beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha wafat
jadi mestinya adalah hasil kesimpulan2 saja... pasti ada unsur spekulasinya

[hudoyo] Itulah. Lalu ketika itu ditulis, agama buddha sudah terpecah menjadi Mahayana dan Theravada.
Yang Theravada mengajarkan pluralisme dhamma-dhamma (Abhidhamma), yang Mahayana mengajarkan kekosongan (Sunyata).
Saya melihat, seolah-olah ada dialog antara Theravada & Mahayana dalam perjalanan sejarah keduanya.

[fiona] dialog bagaimana pak?

[hudoyo] Ya itu tadi, antara pluralisme dan mistisisme.
Yang sesungguhnya ada itu apa?
Kebenaran itu bukan lagi mempunyai satu corak, melainkan terletak di balik dialog tadi.

[Raharja] Mohon pamit, saya mau mengerjakan sesuatu, selamat malam semua.

[hudoyo] met malam, Mas Raharja.

[fiona] bearti masing2 memiliki versi kebenaran sendiri? lalu yang mana yang kebenaran sesungguhnya?

[hudoyo] kebenaran yang sesungguhnya tidak bisa dirumuskan oleh pikiran dengan kata-kata.
pikiran / aku harus diam agar kebenaran sesungguhnya bisa muncul.
Kembali kepada tadi: Sang Buddha hanya mengajarkan dukkha dan lenyapnya dukkha.
Bagi seorang praktisi vipassana, dua hal itu sebetulnya SATU.
Begitu orang melihat dukkha secara otentik (bukan hafalan), di situ sekaligus orang melihat sebab-musabab dukkha, dan sekaligus pula dukkha itu lenyap!

[Meyliana] ketika pikiran berhenti.. tdk ada perbedaan, tapi ketika pikiran udh mulai melekat, jadi gusar.. hehe.. itu yg sering saya alami romo, hidup di dalam pikiran..

[hudoyo] hidup di dalam pikiran tentu ada yang menyenangkan ... kalau tidak orang tidak mau hidup di situ.
hal-hal yang menyenangkan itu menutupi kenyataan dukkha yang sesungguhnya.

[Meyliana] apakah begitu romo..? tapi kok tdk ada rasa senang, yg ada mata yg sakit, kalau udh pikiran berkomentar buruk. hehe..

[hudoyo] yang menyenangkan itu adalah 'aku', yang merasa 'mengerti', merasa 'menguasai' dan 'mengendalikan' hidupnya.
karena ada pikiran.
yang anda alami itu mungkin situasi yang ekstrem saja.

[fiona] saya sering luluh lantak oleh karena pikiran... jadi lelah sendiri... bisakah hidup tanpa berpkir pak?

[hudoyo] dalam keadaan normal, berpikir itu memberi kepuasan kepada aku.

[fiona] bisakah survive? mempertahankan hidup tanpa berpikir?

[hudoyo] amati saja pikiran itu. anda mau lari dari situ.

[Sudrijanta] Ikutan nimbrung.

[hudoyo] met malam, romo sudri.

[Meyliana] malam romo sudri..

[Sudrijanta] Malem pak hud dan mbak mey dan semua.
Saya belajar menempatkan pikiran pada tempanya yang benar.

[fiona] met malam semuanya :)

[hudoyo] romo sudri, bisa dibabarkan lebih lanjut?

[Sudrijanta] Tempatnya yang benar bagi pikiran adalah untuk menggerakkan survival diri. Tapi pikiran tidak bisa membuat kita melampaui diri, mentransendir diri, atau apalah namanya.

[fiona] oh ya saya rasa saya mengerti...

[Meyliana] ..?

[Sudrijanta] Ketika pikiran sudah melenceng dari temptnya, di situ ada kekacauan.Bukankah begitu?

[Meyliana] yap..

[fiona] pikiran hanya bisa digunakan untuk melangsungkan hidup... tetapi tidak untuk mencapai pencerahan, begitu?

[hudoyo] @sudri: ya betul.
...
saya teringat akan kisah adam & hawa di taman firdaus.
ketika bersama allah adam & hawa tidak perlu berpikir.
tapi setelah makan buah dari pohon "pengetahuan yang baik & buruk" barulah mereka berpikir.

[Meyliana] ooo..hehe..

[hudoyo] muncul dualitas, dualisme, yang perlu untuk survive.
survive di luar taman firdaus.
tapi pengetahuan yang baik & buruk itu tidak bisa memberikan "kehidupan kekal".
ada satu pohon lagi di taman firdaus itu yang buahnya belum sempat dimakan oleh adam & hawa.
mereka keburu terusir dari taman firdaus.
namanya "pohon kehidupan yang kekal".
pohon itu sekarang dijaga oleh malaikat dengan pedang berapi.
nah, apa maknanya alegori itu ya, romo sudri? :)

[Sudrijanta] Barangkali ketika adam dan hawa sudah tuntas menanggalkan pikiran dualistik itu, mereka boleh makan buah di taman firdaus kembali ya.
Kita ini seperti adam dan hawa. Maunya mengejar keabadian, kepastian, keamanan, kekekalan, pencerahan, penyelamatan, dst.
Padahal segala sesuatu yang kita kenal ini tidak ada yang pasti.
Jadi malah terdepak keluar dari taman firdaus.

[fiona] romo sudri, melayani gereja di mana romo? di jakarta?

[Sudrijanta] saya tinggal di duren sawit.

[hudoyo] lihat tulisan2 romo sudri ttg meditasi di website gereja santa ana, klender.
...
Saya sedang asyik membaca tentang "pohon kehidupan yang kekal" di wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Tree_of_Life_(Judeo-Christian)

[Sudrijanta] Apa menariknya pak hud?

[hudoyo] ya itu tadi: ada satu pohon yang belum sempat dimakan oleh adam & hawa dan sekrang dijaga oleh malaikat dengan pedang berapi.
mitologi sangat tepat untuk mengkomunikasikan kebenaran2 transendental yang tidak bisa dipahami oleh pikiran secara sebab-akibat linier.

[fiona] di mana saya bisa baca tulisan2 romo? ada link nya?

[hudoyo] @fiona: cari website gereja santa ana, klender.

[Sudrijanta] MMD diserang lagi ya pak hud?

[hudoyo] wah, rame, romo. tapi untung ada orang kirim sms kepada bhante pannyavaro tentang mmd

[Sudrijanta] Iya, saya baca itu.

[hudoyo] jawaban bhante singkat: "Umat Buddha sering kaget ketika mendengar seorang master Zen berkata; "Kalau bertemu Buddha, bunuh Buddha."

[fiona] MMD diserang orang2 yang tidak mengerti, romo... mereka bicara di atas dasar ketidakmengertian... jadi semua itu menurut saya pepesan kosong

[hudoyo] "Apalagi yang pemula" - begitu secara spesifik dinyatakan oleh bhante.

[Meyliana] Romo hudoyo.. semangat ya romo...hehe..

[hudoyo] maka ramailah perbincangan di facebook & milis2 buddhis tentang itu.

[Sudrijanta] Tidak mengerti tapi merasa mengerti ya.

[hudoyo] tetapi tidak apa, biasanya keadaan seperti ini tidak berlangsung lama, paling lama seminggu.

[Sudrijanta] Itu tadi, pikiran mau menjangkau sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditangkap dengan pikiran.Jadi bingung sendiri dan marah-marah ya.

[fiona] itulah... pusing juga menanggapi orang tidak mengerti, dijelaskan juga sulit kan

[hudoyo] hehe .. mngkin seperti perdebatan antara gereja formal dan penganut teologi apofatik (teologi negatif). :)

[Sudrijanta] Ya begitulah.

[Meyliana] salut ama romo hudoyo..biar diserang tapi tetap sabar..hehe

[hudoyo] yang merasa mempunyai vested interest (kepentingannya) yang terancam tentu marah2
yang merasa terancam itu menempatkan kebenarannya yang terdalam di dalam konsep-konsep pikiran yang diruntuhkan oleh mmd. :)

[Meyliana] yap..hehe..

[hudoyo] jadinya ya marah2.

[fiona] takut pulsa hp nya gak ada yang beliin lagi? ha ha :D

[hudoyo] padahal semua yang ada dalam mmd itu diajarkan sendiri oleh sang buddha.

[Meyliana] mbak fiona bs aja..hehe..

[fiona] abis pulsa hp nya pada mahal2 lho, bersaing dgn businessmen....

[Sudrijanta] Memang agama terkait erat dengan uang dan kekuasaan.
Tapi juga banyak sisipan kepentingan organisasi agama ya?

[hudoyo] menariknya tipitaka (kitab suci) buddhis itu, di dalamnya tercantum khotbah-khotbah mistikal yang MENGINGKARI DIRINYA SENDIRI.
bukan hanya khotbah mistikal, tetapi juga suatu pola sadar yang mengingkari dirinya dan bersifat universal: VIPASSANA.

[Meyliana] @ romo hudoyo : romo pernah ketmu n bicara dgn Bhante Uttamo? klu menurut bhante, bgma mengenai MMD..?

[fiona] berarti ada kontradiksi? di kitab yang mana, pak hud? pengen baca

[hudoyo] Dalam Mulapariyaya-sutta & Bahiya-sutta di satu pihak vs Maha-satipatthana-sutta di lain pihak. Sutta terakhir itu dipakai sebagai rujukan oleh hampir semua versi vipassana tradisional.
...
@mey: tidak pernah.
...
@sudri: sudah tentu, dalam perjalanan berabad-abad dihafalkan dan diturunkan dari mulut ke mulut, itu pasti terjadi.

[fiona] bukankah milis bhante uttamo yg juga keras thd MMD? Samaggiphala?

[Meyliana] oo, sy baru tau..
apa bhante juga keras terhadap MMD ya..? hehe jd bertanya..

[fiona] ndak tau, harus tanya ybs sendiri

[Meyliana] hehe..iya..

[hudoyo] @fiona: milis samaggiphala bersikap netral. Semua tulisan saya masuk ke sana, kecuali chat seperti ini.

[fiona] ooh oke pak

[hudoyo] Contoh konkrit: ada satu bagian yang katanya "ucapan Sang Buddha": "Hanya di dalam ajaran yang mengandung Jalan Mulia Berunsur Delapan (JMB8) terdapat kebebasan. Ajaran guru2 lain tidak mengandung JMB8, jadi di situ tidak ada kebebasan. ...
Hanya di dalam ajaranku terdapat JMB8, jadi hanya di situ terdapat kebebasan."
Saya sama sekali tidak percaya itu datang dari mulut Sang Buddha.
Pasti itu disisipkan oleh bhikkhu2 penghafal Tipitaka belakangan yang maksudnya sih ingin menjunjung tinggi Sang Guru, tapi keblinger.

[Meyliana] oo..
ternyata suta2 ada yg bukan dari mulut sang buddha..

[hudoyo] Ok deh, romo sudri & teman2, ini sdh setengah sebelas. saya sudah cukup capek. mohon pamit dulu.
trima kasih atas chatnya. sampai lain kali. silakan dilanjut chatnya. besok saya baca kembali.

[Meyliana] dulu SD, theravada, SMA aliran tao, jd baru mengenal lagi ajaran theravada..
...
ya.. malam romo hudoyo.. be happy..

[hudoyo] bye.

[Sudrijanta] Baik pak hud. Selamat istirahat...

[fiona] menurut saya spekulasinya sangat tinggi bhw sutta2 itu akurat, bhw khotbah Sang Buddha 100% spt itu, kan ditulis 100 thn setelah Sang Buddha wafat... yg nulis gak kenal

[Tambahan Hudoyo: Tipitaka Pali ditulis bukan 100 tahun, melainkan empat ratus tahun setelah Sang Buddha wafat.]

[fiona] saya juga mohon pamit...

[Meyliana] betul juga.. mungkin kalau dialiran tao lebih bingung lagi malah tdk ada kitab2nya..soale kalau ada pake bhs mandarin..

[fiona] met malam, romo sudri & teman2 lain... makasih byk

[Meyliana] oke mbak fiona..bye..
romo sudri, mau nanya..

[Sudrijanta] Ok mbak fiona...
@Mey: Nanya apa ya...

[Meyliana] romo, udh pernah ngajak teman yg beragama kristen pantekosta untuk meditasi..?
kalau udh cara pertama ngajaknya bgmana..? hehe .. soale ada tmn yg mau diajak..

[Sudrijanta] Teman itu tertarik dengan meditasi kah?

[Meyliana] katanya dulu udh pernah coba tapi nda dapat hasil apa2, malahan dia bilang kalau meditasi itu termasuk ajaran yg sesat.. dia percaya pada pendeta yg dulunya adalah dukun.., yg ada bukunya itu lho romo..?
sampe2 buku berseri itu dia koleksi.
tapi dia ada pernah bilang kalau hidup ini menderita dlm arti harus menghadapi kebosanan dan pikiran dualistik.

[Sudrijanta] Memang istilah meditasi sudah jadi kata yang kotor.
Kalau saya biasanya bicara mulai dari hal-hal konkrit yang kita rasakan atau pikirkan. Misalnya soal kegelisahan, konflik, takut, senang, dst.

[Meyliana] lalu..?

[Sudrijanta] Ketika itu diurai secara meditatif orang bisa tertarik.
Ada seorang ibu (56 th) mengalami kesedihan. Lalu saya ajak mengurai bersama apa itu kesedihan dan akhirnya sampai pada titik kesadaran bahwa kesedihan itu bukan milik anda, bukan milik saya.
Seketika itu juga orang itu sembuh dari rasa sedih yang diderita berhari-hari.

[Meyliana] yap. mengerti romo..hehe..trims romo..
tapi berat juga romo, teman sy udh benar2 percaya dgn jalan tuhan yg tertera di alkitab..

[Sudrijanta] Apakah topik kepercayaan itu sendiri tidakbisa dijadikan bahan penyelidikan bersama?
Wah itu topik menantang.
Saya minta pamit ya. Mau cari makan untuk mengganjal perut. Hehe.. Trimakasih untuk dialognya. Bye..

[Meyliana] sy ini termasuk orang yg lelet romo, hehe.. jd ya.. kurang begitu pandai untuk berdiskusi.. jadi bingung kalau diajak berdiskusi

22:48 [Meyliana] ok.. malam romo sudri..be happy..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar