<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938</id><updated>2012-02-16T02:18:42.742-08:00</updated><category term='Gerobak sapi'/><category term='Islam Jawa. TOJ'/><category term='Nusantara.Islam Jawa'/><category term='Vihara Mendut'/><category term='Sri Pannyavaro'/><category term='Sri Panyavaro'/><category term='Islam Nusantara'/><category term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><category term='candi'/><category term='Anekdot sufi. Jawa'/><category term='Herman A Ma&apos;ruf. TOJ. Majapahit.Kesultanan'/><category term='J.Krisnamurti.Spiritual'/><category term='Krisnamurti'/><category term='Foto Hangno'/><category term='Tradisi'/><category term='Majapahit.Geologi.Bencana Alam'/><category term='Foto lama'/><category term='Pariwisata Jogja'/><category term='Jalur Sutra Laut.Majapahit. TOJ'/><category term='kesultanan majapahit.TOJ'/><category term='Lebaran'/><category term='Kekosongan.Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><category term='herman A Ma&apos;ruf'/><category term='Mudik'/><category term='Opera Mystica.TOJ'/><category term='arkeologi'/><category term='Meditasi Zen'/><title type='text'>Hangno Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-5144854679060882525</id><published>2010-04-21T02:08:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T02:10:16.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='herman A Ma&apos;ruf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opera Mystica.TOJ'/><title type='text'>Yang-Tradisi yang Mendahului Yang-Modern</title><content type='html'>Seri Opera Mystica&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang-Tradisi&lt;br /&gt;yang Mendahului&lt;br /&gt;Yang-Modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman Achmad Marup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja secara filosofis berbeda dengan tradisi-tradisi sosiologis, politis, anthropologis, atau bahkan javanologis. Pendekatan filosofis dalam buku  ini menggunakan piranti analisis yang disebut Immanuel Kant (1724-1804) sebagai streben  atau sebuah upaya identifikasi sekaligus terhadap pikiran (yang-mengidentifikasi) dan obyeknya (yang-diidentifikasi), atau -dalam tradisi Cartesian- cogito dan cogitatumnya. Bagi para pandemen diskusi budaya Jawa dan ke-Jawa-an/kejawen mungkin teknik diskusi semacam ini akan terasa asing, karena tidak lazim dipergunakan. Apalagi jika belum pernah membaca teks-teks filsafat, diskusi demikian ini akan menimbulkan pertanyaan: ”Buat apa diskusi semacam ini?” Atau ”membahas budaya Jawa itu kan harus dengan olah rasa bukan olah logika?”  Inilah yang disebut dengan diskusi yang menggunakan pendekatan metamistis atau –dalam istilah saya: metakejawen. Disebut demikian karena ia menggunakan pendekatan-pendekatan, teknik-teknik dan metode-metode berpikir filosofis. Ia tidak berpikir sebagaimana sains yang melandaskan diri pada hipotesis dan suatu persepsi. Ia melampaui prinsipium identitatis Aristoteles, bahwa A adalah A. Atau Jawa ya Jawa bukan yang lain. Atau kejawen ya kejawen, bukan yang lain. Berpikir metakejawen melakukan transendensi terhadap budaya Jawa dan tradisi analisis dalam kejawen. Sehingga ia bukan pula suatu Javanologi. Berpikir metakejawen  itu berfilsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat bukan pengganti verbal untuk dunia atau suatu kamus (leksikon) di mana dunia diubah menjadi sebuah obrolan. Filsafat adalah kesenian bertanya. Dengan bertanya, sang filsuf hendak membujuk dunia -yang misterius- supaya berkenan melepaskan (menyibakkan, pen.) beberapa dari rahasia yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi berfilsafat dalam tulisan ini bukan sekedar berpikir tentang sesuatu pranata konsep yang dilekatkan kepada tradisi mistisisme Jawa/kejawen yang dipandang dari luar. Sehingga kejawen sebagai subyek yang diidentifikasi tersebut hanya menjadi korban penerapan anggapan-anggapan logis semata, tanpa mempedulikan hayatan-hayatan pengalaman hidup mistis Jawa yang sesungguhnya. Filsafat demikian hanya akan menjadi sebuah percobaan interpretasi atau tafsir atas subyek yang diidentifikasi. Kerja berpikir seperti ini hanya melandaskan operasi-operasi logisnya pada suatu filsafat yang semata-mata spekulatif. Tatanan konsep –yang telah disusun sebelumnya- dicoba-lekatkan kepada fakta hayatan hidup secara asumtif. Pendekatan-pendekatan spekulatif demikian ini hanya membawa kepada penyimpangan-penyimpangan serius dalam penyimpulannya. Berfilsafat yang dimaksud dalam tulisan ini harus dimaknai sebagai upaya mengkomunikasikan hayatan-hayatan pengalaman hidup dalam semesta kejawen dalam analisis dan refleksi-refleksi filosofis. Jadi ia adalah berfilsafat -atau berefleksi secara filosofis- yang merupakan eksternalisasi pada ”tingkatan kedua” dari hayatan-hayatan pengalaman hidup dalam semesta kejawen itu sendiri.&lt;br /&gt;Pendekatan terhadap refleksi filosofis metamistis/metakejawen bisa menggunakan deskripsi chiffermetafisika Karl Jaspers (1883-1969) . Chiffer atau sifr adalah pesan, jejak-jejak, atau gema dari transendensi. Ia adalah suatu bahasa. Terdapat tiga bahasa dari chiffermetafisika. Bahasa pertama, bahasa yang ”didengar” saat mengalami realitas mistis, atau dalam chiffermetafisika disebut saat membaca chiffer. Pengalaman ini tak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. Bahasa obyektif mengandaikan distingsi subyek-obyek. Dalam pengalaman mistik dan chiffer-chiffer untuk sementara subyek-obyek dan manusia-ilahiy dipersatukan. Tetapi begitu mengartikulasikan pengalaman ini, seketika terjadi distingsi kembali antara subyek-obyek dan manusia-ilahiy. Karenanya artikulasi pengalaman mistik selalu tak memuaskan. Ia hilang ketika dibicarakan. Bahasa kedua, yakni cerita, mitos, simbol, chiffer, atau konsep, yang ”membahasakan” bahasa pertama. Ia bisa berupa mitologi-mitologi, teks-teks suci, mistikologi atau mistisisme. Bahasa ketiga, yakni bahasa spekulatif dari metafisika. Ia adalah refleksi filosofis, karena manusia rasional berjarak dengan bahasa kedua. Manusia rasional mengalami krisis refleksi, sehingga memerlukan artikulasi spekulatif filosofis dari bahasa kedua maupun pertama. Ia menjadi metabahasa.&lt;br /&gt;Gaya berpikir strukturalistis bisa juga dipergunakan untuk memahami kerja pikiran metakejawen. Setidaknya pada Roland Barthes (1915-1980), Semiologi yang digagasnya tersusun atas dua tingkatan sistem bahasa. Bahasa di tingkatan pertama merupakan suatu sistem tanda yang disebutnya denotasi atau sistem terminologis. Pada tingkatan kedua bahasa menjadi sebuah sistem analisis terhadap seluruh eksternalisasi denotatif ini. Secara semiologis, bahasa merupakan suatu sistem tanda yang memuat penanda dan petanda. Sistem tanda kedua terbangun dengan menjadikan penanda dan petanda di tingkat pertama sebagai petanda baru. Petanda baru ini kemudian memiliki penanda barunya sendiri. Petanda dan penanda ”baru” ini kemudian menjadi sistem tanda baru (bahasa) pada taraf yang lebih tinggi. Pada taraf ini sistem tandanya disebut sebagai konotasi atau sistem retoris. Refleksi-refleksi filosofis di ”tingkatan kedua” ini, atau kajian pada sistem tanda tingkatan kedua ini disebut metabahasa.&lt;br /&gt;Pendekatan lainnya adalah terdapat dalam tradisionalisme muslim Persia. Menurut Yazdi  terdapat suatu ultimasi mistisisme yakni suatu pengalaman mistis antara yang-mengabdi ¬dengan Yang-Ilahi. Antara kawulo dan Gusti, dalam bahasa Jawa. Fenomena ini sangat penting dicermati, terutama tingkat-tingkat eksplanasinya dalam rangka mengerti metakejawen. Pengalaman mistis ini identik dengan realitas eksistensial diri. Ia adalah sebuah kesatuan, penyerapan, dan peniadaan diri, karenanya disebut juga sebagai sebuah kesatuan preposisional. Dengan demikian ia jauh di luar jangkauan semua bahasa konvensional, atau ia tidak terucapkan. Dalam terminologi mistisisme Jawa/kejawen disebut juga sebagai pengalaman anung unaning unong. Relasi-relasi pengetahuan di ”dalam”nya bersifat huduri. Hayatan suci yang diperoleh dalam pengalaman ini mendasari tindak-tindak pengetahuan imanen dengan representasi atau eksternalisasi rekonstruktif dari pengalaman kelimpahan ruhani ini. Dalam tradisi sufi hal ini disebut irfan. Pengetahuan kehadiran mistis atau eksternalisasi rekonstruksi secara sistematis untuk pertama kali dalam sejarah sufi dituliskan oleh Muhyidin Ibnu Al ’Arabi (1164-1240). Atau Eyang Ibnu Ngarobi dalam dialek kejawen. Secara kebahasaan tindakan ini disebut sebagai suatu bahasa obyek dari pengalaman mistis atau suatu mistisisme. Secara lebih spesifik, bahasa obyek dari pengalaman mistis Jawa adalah suatu mistisisme Jawa atau kejawen.&lt;br /&gt;Sedangkan metamistisisme adalah berfilsafat –atau refleksi-refleksi filosofis-tentang mistisisme. Ia berakar pada suatu ilmu tentang –atau bahasa obyek- mistisisme (irfan). Salah satu karakter dari tindakan ini adalah sifatnya yang eksternal. Artinya ia adalah ”bahasa” tentang mistisisme, ia melakukan suatu transendensi terhadap mistisisme. Atau bisa juga disebutkan sebagai sebuah perenungan ilmiah filosofis terhadap bahasa obyek mistisisme. Dengan demikian metamistisisme melakukan identifikasi dan penyelidikan metamistik tentang mistisisme . Secara lebih spesifik, jika dikaitkan dengan diskusi tentang mistisisme Jawa, ia melakukan identifikasi dan penyelidikan metamistik tentang kejawen. Dengan demikian penyelidikan dan identifikasi filosofis atau berfilsafat dalam diskusi ini merupakan sebuah meta mistisisme Jawa atau suatu metakejawen.&lt;br /&gt;Pikiran yang bekerja dalam tulisan ini juga hendak menggunakan beberapa technai.  Yaitu sebuah kata Yunani dari kata techne yang berarti seni dan juga memiliki konotasi kepada teknologi yang selalu mengandung makna kebaruan. Istilah dari Jean-Francois Lyotard  ini mengijinkan kerja filsafat untuk terus menerus mengeksplorasi kebebasannya dalam menemukan pola-pola ”baru” dalam berpikir sepanjang kemudian diupayakan mengkomunikasikannya dalam diskursus yang memadai. Memang sangat mungkin baru dan kebaruan tersebut diandaikan mengikuti naluri-naluri egoistis untuk menjadi ”baru otentik”. Kebaruan yang kemunculannya mengikuti prinsip creatio ex nihilio. Artinya, terciptanya ”kebaruan” itu dari ketiadaan. Baru yang otentik karena sebelumnya belum pernah ada. Ini mengisyaratkan harus adanya sebuah medan penciptaan dengan latar belakang jagat raya yang terus memuai tanpa batasan. Sebuah jagad raya tendensius dalam teori  steady state universe. Dalam jagad pikir, determinasi kebertubuhan dalam mengada di dunia memberikan efek determinasi kepada kemungkinan tak berhingganya jagad pikir. Sub sole nihil novum, di bawah sinar mentari tak ada yang baru otentik. Namun determinasi ontologis ini masih memberikan ruang bagi kemungkinan ditemukannya kebaruan yang ”mendekati otentik”, saya menyebutnya sebagai kebaruan inventif. Ini adalah sebuah kebaruan epistemik dari eksplorasi tak kenal lelah terhadap metode-metode atau pola-pola yang telah lebih dulu ditemukan. Kebaruan inventif ini muncul dari eksperimentasi relasi-relasi kombinatoris dari kekayaan metodis-epistemologis yang telah ditemukan sebelumnya. Maka technai yang dimaksud dalam tulisan ini merupakan eksperimen metodis-epistemologis dalam berpikir filosofis yang diringkas dalam uraian di bawah ini.&lt;br /&gt;Pertama, ia melampaui pola-pola dialektika yang telah menjadi paradigma hegemonik dalam tata pikir filsafat, pengetahuan, dan sains Eropa kontinental.  Obyek yang diidentifikasi tidak lagi harus tunduk pada hukum-hukum dialektika, yakni dilawankan secara un vis a vis dengan realitas kekinian, atau (yang pada akhirnya bisa menjadi) realitas kepentingan yang tendensius. Dialektika menuntut berlakunya proses  (multi)triadik -tesis-sintesis-antitesis (tepatnya: tesis&gt;&lt;antitesissintesis[=tesis baru])- baik secara singular, berantai, maupun secara simultan dalam kompleksitas jalinan yang berkelindan. Namun semua itu mengandaikan polarisasi keseluruhan eksistensi dalam dua kutub yang murni berseberangan serta berkebalikan, sebagai syarat bagi dinamikanya. Keseluruhan eksistensi harus menjadi thesis an sich atau anti-thesis an sich, bahkan bagi sesuatu sintesis yang baru saja lahir. Purifikasi eksistensi di kedua kutub menjadi sebuah keharusan sebagai energi potensial yang akan menggerakkan. Namun ada faktor eksternal yang harus dilarutkan sebagai katalis bagi kesempurnaan proses dialektika, yaitu konflik. Konflik adalah faktor aditif yang ditambahkan ke dalam keseluruhan proses. Purifikasi di kedua kutub (tesis/antitesis) mengharuskan berlakunya occam’s razor atau reduksi. Hal ini menjadikan komposisi binernya bukan: atau 1/atau 0, melainkan: atau 1/atau -1. Maka ontologi dialektik tidak mengijinkan dialog apalagi diakonia  yang merupakan elemen epistemik bagi etika. Ontologi dialektik hanya mengijinkan benturan atau collision yang mensyaratkan kontradiksi murni baik individual maupun komunal. Menghentikan proses dialektika hanya akan terjebak dalam stagnasi paradoksal dan/atau ambiguitas . Ontologi demikian ini melarang logika gradasional. Ia hanya mengijinkan logika hitam-putih atau kalah-menang. Dengan demikian menjumpai esensi apa-adanya dan menghayati keluasan hidup apa-adanya –atau erleben istilah Max Scheler - menjadi mustahil akibat determinasi reduksi dalam keseluruhannya. Tak ada ruang bagi kebersamaan, cinta dan saling berbagi. Hikmah kearifan hidup dan bijaksana in actu menjadi esensi-esensi moral yang juga asing dan harus tereduksi. Karl Marx (1818-1883) menyatakan bahwa dunia dialektika adalah sebuah ”dunia yang tak berperasaan dan tak berjiwa, di mana manusia tak punya tujuan yang nyata” . Dialektika materialis ini disebut Marx sebagai kritis dan revolusioner , dan sangat sesuai dengan kebutuhan praxis sosial.&lt;br /&gt;Dialektika yang digagas GWF Hegel (1770-1831) disebut Marx sebagai semata-mata ”idealis”. Dialektika Hegel sesungguhnya malah bersifat absolut dan totaliter. Artinya, kesadaran sempurna hanya akan dicapai manusia dengan berpikir secara dialektik dalam totalitas. Sebuah totalitas bagi keseluruhan Ada yang harus mengandung unsur-unsur yang berkontradiksi  (saling melawan dan dilawan), bernegasi (saling mengingkari dan diingkari), dan bermediasi (saling memperantarai dan diperantarai). Keseluruhan elemen Ada, mengada bukan secara sejajar, melainkan harus saling bertarung secara diametrikal. Semuanya menyatakan mengada secara benar, sehingga tak mungkin ditiadakan. Dengan saling bernegasi, saling meniadakan, setiap elemen serentak semakin memahami kebenaran dirinya. Mereka harus saling bermediasi, saling memperantarai, dan saling memperkaya kebenaran dirinya. Tak ada sintesis, karena sintesis hanya akan berujung kepada kompromi (perpaduan) yang hanya akan saling meniadakan. Berpikir dialektis hegelian berujung pada aufhebung, atau rekonsiliasi, sebuah tujuan yang baru sama sekali, yang mengandung pembaharuan, penguatan, dan ”perdamaian”. Working reality ini merupakan proses aktualisasi akal budi manusia yang telah mencapai kesempurnaannya dalam Roh Absolut. Ia bukan sebuah realitas statis, sudah jadi, utuh, bulat, atau suatu ”substansi”, melainkan realitas yang sedang berkembang, mengasingkan diri, dan menemukan diri kembali. Sebuah proses penyadaran diri melalui taraf-taraf dialektis yang semakin mendalam. Ia adalah ”subyek”, sebuah proses pernyataan diri dari roh alam semesta.&lt;br /&gt;Upaya pelampauan terhadap dialektika dalam tulisan ini bukan hanya karena dialektika –baik kompromisme Marx ataupun rekonsiliasisme Hegel- telah memberikan inspirasi ideologis kepada marxisme-komunisme saja semenjak akhir abad ke 19. Dialektika sekarang ini telah menjadi pemberi inspirasi dinamika keseluruhan semesta yang-modern –sebagai satu-satunya pola perkembangan- bagi kapitalisme-liberalisme bahkan agamaisme. Ia telah mengendap di alam bawah sadar kolektif –id kolektif- sebagai neurosis dunia. Gejala freudian kolektif ini merupakan konsekuensi global dari metanarasi dunia yang materialistik, tak peduli ia liberalistis ataupun sosialistis ataupun agamaistis. Efek alienasinya juga telah menjadi gejala umum di keseluruhan semesta yang-modern. Dalam onto-kosmogoni yang-modern demikian ini, hanya terdapat satu pilihan agar dinamika dunia menjadi mungkin. Sesuatu momentum imitasi yang memunculkan kontradiksi absolut harus direkayasakan, yaitu konflik global. Gejala demikian ini bisa dijumpai penjelasan logisnya misalnya pada karya Samuel Huntington: Benturan Peradaban. Ini adalah mitologi ”rasional” bagi modernisme global. Usaha menghindari konsensus untuk membentuk nilai-nilai moral global sebagai efek triadik freudian –superego kolektif- hanya menjerumuskan yang-modern kepada mitos kegelapan modernitas, yaitu mitos kontradiksi dialektik. Dalam bahasa yang-tradisi mitos kegelapan dialektika ini bisa ditulis sebagai: Sang Hyang Detya Dyalaktika, atau Batara Dyalaktikala, atau Ravan Dyalaktikan, atau Durga Dyalaktini, atau Lucipherus Dialacticus, atau Mephistopelis Dialectis, atau Al Iblis Al Diyaliktiqah, dan lain-lain sebagainya. Ini merupakan efek personifikasi simbolis. Sebuah konsekuensi numenklatural dalam ”rasionalitas”  yang-tradisi.&lt;br /&gt;Dengan demikian mungkin dilakukan sebuah operasi inversi oleh yang-tradisi terhadap yang-modern sebagai sebuah ruwatan –non-ritus, sebuah pangruwating diyu, atau sebuah exorciste-non-rite, yang melarung seluruh mitologi ”kegelapan” yang-modern. Biasanya dalam prosesi ritualnya terdapat doa yang berisi harapan agar mitologi pralaya (bencana) dalam yang-modern dapat ternihilisasi, sehingga yang tinggal hanyalah ”kebaikannya saja”. Yang-tradisi tidak bersifat ”membumi-hanguskan” yang-modern atau modernic-cleansing karena tidak memberlakukan mitos dialektika –baik rekonsiliatif maupun kompromistik- dari yang-modern. Hikmah kearifan hidup yang dihayati manusia selama ribuan tahun membatasi tindakan demikian. Ini merupakan wishdom-effect dari larangan memberlakukan antipati yang berlebihan atau ngono yo ngono, ning ojo ngono. Yang-tradisi menjunjung tinggi asas proporsionalitas dan kecukupan, karena keseluruhan hidup ini adalah sebuah dharma atau saderma hanglampahi. Prinsip ojo-dumeh menjadikan yang-tradisi tetap terbuka terhadap semua dedaya perbaikan dan kebaikan bahkan yang asalnya dari modernitas sekalipun. Yang-tradisi merupakan wujud dari orde estetika moral atau kemuliaan akhlak dan keluhuran ruhani , yang merupakan tujuan semua agama-agama dan/ataupun tradisi kebatinan. Yang-tradisi adalah syurga bagi semua manusia dan kemanusiaan sebagaimana sesanti suargi Sultan pendiri Kerajaan Islam Mataram, Eyang Panembahan Senopati Mataram, atau Raden Ngabehi Lor Pasar di Kotagede, atau Kalipatullah Ngabdurrahman Sayidin Panatagama. Sesanti tersebut dirumuskan sebagai ”hamemangun karyenak tyasing sesami” –membangun nagari tempat kenyamanan hati semua manusia. Keagungan yang-tradisi demikian itu memungkinkan bagi terbentuknya sebuah hadiningrat .&lt;br /&gt;Kedua, tulisan ini menggunakan metoda epoche  atau bracket dalam tradisi fenomenologi Husserl (1859-1938) bagi obyek yang diidentifikasi sementara penelusuran status maknanya sedang bekerja hingga obyek itu sendiri "berbicara". Metoda ini diharapkan dapat meminimalkan tendensi-tendensi dan kepentingan-kepentingan politis-ideologis baik secara kolektif maupun individu. Mengidentifikasi sesuatu ”awan” obyek akan berhadapan dengan sub-sub bahasan dalam obyek yang juga menuntut pemaknaan yang memadai.  Epoche adalah sebuah kondisi antara, sebuah locus epistemus, yakni sebuah ruang di mana sub-obyek tertentu yang tidak/belum teraba status maknanya ”disimpan” terlebih dahulu di dalamnya. Eksplorasi dan identifikasi tetap berlanjut sekalipun terdapat sub-obyek yang ”disimpan” karena belum diperoleh status maknanya. Pada capaian pemahaman tertentu maka sub-obyek yang terepoche  akan menjumpai status maknanya sendiri. Ia telah tersingkapkan berkat relasi-relasi persepsi dan interpretasi yang berkembang. Ini menggunakan semacam kesabaran era Schleiermacher  untuk menghindari ketergesa-gesaan dalam eksplorasi dan identifikasi. Dalam khasanah Mataram/Jawa, terdapat sebuah pesan dari Kangjeng Pangeran Dipanegara (1810-1860) seda Makasar. Pesan tersebut merupakan hikmah kearifan hidup yang telah beliau hayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngger, wong urip iku ora keno kemrungsung, kudu sabar lan waspada, kudu titi lan nastiti (Anakku sayang, manusia dalam menjalani hidup tidak boleh tergesa-gesa, harus sabar dan waspada, harus titi dan nastiti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sikap metodis demikian muncul dari sebuah kesadaran bahwa mengidentifikasi yang-tradisi dan yang-modern artinya berhadapan dengan persoalan orde dengan tingkat kompleksitas tinggi. Banyak faktor, aspek, dan elemen kehidupan terkait di dalamnya. Tergesa-gesa merasa lengkap identifikasinya dapat terjerumus dalam suatu kekeliruan penyimpulan yang serius. Mircea Eliade, seorang ahli Sejarah Agama, mengemukakan tiga sikap metodik dalam meneliti, yakni hati-hati, terbuka/simpati, dan hormat. Hati-hati artinya tidak tergesa-gesa merasa tahu tentang yang diidentifikasi dan tidak merasa bahwa penelitiannya adalah yang paling representatif dan lengkap. Terbuka/simpati artinya rela membiarkan gejala yang diidentifikasi berbicara apa adanya dan mengungkapkan kebenarannya. Di samping itu penting bagi peneliti untuk merasakan subyek yang diidentifikasi –jika verklaren- serta penting pula mengkomunikasikan hasil identifikasi internalnya secara memadai –jika verstehen. Hormat artinya tetap memberikan sikap hormat terhadap subyek yang diidentifikasi, tidak tergesa memberikan vonis terhadap gejala yang tidak bersesuaian dengan harapannya.&lt;br /&gt;Ketiga, seluruh data dan interpretasi mengenai obyek yang tengah diidentifikasi juga menjadi bagian dari pengalaman hidup yang dihayati atau noetic. Hayatan hidup dari internalisasi pengalaman hidup atau mengada di dunia dengan demikian merupakan suatu pergulatan eksistensial. Ia bagian dari tindakan fenomenologis kesadaran dalam menyituasikan diri di dunia. Dunia yang dihayati –lebenswelt- menghamparkan realitas-realitas obyektif atau terobyektifkan dalam jagat-jagat terintegrasi dari jagat benda-benda, jagat kejadian dan peristiwa, serta jagat kreatif manusia. Jika diperluas, jagat mistis –dalam diskusi mistisisme ini- termasuk dalam ”dunia-dunia” yang mungkin menjadi hayatan hidup manusia. Sebaliknya, fakta-fakta hayatan mistis di seluruh kebudayaan manusia secara langsung menunjuk kepada eksistensi status dimensional dunia-dunia mistis. Setidaknya,  ia mengacu kepada realitas ekstra-tridimensional atau ekstra-ruang-waktu. Tentu saja perluasan semesta dunia fenomenologis kepada dunia-dunia mistis  mensyaratkan berlakunya relasi-relasi pengetahuan yang berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan korespondensi atau analisis diskursif. &lt;br /&gt;Cara pendekatan lain atas status dimensional dunia-dunia mistis juga bisa dilakukan. Dalam tradisi freudian, id adalah sesuatu instansi bawah sadar di mana refleksi-refleksi dari kesadaran mengendap. Hal ini terjadi ”setelah” kesadaran menghayati hayatan-hayatan hidup. Internalisasi hayatan-hayatan hidup ini ada yang begitu saja terendapkan, namun ada juga yang lebih dahulu mengalami rasionalisasi dalam persepsi-persepsi ”ilmiah” yang telah diperoleh subyek sebelumnya. Ini semacam mekanisme internal kesadaran dalam tradisi aposteriori kantian, pengetahuan yang terbentuk setelah pengalaman. Tetapi sesungguhnya sebelum itu semua terjadi, terdapat proses mengetahui yang terkait erat dengan tubuh dan kebertubuhan manusia. Konsekuensi dari mengada di dunia menjadikan kebertubuhan manusia penting untuk dicermati. Tubuh adalah intermedium dalam etre au monde. Ia adalah kesadaran yang terlibat langsung dengan dunia. Oleh karena itu tubuh juga menjadi sebuah sensegiving yang berfungsi sebagai instansi bagi pengetahuan-pengetahuan latent. Tubuh senyatanya lebih banyak tahu tentang dunia ketimbang kesadaran. Tubuh selalu mencoba memberikan jawaban terhadap usulan atau undangan dari dunia yang masih samar-samar. Sensegiving sendiri berarti tubuh yang menyatu dengan dunia dalam suatu pola vektor intensional yang ”keluar”. Tubuh ialah sebuah jalan/pintu yang dengannya manusia mencari arah menuju alam dan berikut mode of appearance dari alam. Tubuh juga ialah keseluruhan dari syarat-syarat wujud yang perlu supaya suatu proyek eksistensial bisa terwujud dan dalam aktualisasi. Menurut Maurice Merleau Ponty (1900-1961) fungsi tubuh adalah ”konsepsi” dari salah satu corak eksitasi. Kejadian-kejadian fisiologis tidak lagi hanya dapat diterangkan dengan hukum sebab-akibat fisikal. Dengan demikian saya bukan saja mengalami tubuh saya, melainkan saya mengalami tubuh-yang-menghadapi-dunia. Dunia yang saya alami juga menjadi nyata berdasarkan pengalaman-pengalaman prapredikatif (tidak sadar).&lt;br /&gt;Maka ketika saya mengamati sesuatu obyek, sesungguhnya saya sedang mengamati via tubuh saya atau penginderaan. Tubuh sebagai pengindera justru melingkupi pengetahuan-pengetahuan habitual dari dunia. Suatu pengetahuan yang menjadi endapan, karena tubuh selalu ”lebih tahu” tentang dunia. Tubuh menyatu dengan yang diamatinya, berdasarkan suatu pola autochton atau vektor intensional dari tubuh tersebut. Tubuh sebagai tubuh-saya (le corps vecu) sudah bersituasi, siap sedia untuk setiap pengamatan. Tubuh menjadi suatu eksistensi etre au monde yang anonim dan general sebagai sebuah infra-struktur, landasan, bagi seluruh kehidupan pribadi. Intensionalitas tubuh tidak bekerja atas pengetahuan sadar. Tubuh adalah sesuatu instansi yang-tahu, yang-mengerti, seperti dinyatakan Ponty.&lt;br /&gt;Namun kesatuan tubuh dengan dunia-yang-diamati juga merupakan sebuah kesatuan dalam perbedaan, unity in diversity. Tubuh/penginderaan mewahyukan dunia sebagai kesatuan dalam perbedaan. Tubuh sebagai suatu integritas pengindraan yang secara serempak menuju suatu dunia yang diwahyukan dalam aneka pintu masuk menuju dunia tersebut. Mengalami dunia yang diwahyukan, dunia-yang-dihayati, merupakan konsekuensi dari etre au monde. Dunia adalah dunia yang saya alami. Mencari penalaran terbaik dunia sebagai pengalaman merupakan sesuatu yang membutuhkan perhatian. Dunia ialah pengalaman, dan pengalaman primer berarti saya mengalami dunia. Secara fenomenologis, ketika mengamati dunia, kemunculan pertama bukan dunia/alam/welt, bukan juga mengalami-dunia (welterfahren), tetapi bentuk dari pengalaman yakni ke-saya-an dari dunia. Semua pengalaman dialami dalam satu perbuatan –akt- yaitu perbuatan-saya. Dunia adalah sesuatu yang ”mengalir”. Aliran tersebut harus dijelaskan sebagai suatu ke-saya-an. Maka diskusi tentang ichlichkeit –ke-saya-an- menjadi signifikan, bahkan die Ichlichkeit das Ich, kesayaan dari saya. Perluasan dunia fenomenologis ke semesta dunia mistis juga merupakan konsekuensi dari etre au monde. Dunia mistis juga merupakan sesuatu dunia yang harus saya alami. Sesuatu konsekuensi dalam menyituasikan diri saya di dunia. Suatu dunia yang ”mengalir” yang menuntut eksplanasi sebagai suatu ke-saya-an. Suatu die mystischkeit das Ich, kemistikan dari saya. Atau die ichlichkeit die mystizismus, kesayaan dari mistisisme. Untuk kemudian menjadi landasan bagi eksplanasi terhadap mystisch-welterfahren, mengalami dunia mistis.&lt;br /&gt;Keempat, kearifan-kearifan lokal Jawa-muslim yang telah dihayati  menjadi determinan/kanopi tradisi yang melingkupi. Ini adalah titik-pijak Berger, sebuah standpoint fenomenologis untuk  meninjau luasan yang-global atau yang-modern sebagai sebuah kurva terbuka. Kesadaran harus bereksistensi agar aktus menyituasikan diri di dunia menjadi mungkin. Eksistensi atau existence berasal dari kata kerja Inggris to exist yang berarti the state of being. Asalnya dalam bahasa Latin adalah existo dan existere. Dalam bahasa Perancis existo, yakni terbentuk dari kata ex dan sisto, yang artinya sama dengan to stand . Affirmasi epistemologis eksistensial dilakukan dengan menyelami kedalaman-kedalaman yang-tradisi. Akumulasi epistemologis khasanah tradisional selama ribuan tahun mengijinkan yang-tradisi terhindar dari floating mind, dari budaya massa mengambang atau floating mass. Hans Kueng –seorang teolog Kristen Jerman non-Yahudi- misalnya memandang keseluruhan persoalan teologi di dunia modern dari titik pijak bergerian ini sebagai standpoint .&lt;br /&gt;Peradaban yang-modern berbasis pengetahuan diskursif –dalam tradisi Jawa disebut ngelmu- yang sifatnya empiris dan hegemonik. Artinya ia tidak mengijinkan berlakunya cara pandang, alur logika, dan penyimpulan-penyimpulan ”logis” yang berbeda. Akibat dari hegemoni paradigmatik demikian ini, yang-modern menjadi ekamatra atau berdimensi tunggal belaka. Bahwa yang rasional adalah semua yang sesuai dengan kanon-kanon logika yang-modern. Himpunan rasionalitas yang berbeda dan tidak mengikuti kanon-kanon logis yang-modern harus direduksi dan dimasukkan dalam kategori yang di seberang sana atau di luar esensi. Paradigma filsafat ini mengakibatkan reduksi epistemik pada asumsi-asumsi dan ide-ide prakonsepsi ilmiahnya  atas nama obyektivitas-positivistik. Dalam tradisi sosiologi dan anthropologi rasionalitas demikian ini menghendaki berlakunya operasi desakralisasi dan demitologisasi. Maka terjadilah pola diatic legal-illegal, profan-sakral, logis-mitologis, imanen-transenden, kodrati-adikodrati. Kategori kedua yakni himpunan [illegal, sakral, mitologis, transenden, adikodrati] terpolarisasi sebagai yang-tradisi. Atau jika mengikuti tradisi kategorisasi platonik disebut sebagai yang di seberang sana atau di luar esensi. Sedangkan kategori pertamanya yakni himpunan [legal, profan, logis, imanen, kodrati] atau yang-modern ditunggalkan/dihegemonisasi. Proses ini menggunakan reduksi-reduksi kosmogonik yakni operasi desakralisasi dan demitologisasi. Namun proses ini mengakibatkan timbulnya beberapa gejala: 1) Terjadi pembekuan epistemik terhadap fakta-fakta yang-tradisi. Betapapun fakta-fakta yang-tradisi dialami manusia modern, ia harus diasumsikan =0. Dalam kehidupan nyata, yang-modern harus berpura-pura asing terhadap yang-tradisi. Bahkan secara sosiologis, berpura-pura asing terhadap yang-tradisi  telah menjadi sesuatu trend dan status symbol. 2) Implikasi dari kepura-puraan ontologis tersebut menimbulkan efek peremangan atau yang-tradisi menjadi realitas yang samar-samar. Ia menjadi pengetahuan underground. Mempelajarinya adalah sebuah pengkianatan terhadap hegemoni ekamatra modernitas. Mempelajarinya menjadikan subyeknya tak-modern dan menjijikkan. Mempelajarinya seperti mengikuti sebuah makar, atau sebuah persekongkolan yang diharamkan karena mengancam semua kemapanan status-status prestisius dalam modernitas. 3) Lebih jauh lagi, terjadi kebutaan epistemik terhadap yang-tradisi. Bukan sekedar amnesia, sebagaimana manusia Eropa mengalami amnesia terhadap filosofi Being/Ada. Kebutaan ini adalah sebuah ketercerabutan jika bukan sebuah keterputusan. Ia sebuah kondisi awidya, atau pengetahuan suci yang hilang.Maka yang-tradisi menjadi tak terpahami, dan tatanan pengetahuannya –yang telah tertata selama ribuan tahun- menjadi tak lagi dikenali. Ia hanya menjadi kode-kode atau clues yang samar-samar namun meninggalkan sebuah trauma kolektif: bahwa ia bagaimanapun merupakan bagian penting makna mengada manusia di dunia.&lt;br /&gt;Kelima, tulisan ini juga menggunakan identifikasi ”awan” Lyotard, yakni suatu diskusi yang harus mencari jalur baru untuk mendekati ”awan” yang-tradisi dan ”awan” pikiran yang digunakan untuk mengidentifikasi. Hal ini untuk melampaui relasi-relasi interpretatif yang tendensius terhadap ”awan” yang-tradisi. Mereka ini –yakni yang menggunakan relasi-relasi interpretatif yang tendensius- hanya meninggalkan chaos dalam diskusi-diskusi mengenai yang-tradisi. Akibatnya yang muncul hanyalah keputusasaan epistemologis, keraguan eksplanatif, dan bahkan masuk ke dalam kediaman apatisme. Ini adalah pembunuhan karakter terhadap warga alit Jawa yang menjadikan tradisinya sebagai weltanschauungnya, pedoman hidupnya. Sementara elit kulturnya terus menerus terombang-ambing dalam mitos-mitos tentang rasionalisme formal  jaman viktorian dan kaidah-kaidah nilai yang tidak jelas epistemologinya. Mengenai hal demikian ini Lyotard menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengilhami prinsip pencarian tanpa akhir dari tugas-tugas mendiskusikan awan (pikiran). Dalam pengertian ini, pendahulu-pendahulu seperti Sterne, Diderot, dan Proust tak kalah pentingnya dari Einstein atau Heisenberg. Masing-masing memberi kita ilustrasi dari aturan Claude Simon: selama tidak mengkhayal, untuk memulai, melanjutkan, dan menyelesaikan frase, paling tidak untuk mencoba mengerjakannya, terdapat pikiran atau tulisan dalam "keseluruhan" nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, adalah Albert Einstein yang menggugurkan efek kronologis dari bentangan ruang-waktu. Dalam tulisan ini hukum dilatasi ruang-waktu dipergunakan untuk membentuk sebuah tinjauan invertif terhadap pandangan supremasi modernisme. Modernisme dinisbatkan kepada jaman, cara berpikir, atau cara hidup ”baru”. Sesuai dengan etimologinya moderne (baru), namun ia juga berkonotasi meniadakan hal yang telah lampau, passe. Secara kronologis, yang-kemudian menghapuskan berlakunya yang-terdahulu. Atau yang-terdahulu harus ditinjau dengan menggunakan pola yang-kemudian sebagai satu-satunya cara pandang.  Dalam Fisika teoritik, Teori Relativitas Umum Einstein meniadakan ”sekat” antara yang-telah-lalu, sekarang, dan yang-akan-datang. Hal ini disebabkan berlakunya konstanta cepat rambat cahaya c sebagai batasan bagi kecepatan gerak materi di seluruh jagat raya. Akibat penemuan hukum alam ini, maka pada cepat rambat materi tertentu dapat mengakibatkan terjadinya dilatasi -atau pemuaian dan pengerutan- pada ruang-waktu. Dalam surat duka cita kepada keluarga dekatnya Albert Einstein menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ia telah wafat hanya tak lama mendahului saya. Bagi kami para fisikawan, waktu bukanlah sebuah persoalan. Yang telah lalu, sekarang, dan yang akan datang tidak ada artinya sama sekali...  (Albert wafat hanya tiga minggu sesudah menuliskan surat duka tersebut, pen.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tinjauan invertif adalah sebuah tinjauan yang menggunakan pandangan berkebalikan –dalam tulisan ini vektor waktu- sehingga efek kronologi tidak berlaku. Dengan kata lain, jika semula modernitas menghegemoni masa lalu, maka tinjauan invertif bisa memberlakukan hal yang sebaliknya, yakni cara berpikir masa lalu menghegemoni cara berpikir modern. Yang-tradisi dicobakan menghegemoni yang-modern.&lt;br /&gt;Ketujuh, analisis komparatif dipergunakan untuk memperoleh pola-pola kesebandingan struktural antar dua kerangka peristiwa. Yakni kerangka peristiwa yang-diidentifikasi dan kerangka peristiwa yang menjadi frame of reference. Relasi analogis diijinkan sepanjang memenuhi syarat kesetaraan logis dan sepanjang ia mendapatkan penjelasan yang memadai.&lt;br /&gt;Saya mengambil tantangan berpikir ini juga mengikuti prinsip keagungan Kant –erhaben- yakni prinsip untuk terus menerus menemukan yang lebih baik. Semacam asas hanif dalam kehidupan muslim Jawa. Kant menyebutkan bahwa orang-orang terpelajar, berbudi luhur dan memiliki komitmen moral merasakan kehadiran dan respon terhadap daya tarik ide kebebasan sekalipun di tengah-tengah chaos atau kekacauan. Antusiasme ini sebuah begebenheit –peristiwa- sekaligus merupakan pertanda –signum atau  zeichen- bahwa manusia selalu dalam arus kemajuan menuju yang lebih baik.  Sekalipun hal ini berarti harus melakukan eksplorasi dan rekonstruksi terhadap paradigma-paradigma dalam tradisi masa lalu. Kemajuan tidak harus selalu diartikan sebagai progresivisme. Socrates menyebutkan adanya prinsip pencapaian nalar terbaik.  Artinya, hidup manusia membutuhkan episteme. Kejatuhannya untuk mengada ”di sana” –di dunia- memaksanya untuk meruang-waktu.&lt;br /&gt;Sementara itu obyek yang tengah diidentifikasi, yakni tradisi muslim kejawen, merupakan bagian dari kemisterian budaya Jawa atau bahkan kemisterian jagat raya. Namun fenomena ini bukan merupakan ketunggalan yang bisa membawa orang Jawa -atau bukan- kepada narsisme etnologis. Keseluruhan jagat raya ini memang misteri, universum altum mysterium. Namun uniknya ia mengikuti prinsip Einstein mengenai kemungkinan terpahaminya. Bahwa hal paling misterius dari jagat raya ini adalah justru bahwa ia mungkin untuk dipahami manusia . Berangkat dari prinsip Einstein ini, mungkin untuk memahami kemistikan dari tradisi, atau die mytischkeit das tradition. Dengan kata lain, perjumpaan dengan status makna tradisi mistik sungguh-sungguh mungkin. Agak berbeda dengan Albert, Stephen Hawking  menuliskan bahwa ia tidak sependapat dengan pandangan bahwa jagat raya adalah sebuah misteri. Atau, seperti sesuatu yang dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dianalisis atau terpahami secara penuh. Meskipun masih banyak sekali yang belum diketahui atau dipahami tentang jagat raya, menurut Hawking, kemajuan pikiran dan sains yang telah dicapai manusia setidaknya selama 100 tahun terakhir harus menjadi pendorong bagi sebuah keyakinan bahwa memahami jagat raya ini secara keseluruhannya adalah mungkin dan tidak berada di luar jangkauan manusia. Sekalipun mungkin bahwa hal itu lebih merupakan sebuah harapan atau fatamorgana, tetapi jauh lebih baik berjuang mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap ketimbang pasrah tanpa upaya.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-5144854679060882525?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/5144854679060882525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/yang-tradisi-yang-mendahului-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/5144854679060882525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/5144854679060882525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/yang-tradisi-yang-mendahului-yang.html' title='Yang-Tradisi yang Mendahului Yang-Modern'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-7821331620807186444</id><published>2010-04-19T13:52:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T14:25:25.235-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pariwisata Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerobak sapi'/><title type='text'>Gerobak sapi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S8zKI2G61DI/AAAAAAAAAB8/BxDu6yA0KOY/s1600/batik1+%2814%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S8zKI2G61DI/AAAAAAAAAB8/BxDu6yA0KOY/s320/batik1+%2814%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461962701405869106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S8zHH5He98I/AAAAAAAAAB0/2rAEn_83EQM/s1600/batik1+%2815%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S8zHH5He98I/AAAAAAAAAB0/2rAEn_83EQM/s320/batik1+%2815%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461959386498791362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Panggungharjo Sewon Bantul Jogjakarta&lt;/span&gt;.Gerobak sapi sekarang sangat langka ditahun 70-80an,transportasi tradisional ini menjadi kendaraan penting yang digunakan petani untuk membawa hasil pertaniaannya,tetapi diawal mellenium abad 21 transportasi tradisionaltersebut sudah hampir punah. Kepunahan diakibatkan oleh modernisasi, dulu gerobak sapi selain digunakan sebagai kendaraan sapinya juga digunkan untuk membajak sawah, saat ini sawah dibajak dengan mesin traktor. akhirnya sarana transportasi yang eksotis ini telah punah.&lt;br /&gt;Sebetulnya diera pariwisata yang mulai ramai sarana transportasi ini bisa dijadikankomoditas pariwisata yang unik dan langka, sayangnya pelaku wisata kurang jeli mengangkat kasanah kekayaan tradisi Jogja.(Hangno)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-7821331620807186444?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/7821331620807186444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/gerobak-sapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7821331620807186444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7821331620807186444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/gerobak-sapi.html' title='Gerobak sapi'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S8zKI2G61DI/AAAAAAAAAB8/BxDu6yA0KOY/s72-c/batik1+%2814%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-7525642944085833045</id><published>2010-04-15T08:03:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T08:08:31.085-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>"Ajaran Krishnamurti tak sejalan dengan ajaran Sang Buddha." Debat Hudoyo Hupodio - Chandra Fabian</title><content type='html'>&lt;div&gt;"Ajaran Krishnamurti tak sejalan dengan ajaran Sang Buddha."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari: Chandra Fabian&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;PATISAMBHIDA MAGGA&lt;/div&gt;&lt;div&gt;[TREATISE ON INSIGHT] (hal 401)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(1.)Demikianlah yang kudengar. suatu ketika Sang bhagava tinggal di&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Savatthi di hutan jeta, taman Anatthapindika. Disana Beliau berkhotbah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kepada para bhikkhu, demikian: 'Para bhikkhu'. 'Ya Bhante' mereka&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menjawab. Sang Bhagava berkata demikian:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(2.) Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat bentuk apapun sebagai&lt;/div&gt;&lt;div&gt;permanen (nicca) tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kebenaran, dan tanpa membuat pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mungkin ia akan memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tanpa memasuki kebenaran hakiki tidak mungkin ia akan menyelami&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sotapatti phala atau Sakadagami Phala atau anagami Phala atau arahatta&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Phala.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat bentukan apapun sebagai tidak&lt;/div&gt;&lt;div&gt;permanen (anicca) mungkin ia akan membuat pilihan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kebenaran, dan dengan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran&lt;/div&gt;&lt;div&gt;memungkinkan baginya untuk memasuki kebenaran hakiki (certainty of&lt;/div&gt;&lt;div&gt;rightness), dan dengan memasuki kebenaran hakiki memungkinkan baginya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menyelami Sotapatti phala atau Sakadagami Phala atau anagami Phala atau&lt;/div&gt;&lt;div&gt;arahatta Phala.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(3.) Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat bentuk apapun sebagai&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menyenangkan (sukha) tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kebenaran, dan tanpa membuat pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mungkin ia akan memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness),&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dan..[dstnya seperti no:2 hingga].. atau Arahatta Phala. Bhikkhu, jika&lt;/div&gt;&lt;div&gt;seorang bhikkhu melihat segala bentukan apapun sebagai tidak&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menyenangkan (dukkha) mungkin ia akan membuat pilihan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kebenaran, dan...[dstnya seperti no:2 hingga]... atau Arahatta Phala.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(4.) Bhikkhu, JIKA SEORANG BHIKKHU MELIHAT IDE APAPUN SEBAGAI AKU tidak&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan tanpa membuat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak mungkin ia akan memasuki&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan..[dstnya seperti no:2&lt;/div&gt;&lt;div&gt;hingga].. atau Arahatta Phala. Bhikkhu, JIKA SEORANG BHIKKHU MELIHAT&lt;/div&gt;&lt;div&gt;SEMUA IDE SEBAGAI BUKAN AKU (ANATTA) mungkin ia akan membuat pilihan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sesuai dengan kebenaran, dan...[dstnya seperti no:2 hingga]... atau&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Arahatta Phala.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(5.) Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat Nibbana tidak menyenangkan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(dukkha) tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tanpa membuat pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak mungkin ia akan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan..[dstnyaseperti&lt;/div&gt;&lt;div&gt;no:2 hingga].. atau Arahatta Phala. Bhikkhu, jika seorang bhikkhu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;melihat Nibbana menyenangkan (sukkha) mungkin ia akan membuat pilihan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sesuai dengan kebenaran, dan...[dstnyaseperti no:2 hingga]... atau&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Arahatta Phala.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(A iii 441 f.).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;[238]&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;KOMENTAR: Pandangan benar juga penting untuk membawa kemajuan pada&lt;/div&gt;&lt;div&gt;meditasi Vipassana, pada tahap tertentu dalam meditasi Vipassana bila&lt;/div&gt;&lt;div&gt;latihan kita benar maka kita mulai mengetahui mana jalan dan bukan jalan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(magamagga nanavisuddhi), ini sejalan dengan Patisambhida Magga yang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mengatakan pilihan yang sesuai dengan kebenaran (conformity with&lt;/div&gt;&lt;div&gt;actuality).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada tahap pemurnian pandangan (ditthi visuddhi) JIKA SEORANG BHIKKHU&lt;/div&gt;&lt;div&gt;MELIHAT IDE APAPUN SEBAGAI AKU maka dikatakan tidak mungkin ia membuat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;pilihan sesuai dengan kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pertanyaan menarik yang bisa kita ajukan dalam hal ini, apakah yang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dimaksud aku dalam Patisambhida Magga? apakah aku hanya terbatas pada&lt;/div&gt;&lt;div&gt;eksistensi suatu entitas entah apapun namanya? Ternyata Patisambhida&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Magga mengatakan bahwa ide tanpa aku meliputi semua bentuk gagasan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;apapun, atau ide apapun tentang aku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi Patisambhida Magga dengan jelas menyatakan bahwa bila seseorang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menganggap ada aku yang merasa, ada aku yang melihat, ada aku yang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;marah, ada aku yang menjadi penyebab, maka ia tak akan membuat pilihan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sesuai dengan kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;AJARAN SANG BUDDHA DENGAN JELAS TAK PERNAH MENGATAKAN BAHWA KEBAIKAN DAN&lt;/div&gt;&lt;div&gt;KEBURUKAN BERASAL DARI "AKU", KARENA BILA SESEORANG BERANGGAPAN BAHWA&lt;/div&gt;&lt;div&gt;SEMUA KEBAIKAN ATAU KEBURUKAN BERASAL DARI AKU MAKA ITU ADALAH IDE&lt;/div&gt;&lt;div&gt;KE"AKUAN" JUGA (YANG TERSELUBUNG) Dan seterusnya ajaran Sang Buddha juga&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mengatakan bahwa penyebab dari semua kekacauan ini adalah asava (lobha,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dosa dan moha)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;LOBHA DOSA MOHA BUKANLAH SIAPA-SIAPA, LOBHA DOSA MOHA BUKAN AKU, BUKAN&lt;/div&gt;&lt;div&gt;MILIKKU, "BUKAN BERASAL DARI AKU" lobha dosa moha HANYALAH PROSES yang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;muncul dan lenyap kembali oleh berbagai sebab.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semoga menambah pengetahuan kita semua.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;===============================================&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;HUDOYO HUPUDIO:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rekan Fabian,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(1) Apakah Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu sesuatu yang 'nicca' (kekal) atau 'anicca' (tidak kekal)? Kalau 'anicca', mengapa Anda pegangi erat-erat, mengapa Anda melekat erat-erat ke situ? Karena, sejauh saya lihat, Anda berpegang erat-erat, melekat erat-erat ke situ, maka kesimpulan saya, Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu 'nicca' (kekal).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(2) Apakah Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu sesuatu yang 'sukha' (menyenangkan) atau 'dukkha' (tidak menyenangkan)? Kalau 'dukkha', mengapa Anda pegangi erat-erat, mengapa Anda melekat erat-erat ke situ? Karena, sejauh saya lihat, Anda berpegang erat-erat, melekat erat-erat ke situ, maka kesimpulan saya, Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu 'sukha' (menyenangkan).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(3) Apakah Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu 'milikku' (etam mama) atau 'bukan milikku' (netam mama)? Kalau 'bukan milikku' mengapa Anda pegangi erat-erat, mengapa Anda melekat erat-erat ke situ? Karena, sejauh saya lihat, Anda berpegang erat-erat, melekat erat-erat ke situ, maka kesimpulan saya, Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu 'milikku' (etam mama).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(4) Mengingat bahwa Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu 'kekal', 'menyenangkan', dan 'milikku', maka sangat jelas bahwa dalam batin Anda itu masih ada anggapan, perasaan &amp;amp; keyakinan, 'ini milikku', 'ini aku', 'ini diriku' (etam mama, eso hamasmi, eso me atta) yang sangat kuat, SEKALIPUN dalam intelek Anda berkata: "Aku sudah belajar tentang Anatta, aku sudah tahu tentang Anatta, aku sudah menganut Anatta." -- Yang membentuk batin manusia bukanlah apa yang ada di kepalanya (teori/ajaran), melainkan apa yang tersimpan jauh di dalam hatinya!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(5) Mengingat bahwa Anda menganggap "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali" itu 'kekal', 'menyenangkan', dan 'milikku/aku', bagaimana mungkin Anda "membuat pilihan sesuai dengan kebenaran", bagaimana mungkin Anda "memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness)", dan bagaimana mungkin Anda "menyelami Sotapatti phala atau Sakadagami Phala atau Anagami Phala atau Arahatta Phala"? Tidak mungkin, bukan!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(6) Komentar Anda tentang Patisambhidamagga: "Jadi Patisambhida Magga dengan jelas menyatakan bahwa bila seseorang menganggap --bukan cuma menganggap, tapi juga merasa sedalam-dalamnya/Hudoyo-- ada aku yang merasa, ada aku yang melihat, ada aku yang marah, ada aku yang menjadi penyebab, maka ia tak akan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran." -- Sudahkah Anda berkaca di muka cermin, sudahkah Anda menerapkan komentar Anda itu pada diri Anda sendiri? Tampaknya kok Anda justru tidak menyadari batin Anda sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, kalau Anda merasa diri Anda seorang pemeditasi vipassana --begitulah pandangan umm umat Buddha terhadap sosok Fabian-- berikut ini saya ingatkan tuntunan Sang Buddha bagi setiap orang yang berlatih vipassana:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Di dalam mencerap 'yang dikenal' (vinnatam) [termasuk "pengetahuan 'Buddha Dhamma' Anda yang berasal dari Tipitaka Pali"], JANGAN SAMPAI muncul KONSEP tentang 'yang dikenal', jangan sampai muncul AKU yang INGIN MEMILIKI 'yang dikenal' , dan yang BERSENANG HATI dengan 'yang dikenal'. (Mulapariyaya-sutta)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"JIKA kamu bisa berada dalam keadaan itu, maka KAMU tidak ada lagi (anatta); itulah, hanya itulah, akhir dukkha." (Bahiya-sutta)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demikianlah, bagi seorang pemeditasi vipassana yang benar, Mulapariyaya-sutta &amp;amp; Bahiya-sutta telah MENEGASIKAN seluruh isi kitab suci Tipitaka Pali. Kalau seorang pemeditasi vipassana batinnya masih dijejali dengan pengetahuan kitab suci Tipitaka Pali, termasuk Abhidhamma Pitaka, --atau kitab suci mana pun-- maka ada yang tidak beres dengan vipassana-nya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;PS: Posting Anda agak aneh: judulnya menyebut-nyebut Krishnamurti, kok di dalamnya tidak satu kata pun Anda menyinggung Krishnamurti? Anda lupa? Semula, justru saya ingin tahu seberapa jauh pengetahuan Anda tentang ajaran Krishnamurti. Ternyata tidak ada isinya yang menyangkut Krishnamurti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Salam,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hudoyo &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-7525642944085833045?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/7525642944085833045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/ajaran-krishnamurti-tak-sejalan-dengan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7525642944085833045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7525642944085833045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/ajaran-krishnamurti-tak-sejalan-dengan.html' title='&quot;Ajaran Krishnamurti tak sejalan dengan ajaran Sang Buddha.&quot; Debat Hudoyo Hupodio - Chandra Fabian'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-8276777442123370485</id><published>2010-04-15T07:59:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T08:03:07.193-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Kisah Bernadette Roberts: Bebas tanpa melalui vipassana/Buddha Dhamma</title><content type='html'>&lt;div&gt;Catatan Hudoyo Hupudio: Kisah Bernadette Roberts: Bebas tanpa melalui vipassana/Buddha Dhamma&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kisah Bernadette Roberts: Bebas tanpa melalui vipassana/Buddha Dhamma&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;@Riky: Ini satu kisah nyata bagaimana seseorang bisa mencapai lenyapnya aku (salah satu ciri penting orang yg bebas) tanpa melalui meditasi vipassana:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bernadette Roberts lahir di lingkungan keluarga Katolik yg saleh di negara bagian California, A.S.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sejak kecil ia mempunyai bakat untuk bermeditasi, duduk diam di kamarnya. Ayah &amp;amp; ibunya mendorong bakat Bernadette ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada usia 15 tahun ia masuk biara, menjadi suster (biarawati). Tujuannya adalah untuk mengembangkan bakat meditasinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menurut ajaran mistisisme Kristen, tujuan meditasi adalah untuk menyatu dengan Tuhan. Itu adalah tujuan tertinggi. Di situ masih ada 'aku'; hanya saja pada puncaknya, 'aku' itu tidak terpisah dari Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di dalam biara itu, Bernadette mengaku telah mencapai tujuan tertinggi mistisisme Kristen itu. Setiap malam ia masuk ke dalam lubuk batinnya yang dinamakannya "the still point" (titik hening), dan berada bersama Tuhan, yg diibaratkannya seperti sekeping mata uang, di satu sisi Tuhan dan di sisi lain Bernadette, dan tidak bisa dipisahkan. Digambarkannya keadaan itu seperti suasana yg hening, aman &amp;amp; damai, di mana tidak ada gangguan pikiran &amp;amp; keinginan bisa masuk.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bernadette sampai pada kemampuan untuk masuk dan keluar dari 'titik hening' itu kapan saja dia mau.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada usia 25 tahun, ia lepas jubah. Alasannya tidak ada apa-apa lagi yg perlu dikerjakan dan perlu dicapai di dalam biara. Malah, menurut dia, keberadaan bersama Tuhan itu harus diuji "di pasar", dalam kehidupan masyarakat ramai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia menikah, dan punya empat anak laki-laki. Ia kuliah lagi, mencapai gelar S2 di bidang pendidikan, lalu mengajar di sebuah SMU. Sementara itu ia tetap menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitulah kehidupannya berlangsung selama 20 tahun. Setiap malam ia tetap bermeditasi, masuk ke dalam "titik hening", "menyatu dengan Tuhan". Suami dan anak-anaknya sangat mendukung kelakuan ibu mereka yg "aneh" itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dua puluh tahun kemudian terjadilah suatu peristiwa dahsyat, yg tidak diharapkannya dan tidak pernah terpikir dalam benak Bernadette.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ingat, ia seorang Katolik; ia tidak pernah membaca buku-buku spiritual atau mistikal dari Timur (Buddhis, Hindu dsb).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama itu, yg diketahuinya hanyalah buku-buku pintar bagi para biarawan/-wati Katolik, yg ditulis oleh St Yohanes dari Salib dan St Teresa dari Avila. Tujuan mistisisme Katolik dalam kedua buku itu adalah "penyatuan dengan Tuhan". Tidak pernah terpikirkan olehnya kemungkinan diri/aku ini bisa lenyap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada suatu malam, ketika ia akan masuk ke dalam "titik hening", ia tidak bisa menemukan "titik hening" itu. Alih-alih, ia hanya melihat semacam "lubang hitam" di dalam batinnya. "Lubang hitam" itu semakin membesar, memenuhi seluruh dirinya, lalu meletus seperti balon. Ia merasa jatuh dari lift yang putus rantainya setinggi 100 lantai ke bawah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesampai di "bawah", ia membuka mata, dan melihat segala sesuatu di sekelilingnya, di kamarnya, tidak ada yg berubah. Tetapi ada satu perubahan besar: ia tidak bisa merasakan batinnya sendiri! Tidak ada emosi; tidak ada rasa-aku, sebagai pusat yg melihat ke sekelilingnya. Tidak ada lagi aku, subjek, yg berhadapan dengan objek. Semuanya adalah objek, bahkan tubuhnya sendiri pun dilihatnya sebagai objek, yg tidak berbeda tubuh-tubuh orang lain. Tidak ada subjek, yg merasa menjadi pusat dari keberadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak ada emosi; tidak ada rasa senang, bahagia, dan tidak ada rasa susah, menderita. Tubuh tetap ada, pancaindra tetap berfungsi sempurna, intelek &amp;amp; ingatan yg bersifat faktual tetap ada, tapi tidak ada lagi aku/subjek di dalam batinnya. Tubuh ada, rasa sakit jasmani ada, tapi tidak ada lagi rasa menderita karena sakit jasmani itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia harus belajar lagi beradaptasi selama dua tahun untuk kembali bisa berfungsi sebagai anggota keluarga &amp;amp; masyarakat yg "normal". Ia harus belajar untuk melihat laki-laki suaminya berbeda dengan laki-laki lain, sekalipun tidak ada lagi perasaan laki-laki itu adalah "suami-KU". Begitu pula ia harus mempelajari kembali perannya sebagai ibu bagi keempat anaknya yg sudah remaja; keempat anak itu berbeda dengan remaja-remaja teman-teman mereka yg lain, sekalipun dalam batinnya tidak ada lagi perasaan "Mereka itu anak-anak-KU".&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan yang paling menarik ialah, ketika diri/aku-nya lenyap pada peristiwa malam itu, bersama dengan itu maka Tuhan yg dikenalnya pun LENYAP! Ia tidak bisa lagi menemukan Tuhan yg selama itu dikenalnya dan dengan siapa ia berada di dalam "titik hening" setiap malam selama dua puluh tahun lebih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi sebagai gantinya, ke mana pun ia memandang, dalam mata batinnya ia melihat ada SESUATU YANG LAIN. 'Sesuatu yg lain' ini dilihatnya meresapi segala sesuatu yg ada dalam pandangannya. Dan secara INTUITIF ia tahu, bahwa 'sesuatu yg lain' itu adalah sumber segala sesuatu yg ada di alam semesta ini, dan ke mana segala sesuatu akan kembali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ayah teringat akan Udana 8.3: "Ada sesuatu yg tak terlahirkan, tak terbentuk, tak berproses, tak terkondisi."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai sekarang Bernadette Roberts masih hidup. Tapi ia tidak bisa dihubungi, karena tidak punya alamat email. Teman-teman Bernadette membuatkan sebuah website/blog tentang dia, "Bernadette's Friends", http://bernadettesfriends.blogspot.com/&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kisah pengalaman spiritual Bernadette Roberts ini tertuang dalam buku yang ditulisnya dua tahun setelah lenyapnya aku/dirinya, "The Experience of No-Self". Buku itu telah Ayah terjemahkan, "Pengalaman Tanpa-Diri", dan bisa diunduh dari http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_download_ebooks.html&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini satu contoh nyata di mana orang bisa mencapai lenyapnya aku/diri tanpa melalui meditasi vipassana, bahkan tanpa melalui Buddha Dhamma.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-8276777442123370485?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/8276777442123370485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/kisah-bernadette-roberts-bebas-tanpa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8276777442123370485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8276777442123370485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/kisah-bernadette-roberts-bebas-tanpa.html' title='Kisah Bernadette Roberts: Bebas tanpa melalui vipassana/Buddha Dhamma'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-3240037457908589113</id><published>2010-04-15T07:53:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T07:58:56.461-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J.Krisnamurti.Spiritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Perkembangan pemikiran J.Krishnamurti selama 50 tahun</title><content type='html'>&lt;div&gt;Catatan Hudoyo Hupudio&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perkembangan pemikiran J.Krishnamurti selama 50 tahun&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rekan-rekan pembaca yg baik,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Baru saja saya menemukan sebuah posting yang menarik: yakni ucapan Krishnamurti di masa awal kehidupannya sebagai guru spiritual, setelah dia dilaporkan mengalami proses pencerahan--yang melibatkan kesakitan fisik--di sekitar th 1926-1928. (Pada tahun 1929 dia membubarkan Perkumpulan Bintang Timur, yang mempunyai anggota ribuan di seluruh dunia dan yang diketuainya; perkumpulan itu didirikan oleh Annie Besant dan Kolonel Olcott--para petinggi Teosofi di kala itu--sebagai wadah untuk menyambut penampilan Krishnamurti sebagai "Guru Dunia", yang dipercaya akan terjadi tidak lama lagi.)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam posting ini terasa adanya suatu pemahaman dan nuansa tertentu. Pertama, dia menyatakan bahwa dia telah mencapai sesuatu yang dinamakannya "realitas". Kedua, dia berbicara tentang jalan, tentang disiplin, dan tentang tujuan, yakni "cinta kasih yang impersonal ...," yang disebutnya sebagai "pemenuhan yang sempurna" [perfect fulfillment]. Ketiga, terasa ada nuansa 'mengkhotbahi' dan 'menasehati' para pendengarnya dalam ucapan-ucapan Krishnamurti di masa awal itu. Tulisan ini terbit pada tahun 1930-an.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagai bahan perbandingan, saya tampilkan salah satu renungannya yang terakhir, yang direkam pada tahun 1984 (50 tahun setelah tulisan yang pertama), sekitar dua tahun sebelum ia meninggal dunia. Pada waktu itu ia berusia 89 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di sini dia tidak lagi berbicara tentang "jalan", "disiplin" dan "tujuan". Alih-alih dia malah berbicara tentang 'kematian'. Dia berbicara tentang 'apa adanya', di dalam dan di sekitar kita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Banyak pencari jalan spiritual merasa sulit "memahami" Krishnamurti. Mereka tidak mendapatkan apa yang mereka dambakan, yang mereka inginkan dari ucapan-ucapannya. Bahkan banyak orang spiritual menolak sudut pandang Krishnamurti, karena terasa tidak nyaman; karena dia mau tidak mau mendorong mereka untuk menengok ke dalam liku-liku batin sendiri, dan melihat apa yang tidak ingin mereka lihat di situ. Ada yang mengatakan Krishnamurti seorang pesimis, seorang nihilis, yang ajarannya tidak bermanfaat apa-apa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi saya kok malah merasa lebih "cocok" dengan tulisannya yang terakhir dibandingkan tulisannya yang pertama. Menurut saya, tulisannya yang pertama memberikan iming-iming spiritual, sama seperti yang diberikan oleh agama-agama dan banyak guru spiritual lainnya; sedangkan tulisan yang kedua bersifat mengejutkan, menggemparkan batin, dan menggugah saya dari rasa puas diri (a sense of complacency) dengan spiritualitas yang saya anut selama ini, dan menimbulkan dalam diri saya suatu 'rasa mendesak' (a sense of urgency), mendesak untuk menggarap batin saya sekarang juga, pada saat ini juga.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Ini persis sama dengan Buddha Gautama, yang tidak pernah bicara tentang Tuhan dan memberikan iming-iming, melainkan cuma mengajarkan tiga corak dasar eksistensi: tidak kekal, tidak membahagiakan, dan tanpa aku, dan mengajarkan pembebasan dari kelekatan pada semua itu.) &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Intisari dari uraian Krishnamurti yang terasa negatif, mencekam, dan menggemparkan itu saya lihat justru pada kalimatnya yang terakhir, pada satu kalimat itu saja! Satu kalimat yang oleh agama-agama dan banyak guru spiritual lain diuraikan panjang lebar tanpa ada manfaatnya, alih-alih malah menjadi iming-iming spiritual baru. Silakan baca sendiri kalimat itu. Soalnya sekarang, mampukah kita melihat/ mengalami sendiri apa yang dikatakannya itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Salam,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hudoyo&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(PS: Secara konseptual, kedua tulisan ini menggambarkan perkembangan sudut pandang Krishnamurti dari 'jalan negatif' yang setengah-setengah kepada 'jalan negatif' yang penuh dan konsisten.)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;=======================&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. KRISHNAMURTI (1930-an):&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Nah, realitas ini adalah sesuatu yang saya nyatakan telah saya capai. Bagi saya, ini bukan konsep teologis. Ini adalah pengalaman hidup saya, pasti, nyata, konkrit. Oleh karena itu, saya dapat berbicara tentang apa yang diperlukan untuk mencapainya; dan saya katakan, yang pertama adalah mengenali dengan tepat apa yang harus terjadi dengan keinginan agar kita mencapai kepenuhan, dan kemudian mendisiplinkan diri kita sehingga setiap saat kita mengamati keinginan-keinginan kita sendiri, dan menuntun mereka menuju cinta kasih impersonal yang merangkul- semua, yang harus menjadi pemenuhan mereka yang sejati. Bila Anda telah menegakkan disiplin keadaan-sadar [awareness] yang terus- menerus, kewaspadaan terus-menerus terhadap semua yang Anda pikirkan, rasakan dan lakukan, maka kehidupan bukan lagi sesuatu yang menindas, melelahkan, membingungkan, seperti yang dirasakan oleh kebanyakan dari kita, alih-alih, ia menjadi suatu rangkaian kesempatan-kesempatan menuju pemenuhan yang sempurna [perfect fulfillment].&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oleh karena itu, tujuan hidup bukanlah sesuatu yang berada jauh, untuk dicapai di masa depan yang jauh, melainkan harus direalisasikan saat demi saat di saat kini, yang adalah keabadian."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(J. Krishnamurti, Early Works, circa 1930) [garis bawah dari saya/hh]&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;==============================&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. KRISHNAMURTI (1984):&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Mengapa manusia mati dengan begitu sengsara, begitu tidak berbahagia, dirundung penyakit, usia lanjut, uzur, tubuh lapuk, jelek? Mengapa mereka tidak dapat mati secara wajar dan seindah daun ini? Apakah yang tidak beres dengan diri kita? Kendatipun ada banyak dokter, obat dan rumah sakit, operasi, serta segenap kepedihan hidup, dan juga kenikmatannya, tampaknya kita tidak mampu mati dengan bermartabat, dengan kesederhanaan, dan dengan seulas senyum.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada suatu kali, ketika berjalan di sebuah lorong, kami mendengar di belakang kami suatu kidung, merdu, berirama, dengan kekuatan bahasa Sansekerta kuno. Kami berhenti dan berpaling. Seorang anak sulung, bertelanjang dada, membawa sebuah poci tanah liat dengan api yang menyala di dalamnya. Ia membawanya di dalam sebuah wadah yang lebih besar, dan di belakangnya berjalan dua orang memikul tandu yang berisi mayat ayahnya, terbungkus kain putih, dan mereka semua melantunkan kidung. Kami tahu kidung itu, dan kami hampir-hampir ikut menyanyikannya. Mereka lewat dan kami mengikuti mereka. Mereka menelusuri jalan menurun sambil menyanyi, dan anak sulung itu mencucurkan air mata. Mereka membawa mayat ayahnya ke pantai, tempat mereka telah menyiapkan setumpukan tinggi kayu bakar. Mereka meletakkan mayat itu di atas onggokan kayu itu, dan mulai membakarnya. Semua itu begitu alamiah, begitu sederhana luar biasa: tiada bunga, tiada kereta jenazah, tiada kereta hitam dengan kuda hitam. Semuanya begitu hening dan begitu bermartabat. Dan kami memandang sehelai daun, dan ribuan daun di pohon. Musim dingin memisahkan daun itu dari induknya dan mencampakkannya di jalan; dan tak lama lagi daun itu akan layu dan mengering sepenuhnya, pergi, terbawa angin dan lenyap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sementara Anda mengajarkan kepada anak-anak matematika, menulis, membaca dan segala kesibukan menimbun pengetahuan, mereka juga harus diajar tentang martabat kematian, bukan sebagai sesuatu yang menyedihkan dan tidak membahagiakan, yang pada akhirnya harus kita hadapi, melainkan sebagai suatu bagian dari kehidupan sehari-hari--kehidupan sehari-hari yang memandang langit biru dan seekor belalang di atas sehelai daun. Itu adalah bagian dari belajar, seperti tumbuhnya gigi serta semua ketidaknyamanan penyakit-penyakit kanak-kanak. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Jika Anda melihat hakekat kematian, Anda tidak menjelaskan bahwa segala sesuatu akan mati, dari debu kembali ke debu, dan sebagainya, melainkan tanpa rasa takut Anda menjelaskannya kepada mereka dengan lembut dan membuat mereka merasa bahwa yang hidup dan yang mati adalah satu--bukan pada akhir kehidupan kita sesudah lima puluh, enam puluh atau sembilan puluh tahun, melainkan bahwa kematian adalah seperti daun itu. Lihatlah orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, betapa mereka tampak renta, putus asa, tidak bahagia dan jelek. Tidakkah itu karena mereka tidak sungguh-sungguh memahami yang hidup dan yang mati? Mereka telah menghabiskan hidup mereka, mereka telah membuang-buang kehidupan mereka dengan konflik-konflik yang tak berkeputusan, yang hanya melatih dan menguatkan diri, sang 'aku', ego. Kita menghabiskan hari-hati kita dalam berbagai konflik dan ketidakbahagiaan itu, dengan sedikit suka cita dan kesenangan, minum, merokok, bergadang dan bekerja, bekerja, bekerja. Dan pada akhir kehidupan kita, kita menghadapi apa yang dinamakan 'kematian', lalu merasa takut terhadapnya. Kita berpendapat itu dapat dipahami, dapat dirasakan secara mendalam. Seorang anak dengan rasa ingin tahunya dapat dibantu untuk memahami bahwa kematian bukanlah sekadar rusaknya badan karena suatu penyakit, usia tua atau suatu kecelakaan yang tak diharapkan, melainkan bahwa akhir dari setiap hari adalah juga akhir dari diri kita setiap hari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak ada kebangkitan kembali [resurrection], itu adalah takhyul, kepercayaan dogmatik. Segala sesuatu di muka bumi ini, hidup, mati, muncul dan layu. Untuk menangkap seluruh gerak kehidupan ini dibutuhkan kecerdasan [intelligence], bukan kecerdasan pikiran, atau buku, atau pengetahuan, melainkan kecerdasan cinta dan welas asih beserta kepekaannya. Kita amat yakin, jika si pendidik memahami makna kematian dan martabatnya, kesederhanaan yang luar biasa dari kematian--memahaminya bukan secara intelektual, melainkan secara mendalam--maka ia mungkin akan dapat menyampaikan kepada para siswa, kepada anak, bahwa kematian, pengakhiran, tidak perlu dihindari, bukan sesuatu yang perlu ditakuti, oleh karena ia adalah bagian dari keseluruhan hidup kita, sehingga ketika siswa, anak itu tumbuh, ia tidak akan pernah takut akan pengakhiran. Jika seluruh manusia yang pernah hidup sebelum kita, generasi demi generasi di masa lampau, masih hidup di dunia ini, betapa mengerikannya itu. Permulaan bukanlah pengakhiran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan kita ingin membantu--bukan, itu bukan kata yang tepat--kita ingin di dalam pendidikan membawa kematian ke dalam semacam realitas, aktualitas, bukan tentang seseorang yang mati, melainkan tentang masing-masing dari kita, betapa pun tua atau muda, yang pada akhirnya harus menghadapi hal itu. Itu bukan peristiwa yang menyedihkan, yang penuh air mata, kesepian, dan perpisahan. Kita begitu mudah membunuh, bukan hanya hewan untuk kita makan, tetapi juga pembunuhan yang tidak perlu untuk hiburan, yang disebut olah raga--membunuh rusa karena sekarang musim berburu rusa. Membunuh seekor rusa adalah seperti membunuh tetangga Anda. Anda membunuh binatang karena Anda kehilangan kontak dengan alam, dengan seluruh yang hidup di muka bumi ini. Anda membunuh dalam perang, demi begitu banyak ideologi yang romantik, nasionalistik, politis. Atas nama Tuhan Anda membunuh manusia. Kekerasan dan pembunuhan bergandengan tangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selagi kita memandang daun yang mati dengan seluruh keindahan dan warnanya, mungkin kita akan memahami, menyadari dengan sangat dalam, bagaimana sebenarnya kematian kita sendiri, bukan pada akhirnya nanti, melainkan sejak awal sekali. Kematian bukanlah sesuatu yang mengerikan, sesuatu untuk dihindari, sesuatu untuk ditunda, melainkan sesuatu untuk diakrabi hari demi hari. Dan dari situ muncullah rasa kemahaluasan [immensity] yang luar biasa."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;("Krishnamurti to Himself, His Last Journal", 1987, hal.132-4)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-3240037457908589113?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/3240037457908589113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/perkembangan-pemikiran-jkrishnamurti_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/3240037457908589113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/3240037457908589113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/perkembangan-pemikiran-jkrishnamurti_15.html' title='Perkembangan pemikiran J.Krishnamurti selama 50 tahun'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-4464700193894182301</id><published>2010-04-01T08:07:00.000-07:00</published><updated>2010-04-01T08:10:24.578-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J.Krisnamurti.Spiritual'/><title type='text'>J. Krishnamurti: Bagaimana Saya Memandang Marah?</title><content type='html'>Catatan Buku Kehidupan J. Krishnamurti: Bagaimana Saya Memandang Marah?&lt;br /&gt;Bagaimana Saya Memandang Marah? (30 Maret)&lt;br /&gt;Bagikan&lt;br /&gt; Sel pukul 7:12&lt;br /&gt;Jelas, saya memandangnya sebagai seorang pengamat yang marah. Saya berkata, “Saya marah.” Pada saat marah, tidak ada ‘aku’; sang ‘aku’ muncul sesaat kemudian—yang berarti waktu. Dapatkah saya memandang fakta itu tanpa faktor waktu, yang adalah pikiran, yang adalah kata? Ini terjadi bila orang memandang tanpa si pengamat. Lihat ke mana itu menuntun saya. Sekarang saya mulai melihat suatu cara memandang—melihat tanpa opini, tanpa kesimpulan, tanpa menyalahkan, tanpa menghakimi. Maka, saya melihat kemungkinan “melihat” tanpa pikiran, yang adalah kata. Maka batin berada di luar cengkeraman gagasan, konflik dualitas dan seterusnya. Jadi, dapatkah saya memandang rasa takut bukan sebagai fakta terisolasi?&lt;br /&gt;Jika anda mengisolasikan suatu fakta yang belum membuka pintu kepada segenap alam batin, marilah kita kembali kepada fakta dan mulai lagi dengan mengambil fakta lain, sehingga Anda sendiri dapat mulai melihat keadaan batin yang luar biasa, sehingga Anda memiliki kunci, Anda dapat membuka pintu, anda dapat menembus ke dalamnya. ...&lt;br /&gt;... Dengan merenungkan satu ketakutan—takut akan kematian, takut akan tetangga, takut bahwa teman hidup Anda akan mendominasi Anda; Anda tahu masalah dominasi itu—apakah itu akan membuka pintu? Itulah yang penting—bukan bagaimana untuk bebas dari itu—oleh karena begitu Anda membuka pintu, ketakutan itu terhapus sama sekali. Batin adalah hasil dari waktu, dan waktu adalah kata—betapa luar biasa memikirkan itu! Waktu adalah pikiran; pikiranlah yang menumbuhkan ketakutan, pikiranlah yang menumbuhkan ketakutan akan kematian; dan waktulah, yang adalah pikiran, yang menggenggam seluruh liku-liku dan kehalusan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari The Book of Life oleh J. KRISHNAMURTI, terjemahan Dr. Hudoyo Hupudio MPH&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-4464700193894182301?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/4464700193894182301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/j-krishnamurti-bagaimana-saya-memandang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/4464700193894182301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/4464700193894182301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/j-krishnamurti-bagaimana-saya-memandang.html' title='J. Krishnamurti: Bagaimana Saya Memandang Marah?'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-2079913518153933771</id><published>2010-04-01T08:06:00.000-07:00</published><updated>2010-04-01T08:07:29.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J.Krisnamurti.Spiritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>J. Krishnamurti: Akar Segala Ketakutan</title><content type='html'>Catatan Buku Kehidupan J. Krishnamurti: Akar Segala Ketakutan (31 Maret)&lt;br /&gt;Catatan Buku Kehidupan|Catatan tentang Buku Kehidupan|Profil Buku Kehidupan&lt;br /&gt;Akar Segala Ketakutan (31 Maret)&lt;br /&gt;Bagikan&lt;br /&gt; Kemarin jam 1:42&lt;br /&gt;Keinginan untuk menjadi [sesuatu] menyebabkan ketakutan; menjadi, mencapai, dan dengan demikian bergantung, menghasilkan ketakutan. Keadaan tak-takut bukanlah suatu negasi; itu bukan lawan dari ketakutan, bukan pula keberanian. Di dalam pemahaman akan sebab ketakutan, terdapat akhir dari ketakutan, bukan menjadi berani, oleh karena di dalam proses menjadi terdapat benih ketakutan. Kebergantungan kepada benda-benda, kepada orang atau kepada gagasan menumbuhkan ketakutan; kebergantungan muncul dari ketaktahuan, dari tidak adanya pengetahuan-diri, dari kemiskinan batiniah; ketakutan menyebabkan ketakpastian dari pikiran-hati, menghalangi komunikasi dan pemahaman. Melalui kesadaran-diri kita mulai menemukan dan dengan demikian memahami sebab dari ketakutan; bukan hanya yang dangkal, tetapi juga ketakutan yang kausal, dalam dan akumulatif. Ketakutan kita warisi dan kita dapat; ia berkaitan dengan masa lampau, dan untuk membebaskan pikiran-perasaan darinya, masa lampau harus dipahami melalui masa kini. Masa lampau terus-menerus ingin melahirkan masa kini, yang menjadi ingatan “aku”, “milikku”, “diri”, yang memberi identitas. Diri inilah akar dari segala ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari The Book of Life oleh J. KRISHNAMURTI, terjemahan Dr. Hudoyo Hupudio MPH&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-2079913518153933771?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/2079913518153933771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/j-krishnamurti-akar-segala-ketakutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2079913518153933771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2079913518153933771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/j-krishnamurti-akar-segala-ketakutan.html' title='J. Krishnamurti: Akar Segala Ketakutan'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-1744071174890337211</id><published>2010-04-01T07:34:00.002-07:00</published><updated>2010-04-01T07:50:58.222-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J.Krisnamurti.Spiritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Perkembangan pemikiran J.Krishnamurti selama 50 tahun</title><content type='html'>Catatan Hudoyo Hupudio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pemikiran J.Krishnamurti selama 50 tahun&lt;br /&gt;Bagikan&lt;br /&gt; 20 Februari 2010 jam 20:03&lt;br /&gt;[Dari: posting di Milis-Spiritual, 21 Februari 2001, #14835]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekan pembaca yg baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja saya menemukan sebuah posting yang menarik: yakni ucapan Krishnamurti di masa awal kehidupannya sebagai guru spiritual, setelah dia dilaporkan mengalami proses pencerahan--yang melibatkan kesakitan fisik--di sekitar th 1926-1928. (Pada tahun 1929 dia membubarkan Perkumpulan Bintang Timur, yang mempunyai anggota ribuan di seluruh dunia dan yang diketuainya; perkumpulan itu didirikan oleh Annie Besant dan Kolonel Olcott--para petinggi Teosofi di kala itu--sebagai wadah untuk menyambut penampilan Krishnamurti sebagai "Guru Dunia", yang dipercaya akan terjadi tidak lama lagi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posting ini terasa adanya suatu pemahaman dan nuansa tertentu. Pertama, dia menyatakan bahwa dia telah mencapai sesuatu yang dinamakannya "realitas". Kedua, dia berbicara tentang jalan, tentang disiplin, dan tentang tujuan, yakni "cinta kasih yang impersonal ...," yang disebutnya sebagai "pemenuhan yang sempurna" [perfect fulfillment]. Ketiga, terasa ada nuansa 'mengkhotbahi' dan 'menasehati' para pendengarnya dalam ucapan-ucapan Krishnamurti di masa awal itu. Tulisan ini terbit pada tahun 1930-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan perbandingan, saya tampilkan salah satu renungannya yang terakhir, yang direkam pada tahun 1984 (50 tahun setelah tulisan yang pertama), sekitar dua tahun sebelum ia meninggal dunia. Pada waktu itu ia berusia 89 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini dia tidak lagi berbicara tentang "jalan", "disiplin" dan "tujuan". Alih-alih dia malah berbicara tentang 'kematian'. Dia berbicara tentang 'apa adanya', di dalam dan di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pencari jalan spiritual merasa sulit "memahami" Krishnamurti. Mereka tidak mendapatkan apa yang mereka dambakan, yang mereka inginkan dari ucapan-ucapannya. Bahkan banyak orang spiritual menolak sudut pandang Krishnamurti, karena terasa tidak nyaman; karena dia mau tidak mau mendorong mereka untuk menengok ke dalam liku-liku batin sendiri, dan melihat apa yang tidak ingin mereka lihat di situ. Ada yang mengatakan Krishnamurti seorang pesimis, seorang nihilis, yang ajarannya tidak bermanfaat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya kok malah merasa lebih "cocok" dengan tulisannya yang terakhir dibandingkan tulisannya yang pertama. Menurut saya, tulisannya yang pertama memberikan iming-iming spiritual, sama seperti yang diberikan oleh agama-agama dan banyak guru spiritual lainnya; sedangkan tulisan yang kedua bersifat mengejutkan, menggemparkan batin, dan menggugah saya dari rasa puas diri (a sense of complacency) dengan spiritualitas yang saya anut selama ini, dan menimbulkan dalam diri saya suatu 'rasa mendesak' (a sense of urgency), mendesak untuk menggarap batin saya sekarang juga, pada saat ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ini persis sama dengan Buddha Gautama, yang tidak pernah bicara tentang Tuhan dan memberikan iming-iming, melainkan cuma mengajarkan tiga corak dasar eksistensi: tidak kekal, tidak membahagiakan, dan tanpa aku, dan mengajarkan pembebasan dari kelekatan pada semua itu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intisari dari uraian Krishnamurti yang terasa negatif, mencekam, dan menggemparkan itu saya lihat justru pada kalimatnya yang terakhir, pada satu kalimat itu saja! Satu kalimat yang oleh agama-agama dan banyak guru spiritual lain diuraikan panjang lebar tanpa ada manfaatnya, alih-alih malah menjadi iming-iming spiritual baru. Silakan baca sendiri kalimat itu. Soalnya sekarang, mampukah kita melihat/ mengalami sendiri apa yang dikatakannya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Hudoyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PS: Secara konseptual, kedua tulisan ini menggambarkan perkembangan sudut pandang Krishnamurti dari 'jalan negatif' yang setengah-setengah kepada 'jalan negatif' yang penuh dan konsisten.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KRISHNAMURTI (1930-an):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, realitas ini adalah sesuatu yang saya nyatakan telah saya capai. Bagi saya, ini bukan konsep teologis. Ini adalah pengalaman hidup saya, pasti, nyata, konkrit. Oleh karena itu, saya dapat berbicara tentang apa yang diperlukan untuk mencapainya; dan saya katakan, yang pertama adalah mengenali dengan tepat apa yang harus terjadi dengan keinginan agar kita mencapai kepenuhan, dan kemudian mendisiplinkan diri kita sehingga setiap saat kita mengamati keinginan-keinginan kita sendiri, dan menuntun mereka menuju cinta kasih impersonal yang merangkul- semua, yang harus menjadi pemenuhan mereka yang sejati. Bila Anda telah menegakkan disiplin keadaan-sadar [awareness] yang terus- menerus, kewaspadaan terus-menerus terhadap semua yang Anda pikirkan, rasakan dan lakukan, maka kehidupan bukan lagi sesuatu yang menindas, melelahkan, membingungkan, seperti yang dirasakan oleh kebanyakan dari kita, alih-alih, ia menjadi suatu rangkaian kesempatan-kesempatan menuju pemenuhan yang sempurna [perfect fulfillment].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tujuan hidup bukanlah sesuatu yang berada jauh, untuk dicapai di masa depan yang jauh, melainkan harus direalisasikan saat demi saat di saat kini, yang adalah keabadian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(J. Krishnamurti, Early Works, circa 1930) [garis bawah dari saya/hh]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==============================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. KRISHNAMURTI (1984):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa manusia mati dengan begitu sengsara, begitu tidak berbahagia, dirundung penyakit, usia lanjut, uzur, tubuh lapuk, jelek? Mengapa mereka tidak dapat mati secara wajar dan seindah daun ini? Apakah yang tidak beres dengan diri kita? Kendatipun ada banyak dokter, obat dan rumah sakit, operasi, serta segenap kepedihan hidup, dan juga kenikmatannya, tampaknya kita tidak mampu mati dengan bermartabat, dengan kesederhanaan, dan dengan seulas senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kali, ketika berjalan di sebuah lorong, kami mendengar di belakang kami suatu kidung, merdu, berirama, dengan kekuatan bahasa Sansekerta kuno. Kami berhenti dan berpaling. Seorang anak sulung, bertelanjang dada, membawa sebuah poci tanah liat dengan api yang menyala di dalamnya. Ia membawanya di dalam sebuah wadah yang lebih besar, dan di belakangnya berjalan dua orang memikul tandu yang berisi mayat ayahnya, terbungkus kain putih, dan mereka semua melantunkan kidung. Kami tahu kidung itu, dan kami hampir-hampir ikut menyanyikannya. Mereka lewat dan kami mengikuti mereka. Mereka menelusuri jalan menurun sambil menyanyi, dan anak sulung itu mencucurkan air mata. Mereka membawa mayat ayahnya ke pantai, tempat mereka telah menyiapkan setumpukan tinggi kayu bakar. Mereka meletakkan mayat itu di atas onggokan kayu itu, dan mulai membakarnya. Semua itu begitu alamiah, begitu sederhana luar biasa: tiada bunga, tiada kereta jenazah, tiada kereta hitam dengan kuda hitam. Semuanya begitu hening dan begitu bermartabat. Dan kami memandang sehelai daun, dan ribuan daun di pohon. Musim dingin memisahkan daun itu dari induknya dan mencampakkannya di jalan; dan tak lama lagi daun itu akan layu dan mengering sepenuhnya, pergi, terbawa angin dan lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Anda mengajarkan kepada anak-anak matematika, menulis, membaca dan segala kesibukan menimbun pengetahuan, mereka juga harus diajar tentang martabat kematian, bukan sebagai sesuatu yang menyedihkan dan tidak membahagiakan, yang pada akhirnya harus kita hadapi, melainkan sebagai suatu bagian dari kehidupan sehari-hari--kehidupan sehari-hari yang memandang langit biru dan seekor belalang di atas sehelai daun. Itu adalah bagian dari belajar, seperti tumbuhnya gigi serta semua ketidaknyamanan penyakit-penyakit kanak-kanak. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Jika Anda melihat hakekat kematian, Anda tidak menjelaskan bahwa segala sesuatu akan mati, dari debu kembali ke debu, dan sebagainya, melainkan tanpa rasa takut Anda menjelaskannya kepada mereka dengan lembut dan membuat mereka merasa bahwa yang hidup dan yang mati adalah satu--bukan pada akhir kehidupan kita sesudah lima puluh, enam puluh atau sembilan puluh tahun, melainkan bahwa kematian adalah seperti daun itu. Lihatlah orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, betapa mereka tampak renta, putus asa, tidak bahagia dan jelek. Tidakkah itu karena mereka tidak sungguh-sungguh memahami yang hidup dan yang mati? Mereka telah menghabiskan hidup mereka, mereka telah membuang-buang kehidupan mereka dengan konflik-konflik yang tak berkeputusan, yang hanya melatih dan menguatkan diri, sang 'aku', ego. Kita menghabiskan hari-hati kita dalam berbagai konflik dan ketidakbahagiaan itu, dengan sedikit suka cita dan kesenangan, minum, merokok, bergadang dan bekerja, bekerja, bekerja. Dan pada akhir kehidupan kita, kita menghadapi apa yang dinamakan 'kematian', lalu merasa takut terhadapnya. Kita berpendapat itu dapat dipahami, dapat dirasakan secara mendalam. Seorang anak dengan rasa ingin tahunya dapat dibantu untuk memahami bahwa kematian bukanlah sekadar rusaknya badan karena suatu penyakit, usia tua atau suatu kecelakaan yang tak diharapkan, melainkan bahwa akhir dari setiap hari adalah juga akhir dari diri kita setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kebangkitan kembali [resurrection], itu adalah takhyul, kepercayaan dogmatik. Segala sesuatu di muka bumi ini, hidup, mati, muncul dan layu. Untuk menangkap seluruh gerak kehidupan ini dibutuhkan kecerdasan [intelligence], bukan kecerdasan pikiran, atau buku, atau pengetahuan, melainkan kecerdasan cinta dan welas asih beserta kepekaannya. Kita amat yakin, jika si pendidik memahami makna kematian dan martabatnya, kesederhanaan yang luar biasa dari kematian--memahaminya bukan secara intelektual, melainkan secara mendalam--maka ia mungkin akan dapat menyampaikan kepada para siswa, kepada anak, bahwa kematian, pengakhiran, tidak perlu dihindari, bukan sesuatu yang perlu ditakuti, oleh karena ia adalah bagian dari keseluruhan hidup kita, sehingga ketika siswa, anak itu tumbuh, ia tidak akan pernah takut akan pengakhiran. Jika seluruh manusia yang pernah hidup sebelum kita, generasi demi generasi di masa lampau, masih hidup di dunia ini, betapa mengerikannya itu. Permulaan bukanlah pengakhiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita ingin membantu--bukan, itu bukan kata yang tepat--kita ingin di dalam pendidikan membawa kematian ke dalam semacam realitas, aktualitas, bukan tentang seseorang yang mati, melainkan tentang masing-masing dari kita, betapa pun tua atau muda, yang pada akhirnya harus menghadapi hal itu. Itu bukan peristiwa yang menyedihkan, yang penuh air mata, kesepian, dan perpisahan. Kita begitu mudah membunuh, bukan hanya hewan untuk kita makan, tetapi juga pembunuhan yang tidak perlu untuk hiburan, yang disebut olah raga--membunuh rusa karena sekarang musim berburu rusa. Membunuh seekor rusa adalah seperti membunuh tetangga Anda. Anda membunuh binatang karena Anda kehilangan kontak dengan alam, dengan seluruh yang hidup di muka bumi ini. Anda membunuh dalam perang, demi begitu banyak ideologi yang romantik, nasionalistik, politis. Atas nama Tuhan Anda membunuh manusia. Kekerasan dan pembunuhan bergandengan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi kita memandang daun yang mati dengan seluruh keindahan dan warnanya, mungkin kita akan memahami, menyadari dengan sangat dalam, bagaimana sebenarnya kematian kita sendiri, bukan pada akhirnya nanti, melainkan sejak awal sekali. Kematian bukanlah sesuatu yang mengerikan, sesuatu untuk dihindari, sesuatu untuk ditunda, melainkan sesuatu untuk diakrabi hari demi hari. Dan dari situ muncullah rasa kemahaluasan [immensity] yang luar biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;("Krishnamurti to Himself, His Last Journal", 1987, hal.132-4)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-1744071174890337211?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/1744071174890337211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/perkembangan-pemikiran-jkrishnamurti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1744071174890337211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1744071174890337211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/perkembangan-pemikiran-jkrishnamurti.html' title='Perkembangan pemikiran J.Krishnamurti selama 50 tahun'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-637599173671797856</id><published>2010-04-01T07:34:00.001-07:00</published><updated>2010-04-01T07:34:29.003-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-637599173671797856?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/637599173671797856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/637599173671797856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/637599173671797856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/04/blog-post.html' title=''/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-5639066841101790045</id><published>2010-03-08T12:18:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:19:02.149-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Pikiran,Kesadaran dan Diri</title><content type='html'>Pikiran, Kesadaran dan Diri&lt;br /&gt;•    Sudrijanta on May 29, 2009 at 9:32am in Umum (Belum dikategorikan)&lt;br /&gt;•    Add as Friend   View Discussions&lt;br /&gt;“Menurut pandangan non-materialis, kematian otak bukan berarti binasanya seseorang, yaitu lenyapnya pikiran, kesadaran, dan diri. Pikiran dan diri individual muncul dari dan saling dihubungkan oleh suatu Dasar Keberadaan (Ground of Being) yang Ilahi atau matriks priomordial. Itulah Roh yang tidak kenal ruang, tidak kenal waktu dan tidak terbatas, yang senantiasa menjadi sumber keteraturan kosmik, matriks dari seluruh alam semesta baik psyche (nature spiritual) maupun physis (nature material). Pikiran dan kesadaran adalah bagian yang fundamental dan tidak tereduksi dari Dasar Keberadaan. Bukan hanya pengalaman subjektif dari dunia fenomenal ini berada di dalam pikiran dan kesadaran, tetapi pikiran, kesadaran dan diri sangat mempengaruhi dunia fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalnya, diri individual tidak awas terhadap Dasar Keberadaan. Bagaimanapun, dalam situasi tertentu yang biasanya melibatkan kondisi kesadaran lain, diri individual dapat menjadi awas dan bahkan menyatu dengan Dasar Keberadaan, yang melandasi psyche dan physis, serta menjadi fondasi utama bagi diri. Kondisi mistikal seperti ini melibatkan pengalaman intuitif dari penyatuan dan keterhubungan “organic” yang memungkinkan pikiran manusia untuk secara kausal mempengaruhi realitas fisik dan memungkinkan interaksi psi antar manusia dan dengan system fisik atau biologis. Berkenaan dengan masalah ini, menarik untuk dicatat bahwa para fisikawan kuantum semakin mengenali nature mental dari alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep-konsep yang kini terbukti fundamental bagi pemahaman kita tentang alam semesta…dalam pikiran saya merupakan struktur-struktur dari pikiran murni…Alam semesta mulai terlihat mirip pikiran besar ketimbang mesin besar. –James Jeans (1877-1946), fisikawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari The Spiritual Brain, Mario Beauregard &amp;amp; Denyse O’Leary, Obor: 2009, hlm. 355.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-5639066841101790045?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/5639066841101790045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/pikirankesadaran-dan-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/5639066841101790045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/5639066841101790045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/pikirankesadaran-dan-diri.html' title='Pikiran,Kesadaran dan Diri'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-1037585532438348636</id><published>2010-03-08T12:13:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:14:50.834-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Krisnamurti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Krisnamurti tentang Tuhan</title><content type='html'>Tanya: Menurut Krishnamurti, adakah Tuhan?&lt;br /&gt;salam hormat pak hudoyo,&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; lewat internet saya banyak mengetahui kalo pak hudoyo sering membahas&lt;br /&gt;pemikiran-pemikiran J. Krishnamurti. Jujur aja pak sampai saat ini saya&lt;br /&gt;masih belum jelas mengenai pendirian J. Krishnamurti tentang ke-Tuhanan.&lt;br /&gt;singkat saja ya pak. saya ingin mengajukan beberapa pertnyaan antara&lt;br /&gt;lain :&lt;br /&gt;&gt; 1. apakah J. Krishnamurti tidak mempunyai suatu sistem kepercayaan&lt;br /&gt;tertentu atau menganut agama tertentu ?&lt;br /&gt;&gt; 2. Bagaimana pemikiran J. Krishnamurti tentang Ke-Tuhanan ? saya sdah&lt;br /&gt;membaca artikelnya tapi malah bingung sendiri.&lt;br /&gt;&gt; o ya pak hudoyo mungkin bisa menolong memberi saya artikel tentang "100&lt;br /&gt;pertanyaan yang mustahil" dari J. Krishnamurti. kalo mungkin ada dan pak&lt;br /&gt;hudoyo bersedia.&lt;br /&gt;&gt; terima kasih sebelumnya. saya tnggu jawabannya.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; wahyudi, di solo.&lt;br /&gt;Salam, Mas Wahyudi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Mas Wahyudi yang pernah ikut retret MMD di Solo? Kalau tidak salah&lt;br /&gt;Anda tinggal di Yogya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) K tidak mengajarkan sistem kepercayaan/agama apa pun. Mengapa? Karena&lt;br /&gt;yang namanya kepercayaan/agama selalu merupakan produk dari pikiran&lt;br /&gt;(berpikir).&lt;br /&gt;Alihalih ia mengajarkan agar orang mengamati/menyadari gerak-gerik&lt;br /&gt;pikirannya sendiri. Karena pikiran--yang menciptakan kesadaran-aku--itulah&lt;br /&gt;sumber konflik &amp;amp; penderitaan baginya.&lt;br /&gt;Berhentinya pikiran/aku itulah lenyapnya penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Kalau Anda bisa menangkap intisari jawaban saya #1, maka Anda bisa&lt;br /&gt;menjawab sendiri pertanyaan Anda #2.&lt;br /&gt;Kalau pikiran berhenti, masih adakah "Tuhan"? Cobalah praktikkan sendiri,&lt;br /&gt;amati pikiran Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bila Anda ingin membaca-baca lebih lanjut tentang ajaran K,&lt;br /&gt;silakan masuk ke Forum Diskusi MMD, http://meditasi-mengenal-diri.ning.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda sudah memahami hakikat yang terkandung dalam jawaban saya #1 dan&lt;br /&gt;#2, maka dengan perenungan sedikit tentu Anda akan memahami pernyataannya&lt;br /&gt;yang terkenal tentang Tuhan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan ada bila aku tidak ada; bila aku ada, Tuhan tidak ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Tidak ada buku yang berjudul "100 pertanyaan yang mustahil" dari J.&lt;br /&gt;Krishnamurti. Yang ada BUKU "Pertanyaan yang Mustahil" (The Impossible&lt;br /&gt;Question). Buku itu bisa Anda pesan dari Yayasan Krishnamurti Indonesia.&lt;br /&gt;Alamatnya saya lupa, tapi bisa dicari di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Hudoyo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-1037585532438348636?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/1037585532438348636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/krisnamurti-tentang-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1037585532438348636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1037585532438348636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/krisnamurti-tentang-tuhan.html' title='Krisnamurti tentang Tuhan'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-1787161622249347866</id><published>2010-03-08T12:11:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:13:23.954-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi Zen'/><title type='text'>Pesan-Pesan Zen Rinzai</title><content type='html'>PESAN-PESAN ZEN DARI RINZAI&lt;br /&gt;PESAN-PESAN ZEN DARI RINZAI&lt;br /&gt;(Translation in English by Burton Watson, Paul Reps, and D.T.Suzuki from "The Zen Teachings of Master Lin-Chi"])&lt;br /&gt;Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Yulden Erwin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Para penempuh Jalan, jangan mempertimbangkan Buddha sebagai semacam tujuan terakhir. Di dalam pandanganku Buddha tak lebih seperti lubang pada suatu WC umum. Para Bodhisattva dan Arhat hanya menjadi rantai yang membelenggu orang-orang yang mempercayai mereka. Oleh karena itu, Manjushri mencabut pedangnya, siap untuk membunuh Gautama. Dan Angulimala, dengan sebilah pisau di tangan, mencoba untuk melukai Shakyamuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Hal yang paling mendesak saat ini adalah kamu harus mencari kenyataan, pemahaman dan persepsi yang benar, baru setelah itu kamu dapat bebas di dunia ini dan tidak dibingungkan oleh para penganut spiritualisme biasa, yang hanya disibukkan dengan hal-hal yang bersifat dangkal. Hal terbaik untuk dilakukan adalah "tidak memiliki obsesi". Namun, jangan pula berusaha untuk "tidak memiliki obsesi". Lantas bagaimana caranya? Biasa-biasa saja, cukuplah menjadi dirimu sendiri. Kamu selama ini selalu cenderung untuk mencari berbagai hal di tempat lain, di luar dirimu sendiri. Kamu selalu mengandalkan orang lain, daripada menggunakan kedua tangan dan kakimu sendiri, dan ini adalah pandangan yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Kesadaran-Murni dapat memasuki yang biasa, yang suci, yang bersih, yang kotor, yang riil, hingga yang konvensional; tetapi Kesadaran-Murni bukanlah pikiran-pikiranmu tentang "yang riil" atau "yang konvensional," "yang biasa" atau "yang suci." Kesadaran-Murni dapat menaruh label pada semua hal yang konvensional dan yang riil, yang biasa dan yang suci. Tetapi yang konvensional dan yang riil, yang biasa dan yang suci, tidak bisa memberi label pada Kesadaran Murni di dalam diri seseorang. Jika kamu dapat meraih Kesadaran-Murni, maka gunakanlah Kesadaran-Murni itu, tanpa meletakkan label apa pun pada Kesadaran-Murni itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Ketika para pengikut Zen datang untuk menemuiku, aku memahami mereka dengan sepenuhnya. Bagaimana mungkin aku melakukan hal ini? Hanya sebab persepsiku adalah mandiri -- secara eksternal aku tidak menyerap yang biasa atau yang suci, secara internal aku tidak memikirkan hal yang fundamental. Aku selalu "Terjaga" di semua jalan dan tidak ada lagi keraguan, sehingga aku tak lagi berbuat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Enam "kesadaran-pancaindera" yang telah tercerahkan adalah kemampuan untuk memasuki dunia penglihatan tanpa dibingungkan oleh bentuk, untuk memasuki dunia pendengaran tanpa dibingungkan oleh bunyi, untuk memasuki dunia pembauan tanpa dibingungkan oleh bau, untuk memasuki dunia pencecapan tanpa dibingungkan oleh rasa di lidah, untuk masuk dunia perabaan tanpa dibingungkan oleh benda-benda, memasuki dunia pikiran tanpa dibingungkan oleh pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Cukuplah untuk menjadi mandiri di mana saja kamu berada, dan selalu sadar! Maka situasi apa pun yang muncul tidak bisa mengubah kamu. Sekalipun kamu mempunyai kebiasaan tidak baik, kamu akan secara spontan dibebaskan dari kebiasaan yang tidak baik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Jika kamu ingin dapat merasa dan memahami secara obyektif, jangan ijinkan dirimu untuk dibingungkan oleh pendapat atau prasangka orang lain. Lepaskan semua yang kamu anggap sebagai milikmu, baik di dalam maupun di luar dirimu -- lepaskan dirimu dari berbagai agama, tradisi, dan segala hal yang telah dikondisikan oleh masyarakat, dan baru setelah itu kamu akan mencapai pembebasan. Ketika kamu tidak terikat lagi oleh berbagai hal, maka berarti kamu telah bebas dan menjadi mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Ketika aku berkata tidak ada apapun di luar diri, para murid yang tidak memahami aku, menafsirkan hal ini dalam kaitannya semata-mata dengan dunia batin, sehingga mereka duduk diam dan tak melakukan apa-apa. Lalu mereka menganggap bahwa hal itu adalah Zen. Sungguh, ini adalah suatu kekeliruan besar. Jika kamu menganggap keadaan pasif itu sebagai Zen, maka berarti kamu menganggap kemalasan sebagai guru, kamu telah diperbudak oleh kebodohanmu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Jika kamu mencoba untuk menghayati Zen dengan bergerak, hal itu berarti memasuki keheningan. Jika kamu mencoba untuk menghayati Zen di dalam keheningan, hal itu berarti memasuki gerak. Hal itu seperti seekor ikan yang pergi meninggalkan suatu mata air, mengikuti gerak ombak dan menari dengan bebas. Gerak dan keheningan adalah dua keadaan. Guru Zen, yang tidak tergantung pada apapun, menggunakan dengan bebas baik gerak maupun keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;Para pengikut yang buta, sering menyalahartikan Zen. Mereka seperti orang yang memakan batu kerikil, sibuk melakukan Zazen (meditasi duduk) dan berbagai latihan meditasi lainnya, dan selalu sibuk mengendalikan pikiran mereka, takut dengan kebisingan dan begitu gelisah untuk mencari ketenangan. Semua itu bukanlah Zen, sebab mereka terjebak pada bentuk-bentuk luar dan mereka memberinya nama sebagai Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Para murid Zen berada di dalam rantai ketika mereka pergi kepada seorang guru, dan guru menambahkan rantai yang lainnya. Para murid dibutakan, tidak mampu untuk membedakan satu hal dari hal lainnya. Ini disebut seorang tamu memperhatikan seorang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;Setiap orang yang ingin menempuh Jalan, harus bertekad untuk menemukan Kesadaran-Murni. Ketika Kesadaran-Murni ini ditemukan, maka kamu tidak akan dipengaruhi lagi oleh siklus kelahiran dan kematian. Apakah berjalan atau diam, kamu akan tetap menjadi guru bagi dirimu sendiri. Bahkan ketika kamu tidak berusaha untuk mencapai sesuatu yang luar biasa, hal yang luar biasa itu justru akan datang kepada kamu dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;O Para penempuh Jalan, sejak zaman dahulu, masing-masing pendahuluku mempunyai jalannya sendiri untuk melatih para muridnya. Namun, sesungguhnya, seperti juga jalanku saat ini, Jalan itu hanya satu adanya, yaitu: memandu setiap orang agar tidak tertipu oleh orang lain, hingga mereka bisa menemukan Jati-Diri mereka sendiri. Jadilah "mandiri". Dan teruskan perjalananmu kapan pun kamu menginginkannya: tanpa keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;Apakah kamu mengetahui satu jenis penyakit mental yang membuat kamu terhalang untuk mencapai Kesadaran-Murni? Penyakit itu benama "ilusi". Dan ilusi itu timbul ketika kamu tidak punya keyakinan di dalam dirimu. Ketika keyakinan di dalam dirimu berkurang, maka kamu pastikan akan menemukan dirimu diseret oleh orang lain di setiap Jalan. Pada setiap pertemuan dengan seseorang yang kamu anggap sebagai guru, kamu justru akan dikendalikan oleh orang itu dengan berbagai cara. Dan kamu tidak lagi menjadi guru bagi dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;Sesungguhnya segala yang diperlukan hanyalah: segera menghentikan dirimu untuk mencari hal-hal yang eksternal. Ketika hal ini dilaksanakan, maka kamu akan menemukan bahwa Dirimu tidak berbeda dari para Buddha atau Tetua Zen. Tahukah kamu siapa sesungguhnya yang disebut Buddha atau Tetua Zen? Ia adalah tidak lain dari orang yang pada saat ini, duduk di hadapanku, mendengarkan pembicaraanku tentang Dharma. Namun, karena kamu tidak punya keyakinan diri, maka kamu selalu sibuk mencari orang lain di suatu tempat di luar dirimu. Lantas apakah yang akan kautemukan? Tak lain hanya kata-kata dan nama, bagaimana pun sempurnanya. Kau tidak akan pernah mencapai Kesadaran-Murni seperti yang telah dicapai oleh para Buddha atau Tetua Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;Yakinlah, wahai para penempuh Jalan, jika kamu tidak menemukan Jati-Diri di dalam hidup kali ini, maka kamu akan berulang kali dilahirkan di dalam ketiga dunia, yaitu dunia ketamakan, dunia kemarahan, dan dunia ilusi. Kamu akan "menjadi" sesuai dengan "apa yang kamu pikir". Tetapi, sungguh malang, bila kamu berpikir telah lahir dalam kondisi yang tercerahkan dan bahagia, padahal kamu masih berada dalam ketidaksadaran dan penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;Namun, O para penempuh Jalan, sesungguhnya kamu tidaklah berbeda dari Shakyamuni. Dalam semua aktivitas harian, adakah yang kita rasakan kurang? Padahal dengan sangat indah, cahaya dari enam "kesadaran-pancaindera", tak pernah sedetik pun berhenti terpancar. Jika kamu bisa melihat Jalan ini, maka kamu akan menjadi orang yang "Terjaga", dan tidak ada yang musti kamu cari lagi di dalam sisa hidupmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;O penempuh Jalan yang teguh dalam keyakinan, tidak ada keselamatan di dalam ketiga dunia itu, yaitu: dunia ketamakan, dunia kemarahan, dan dunia ilusi. Ketiga dunia itu seperti suatu rumah yang terbakar. Ketiga dunia itu bukan tempat bagimu untuk hidup abadi! Sifat tidak tahan lama merupakan "hukum" di dalam ketiga dunia itu. Dan kematian akan segera menyerangmu, tidak peduli apakah kamu orang miskin atau kaya, orang muda atau tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;Jika kamu ingin tidak berbeda dari para Buddha dan Tetua Zen, jangan pernah mencari sesuatu di luar dirimu sendiri. Pikiran-Yang-Murni adalah Tubuh-Hakiki-Buddha yang berdiam di dalam dirimu. Pikiran-Yang-Tidak-Memisahkan adalah Tubuh-Karma-Buddha yang ada di dalam dirimu. Pikiran Yang-Tidak-Mendiskriminasi adalah Tubuh-Transformatif-Buddha yang ada di dalam dirimu. Tiga jenis Tubuh-Buddha ini berada dalam dirimu sendiri, orang yang berdiri di hadapanku sekarang dan mendengarkan pengajaran tentang Dharma! Dan hanya jika kamu tidak cepat-cepat mencari sesuatu di luar dirimu sendiri, maka kamu dapat menggunakan ketiga Tubuh-Buddha yang bagus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;Menurut kitab suci dan berbagai risalah Buddhisme, ketiga Tubuh-Buddha itu merupakan tujuan terakhir dari seorang penempuh Jalan. Tetapi menurutku, ketiga Tubuh-Buddha itu bukanlah tujuan akhir. Ketiga Tubuh-Buddha itu tak lain hanya sekedar konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;Sebab, wahai para penempuh Jalan, badan fisikmu tersusun dari empat unsur yang tidak mengetahui bagaimana cara mengkhotbahkan Dharma atau mendengarkan Dharma. Perut dan limpamu, empedu dan hatimu, tak mengetahui bagaimana cara mengkhotbahkan Dharma atau mendengarkan Dharma. Ruang yang kosong tidak mengetahui bagaimana cara mengkhotbahkan Dharma atau mendengarkan Dharma. Lantas siapakah yang mengetahui bagaimana cara mengkhotbahkan Dharma atau mendengarkan Dharma? Yang mengetahui itu adalah Jati-Dirimu, Cahaya Yang Tunggal, tanpa bentuk apa pun. Hanya Jati-Dirimu yang mengetahui bagaimana cara mengkhotbahkan Dharma dan mendengarkan Dharma. Jika kamu dapat melihat Jalan ini, kamu tidak berbeda dari para Buddha dan Tetua Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;Jati-Dirimu itu tidak pernah sekejap pun berpisah darimu. Jati-Dirimu juga ada di mana-mana, segala yang kaulihat adalah Jati-Dirimu. Tetapi ketika yang merasa melihat dan mengetahui itu mulai muncul, maka kebijaksanaan dihalangi. Ketika si peragu dalam pemikiran muncul, maka kenyataan menghilang. Oleh karena itulah kamu selalu dilahirkan kembali berulang-ulang di dalam ketiga dunia dan mengalami bermacam kesengsaraan. Tetapi menurutku, tidak satupun dari kamu yang tidak mampu untuk mencapai pemahaman mendalam ini, tidak satupun dari kamu yang tidak mampu untuk pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;Para pengikut Jalan, apa yang disebut pikiran tidak punya bentuk yang tetap; pikiran menembus semua dari sepuluh arah. Di dalam mata, kita menyebutnya penglihatan; di dalam telinga, kita menyebutnya pendengaran; di dalam hidung, kita menyebutnya penciuman; di dalam mulut, kita menyebutnya pembicaraan; di dalam tangan, kita menyebutnya perabaan; di dalam kaki kita menyebutnya kemampuan untuk berlari. Pada dasarnya pikiran ini merupakan suatu intisari cerdas yang tunggal, tetapi pikiran itu juga membagi dirinya sendiri ke dalam ini enam fungsi. Dan karena pikiran yang tunggal ini tidak punya bentuk yang tetap, maka di mana-mana pikiran ini berada dalam keadaan pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;Seseorang bertanya: "Apakah Setan itu?" Rinzai berkata: "Jika kamu mempunyai keraguan di dalam pikiranmu untuk sekejap saja, itulah Setan. Tetapi jika kamu dapat memahami bahwa sepuluh ribu gejala tidak pernah dilahirkan, bahwa pikiran hanyalah seperti suatu muslihat tukang sihir. Di dalam muslihat pikiran itu, memang tak satu butir debu pun yang ada, tak satu gejala pun yang muncul. Maka, segalanya akan terlihat bersih dan murni, dan segalanya akan menjadi Buddha. Buddha dan Setan hanya mengacu pada dua bentuk keadaan, dari satu 'Keadaan-Murni' yang sama. Menurutku, di dalam 'Keadaan-Murni' itu tidak ada Buddha, tidak ada mahluk hidup, tidak ada masa lalu, tidak ada masa kini. Jika kamu ingin mengalami 'Keadaan-Murni' itu, maka kamu justru tidak akan pernah mengalami 'Keadaan-Murni' itu, karena hal itu berarti kamu memerlukan upaya, dan setiap upaya berarti memerlukan jangka waktu, sedangkan 'Keadaan-Murni' itu mengatasi waktu. Di sana tidak ada praktek religius, tidak ada pencerahan, tidak ada apa pun yang perlu dicapai, dan tidak ada yang akan kehilangan apa pun. Hanya inilah Dharma, tak ada ada yang lain. Jika seseorang mengaku ada suatu Dharma yang lebih tinggi daripada ini, maka aku katakan bahwa hal itu hanyalah suatu mimpi, atau semacam hantu. Semua yang aku harus katakan kepada kamu hanya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;Para penempuh Jalan, Kesadaran-Murni yang tunggal ini, yang ada di depan mataku sekarang, adalah orang yang saat ini dengan bersahaja mendengarkan aku -- orang yang tidak dirintangi oleh apa pun, tetapi menembus ke sepuluh arah, dan sepenuhnya bebas. Apa pun juga lingkungan yang ia hadapi, dengan keanehan dan perbedaannya, ia tidak bisa digoyang atau ditarik ke kondisi yang serba salah lagi. Lantas di dalam ruang kosong, pada suatu saat tertentu, ia membuat jalannya sendiri ke dalam Realitas-Dharma. Setelah itu, jika ia bertemu seorang Buddha, maka ia khotbahkan hal itu kepada Buddha. Jika ia bertemu seorang Tetua Zen, maka ia khotbahkan hal itu kepada Tetua Zen. Jika ia bertemu seorang Arhat, ia khotbahkan hal itu kepada Arhat. Jika ia bertemu hantu lapar, maka ia khotbahkan hal itu juga kepada hantu lapar. Ia pergi ke mana-mana, mengembara melalui banyak negeri, membagikan pengajaran dan mengubah hidup mahluk, namun tidak pernah menjadi terpisah dari Kesadaran-Murni yang tunggal ini. Tiap-tiap tempat baginya adalah bersih dan murni, pencerahannya menembus ke sepuluh arah, sepuluh ribu gejala baginya hanyalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;Seseorang bertanya: "Apa Tujuan Bodhidharma datang dari barat?" Rinzai berkata: "Jika ia memiliki suatu tujuan, ia bahkan tidak akan pernah mampu menyelamatkan dirinya sendiri!" Penanya berkata: " Jika ia tidak punya tujuan, kemudian bagaimana cara Tetua Zen yang kedua, Hui-Ke, mendapatkan Dharma itu?" Rinzai berkata: "Berupaya artinya tanpa upaya." Penanya berkata: "Jika berupaya artinya tanpa upaya, maka apa maksudmu dengan tidak berupaya?" Rinzai berkata: "Kamu terlihat tidak bisa menghentikan pikiranmu yang selalu bergerak tergesa dan mencari sesuatu yang tak jelas di luar dirimu sendiri. Itulah mengapa seorang Tetua Zen berkata: 'Sungguh sia-sia para pengikut itu -- mereka menggunakan kepala untuk mencari kepala mereka sendiri!' Kamu saat ini harus segera memutar cahayamu yang selalu terarah ke luar agar bersinar menerangi dirimu, yang berarti tidak mencari sesuatu di luar dirimu sendiri. Kemudian kamu akan memahami bahwa di dalam jiwa dan ragamu itu, 'Ada' yang tidak berbeda dari para Tetua Zen dan Buddha, sehingga tidak ada satu pun yang perlu dilakukan lagi. Laksanakan hal itu, baru setelah itu kamu boleh berbicara tentang upaya untuk meraih Dharma."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;Para penempuh Jalan, tidak ada Buddha untuk dicapai. Seluruh ajaran ini hanyalah obat untuk menyembuhkan penyakit. Dan semuanya tidak mempunyai Realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;Aku tidak punya ajaran untuk diberikan kepada orang-orang -- Aku hanya mengobati penyakit dan membuka kunci belenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29&lt;br /&gt;Seseorang yang selaras dengan Zen dari saat ke saat tidak pernah mengijinkan gangguan apa pun di dalam pikirannya. Ketika Sang Guru Besar, Bodhidharma, datang dari barat, ia hanya mencari seorang laki-laki yang tidak akan disesatkan oleh segala sesuatu yang lain di luar dirinya. Kemudian Tetua Zen Kedua, Hui-ke, bertemu Bodhidharma, dan setelah ia mendengar satu kalimat dari Bodhidharma, ia pun tercerahkan. Begitulah, untuk pertama kali, ia menyadari bahwa selama ini ia telah disibukkan dengan berbagai usaha yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;"Pemahamanku saat ini" adalah "tidak berbeda" dari "Para Tetua Zen dan Buddha". Jika kamu menjadi sadar dengan ungkapan yang pertama, kamu bisa menjadi seorang guru bagi Para Tetua Zen dan Buddha. Jika kamu menjadi sadar dengan ungkapan yang kedua, kamu bisa menjadi seorang guru bagi manusia dan mahluk surgawi. Jika kamu menjadi sadar dengan ungkapan yang ketiga, kamu tidak akan bisa menyelamatkan dirimu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETERANGAN:&lt;br /&gt;Rinzai atau Lin-chi adalah seorang Master Zen yang hidup di Cina dan meninggal pada tahun 867 Masehi. Sebagai seorang Master Zen, metode mengajarnya sangat unik, sehingga Osho -- seorang Master Spiritual dari India pada abad ke-20 -- menjuluki Rinzai sebagai The Master of Irrasional. Gaya mengajarnya tidak lazim seperti guru Zen lain pada masanya, yaitu dengan menggunakan teriakan: "HO!", dengan cekikan, tamparan, bantingan, dan cerita-cerita paradoks yang sekarang dikenal dengan istilah "Koan". Di tangan Rinzai, ajaran Zen berkembang dari sekedar satu sekte dalam Buddhisme menjadi ajaran "Spiritual Universal". Seperti juga para pendahulunya, yaitu Bodhidharma atau Hui-ke atau Hui-neng, Rinzai memang telah mencapai hakikat Zen. Bagi Rinzai apa yang disebut dengan istilah Buddha, Dharma, Kesadaran-Murni, pikiran, aktivitas sehari-hari, dan benda-benda adalah "Satu". Semua itu hanyalah sekedar istilah untuk mengungkapkan satu "Keadaan-Murni" yang saat ini sering disebut sebagai "Tauhid-Universal", atau Kesatuan-Dari-Segala-Sesuatu, atau Keberadaan itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-1787161622249347866?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/1787161622249347866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/pesan-pesan-zen-rinzai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1787161622249347866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1787161622249347866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/pesan-pesan-zen-rinzai.html' title='Pesan-Pesan Zen Rinzai'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-3676986388554681226</id><published>2010-03-08T12:08:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:11:27.088-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Penderitaan</title><content type='html'>penderitaan&lt;br /&gt; 0:11 [hudoyo] met malam, bu fiona.&lt;br /&gt;maaf, saya agak terlambat, karena komputer saya harus saya reboot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] malam pak....&lt;br /&gt;dari tadi saya masuk keluar, soalnya belum ada siapa2&lt;br /&gt;pak, mungkin yang lain tidak tahu malam ini ada chatting loh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] iya, bu fiona, baru tadi sore saya umumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @biasa: rekan 'biasa', tolong nama asli anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] sy ika sofa pak...slmt mlm&lt;br /&gt;sy br pertama ikut chat, blom tau aturannya, mhn petunjuk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] oh, met mlm, mbak ika.&lt;br /&gt;"aturannya" ya cuma: jangan sampai melakukan flaming. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] topiknya apa ya pak untuk malam ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] belum ada :)&lt;br /&gt;Anda punya topik menarik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] tentang penderitaan saja bagaimana?&lt;br /&gt;ttg hidup adalah dhukkha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] ya, silakan kalau mau bicara tentang penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @ika: anda di forum MMD terdaftar dengan nama apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] "biasa" pak...&lt;br /&gt;msh newbie pak...br daftar :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] oh, ya, anda member yang 'terbaru' ya. slamat datang di forum MMD&lt;br /&gt;tahu dari mana ada situs mmd?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] terima kasih... :) sy friend'nya Bpk d FB... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @ika: apa yang menarik anda untuk jadi friend saya?&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;@fiona: mungkin pertanyaan pertama, apa artinya dukkha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] menurut saya ya ini pak... bukan menurut kitab2 suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @fiona: setuju sekali. tinggalkan kitab suci dlm pembicaraan di sini. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] dukkha adalah gejolak batin yg terus berubah&lt;br /&gt;perubahan itu dukkha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] mengapa perubahan menghasilkan dukkha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] saya merasakan gejolak batin ini yang membuat saya menderita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] ya, coba lebih dalam lagi: mengapa gejolak batin yang anda rasakan membuat anda menderita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] gejolak batin yang tidak enak (takut, kecewa, marah, dendam, tidak puas, dst) itu tentu dukkha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] sy tdk tau dmn menarik'nya, hny berteman sj, dl sy prnh dengar ceramah Bpk d Dps Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] ceramah yang di mana? yang di restoran di Renon?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] iya Pak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @fiona: ya tentu emosi-emosi yg anda sebutkan itu tidak enak.&lt;br /&gt;lalu, mengapa anda takut, kecewa, marah dst itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] nah gejolak batin yang enak (nyaman, gembira, senang) kok ya ternyata dukkha, karena setelah beberapa saat saya langsung menyadari bahwa semua kesenangan itu semu.&lt;br /&gt;apalagi jika saya berpikir bahwa kehidupan manusia itu akan menjadi tua, sakit &amp;amp; meninggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] pertanyaannya sama saja: mengapa timbul emosi yang enak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] semua emosi karena bereaksi terhadap faktor2 di luar diri, menanggapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] bagaimana kalau anda tidak memikirkan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] itu otomatis lho pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] jadi, emosi itu reaksi batin? itukah yang menyebabkan dukkha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] otomatis karena tidak disadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] benar juga sih pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @ika: anda tidak tertarik untuk mencoba retret mmd di singaraja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] skrg sy tinggal di yogya pak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @fiona: segala sesuatu berubah, berakhir. Apakah fakta itu yang menyebabkan dukkha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya betul pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @ika: oh, anda pindah ke yogya. belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] tdk pak, sy sdh menikah dan hidup dg suami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] oh, ya, sudah punya momongan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] blm pak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] mbak ika pernah ngobrol soal meditasi dengan suami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @fiona: jadi kalau begitu, selama kita hidup, karena segala sesuatu berubah, kita tidak akan pernah bebas dari dukkha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] segala sesuatu pasti berubah... saya tahu jika batin ini diam, tidak ada gejolak yg timbul krn perubahan itu&lt;br /&gt;itulah yang disebut "bukan dukkha"&lt;br /&gt;tapi itupun sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] fakta bahwa segala sesuatu berubah, apakah itu yang membuat kita menderita?&lt;br /&gt;lupakan dulu 'bukan dukkha' itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] iya betul pak&lt;br /&gt;segala yang berubah, itulah sumber penderitaan saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] apa iya? apa anda tidak melompat?&lt;br /&gt;anda melihat segala sesuatu berubah. mengapa anda menderita melihat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] terutama kalo hal2 yang saya senangi, berubah menjadi yang tidak saya senangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] sy sendiri msh awam dgn meditasi kok pak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @ika: di mendut, tidak jauh dari yogya, ada sebuah vihara tempat retret MMD 4x setahun. pernah berkunjung ke sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] belum pak.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @ika: sekali2 main ke borobudur, lalu mampir melihat2 ke vihara mendut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[biasa] smoga ada kesempatan pak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @fiona: masalahnya msh belum terjawab: mengapa kalau melihat hal2 yang disenangi berubah menjadi tidak disenangi menyebabkan penderitaan?&lt;br /&gt;mengapa kita menyenangi sesuatu &amp;amp; tidak menyenangi yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] berarti saya berharap tidak ada perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] ya, anda berharap tidak ada perubahan. apakah harapan yang tidak tercapai itu penyebab penderitaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] mengapa ada harapan agar tidak ada perubahan?&lt;br /&gt;apakah karena anda menyenangi sesuatu yang anda harapkan tidak berubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya tentu saja pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] jadi bisakah dikatakan, bahwa saya melekat pada sesuatu (fakta atau cita-cita)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] tentu saja&lt;br /&gt;sudah pasti itu kemelekatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] nah, bukankah kelekatan itu sebab dari penderitaan?&lt;br /&gt;artinya, kalau anda tidak melekat, anda tidak menderita, sekalipun segala sesuatu berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] tentu saja :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] itulah Kebenaran Kedua yang diajarkan Sang Buddha: Sebab Musabab Penderitaan adalah Kelekatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya pak :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Dari situ, gampang saja: Kebenaran Ketiga, bila kelekatan berakhir, penderitaan juga berakhir.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana caranya supaya tidak melekat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] tapi mungkinkah saat kita menjalani kehidupan sebagai umat awam, kita tidak memiliki kemelekatan thd apapun?&lt;br /&gt;saya melekat bahkan dgn mobil saya lho pak, pdhl itu benda mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Mungkin atau tidak tergantung pada kita masing-masing.&lt;br /&gt;Yang penting sadari saja: kemelekatan adalah sumber penderitaan.&lt;br /&gt;Mau melekat, silakan, pasti ada konsekuensinya.&lt;br /&gt;tidak mungkin orang melekat tanpa menderita.&lt;br /&gt;Kembali pertanyaannya: seandainya Anda tidak ingin melekat, bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya, bagaimana caranya pak? apalagi dlm menjalani kehidupan sehari2 sbg orang biasa ini&lt;br /&gt;saya terinspirasi dgn kehidupan K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Ngomong-ngomong, hidup sebagai bhikkhu pun tidak berarti bebas dari kelekatan lho. :)&lt;br /&gt;sebagai orang awam atau sebagai rahib (bhikkhu) sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] bhikkhu jaman skrg kemelekatannya banyak pak&lt;br /&gt;kpd handphone, laptop, viharanya, rekening bank nya, dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] hehe ... betul, iming-iming punya account pribadi di bank.&lt;br /&gt;sama saja dengan kita-kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] maka jadi bhikhhu byk kamuflase, saya menyebutnya hipokrisi terbesar abad ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] bukan hanya di abad ini, melainkan sepanjang masa.&lt;br /&gt;kembali pertanyaannya: bagaimana caranya supaya tidak melekat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya bagaimana pak?&lt;br /&gt;saya terus terang ingin mencoba hidup seperti K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] coba direnungkan, bagaimana caranya supaya tidak melekat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] saya benar2 ingin mencoba, saya sedang memikirkan caranya&lt;br /&gt;kalo tidak melekat total, saya belum tahu caranya&lt;br /&gt;tapi kalo tidak melekat sedikit2... ini yang saya lakukan&lt;br /&gt;saya tidak menimbun barang2 pak, tidak baju/sepatu/buku/atau apapun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] apa ada yang disebut "tidak melekat sedikit2"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] begitu barang saya agak banyak, saya berikan orang lain&lt;br /&gt;saya hidup dgn apa yg saya butuhkan saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] o ya, bagus itu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] itu yang say sebut tidak melekat sedikit2&lt;br /&gt;tapi saya masih melekat dgn keluarga, kakak2 saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] 'tidk melekat' itu soal sikap batin, bukan tergantung pada banyaknya barang yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya benar itu pak, tetapi tetap saja masih ada kemelekatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] jadi, bagaimana caranya menghilangkan kemelekatan itu? Apakah kemelekatan itu bisa dilawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] saya ingin tahu, bgmn agar tidak melekat total?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] "keinginan untuk tidak melekat", apakah itu tidak menjadi kemelekatan baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] kemelekatan hanya bisa hilang dgn dipahami bhw itu menimbulkan penderitaan&lt;br /&gt;maka tidak bisa dilawan, dibenci, ingin dihilangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] bukan dipahami "bahwa itu menimbulkan penderitaan"&lt;br /&gt;kalau begitu anda ingin melawan kemelekatan itu untuk mencapai cita-cita bebas dari penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] jadi bagaimana pak?&lt;br /&gt;tidak mau melawan... karena seperti pikiran ini, kalo dilawan ngga bisa berhenti malah menjadi2&lt;br /&gt;kalo pikiran, disadari langsung melemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] lihat saja kemelekatan itu seperti apa adanya, tanpa mengharapkan ia akan lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] apakah nantinya ia akan lenyap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] tidak tahu.&lt;br /&gt;tapi lihat kelekatan itu berubah objeknya terus-menerus.&lt;br /&gt;semakin lama semakin halus.&lt;br /&gt;itu saja yang disadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] apakah bisa lenyap atau tidak, itu pikiran lagi, yang menimbulkan kelekatan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] seringkali saya merasa hidup ini melelahkan :)&lt;br /&gt;dgn begitu banyaknya kemelekatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] jadi, tidak ada jalan atau metode untuk melenyapkan kelekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ya pak, understood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] setiap jalan--seperti jalan mulia berunsur delapan dalam buddhisme--hanya akan menimbulkan kelekatan baru.&lt;br /&gt;itulah sikap meditatif ... yang berbeda dari sikap orang beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Raharja] selamat malam semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] met mlm, Mas Raharja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Raharja] topiknya tentang kemelakatan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] tentang penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] malam semuanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Raharja] oh maaf saya baru masuk, jadi asal tebak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] met mlm mbak mey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] romo.. penderitaan batin ketika pikiran bergerak..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] tadi sudah dibahas: mengapa pikiran bergerak menyebabkan penderitaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] yap.. hehe.. baru nyimak romo..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] ada apa di dalam pikiran yang bergerak itu, sampai menimbulkan penderitaan?&lt;br /&gt;bukankah karena ada aku, dan aku itu melekat?&lt;br /&gt;bukankah kelekatan itulah sebab penderitaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] iya romo, kadang kalau udh melekat, menimbulkan rasa sakit di dalam atau mata yg pedih.. hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] pak, 8 jalan mulia itu benarkah dibabarkan oleh Sang Buddha? Beliau tercerahkan, pasti memahami bahwa jalan apapun akan menimbulkan kelekatan... K bilang Truth is a pathless land&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] aku atau pikiran itu SELALU melekat, sedikit atau banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] Jadi saya kini meragukan.... mungkin saja 8 jalan mulia itu adalah buatan bhikkhu2 setelah jaman Sang Buddha... merupakan kesimpulan2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] iya, kadang merasa hidup di dalam pikiran.. mendengarkan pikiran yg berkomentar..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] saya tidak tahu lagi apa sebenarnya yang diajarkan oleh Sang Buddha.&lt;br /&gt;Sang Buddha pernah berkata kepada seorang bhikkhu senior (Anuradha): "Dari dulu sampai sekarang hanya inilah yang kuajarkan: Dukkha dan Lenyapnya Dukkha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ha ha... sama pak, saya juga jadi gak tahu lagi&lt;br /&gt;karena ternyata semua dokumen tertulis ttg Sang Buddha itu ditulis beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha wafat&lt;br /&gt;jadi mestinya adalah hasil kesimpulan2 saja... pasti ada unsur spekulasinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Itulah. Lalu ketika itu ditulis, agama buddha sudah terpecah menjadi Mahayana dan Theravada.&lt;br /&gt;Yang Theravada mengajarkan pluralisme dhamma-dhamma (Abhidhamma), yang Mahayana mengajarkan kekosongan (Sunyata).&lt;br /&gt;Saya melihat, seolah-olah ada dialog antara Theravada &amp;amp; Mahayana dalam perjalanan sejarah keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] dialog bagaimana pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Ya itu tadi, antara pluralisme dan mistisisme.&lt;br /&gt;Yang sesungguhnya ada itu apa?&lt;br /&gt;Kebenaran itu bukan lagi mempunyai satu corak, melainkan terletak di balik dialog tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Raharja] Mohon pamit, saya mau mengerjakan sesuatu, selamat malam semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] met malam, Mas Raharja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] bearti masing2 memiliki versi kebenaran sendiri? lalu yang mana yang kebenaran sesungguhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] kebenaran yang sesungguhnya tidak bisa dirumuskan oleh pikiran dengan kata-kata.&lt;br /&gt;pikiran / aku harus diam agar kebenaran sesungguhnya bisa muncul.&lt;br /&gt;Kembali kepada tadi: Sang Buddha hanya mengajarkan dukkha dan lenyapnya dukkha.&lt;br /&gt;Bagi seorang praktisi vipassana, dua hal itu sebetulnya SATU.&lt;br /&gt;Begitu orang melihat dukkha secara otentik (bukan hafalan), di situ sekaligus orang melihat sebab-musabab dukkha, dan sekaligus pula dukkha itu lenyap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] ketika pikiran berhenti.. tdk ada perbedaan, tapi ketika pikiran udh mulai melekat, jadi gusar.. hehe.. itu yg sering saya alami romo, hidup di dalam pikiran..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] hidup di dalam pikiran tentu ada yang menyenangkan ... kalau tidak orang tidak mau hidup di situ.&lt;br /&gt;hal-hal yang menyenangkan itu menutupi kenyataan dukkha yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] apakah begitu romo..? tapi kok tdk ada rasa senang, yg ada mata yg sakit, kalau udh pikiran berkomentar buruk. hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] yang menyenangkan itu adalah 'aku', yang merasa 'mengerti', merasa 'menguasai' dan 'mengendalikan' hidupnya.&lt;br /&gt;karena ada pikiran.&lt;br /&gt;yang anda alami itu mungkin situasi yang ekstrem saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] saya sering luluh lantak oleh karena pikiran... jadi lelah sendiri... bisakah hidup tanpa berpkir pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] dalam keadaan normal, berpikir itu memberi kepuasan kepada aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] bisakah survive? mempertahankan hidup tanpa berpikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] amati saja pikiran itu. anda mau lari dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Ikutan nimbrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] met malam, romo sudri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] malam romo sudri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Malem pak hud dan mbak mey dan semua.&lt;br /&gt;Saya belajar menempatkan pikiran pada tempanya yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] met malam semuanya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] romo sudri, bisa dibabarkan lebih lanjut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Tempatnya yang benar bagi pikiran adalah untuk menggerakkan survival diri. Tapi pikiran tidak bisa membuat kita melampaui diri, mentransendir diri, atau apalah namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] oh ya saya rasa saya mengerti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] ..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Ketika pikiran sudah melenceng dari temptnya, di situ ada kekacauan.Bukankah begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] yap..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] pikiran hanya bisa digunakan untuk melangsungkan hidup... tetapi tidak untuk mencapai pencerahan, begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @sudri: ya betul.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;saya teringat akan kisah adam &amp;amp; hawa di taman firdaus.&lt;br /&gt;ketika bersama allah adam &amp;amp; hawa tidak perlu berpikir.&lt;br /&gt;tapi setelah makan buah dari pohon "pengetahuan yang baik &amp;amp; buruk" barulah mereka berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] ooo..hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] muncul dualitas, dualisme, yang perlu untuk survive.&lt;br /&gt;survive di luar taman firdaus.&lt;br /&gt;tapi pengetahuan yang baik &amp;amp; buruk itu tidak bisa memberikan "kehidupan kekal".&lt;br /&gt;ada satu pohon lagi di taman firdaus itu yang buahnya belum sempat dimakan oleh adam &amp;amp; hawa.&lt;br /&gt;mereka keburu terusir dari taman firdaus.&lt;br /&gt;namanya "pohon kehidupan yang kekal".&lt;br /&gt;pohon itu sekarang dijaga oleh malaikat dengan pedang berapi.&lt;br /&gt;nah, apa maknanya alegori itu ya, romo sudri? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Barangkali ketika adam dan hawa sudah tuntas menanggalkan pikiran dualistik itu, mereka boleh makan buah di taman firdaus kembali ya.&lt;br /&gt;Kita ini seperti adam dan hawa. Maunya mengejar keabadian, kepastian, keamanan, kekekalan, pencerahan, penyelamatan, dst.&lt;br /&gt;Padahal segala sesuatu yang kita kenal ini tidak ada yang pasti.&lt;br /&gt;Jadi malah terdepak keluar dari taman firdaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] romo sudri, melayani gereja di mana romo? di jakarta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] saya tinggal di duren sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] lihat tulisan2 romo sudri ttg meditasi di website gereja santa ana, klender.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Saya sedang asyik membaca tentang "pohon kehidupan yang kekal" di wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Tree_of_Life_(Judeo-Christian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Apa menariknya pak hud?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] ya itu tadi: ada satu pohon yang belum sempat dimakan oleh adam &amp;amp; hawa dan sekrang dijaga oleh malaikat dengan pedang berapi.&lt;br /&gt;mitologi sangat tepat untuk mengkomunikasikan kebenaran2 transendental yang tidak bisa dipahami oleh pikiran secara sebab-akibat linier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] di mana saya bisa baca tulisan2 romo? ada link nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @fiona: cari website gereja santa ana, klender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] MMD diserang lagi ya pak hud?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] wah, rame, romo. tapi untung ada orang kirim sms kepada bhante pannyavaro tentang mmd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Iya, saya baca itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] jawaban bhante singkat: "Umat Buddha sering kaget ketika mendengar seorang master Zen berkata; "Kalau bertemu Buddha, bunuh Buddha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] MMD diserang orang2 yang tidak mengerti, romo... mereka bicara di atas dasar ketidakmengertian... jadi semua itu menurut saya pepesan kosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] "Apalagi yang pemula" - begitu secara spesifik dinyatakan oleh bhante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] Romo hudoyo.. semangat ya romo...hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] maka ramailah perbincangan di facebook &amp;amp; milis2 buddhis tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Tidak mengerti tapi merasa mengerti ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] tetapi tidak apa, biasanya keadaan seperti ini tidak berlangsung lama, paling lama seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Itu tadi, pikiran mau menjangkau sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditangkap dengan pikiran.Jadi bingung sendiri dan marah-marah ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] itulah... pusing juga menanggapi orang tidak mengerti, dijelaskan juga sulit kan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] hehe .. mngkin seperti perdebatan antara gereja formal dan penganut teologi apofatik (teologi negatif). :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Ya begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] salut ama romo hudoyo..biar diserang tapi tetap sabar..hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] yang merasa mempunyai vested interest (kepentingannya) yang terancam tentu marah2&lt;br /&gt;yang merasa terancam itu menempatkan kebenarannya yang terdalam di dalam konsep-konsep pikiran yang diruntuhkan oleh mmd. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] yap..hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] jadinya ya marah2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] takut pulsa hp nya gak ada yang beliin lagi? ha ha :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] padahal semua yang ada dalam mmd itu diajarkan sendiri oleh sang buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] mbak fiona bs aja..hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] abis pulsa hp nya pada mahal2 lho, bersaing dgn businessmen....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Memang agama terkait erat dengan uang dan kekuasaan.&lt;br /&gt;Tapi juga banyak sisipan kepentingan organisasi agama ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] menariknya tipitaka (kitab suci) buddhis itu, di dalamnya tercantum khotbah-khotbah mistikal yang MENGINGKARI DIRINYA SENDIRI.&lt;br /&gt;bukan hanya khotbah mistikal, tetapi juga suatu pola sadar yang mengingkari dirinya dan bersifat universal: VIPASSANA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] @ romo hudoyo : romo pernah ketmu n bicara dgn Bhante Uttamo? klu menurut bhante, bgma mengenai MMD..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] berarti ada kontradiksi? di kitab yang mana, pak hud? pengen baca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Dalam Mulapariyaya-sutta &amp;amp; Bahiya-sutta di satu pihak vs Maha-satipatthana-sutta di lain pihak. Sutta terakhir itu dipakai sebagai rujukan oleh hampir semua versi vipassana tradisional.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;@mey: tidak pernah.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;@sudri: sudah tentu, dalam perjalanan berabad-abad dihafalkan dan diturunkan dari mulut ke mulut, itu pasti terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] bukankah milis bhante uttamo yg juga keras thd MMD? Samaggiphala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] oo, sy baru tau..&lt;br /&gt;apa bhante juga keras terhadap MMD ya..? hehe jd bertanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ndak tau, harus tanya ybs sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] hehe..iya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] @fiona: milis samaggiphala bersikap netral. Semua tulisan saya masuk ke sana, kecuali chat seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] ooh oke pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Contoh konkrit: ada satu bagian yang katanya "ucapan Sang Buddha": "Hanya di dalam ajaran yang mengandung Jalan Mulia Berunsur Delapan (JMB8) terdapat kebebasan. Ajaran guru2 lain tidak mengandung JMB8, jadi di situ tidak ada kebebasan. ...&lt;br /&gt;Hanya di dalam ajaranku terdapat JMB8, jadi hanya di situ terdapat kebebasan."&lt;br /&gt;Saya sama sekali tidak percaya itu datang dari mulut Sang Buddha.&lt;br /&gt;Pasti itu disisipkan oleh bhikkhu2 penghafal Tipitaka belakangan yang maksudnya sih ingin menjunjung tinggi Sang Guru, tapi keblinger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] oo..&lt;br /&gt;ternyata suta2 ada yg bukan dari mulut sang buddha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] Ok deh, romo sudri &amp;amp; teman2, ini sdh setengah sebelas. saya sudah cukup capek. mohon pamit dulu.&lt;br /&gt;trima kasih atas chatnya. sampai lain kali. silakan dilanjut chatnya. besok saya baca kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] dulu SD, theravada, SMA aliran tao, jd baru mengenal lagi ajaran theravada..&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;ya.. malam romo hudoyo.. be happy..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[hudoyo] bye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Baik pak hud. Selamat istirahat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] menurut saya spekulasinya sangat tinggi bhw sutta2 itu akurat, bhw khotbah Sang Buddha 100% spt itu, kan ditulis 100 thn setelah Sang Buddha wafat... yg nulis gak kenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tambahan Hudoyo: Tipitaka Pali ditulis bukan 100 tahun, melainkan empat ratus tahun setelah Sang Buddha wafat.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] saya juga mohon pamit...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] betul juga.. mungkin kalau dialiran tao lebih bingung lagi malah tdk ada kitab2nya..soale kalau ada pake bhs mandarin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[fiona] met malam, romo sudri &amp;amp; teman2 lain... makasih byk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] oke mbak fiona..bye..&lt;br /&gt;romo sudri, mau nanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Ok mbak fiona...&lt;br /&gt;@Mey: Nanya apa ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] romo, udh pernah ngajak teman yg beragama kristen pantekosta untuk meditasi..?&lt;br /&gt;kalau udh cara pertama ngajaknya bgmana..? hehe .. soale ada tmn yg mau diajak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Teman itu tertarik dengan meditasi kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] katanya dulu udh pernah coba tapi nda dapat hasil apa2, malahan dia bilang kalau meditasi itu termasuk ajaran yg sesat.. dia percaya pada pendeta yg dulunya adalah dukun.., yg ada bukunya itu lho romo..?&lt;br /&gt;sampe2 buku berseri itu dia koleksi.&lt;br /&gt;tapi dia ada pernah bilang kalau hidup ini menderita dlm arti harus menghadapi kebosanan dan pikiran dualistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Memang istilah meditasi sudah jadi kata yang kotor.&lt;br /&gt;Kalau saya biasanya bicara mulai dari hal-hal konkrit yang kita rasakan atau pikirkan. Misalnya soal kegelisahan, konflik, takut, senang, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] lalu..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Ketika itu diurai secara meditatif orang bisa tertarik.&lt;br /&gt;Ada seorang ibu (56 th) mengalami kesedihan. Lalu saya ajak mengurai bersama apa itu kesedihan dan akhirnya sampai pada titik kesadaran bahwa kesedihan itu bukan milik anda, bukan milik saya.&lt;br /&gt;Seketika itu juga orang itu sembuh dari rasa sedih yang diderita berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] yap. mengerti romo..hehe..trims romo..&lt;br /&gt;tapi berat juga romo, teman sy udh benar2 percaya dgn jalan tuhan yg tertera di alkitab..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sudrijanta] Apakah topik kepercayaan itu sendiri tidakbisa dijadikan bahan penyelidikan bersama?&lt;br /&gt;Wah itu topik menantang.&lt;br /&gt;Saya minta pamit ya. Mau cari makan untuk mengganjal perut. Hehe.. Trimakasih untuk dialognya. Bye..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Meyliana] sy ini termasuk orang yg lelet romo, hehe.. jd ya.. kurang begitu pandai untuk berdiskusi.. jadi bingung kalau diajak berdiskusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22:48 [Meyliana] ok.. malam romo sudri..be happy..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-3676986388554681226?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/3676986388554681226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/penderitaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/3676986388554681226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/3676986388554681226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/penderitaan.html' title='Penderitaan'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-7845157168743758426</id><published>2010-03-08T12:07:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:08:39.969-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sri Panyavaro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vihara Mendut'/><title type='text'>Wejangan Meditasi Sri Panyavaro</title><content type='html'>HANYA MENYADARI SAJA, TIDAK MEMADAMKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Hudoyo, pembimbing meditasi,&lt;br /&gt;Para Ibu, Bapak, Saudara peserta meditasi pada akhir tahun 2008 ini,&lt;br /&gt;Sebagai Kepala Vihara Mendut, saya mengucapkan selamat datang kepada para peserta. Bagi para peserta yang sudah beberapa kali mengikuti meditasi di vihara ini, tentu ini selamat datang untuk yang kesekian kalinya. Bagi Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara yang baru pertama kali mengikuti meditasi ini, tentu selamat datang yang pertama bagi Ibu, Bapak, Saudara. Selamat datang di Vihara Mendut untuk mengenal meditasi dan sekaligus melatih meditasi.&lt;br /&gt;Para Ibu, Bapak, Saudara,&lt;br /&gt;Semua orang tentu menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan menjadi obsesi, menjadi tujuan hampir semua orang, apa pun agama, kepercayaan, tradisi, atau adat-istiadat mereka. Kemudian, tiap-tiap orang berusaha untuk membuat rincian, meskipun mungkin tidak mendetail, gambaran tentang apakah bahagia yang mereka inginkan? Seperti apakah kebahagiaan itu?&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Cita-cita atau harapan kebahagiaan itu kemudian diusahakan untuk dicapainya. Lalu, harapan atau keinginan untuk bahagia itu menumbuhkan keinginan-keinginan lain yang sangat banyak. Mengapa keinginan-keinginan lain tumbuh sangat banyak? Keinginan-keinginan itu tumbuh seiring dengan tumbuhnya segala usaha yang dilakukan untuk mencapai hidup bahagia.&lt;br /&gt;Apa yang menjadi fenomena, apa yang menjadi gejala kemudian? Sesungguhnya, yang terjadi kemudian adalah ketidakbahagiaan. Mengapa? Karena keinginan atau harapan untuk bahagia itu justru membuahkan penderitaan. Harapan menimbulkan kegelisahan, harapan menimbulkan kekhawatiran, harapan membuat seseorang, kita semua, waswas, dan kalau tidak terpenuhi, kecewa.&lt;br /&gt;“Tetapi, Bhante,” ada yang menanyakan, “kalau keinginan atau harapan itu terpenuhi, bukankah kita bahagia?”—Ya, kita bahagia sebentar, karena tidak ada bahagia yang abadi. Dan kalau bahagia sebentar itu lenyap, maka timbullah ketagihan, kecanduan, keinginan yang lebih berkobar-kobar.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara, kebahagiaan yang benar, dan “kebahagiaan” ini harus ditulis dengan tanda petik, tidak dicapai dengan keinginan. Kebahagiaan yang benar justru akan tumbuh—begitulah bahasa yang boleh kita pakai—kalau keinginan dikurangi. Bukan dengan menambah keinginan lalu tercapai, itulah kebahagiaan. Bukan! Tetapi dengan berkurangnya keinginan, lenyapnya keinginan, justru itulah kebahagiaan yang benar.&lt;br /&gt;“Apakah mungkin, Bhante, melenyapkan keinginan, membuang keinginan selama kita hidup di masyarakat, baik sebagai bhikkhu, rohaniwan ataupun sebagai perumah tangga?”—Memang sulit, dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita hanya selektif, menyeleksi keinginan. Mengapa? Karena kalau keinginan bertambah, maka masalah pun bertambah. Kalau masalah bertambah, penderitaan juga bertambah. Ini bukan dalil agama, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara, ini adalah hukum alam. Kalau Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara menambah keinginan, menambah harapan, maka waswas bertambah, gelisah bertambah, kekhawatiran bertambah, kekecewaan bertambah, penderitaan bertambah. Tetapi kalau keinginan dikurangi, maka masalah juga akan berkurang. Kalau masalah berkurang, ketegangan juga berkurang. kekhawatiran berkurang, penderitaan berkurang.&lt;br /&gt;Tetapi, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara, selama Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara tujuh hari mengikuti meditasi di vihara ini—meditasi yang kita kenal dengan nama Meditasi Mengenal Diri, atau boleh juga disebut meditasi Vipassana, atau hanya meditasi saja, karena nama tidaklah penting—Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara bisa berlatih dan mengalami, untuk membuang hampir semua keinginan. Tidak perlu memikirkan besok masak apa, apa yang harus disiapkan, apa yang harus dikerjakan, karena semua sudah disiapkan oleh vihara ini, sederhana sudah tentu, sesuai dengan kemampuan kami, untuk membantu agar Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara mempunyai latihan dan mengalami kondisi atau dimensi membuang keinginan secara maksimal. Tentu masih ada keinginan, tetapi keinginan itu keinginan yang fungsional, seperti ingin ke belakang, ingin melangkahkan kaki, makan pagi sebagai kebutuhan untuk kelangsungan fisik kehidupan ini, makan siang, berbaring—keinginan-keinginan fungsional yang sangat terbatas. Keinginan yang lain ditiadakan.&lt;br /&gt;Tetapi apakah mudah? Tidak. Meskipun Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara, dan kita sudah bersepakat, bahwa selama tujuh hari ini kita tidak ingin mempunyai keinginan apa-apa; keinginan yang ada hanya sesedikit mungkin, keinginan-keinginan fungsional sehari-hari. Meskipun sudah disepakati seperti itu, keinginan itu tetap muncul saja, mengganggu pemikiran kita. Bahkan mungkin semakin hebat, semakin hebat; apalagi bagi Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara yang belum pernah melatih meditasi, dan kali ini adalah kali yang pertama, dengan waktu yang cukup panjang, tidak hanya Jumat, Sabtu, Minggu, melainkan satu minggu.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana cara kita untuk membuang keinginan itu? Cara membuang keinginan bukan dengan sederhana berucap, “Aku tidak ingin punya keinginan.” Dalam bahasa kasar, “Lho, mengapa masih muncul saja keinginan? Bukankah aku sudah sepakat untuk tidak mau punya keinginan?”—Biar, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara, biar. Tidak usah marah, tidak usah merasa tidak berhasil. Tidak usah menyalahkan diri sendiri, mengapa keinginanku masih saja berkobar-kobar, tidak bisa dibuang; dikurangi saja tidak bisa. Tidak usah marah, tidak usah menyalahkan diri sendiri, tidak usah kecewa. Keinginan yang muncul itu juga tidak usah dipadamkan. Dalam bahasa sehari-hari, “Lho, mengapa tidak dipadamkan? Tadi di depan dijelaskan, keinginan harus dikurangi, dibuang sampai maksimal. Sekarang kalau keinginan muncul mengapa tidak boleh dipadamkan?”—Kalau Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara berusaha untuk memadamkan keinginan itu, maka ributlah pikiran ini. Keinginan yang muncul dilawan dengan keinginan untuk tidak mau punya keinginan. Maka keinginan perang melawan keinginan. Pusinglah, ramailah pikiran kita.&lt;br /&gt;Meditasi hanya mengamat-amati saja, menyadari kalau keinginan muncul, keinginan ini keinginan itu, ingatan ini ingatan itu, mau seperti ini mau seperti itu. Tugas kita bermeditasi hanya menyadari saja; tidak memadamkan, tidak menggempur, tidak menganalisis dari mana datangnya, tidak merentang-rentang apakah ini wahyu, apakah ini vision, tidak. Kita hanya menyadari saja, menyadari dengan pasif, menyadari dengan pasif. Nanti keinginan-keinginan itu padam sendiri. Padam bukan dengan keinginan untuk dipadamkan, hanya disadari, disadari, disadari saja.&lt;br /&gt;Itulah secara garis besar latihan Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara selama seminggu ini. Tidak perlu doa, tidak perlu meminta-minta, tidak perlu mengharap berkah dari siapa pun, tidak ada ritual-ritual, upacara-upacara yang harus ditaati. Tetapi sadarilah pikiran, perasaan, jasmani; jasmani, perasaan, pikiran. Guru-guru meditasi sering menjelaskan, mukjizat itu bukannya kalau kita bisa terbang, mukjizat itu bukannya kalau kita bisa melihat makhluk-makhluk halus, mukjizat itu bukan pula pada saat kita duduk bermeditasi mengalami yang aneh-aneh; tetapi mukjizat itu pada waktu kita berjalan kita menyadari langkah kaki kita yang menempel di bumi ini; itulah mukjizat, kalau hal itu boleh disebut mukjizat. Mukjizat bukannya mampu membaca pikiran orang, melihat makhluk halus, pergi ke alam lain, melainkan mampu menyadari timbulnya pikiran sendiri apa pun juga, mampu menyadari timbulnya perasaan sendiri apa pun juga.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, di dalam meditasi ini semua menjadi objek: pikiran yang disebut baik, tidak baik, pikiran bagus, pikiran luhur, pikiran bersalah, pikiran jorok, ingatan masa lalu, kenangan yang pahit, kenangan yang manis, khayalan, rencana segala macam, semuanya mempunyai fungsi yang sama: diperhatikan. Pikiran yang baik juga diperhatikan, pikiran yang buruk juga diperhatikan.&lt;br /&gt;Dan tidak usah dinilai: ini baik, ini buruk. Perasaan senang yang timbul juga diperhatikan, perasaan tidak senang yang timbul juga diperhatikan; perasaan sedih diperhatikan, perasaan gembira juga diperhatikan, tidak dicegah, tidak dibesar-besarkan. Dan tidak usah diberi nama: “O, ini senang; o, ini tidak senang.” Untuk menjelaskan, memang, saya menggunakan kalimat: “Perasaan senang diperhatikan, perasaan tidak senang diperhatikan.” Tetapi di dalam praktik, sadari saja. Tidak usah diberi label, diberi nama: “O, ini senang, ini tidak senang.” Karena kalau kita memberikan nama, nanti kekuatan senang menjadi lebih besar, kekuatan tidak senang menjadi lebih besar. Kita lebih serakah pada yang menyenangkan, kita lebih benci pada yang tidak menyenangkan, karena konsep senang dan tidak senang dipertajam dalam meditasi dengan memberikan label, “O, ini senang, ini tidak senang.”&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada perasaan yang mengganggu, disadari saja, “O, perasaan begini,” sudah cukup. “O, pikiran muncul; o, pikiran muncul,” cukup. Di dalam penjelasan-penjelasan bahkan dikatakan, dalam meditasi yang sering dikenal dengan sebutan vipassana ini, pada tingkat-tingkat tertentu di dalam teori dikatakan akan timbullah yang disebut nyana, pengetahuan bukan dari hasil pemikiran intelektual, bukan dari hasil berfikir, tetapi hasil meditasi. Pengetahuan hasil meditasi itu pun juga kotoran batin yang halus, vipassana-upakilesa. Jadi, apa fungsi kita? Fungsi kita hanya menyadari saja, menyadari, pasif, menyadari, pasif. Tidak menjadi kebanggaan, tidak menjadikannya sesuatu yang sangat luar biasa. karena kalau dikelompokkan pengetahuan yang muncul dari meditasi itu juga kelompok kotoran batin yang halus. Jadi diperhatikan saja.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan, memperhatikan, memperhatikan, maka keinginan itu akan padam, padam, padam. Padamnya keinginan itulah lenyapnya penderitaan. Istilah ‘lenyapnya penderitaan’ lebih tepat kalau ingin digunakan, daripada menggunakan “kebahagiaan”. Lenyapnya penderitaan itulah “kebahagiaan yang benar” dalam tanda petik. Daripada menggunakan istilah “kebahagiaan”, ‘lenyapnya penderitaan’ menjadi kalimat yang lebih tepat untuk menamakan padamnya keinginan.&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Gunakanlah waktu tujuh hari ini untuk mengamati jasmani, langkah kaki, nafas, perasaan yang timbul, pikiran, termasuk ingatan, kenangan. Tidak usah tegang, tetapi tidak malas. Dalam bahasa Jawa dikatakan jangan ndlenger. Dalam bahasa gaul, banyak anak-anak muda yang ikut meditasi, mereka mempunyai istilah, “O, kalau kita ingin ikut vipassana, ingin ikut MMD ini, harus ‘sersan’,” katanya. Apa itu ‘sersan’? Serius tapi santai. Kalau serius saja, maka nanti keinginan akan muncul, keinginan “Saya ingin bermeditasi sungguh-sungguh, saya ingin membuang keinginan sungguh-sungguh,” apalagi kalau, “Saya ingin mendapatkan pengalaman yang aneh-aneh.” Serius. Ya, keinginan justru berkembang, bertambah, bukan berkurang. Tetapi kalau santai, tidak menghadirkan kesadaran, santai saja, banyak tidur—kalau nanti tidur di ruang tidur tidak enak, ya duduk di tempat meditasi tetapi tidur—ya, itu terlalu santai. Meditasi menghadirkan kesadaran dengan wajar; menghadirkan kesadaran itu yang oleh anak-anak muda di katakan serius, tetapi wajar, wajar itulah santai. Serius tapi santai, santai tapi kesadaran harus hadir.&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Semogalah selama tujuh hari, Dr. Hudoyo akan mendampingi, memberikan bimbingan, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara akan mendapatkan kemajuan. Kalau saya menyebutkan ‘kemajuan’ di sini, kemajuan itu adalah mampu melihat pikiran, mampu melihat perasaan, mampu melihat gerak-gerik jasmani; melihat dengan kesadaran. Paling tidak kita mengalami berkurangnya keinginan. Pada saat keinginan berkurang, pada saat itulah mulai bebas dari penderitaan.&lt;br /&gt;Dan nanti setelah selesai meditasi ini, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara pulang ke rumah, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara bisa menggunakan pengalaman selama tujuh hari ini untuk menghadirkan kesadaran dalam keseharian. Karena tidak ada gunanya mengikuti retret kalau kesadaran dalam keseharian tidak dihadirkan.&lt;br /&gt;Apalagi di antara saudara-saudara kita ada yang bangga,  “O, saya sudah ikut retret sepuluh kali, Anda baru berapa kali, baru dua kali?”—Tidak menjadi ukuran, sepuluh kali atau dua puluh kali ikut retret, tidak menjadi ukuran sejauh mana penderitaan berkurang, kebebasan bisa dialami. Tetapi menghadirkan kesadaran itulah yang penting, di vihara ini maupun dalam kehidupan Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara sehari-hari.&lt;br /&gt;Semogalah latihan ini bermanfaat. Terima kasih.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Wejangan Sri Pannyavaro Mahathera pada penutupan Retret MMD Seminggu di Vihara Mendut, 1 Januari 2009&lt;br /&gt;KESADARAN ITU MEMBEBASKAN&lt;br /&gt;Para Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara peserta meditasi,&lt;br /&gt;Hari ini adalah akhir latihan meditasi yang Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara ikuti di Vihara Mendut dengan bimbingan Dr. Hudoyo. Banyak orang sering mempunyai anggapan bahwa penderitaan dan kebahagiaan itu berada di luar diri kita. Kemudian kita berusaha keras untuk mencari kebahagiaan, sehingga mengalaminya. Dalam hal penderitaan, banyak orang menganggap bahwa  penderitaan yang berasal dari luar itu masuk menghantam diri kita dan membuat kita menderita.&lt;br /&gt;Sebetulnya, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara, kebahagiaan dan penderitaan itu tidak berada di luar diri kita. Kalau kita mencari di luar, memilah-milah, melihat di segala sudut di luar diri kita, kita tidak akan menemukan kebahagiaan atau penderitaan. Di manakah sesungguhnya penderitaan dan kebahagiaan itu berada? Penderitaan dan kebahagiaan itu kita alami di dalam diri kita ini; maka penderitaan dan kebahagiaan itu sebetulnya tepat, persis, berada di dalam diri kita sendiri. Bukan dicari di luar dan juga tidak datang dari luar lalu masuk ke dalam diri kita.&lt;br /&gt;Penderitaan terjadi, kebahagiaan dialami, tidak lain karena pikiran kita memberikan reaksi, tanggapan, terhadap segala sesuatu. Kalau pikiran itu menanggapi dan memberikan reaksi terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita, timbullah rasa tidak senang, timbullah penderitaan, ketegangan, dan sebagainya. Di mana hal itu dirasakan? Tidak di luar, tetapi di dalam diri ini. Kalau pikiran memberikan reaksi, tanggapan, terhadap segala sesuatu yang ditangkap oleh pancaindera maupun terhadap kenangan atau ingatnan-iangatan pikiran itu sendiri—kalau reaksi atau tanggapan itu—sesuai dengan selera kita, berarti menyenangkan, maka timbullah yang disebut bahagia, rasa nyaman, puas.&lt;br /&gt;Tetapi, apakah yang sering kita alami dan kita namakan kebahagiaan itu kekal? Sama sekali tidak; sebentar kesenangan atau kebahagiaan itu lenyap. Demikian juga penderitaan. Kalau kita mengamat-amati—dengan kalimat lain, kalau kita menyadari—saat penderitaan muncul atau saat kebahagiaan muncul, menyadari saja, maka padamlah penderitaan itu, padam. Dan padamlah juga kebahagiaan yang hanya sebentar itu, padam. Pada saat penderitaan padam, pada saat kebahagiaan atau kesenangan padam, timbullah rasa bahagia yang lebih halus, atau ada yang menjelaskan dengan kalimat: timbullah kesunyian yang mendalam. Kebahagiaan yang lebih halus atau kesunyian yang mendalam timbul karena kesadaran memperhatikan penderitaan atau kebahagiaan, kemudian fenomena mental itu lenyap, berganti dengan kebahagiaan yang mendalam, berganti dengan kesunyian yang mendalam, atau ketenangan yang lembut—demikianlah berbagai istilah digunakan. Itu pun juga tidak boleh luput dari kesadaran kita; sadari saja!&lt;br /&gt;"Apakah kita tidak menikmatinya, Bhante?"—Kalau kita menikmati, maka apa yang dikatakan kebahagiaan yang halus, kesunyian yang mencekam, ketenangan yang mendalam itu akan menjadi kelengketan baru, akan menjadi ketagihan kembali. Kalau fenomena mental yang disebut mendalam atau lembut itu tidak segera disadari,  akan menyelinaplah pikiran ingin menikmati yang halus-halus itu kembali. Oleh karena itu, sadarilah.&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Menjelang Tahun Baru, ada sebagian saudara kita yang mempunyai kebiasaan, beberapa menit menjelang pukul 24.00 dia merenungkan hal-hal setahun yang sudah lewat sampai menangis. Dadanya merasa sesak, air matanya bercucuran. Kemudian dia berdoa, sampai beberapa menit melewati pukul 24.00 atau pukul 00.00. Setelah itu dia merasa puas, lega. Pada suatu kesempatan menjelang Tahun Baru, orang ini tertidur, dan terbangun sudah pukul satu malam. Dia tidak sempat melakukan ritual menangis menjelang tutup tahun, juga tidak sempat berdoa sampai melewati tengah malam. Dia kecewa, dia susah, sangat tertekan, tidak bahagia. Bagaimana mengatasi hal ini?&lt;br /&gt;Satu cara mungkin dia menghibur dirinya dengan mengatakan, "Ini toh bukan ajaran agamaku, menangis menjelang tutup tahun dan berdoa sampai lewat tengah malam bukan kewajiban agama. Jadi aku tidak perlu menyesal, tidak perlu bersedih.” Bisa juga diatasi dengan pandangan filosofis, "Yah, kalau malam hari ini lupa menangis dan lupa berdoa, bukan berarti kehidupan saya setahun yang akan datang ditentukan oleh tangisan dan doa awal tahun. Saya tidak menangis, tidak berdoa, tidak melakukan ritual itu, karena tertidur. Bukan berarti kehidupan saya setahun kemudian buruk.” Itu pandangan filosofis. Tetapi diatasi dengan dalil agama, diatasi dengan pandangan filosofis, dia tetap saja merasa kecewa; ada sesuatu yang mengganjal rasanya. Karena, dia melewatkan akhir tahun ini dengan tidak menangis dan tidak berdoa. Dia sulit menghilangkan kekecewaan, penderitaan, dan ganjalan itu. Mengapa? Karena kebiasaan itu sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun dan memberikan kenikmatan; menangis akhir tahun memberikan kenikmatan, berdoa akhir tahun juga memberikan kepuasan, dan tahun ini dia tidak melakukannya, maka menjadi penderitaan, ketegangan, ganjalan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sebenarnya cara yang baik untuk mengatasi hal-hal yang mengganggu pikiran dia itu adalah dengan menyadari pada saat timbul pikiran, "Aku kok tidak menangis," disadarilah. Tidak usah dilawan dengan dalil agama, tidak usah dicarikan alasan filosofis, dengan disadari, maka hal itu akan hilang sendiri. Ketegangan itu akan berhenti, ganjalan itu akan berhenti. Tetapi, nanti bisa muncul kembali karena kadar kelekatan, kelengketan itu cukup kuat, ritual itu sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun, dan kesempatan itu hanya terjadi sekali saja pada akhir tahun, sedangkan tahun ini dia lupa. Kalau penyesalan itu muncul kembali, kemudian diikuti dengan penderitaan, dengan ketegangan, maka sadari kembali. Dalam bahasa daerah disebut: 'eling’ kembali. Saat kita sadar, saat kita eling, itu akan berhenti. Itulah, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara, pengalaman yang Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara dapatkan selama Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara bermeditasi secara intensif di Vihara Mendut ini. &lt;br /&gt;Perkenankan saya untuk memberikan tambahan cerita. Beberapa waktu yang lalu, beberapa kali saya diundang dalam pertemuan lintas agama yang juga dihadiri tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat yang datang dari Poso, dari Ambon, dari daerah yang dilanda konflik dalam waktu yang panjang. Di antara mereka yang hadir di Yogyakarta dari daerah-daerah konflik itu, ada keluarga atau famili mereka yang menjadi korban, meninggal dunia. Dan tidak hanya satu-dua orang. Apa yang menjadi persoalan? Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menyembuhkan luka batin; mereka menggunakan istilah 'luka batin' karena kepedihan, kesedihan, penderitaan yang kemudian muncul menjadi kebencian, dendam, sulit untuk diatasi. Ajaran agama dikemukakan; di dalam pandangan Buddhis, "Terima saja. Apa yang terjadi adalah akibat dari karma, perbuatan Anda sendiri yang lampau." Saudara-saudara kiami yang lain mengatakan, "Terima saja, itu sudah takdir Tuhan." Tetapi dengan jujur mereka mengatakan, "Saya mengerti penjelasan itu, tetapi sangat sulit saya mengatasi luka batin yang menekan batin saya." Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan, "Anda dengan mudah bisa mengucapkan pandangan-pandangan yang arif, yang bijak, karena Anda tidak mengalami sendiri, bagaimana kalau suami Anda, atau anak Anda, atau orang tua Anda di bunuh. Dan ada yang tidak hanya satu, tetapi lebih dari satu anggota keluarga kita yang dibunuh. Kita masih bisa melihat, bertemu dengan pembunuh-pembunuhnya; sulit mengatasi luka batin itu.”&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, saya pun menyampaikan kepada mereka cara kesadaran. Luka batin itu, yang memedihkan, menyedihkan, yang mungkin sangat mendalam, yang menimbulkan kebencian, dendam, cobalah tidak usah diatasi dengan bermacam-macam dalil atau alasan. Batin Anda tidak perlu dihibur dengan berbagai alasan. Karena nanti batin Anda akan menolak terus, menolak, menolak; menolak alasan atau hiburan yang datang untuk memadamkan kepedihan dan luka batin itu. Akan terjadi perdebatan yang hebat antara batin yang pedih dan terluka dengan alasan atau hiburan yang kita munculkan.  Oleh karena itu, sadari saja. Sadari kalau memori itu muncul, kalau kebencian itu muncul, sadari. Kalau keinginan untuk membalas itu muncul, sadari. Kalau rasa pedih tiba-tiba muncul tanpa alasan, sadari. Dia akan padam. Harapan saya semoga mereka bisa memahami, dan kemudian melakukan; karena tidak banyak di antara mereka yang pernah bermeditasi. Kalau Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara pernah bermeditasi, meskipun tidak lama, atau tidak sering mengikuti retret meditasi seperti ini, Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara akan mengerti, apakah yang disebut dengan kesadaran itu, apakah yang disebut dengan eling itu: sangat berguna. Saya memilih istilah 'sangat berguna' dibandingkan dengan istilah 'sangat mulia', 'sangat berharga'—sangat berguna—untuk membebaskan segala macam beban pikiran atau beban mental kita. &lt;br /&gt;Perkenankan saya memberikan tambahan cerita; Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara sehari-hari juga mendapatkan beban mental dari keseharian yang sederhana dan mungkin juga berat. Kita mungkin tiba-tiba teringat bahwa dua-tiga hari kemudian akan menghadapi suatu masalah yang berat, maka timbullah beban mental. Dan itu sampai membuat seseorang pucat, bersedih, ketakutan. Kalau Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara pernah bermeditasi mengerti kesadaran, sadarilah, elinglah, maka beban mental itu akan padam, sesaat. Kalau nanti muncul kembali, sadari kembali. Kalau Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara sering menghadirkan kesadaran, maka kesadaran itu juga akan sering hadir, menyadari pikiran, perasaan yang timbul.&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Pada saat kesadaran itu absen, pikiran yang membebani mental kita itu sangat menekan, membuat kita merasa seperti tidak ada lagi jalan untuk terbebas; mengeluh, bahkan ada yang menangis meraung-raung bergulung-gulung. Tetapi begitu kita sadar, maka berhentilah tekanan-tekanan mental yang begitu berat. Kita juga harus menyadari kenikmatan, kesenangan, kepuasan yang muncul; tidak hanya kesedihan, tidak hanya kemarahan, tidak hanya keinginan-keinginan yang buruk; karena kesenangan, kepuasan, kenikmatan yang muncul itu kalau tidak disadari akan menimbulkan ketagihan.&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Saya akan menguraikan sedikit lagi sebagai bagian akhir uraian pagi hari ini. Hal yang paling penting bagi kita sebetulnya adalah menyadari—meskipun tidak mampu terus-menerus—sebanyak mungkin terhadap munculnya pikiran keakuan. Kadang-kadang timbul pikiran, "O, aku lebih baik dari dia," dalam berbagai hal: pengetahuan, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Itu adalah keakuan, yang kalau tidak disadari, tentu keakuan itu akan berkembang, menimbulkan kecongkakan, menimbulkan kesombongan, dan menimbulkan tindakan-tindakan yang bisa merugikan orang lain. Pikiran keakuan yang lain adalah, "O, aku masih sama dengan dia, tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah." "Apakah ini juga keakuan, Bhante?"—Ya, ini adalah keakuan juga, dan pikiran keakuan itu kalau tidak disadari, maka akan berkembang, membuat seseorang kemudian berpikir, "Karena saya masih sama, maka saya harus melakukan sesuatu sehingga bisa melebihi dia." Atau pikiran yang lain timbul, “Karena saya sama, maka saya tidak lebih jelek dari dia." Pikiran keakuan lain lagi yang timbul adalah, "O, saya masih lebih rendah dari dia, saya lebih bodoh, saya lebih tidak mengerti, meditasi saya lebih jelek." Ini pun keakuan. Kalau keakuan ini tidak diatasi, akan membuat beban mental yang lain.&lt;br /&gt;"Lalu bagaimana, Bhante, mengatasinya? Apakah dengan pandangan-pandangan filosofis, bahwa merasa lebih rendah juga berbahaya, merasa sama juga ada risikonya, merasa lebih tinggi juga membahayakan yang lain?”—Tidak. Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara yang mengerti kesadaran, pernah melatih meditasi dan tetap melatih meditasi, sadari saja keakuan itu, maka keakuan itu akan padam. Aku yang merasa lebih, aku yang merasa sama, atau aku yang merasa kurang dari yang lain, sadari saja!&lt;br /&gt;"Tetapi apakah kita tidak boleh melakukan sesuatu, Bhante?"—Mengapa tidak boleh? Lakukanlah hal-hal yang baik, karena Anda tidak sepanjang masa tinggal di vihara, retret, Anda berada di masyarakat. Lakukanlah hal-hal yang baik tanpa membandingkan antara aku dengan yang lain: "O, aku lebih rendah, aku lebih kurang, aku harus berbuat lebih dari dia." "O, aku sama dengan dia, aku harus melanjutkan yang sama ini supaya tidak melorot, atau menambah supaya lebih tinggi." "O, aku lebih tinggi dari dia, aku sudah cukup, dan aku harus mempertahankan kondisi yang lebih tinggi ini supaya tidak melorot."&lt;br /&gt;Dalam kehidupan biasa memacu diri dengan cara membandingkan dirinya terhadap orang lain mungkin ada baiknya, tetapi dalam perkembangan membebaskan pikiran kita dari penderitaan, pandangan seperti itu tidak bermanfaat. Lakukanlah hal-hal yang baik tanpa membandingkan antara aku dengan yang lain.&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Oleh karena itu, bolehlah saya memesankan: meditasi tidak berhenti pada hari ini; lanjutkan dalam keseharian Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara. Hadirkan kesadaran untuk menyadari pikiran apa pun, perasaan apa pun yang menjadi beban mental, tekanan batin, luka batin, ataupun kepuasan, kebahagiaan, kenikmatan; sadari, sadari. Dengan menyadari kita akan membebaskan mental kita, batin kita, dari beban; mungkin hanya sesaat, tetapi itulah kebebasan. Anjuran saya juga, duduklah bermeditasi sehari paling tidak satu kali, setengah jam atau satu jam. Memang kesadaran itu bisa hadir pada saat kita duduk, pada saat kita berdiri, berjalan atau berbaring, tetapi para guru meditasi menjelaskan bahwa dalam posisi duduk maka hadirnya kesadaran menjadi lebih kuat, lebih tajam.&lt;br /&gt;Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara,&lt;br /&gt;Guru Agung Buddha Gotama juga mengatakan "Ajaran yang Kuajarkan ini seperti rakit. Kalau rakit itu tidak digunakan menyeberang di sungai, hanya dipegang atau dijunjung di atas kepala saja,  tentu tidak bermanfaat. Sering Dhamma yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha Gotama itu oleh umat Buddha dijadikan bukan sebagai rakit, tetapi hanya dipegang di atas kepala, sehingga ajaran itu kemudian sering menimbulkan perdebatan. "Perdebatan dengan siapa, Bhante? Dengan orang lain?"  Yang lebih sering, berdebat dengan dirinya sendiri. "Ajaran mengajarkan begini, tetapi diriku mengapa masih seperti ini, aku masih belum maju, belum bisa melaksanakan ajaran. Ajaran mengajarkan seperti ini, tetapi aku bersikap begini. Hal ini tidak termasuk yang dibolehkan atau yang dilarang? Tetapi melanggar sedikit, boleh, ‘kan?” Begitulah, timbul perdebatan—mungkin dengan istilah lain: pertikaian—timbul pertikaian antara ajaran yang diketahui, dimengerti, diyakini, dengan kondisi batinnya, dengan perilakunya yang masih belum cocok. Perdebatan atau pertikaian ini menimbulkan ketegangan, rasa bersalah, merasa menjadi umat yang belum mampu mengikuti ajaran, bahkan sering juga timbul pemikiran: "Apakah meditasiku ini sudah benar?" Dan hal-hal itu kemudian menjadi masalah dalam pikirannya sendiri. Sulit dihilangkan. Nah, perdebatan-perdebatan, pertikaian-pertikaian di dalam pikiran kita sendiri itu harus berhenti dengan kesadaran. Pada saat kesadaran hadir, pada saat itu kita mulai menggunakan rakit itu, tidak meletakkan rakit hanya di atas kepala; karena pada saat kesadaran hadir, pada saat kita eling, perdebatan atau pertikaian di dalam pikiran antara ajaran dengan kondisi dirinya, keragu-raguan, dan sebagainya, menjadi padam. Itulah kebebasan, meskipun hanya sesaat.&lt;br /&gt;Kalau boleh dinamakan 'tujuan', tujuan kita bermeditasi adalah kebebasan; kebebasan dari kelekatan, dari kelengketan terhadap apa pun. Dan kalau Anda menghadirkan kesadaran, Anda mengalami kebebasan itu. Bukan sesuatu yang nun jauh di sana, dan harus dicapai setelah kita dilahirkan berulang-ulang, melainkan sekarang juga. Pada saat kesadaran hadir, Anda mengalami kebebasan. Kesadaran itu membebaskan.&lt;br /&gt;Semogalah latihan Ibu, Bapak &amp;amp; Saudara memberikan manfaat, sekarang dan juga untuk kemudian. Terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-7845157168743758426?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/7845157168743758426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/wejangan-meditasi-sri-panyavaro.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7845157168743758426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7845157168743758426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/wejangan-meditasi-sri-panyavaro.html' title='Wejangan Meditasi Sri Panyavaro'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-8954386582626065967</id><published>2010-03-08T12:03:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:05:46.425-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>MMD - Meditasi Mengenal Diri</title><content type='html'>APAKAH MEDITASI MENGENAL DIRI (MMD) ITU?&lt;br /&gt;Oleh: Hudoyo Hupudio&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Kata ‘meditasi’ mengandung banyak makna bagi para pemakai kata itu dan bagi para pendengarnya. Ada banyak tujuan orang bermeditasi; dengan demikian, ada banyak pula cara atau teknik meditasi. Ada meditasi yang bertujuan untuk mencapai hal-hal yang bersifat duniawi—seperti kesaktian, kesembuhan, melihat alam gaib, dan sebagainya—dan ada pula meditasi yang mempunyai tujuan spiritual, seperti mencapai atau menyatu dengan prinsip yang dianggap “tertinggi”, seperti Tuhan, Nirvana, Moksha, Alam Semesta, dan sebaginya. Pada umumnya, meditasi menyangkut pemusatan perhatian (konsentrasi) pada suatu objek tertentu—seperti: nafas, visualisasi, kata-kata/mantra, dan sebagainya— untuk waktu yang lama, dengan harapan pada akhirnya mencapai suatu tujuan yang dicita-citakan. Dengan demikian, sifat umum dari kebanyakan jenis meditasi adalah suatu pencapaian, yang tentu saja dipahami akan tercapai di masa depan.&lt;br /&gt;Ada satu jenis meditasi yang berbeda dengan kebanyakan meditasi lain. Meditasi ini diajarkan oleh Buddha Gotama, lebih dari 2500 tahun lalu, disebut meditasi vipassana. Meditasi ini berangkat dari fakta eksistensial yang diajarkan oleh Sang Buddha, yakni bahwa segala sesuatu dalam kehidupan atau eksistensi ini tidak kekal, terus-menerus berubah, dan tidak memuaskan; fakta ini menyebabkan penderitaan bagi orang yang tidak memahaminya: ia melekat erat pada jasmani dan batinnya, dan mencari kebahagiaan serta keabadian yang tidak pernah diketahui dan dirasakannya. Sang Buddha juga mengajarkan, bahwa penyebab atau sumber dari penderitaan eksistensial itu ialah oleh karena manusia tidak memahami aku/dirinya, terutama pikiran dan keinginannya, yang selalu mencari kebahagiaan dan keabadian (Anatta-lakkhana-sutta, Samyutta Nikaya, 22.59). Untuk mencapai kebahagiaan dan keabadian itu manusia selalu terlibat dalam konflik dalam dirinya sendiri maupun dengan orang lain di sekitarnya; ia terlibat konflik antara apa yang ada sekarang dengan apa yang dicita-citakan di masa depan dalam pikirannya.&lt;br /&gt;Sang Buddha mengajarkan, bahwa dengan meditasi vipassana—yakni mengamati secara pasif setiap gerak-gerik jasmani dan batin (pikiran, perasaan, emosi, keinginan, harapan, keputusasaan, kesenangan, penderitaan, dan sebagainya)—manusia dapat memperoleh pencerahan akan hakikat sesungguhnya dari kehidupan/eksistensi yang tidak kekal dan tidak memuaskan ini. Dengan tercapainya pencerahan itu, manusia terbebas dari kelekatan pada jasmani dan batinnya; dengan demikian, terbebas dari penderitaan (dukkha). Namun pembebasan dari penderitaan ini tidak mungkin tercapai dengan suatu usaha yang aktif dari aku/diri ini untuk mencapainya, oleh karena justru aku/diri inilah sumber atau penyebab dari penderitaannya—aku/diri tidak mungkin dapat melenyapkan aku/diri.&lt;br /&gt;Justru  sifat-sifat khusus dari meditasi vipassana adalah kebalikan dari kehidupan sehari-hari: pasif, berhenti, diam, lepas, berada pada saat kini. Seperti kata Sang Buddha kepada Angulimala, si perampok dan pembunuh: “Aku sudah lama berhenti. Kamulah yang masih terus berlari. Berhentilah!” Berada pada saat kini terus-menerus, yang di situ aku/diri dan pikiran ini berhenti, itulah pintu menuju pembebasan, menurut Sang Buddha. (Mulapariyaya-sutta, Majjhima Nikaya, 1 dan Bahiya-sutta, Udana, 1.10).&lt;br /&gt;Namun, patut disayangkan bahwa, dengan perjalanan waktu, dalam banyak praktik meditasi vipassana yang diajarkan di dunia pada dewasa ini, prinsip-prinsip meditasi vipassana yang diajarkan oleh Sang Buddha telah bergeser: dari pelepasan menjadi pencapaian, dari kepasifan menjadi berupaya dan aktif berkonsentrasi. Bagi banyak praktisi vipassana, mungkin pada awalnya pergeseran ini tidak dirasakan; namun, bagi sementara praktisi vipassana lain, mereka mengalami kesulitan untuk benar-benar memahami gerak-gerik jasmani dan batin ini secara pasif apabila mereka diharuskan berusaha, apalagi dengan berkonsentrasi, untuk mencapainya. Bagi para praktisi yang tersebut belakangan inilah, sejak beberapa tahun terakhir, telah dikembangkan Meditasi Mengenal Diri (MMD), yakni suatu jenis meditasi vipassana yang diyakini telah dikembalikan kepada sifat-sifat khusus meditasi vipassana yang diajarkan oleh Sang Buddha.&lt;br /&gt;Meditasi Mengenal Diri (MMD)&lt;br /&gt;Pemahaman bahwa praktik meditasi vipassana yang banyak diajarkan pada dewasa ini telah bergeser jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Sang Buddha diilhami oleh praktik meditasi yang diajarkan J. Krishnamurti pada abad ke-20. J. Krishnamurti mengritik kebanyakan teknik meditasi yang semuanya mengutamakan konsentrasi, usaha dan teknik meditasi. Dalam hal ini termasuk pula banyak teknik vipassana Buddhis.&lt;br /&gt;Bagi J. Krishnamurti, teknik meditasi apa pun sama sekali tidak membebaskan, tidak mentransformasikan batin manusia; alih-alih, malah membuat batin lebih dalam terjerat dalam keterkondisian dan keterbatasannya. Teknik konsentrasi apa pun hanya membawa praktisinya ke dalam suatu keadaan pemusatan batin yang kuat, yang mungkin memberikan suatu rasa nikmat dan bahagia yang intens, sehingga mudah disangka sebagai kebebasan, tetapi sesungguhnya menjerat batin dalam keterkondisian dan ketidakbebasan yang lebih halus.&lt;br /&gt;Meditasi Mengenal Diri (MMD) adalah versi meditasi vipassana yang selama beberapa tahun terakhir telah dikembangkan dari vipassana yang diajarkan secara “tradisional”. Dalam MMD, meditasi vipassana “tradisional” telah banyak dimodifikasi berdasarkan ajaran J. Krishnamurti tentang sadar/eling secara pasif atau sadar/eling tanpa memilih, yang sesungguhnya adalah kembali pada sifat-sifat praktik meditasi vipassana murni ajaran Sang Buddha sendiri.  Dengan demikian, ada beberapa perbedaan penting antara meditasi vipassana versi MMD dan meditasi vipassana “tradisional”:&lt;br /&gt;(1) Tujuan meditasi vipassana&lt;br /&gt;Bila seorang praktisi vipassana “tradisional” ditanya, apakah tujuan meditasi vipassana, biasanya jawabannya adalah: untuk melenyapkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha), sehingga tercapai pembebasan dari kelekatan pada jasmani dan batin (nama-rupa); pembebasan itu disebut ‘Nibbana/Nirvana’. Dengan demikian, tujuan vipassana “tradisional” bersumber dari doktrin agama Buddha. Tujuan meditasi vipassana ini dipahami akan tercapai pada suatu saat di masa depan.&lt;br /&gt;Apakah tujuan MMD? Tujuan MMD mengandung sebuah paradoks. Di satu sisi, tujuan MMD adalah berakhirnya aku/diri secara radikal, yang berarti berakhirnya penderitaan (dukkha) sepenuhnya—secara teoretis, tentu saja hal ini akan tercapai di masa depan. Di sisi lain, secara praksis aktual, tujuan MMD ini tidak dilihat sebagai berada di masa depan, melainkan harus terjadi pada saat kini, sebagai suatu transformasi batin yang hanya bisa didekati melalui saat ini. Dalam praksis aktual, tujuan MMD adalah sadar/eling sedalam-dalamnya dan terus-menerus terhadap gerak-gerik jasmani dan batin ini pada saat munculnya, dari saat ke saat, sekarang dan di sini.&lt;br /&gt;Dengan demikian, secara teoretis, tujuan MMD tidak berbeda dengan tujuan meditasi vipassana “tradisional”; namun secara praksis aktual, ternyata terdapat perbedaan mendasar di antara kedua jenis meditasi vipassana itu.&lt;br /&gt;Pengertian ‘tujuan’ selalu mengacu pada suatu keadaan yang ingin dicapai di masa depan; tetapi, seperti dikatakan di atas, secara paradoksal tujuan MMD adalah berada pada saat kini terus-menerus. Dengan demikian, di dalam MMD tidak relevan lagi orang bicara tentang suatu ‘tujuan’ di masa depan, di dalam MMD tidak ada ‘tujuan’.&lt;br /&gt;Selain itu, ‘tujuan’ MMD adalah identik/sama dengan ‘metode’-nya, yakni berada pada saat kini terus-menerus, yang adalah ‘non-metode’ (lihat bawah).&lt;br /&gt;Paradoks tujuan MMD ini tidak terdapat dalam pengajaran vipassana “tradisional” kepada para praktisinya. Tujuan vipassana “tradisional”, yakni nibbana, diletakkan di masa depan, bahkan sering kali ditampilkan bahwa tujuan itu hanya bisa dicapai di masa depan yang jauh, tidak dalam kehidupan sekarang.&lt;br /&gt;Paradoks dari sebuah tujuan/keadaan transendental sebagaimana diuraikan di atas juga terlihat dalam kitab-kitab Mahaprajnaparamita dari Buddhisme Mahayana, seperti Sutra Intan, Sutra Hati, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sekali lagi, tujuan MMD adalah berada pada saat kini terus-menerus; di dalam MMD orang tidak memandang ke masa depan. Bila orang bisa berada dalam keadaan itu terus-menerus, di situlah terdapat kemungkinan—itulah pintu—menuju berakhirnya konflik dan penderitaan eksistensial manusia; inilah yang dicari oleh umat manusia sepanjang zaman.&lt;br /&gt;Apa dan bagaimana berakhirnya konflik dan penderitaan eksistensial manusia itu tidak dibahas dan tidak dikonseptualisasikan dalam praktik MMD, karena hal itu akan merupakan diskursus pikiran lagi, yang mau tidak mau akan menjadi satu lagi doktrin di antara sekian banyak doktrin spiritual yang ada, dan hanya merintangi orang untuk berada pada saat kini terus-menerus, melihat apa adanya (yathabhutam nyanadassanam) tanpa dicampuri oleh konsep-konsep ciptaan pikiran.&lt;br /&gt;Tujuan MMD bukan hanya melenyapkan keadaan-keadaan batin yang negatif, seperti lobha, dosa, dan moha seperti di dalam vipassana “tradisional”, tetapi juga memahami keadaan-keadaan batin yang positif, seperti cinta (metta), welas asih (karuna), simpati (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha). Ketika semua keadaan batin yang negatif maupun positif itu dipahami/disadari, maka pemeditasi tidak akan menolak keadaan batin yang negatif dan/atau melekat pada keadaan batin yang positif.&lt;br /&gt;(2) Teknik/metode meditasi vipassana&lt;br /&gt;Adanya perbedaan dalam tujuan meditasi di antara meditasi vipassana “tradisional” dan MMD menyebabkan perbedaan yang mendasar dalam praktik di antara kedua versi vipassana itu. Dalam kebanyakan meditasi vipassana “tradisional” diajarkan berbagai teknik yang harus dijalankan oleh pemeditasi kalau ia ingin mencapai hasil yang diinginkan. Misalnya, dalam meditasi vipassana versi Mahasi Sayadaw, ditekankan teknik-teknik berikut:&lt;br /&gt;* berkonsentrasi untuk waktu lama pada sebuah “objek utama”;&lt;br /&gt;* mencatat/memberi label segala sesuatu yang teramati dalam meditasi (setidak-tidaknya pada “tahap awal” praktik);&lt;br /&gt;* melakukan meditasi duduk dan meditasi jalan berganti-ganti dalam sesi meditasi formal;&lt;br /&gt;* memperlambat sedapat mungkin semua gerakan tubuh agar dapat diamati secara kuat.&lt;br /&gt;Semua itu dilakukan, dan didasari usaha (viriya) yang maksimal, dengan tujuan agar konsentrasi berkembang secara maksimal pula, sehingga tercapai berbagai pencerahan (nyana) yang teorinya telah diketahui lebih dahulu, dan akhirnya tercapai pembebasan (nibbana).&lt;br /&gt;Di lain pihak, di dalam MMD:&lt;br /&gt;* tidak ada konsentrasi pada ‘objek utama’ apa pun—karena sadar/eling yang berkembang secara pasif akan mengembangkan pula perhatian (sati) yang kuat, tetapi bukan konsentrasi. Alih-alih berkonsentrasi secara sempit pada satu objek, perhatian dibiarkan terbuka seluas-luasnya secara alamiah meliputi seluruh indera, sehingga dapat menyadari rangsangan yang masuk melalui seluruh indera, termasuk batin (pintu masuknya ingatan dari masa lampau);&lt;br /&gt;* segala fenomena yang muncul dalam badan dan batin sekadar disadari secara pasif, tanpa usaha mencatat/memberi label, yang tiada lain adalah gerak pikiran lagi;&lt;br /&gt;* keadaan batin sadar/eling itu bisa dikembangkan dalam keadaan atau kegiatan apa pun: duduk, berdiri, berjalan, berbaring, tanpa membedakan dan memisahkan antara kegiatan meditasi formal dengan kegiatan sehari-hari—dengan demikian keadaan batin meditatif itu berkembang secara alamiah menjadi keadaan batin sepanjang waktu ketika pikiran/aku tidak dibutuhkan;&lt;br /&gt;* gerakan tubuh tidak perlu diperlambat secara sengaja dan artifisial—apabila perhatian menjadi kuat, maka gerakan tubuh akan melambat dengan sendirinya, sekalipun melambatnya gerakan tubuh itu tidak dikembangkan dengan sengaja sebagai suatu teknik meditasi.&lt;br /&gt;Secara singkat, di dalam MMD tidak ada teknik meditasi apa pun, termasuk tidak ada konsentrasi terus-menerus pada satu objek. Selain itu, di dalam MMD tidak ada usaha (viriya) sama sekali—untuk berada pada saat kini tidak dibutuhkan usaha apa pun.&lt;br /&gt;Pengerahan usaha justru akan menghalangi pikiran dan aku/diri untuk berhenti secara alamiah, menghalangi pembebasan. Ini terlihat jelas dalam pengalaman Bhikkhu Ananda (saudara sepupu Sang Buddha) menjelang Konsili I Sangha, tidak lama setelah Sang Buddha wafat. Konsili itu  hanya boleh dihadiri oleh para arahat, sehingga beliau—yang pada waktu itu masih belum bebas sepenuhnya—berusaha keras untuk mencapai kearahatan dalam waktu semalam. Ternyata justru usaha keras itu menghalangi tercapainya pembebasan. Justru pada saat beliau menghentikan sama sekali usahanya, ketika malam menjelang fajar, muncullah pembebasan terakhir dalam batinnya. (Vinaya Pitaka, Culavagga, Khandaka, 11)&lt;br /&gt;Karena tidak ada teknik meditasi apa pun, dan tidak ada usaha untuk mencapai apa pun, maka pemeditasi bebas dari beban meditasi, sehingga sadar/eling pada saat kini, terus-menerus, tanpa mengharapkan apa pun di masa depan, merupakan keadaan diam, istirahat, dan berhenti secara sempurna.&lt;br /&gt; (3) Rujukan dari kitab suci&lt;br /&gt;Hampir semua teknik vipassana “tradisional” menggunakan Mahasatipatthana-sutta (Digha Nikaya, 22) yang terkenal sebagai rujukannya. Sutta itu penuh dengan doktrin agama Buddha, sehingga pemeditasi sukar membedakan mana yang doktrin dan mana yang pengalaman pribadi dalam meditasi pada waktu ia menerapkannya dalam praktik. Kontemplasi terhadap keempat kelompok dhamma (fenomena jasmani dan batin) yang diajarkan dalam Mahasatipatthana-sutta itu tidak lebih daripada kegiatan analisis intelektual semata-mata dan bukan keadaan sadar/eling aktual yang secara pasif menyadari fenomena yang muncul pada saat sekarang dan di sini. Mendiang Ajahn Buddhadasa Mahathera menyebut Mahasatipatthana-sutta sebagai tidak lebih dari sebuah “daftar berkepanjangan dari objek-objek meditasi Buddhis”—alih-alih menggunakan sutta itu sebagai rujukan untuk mengajarkan meditasi vipassana menuju pembebasan/nibbana, beliau menggunakan Anapanasati-sutta (Majjhima Nikaya, 118).&lt;br /&gt;Di lain pihak, MMD menggunakan Bahiya-sutta, yang di situ Sang Buddha memberikan tuntunan vipassana yang langsung dan singkat kepada Bahiya (Bahiya-sutta, Udana 1.10). Bahiya adalah seorang petapa, bukan bhikkhu siswa Sang Buddha, dan selama hidupnya tidak pernah mendengar doktrin Buddhisme sama sekali. Namun Sang Buddha tidak mengajarkan “doktrin Buddhisme” apa pun kepada Bahiya; alih-alih Sang Buddha mengajarkan vipassana secara murni tanpa dilandasi doktrin apa pun; dan pada saat itu juga, ketika khotbah Sang Buddha selesai, Bahiya mencapai pencerahan terakhir. Tuntunan vipassana yang sama diajarkan pula oleh Sang Buddha kepada Malunkuyaputta, seorang bhikkhu tua; dan akhirnya Bhikkhu Malunkyaputta pun mencapai pencerahan terakhir setelah berlatih beberapa lama (Malunkyaputta-sutta, Samyutta Nikaya, 35.95).&lt;br /&gt;Oleh karena tuntunan vipassana Sang Buddha kepada Bahiya bersifat bebas dari doktrin Buddhisme, maka tuntunan itu cocok untuk digunakan sebagai rujukan mengajarkan MMD kepada para peminat MMD yang non-Buddhis maupun kepada umat Buddha sendiri.&lt;br /&gt;(4) Ritualisme&lt;br /&gt;Oleh karena kebanyakan teknik vipassana “tradisional” diajarkan dalam konteks agama Buddha dan diselenggarakan di sebuah vihara, maka mau tidak mau dalam praktiknya masih terdapat ritualisme. Suatu kekecualian dalam hal ini adalah di dalam retret vipassana versi S.N. Goenka, yang di lokasinya tidak terdapat simbol-simbol keagamaan sedikit pun, sehingga pemeditasi tidak terdorong melakukan ritual apa pun dalam praktik retretnya. Kelekatan pada ritualisme itu sendiri sebenarnya merupakan salah satu belenggu yang harus patah sebelum orang mencapai pembebasan.&lt;br /&gt;Di dalam MMD, sekalipun retret dilakukan di dalam Dharmasala (Ruang Kebaktian) sebuah vihara, selama retret berlangsung peserta sangat dianjurkan untuk tidak melakukan ritual agama Buddha apa pun, seperti bersujud (namaskara) kepada arca Buddha (buddharupam) yang ada di sana, membaca paritta, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sedangkan bagi peserta retret MMD yang beragama Islam, mereka tetap dibenarkan melakukan ibadah sholat yang wajib menurut ajaran agamanya.&lt;br /&gt;Retret MMD&lt;br /&gt;Retret MMD telah diselenggarakan sejak tahun 2000 di berbagai vihara dan tempat lain di Indonesia. Pada dewasa ini, secara teratur retret MMD diadakan di:&lt;br /&gt;o    Jawa Barat – di Cipanas dan Vihara Siripada (Bumi Serpong Damai)&lt;br /&gt;o    Jawa Tengah – Vihara Mendut (Magelang)&lt;br /&gt;o    Bali – Brahmavihara-arama (Kabupaten Buleleng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara insidentil retret MMD diadakan juga di:&lt;br /&gt;o    Kalimantan Timur – Vihara Muladharma (Samarinda)&lt;br /&gt;o    Jawa Tengah – Vihara Dhamma Sundara (Solo)&lt;br /&gt;o    Sumatera Utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para peminat MMD ditawarkan dua jenis retret MMD: Retret MMD Akhir Pekan, dan Retret MMD Seminggu. Jadwal retret-retret MMD selama setahun berjalan, lengkap dengan alamat (nomor HP dan email) tempat pendaftaran di masing-masing lokasi di atas, dapat dilihat pada situs web MMD, http://meditasi-mengenal-diri.org. Informasi lebih lanjut dan diskusi mengenai MMD dapat diikuti di Forum Diskusi MMD, http://meditasi-mengenal-diri.ning.com.&lt;br /&gt;Semua retret MMD diberikan tanpa dipungut biaya, kecuali sumbangan sukarela yang diserahkan kepada vihara pada akhir retret sesuai kemampuan peserta masing-masing.&lt;br /&gt;Pada dewasa ini, MMD hanya diajarkan oleh Dr. Hudoyo Hupudio, MPH, 65 tahun. Tetapi di kemudian hari diharapkan akan tampil para penerus yang kompeten untuk berbagi pengalaman dan mengajarkan prinsip-prinsip MMD demi pencerahan orang banyak.&lt;br /&gt;1 Januari 2009,&lt;br /&gt;Hudoyo Hupudio&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-8954386582626065967?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/8954386582626065967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/mmd-meditasi-mengenal-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8954386582626065967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8954386582626065967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/mmd-meditasi-mengenal-diri.html' title='MMD - Meditasi Mengenal Diri'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-2760812917275998207</id><published>2010-03-08T12:02:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:03:44.331-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Kalama Sutta</title><content type='html'>KALAMA-SUTTA [Re: PESAN SINGKAT YM SRI PANNYAVARO MAHATHERA]&lt;br /&gt;•    Posted by Hudoyo Hupudio on August 1, 2009 at 11:30am&lt;br /&gt;•    Send Message   View Hudoyo Hupudio's blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- In Theravada-l@yahoogroups.com, willie japaries wrote:&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Dear Romo &amp;amp; TS Hudoyo,&lt;br /&gt;&gt; Thx for quick and kind reply.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Menurut hemat saya, Dhamma yg perlu kita junjung tinggi adalah yg setelah kita baca atau dengar dan kita pahami, isinya bermanfaat, tidak tercela (tidak bertentangan dgn norma di masyarakat), hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana (orang tua, tokoh masyarakat dari agama apapun); lebih lanjut jika dilaksanakan dan dipraktekkan akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan (tentu bagi si pelaku maupun lingkungannya), maka Dhamma itulah yg patut dan harus kita jalankan.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Demikianlah yg saya pahami dari yg saya dengar dari ceramah maupun sy baca di AN, III,65, "Kepada Suku Kalama", atau yg lebih dikenal dgn Kalama Sutta.&lt;br /&gt;&gt; Jadi, Dhamma tsb. mencakup semua ajaran agama, tradisi, keyakinan, juga iptek, sejauh memenuhi kriteria tersebut, patut kita jalankan.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Demikian pendapat saya, semoga dapat turut membawa kebahagiaan bagi semuanya,&lt;br /&gt;&gt; WJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Japaries yg baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih telah mengingatkan saya pada Kalama-sutta. Marilah saya terjemahkan &amp;amp; kutipkan seteliti mungkin bagian sutta itu yang relevan, dengan menghapus sisipan-sisipan dalam tanda kurung yang Romo berikan terhadap teks aslinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Marilah, kaum Kalama; jangan berpegang pada berita, pada legenda, pada tradisi, pada KITAB SUCI (ma pitaka sampadanena), pada pertimbangan logis, pada kesimpulan, pada analogi, pada kekonsistenan dengan aturan-aturanmu, pada peluang, atau pada pendapat 'PETAPA (samano) INI GURU KAMI'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kamu TAHU SENDIRI bahwa 'sifat-sifat mental ini tidak baik, patut dicela, dikecam oleh orang arif, bila dilaksanakan menghasilkan kerugian dan penderitaan', maka tinggalkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kamu TAHU SENDIRI bahwa 'sifat-sifat mental ini baik, tanpa cela, dipuji oleh orang arif, bila dilaksanakan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan', maka ikutilah itu." [Kalama-sutta, AN 3.65, terjemahan ke bahasa Inggris oleh Thanissaro Bhikkhu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatam:&lt;br /&gt;(1) Romo tidak mengikutsertakan PERINGATAN yang diberikan oleh Sang Buddha sebelum bagian yang Romo kutip. JUSTRU PERINGATAN INILAH YANG SANGAT PENTING! Peringatan ini menepis banyak pertimbangan yang sering dipakai oleh masyarakat untuk menentukan sesuatu itu benar atau tidak. Mengabaikan peringatan ini justru menghilangkan makna penting dari Kalama-sutta itu seluruhnya! Semoga Romo tidak melupakan itu ketika memberikan Dhammadesana di kebaktian-kebaktian di vihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Romo menerjemahkan: "Dhamma yg perlu kita junjung tinggi adalah yg setelah kita BACA atau DENGAR dan kita PAHAMI ..." Dalam terjemahan itu terkesan bahwa kita cukup membaca/mendengar sebuah ajaran (Dhamma), lalu memahami (tentu setelah merenungkannya) untuk menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tampak bertentangan dengan peringatan Sang Buddha sebelumnya: "... jangan berpegang pada berita, pada legenda, pada tradisi, pada kitab suci, pada PERTIMBANGAN LOGIS, pada KESIMPULAN, pada ANALOGI, pada KEKONSISTENAN DENGAN ATURAN-ATURANMU, pada PELUANG, atau pada PENDAPAT 'PETAPA INI GURU KAMI'." Jelas Sang Buddha menyatakan agar kita tidak berpegang pada hasil kesimpulan pemikiran/perenungan kita sendiri. Mengapa? Karena pemikiran seorang puthujjana—seperti Romo dan saya--SELALU terdistorsi oleh ‘avijja’ dan ‘asava’. Tidak ada pemikiran puthujjana yang seratus persen benar/objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menerjemahkan: "Bila KAMU TAHU SENDIRI bahwa 'SIFAT-SIFAT MENTAL INI 'tidak baik, patut dicela, dikecam oleh orang arif, bila dilaksanakan menghasilkan kerugian dan penderitaan', maka tinggalkan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini saya memahami "kamu tahu sendiri" bukanlah hasil "membaca/mendengar, meerenungkan, dan menyimpulkan," dengan demikian tidak bertentangan dengan peringatan yang diberikan oleh Sang Buddha sebelumnya. "Kamu tahu sendiri" menurut hemat saya adalah hasil PENGALAMAN BATIN (yang dicapai dalam meditasi vipassana), bukan hasl pemikiran dan penyimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kecil: Romo menulis ‘dhamma’ dengan inisial kapital “Dhamma”, yang berarti “ajaran”. Boleh-boleh saja menafsirkan ‘dhamma’ sebagai “ajaran”. Tetapi saya menafsirkan ‘dhamma’ sebagai ‘sifat-sifat mental’ (mengikuti Thanissaro Bhikkhu). Sifat-sifat mental itulah yang kalau dilaksanakan, bila baik, akan mendatangkan kesejahteraan &amp;amp; sukacita, dan bila buruk, akan mendatangkan kerugian &amp;amp; penderitaan. Sedangkan sebuah buku yang berisi sebuah ajaran (Dhamma) tidak bisa menghasilkan apa-apa tanpa lebih dulu memperngaruhi sifat-sifat mental seseorang.—Yah, ini soal kecil. Sekarang soal yang jauh lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Romo memberikan beberapa sisipan pada teks aslinya, yang tentu saja merupakan penafsiran Romo pribadi atas makna teks itu. Dua di antara sisipan itu adalah:&lt;br /&gt;(1) tidak tercela (tidak bertentangan dgn norma di masyarakat);&lt;br /&gt;(2) dipuji oleh para bijaksana (orang tua, tokoh masyarakat dari agama apapun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, ya, saya tidak setuju sama sekali dengan penafsiran Romo itu, dan mempunyai penafsiran saya sendiri yang berbeda. Mengapa? Oleh karena, kalau saya ikuti penafsiran Romo, maka jiwa Kalama-sutta itu menjadi terbalik, berbalik menganjurkan orang untuk mengikuti "norma masyarakat" dan mengikuti apa kata “orang-orang yang dituakan dalam masyarakat” (orang tua, tokoh masyarakat). Itu justru bertentangan dengan peringatan Sang Buddha di atas: "... jangan berpegang pada BERITA, pada LEGENDA, pada TRADISI, pada KITAB SUCI, ...", yang pada hakikatnya menyerukan agar orang berdiri sendiri dalam menentukan apa yang baik dan yang buruk. Justru Sang Buddha dalam khotbah kepada kaum Kalama bermaksud untuk mencegah orang dari mengekor pada legenda, tradisi dan bahkan kitab suci (Pitaka)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh konkrit: para orang tua dan tokoh masyarakat selalu menasehati agar anak-anak sering pergi ke Vihara, setiap Minggu. Itu adalah kearifan umum, kearifan masyarakat. Tapi ada orang yang merasa tidak perlu pergi ke vihara mengikuti kebaktian setiap Minggu. Apakah orang-orang ini "kurang baik" dibandingkan orang-orang yang pergi ke vihara setiap Minggu? Menurut saya, belum tentu. Mungkin saja orang-orang ini sudah tidak memerlukan lagi pergi ke vihara setiap Minggu, karena ia sudah bermeditasi vipassana setiap hari di rumah; atau mungkin saja orang-orang ini sudah merasa gerah dengan tradisi kebaktian Minggu, atau gerah dengan pergunjingan dan konflik pribadi yang banyak di dengarnya di kalangan umat vihara; berbagai alasan yang absah dikemukakan oleh mereka yang tidak pergi ke vihara, terlepas dari kemalasan atau ketakpedulian. Menurut saya, orang yang pergi ke vihara tidak bisa dikatakan lebih baik daripada orang yang tidak pergi ke vihara. Kebaikan seseorang tidak ditentukan oleh pergi/tidaknya ke vihara, melainkan oleh sadar/tidaknya orang tsb terhadap gerak-gerik pikirannya sendiri dalam kehidupannya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kedua: berkaitan dengan kitab suci Tipitaka Pali. Sebagian umat Buddha percaya bahwa Abhidhamma Pitaka adalah ajaran Sang Buddha; sebagian umat Buddha yang lain tidak percaya bahwa Abhidhamma keluar dari mulut Sang Buddha. Manakah yang benar? Mungkin tidak bisa dipastikan lagi mana yang benar, tetapi bagaimana kita harus menyikapinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha sudah memberi peringatan: "... jangan berpegang pada legenda, tradisi, kitab suci ..." Maka saya selaku Pandita, kalau ditanya umat, akan menyampaikan lebih dulu peringatan yang datang dari mulut Sang Guru Agung sendiri, lalu menyampaikan adanya dua pendapat di kalangan umat Buddha, lalu menyilakan masing-masing orang untuk membuktikan sendiri berdasarkan petunjuk Sang Buddha dalam sutta yang sama: "Bila KAMU TAHU SENDIRI bahwa ‘sifat-sifat mental ini 'tidak baik, patut dicela, dikecam oleh orang arif, bila dilaksanakan menghasilkan kerugian dan penderitaan', maka tinggalkan itu. ... Bila KAMU TAHU SENDIRI bahwa 'sifat-sifat mental ini baik, tanpa cela, dipuji oleh orang arif, bila dilaksanakan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan', maka ikutilah itu." Mungkin saja ada umat yang merasa mendapat manfaat dari Abhidhamma Pitaka, maka ikuti itu. Sebaliknya, mungkin saja ada umat yang tidak mendapat manfaat apa-apa dari Abhidhamma Pitaka, malah terhambat meditasi vipassana-nya dengan segala pengetahuan hafalan dari Abhidhamma Pitaka, maka tinggalkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kriteria yang diberikan oleh Sang Buddha untuk menentukan baik dan tidak baiknya suatu sifat mental, ada dua hal yang perlu dikaji lebih mendalam, yakni:&lt;br /&gt;1) patut dicela (savajja) atau tanpa cela (anavajja);&lt;br /&gt;2) dikecam oleh orang arif (vinnu-garahita) atau dipuji oleh orang arif (vinnu-ppasattha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kriteria #1, kata 'savajja' dan 'anavajja' tidak mengacu pada sumber tertentu yang diberi wewenang untuk mencela atau tidak mencela. Bila Romo berpandangan bahwa yang menentukan adalah "norma masyarakat" (yang hanya membuat orang kembali patuh &amp;amp; mengekor kepada masyarakat), maka saya berpendapat bahwa hal itu terpulang kepada masing-masing individu untuk menentukannya, berdasarkan pertimbangan dari kriteria lain yang diberikan oleh Sang Buddha dalam sutta ini. Jadi, ‘patut dicela/tanpa cela’ tidak boleh dipisahkan dari prinsip mandiri yang melandasi seluruh ajaran Buddha Dhamma. Kita bahkan harus mengesampingkan “norma masyarakat” dalam menentukan mana yang baik dan yang tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kriteria #2, terdapat kesulitan untuk menentukan siapa 'orang arif' (vinnu) yang perlu didengarkan suaranya. Kalau Romo menyebutkan "orang tua", apakah semua orang tua itu arif? Jelas tidak! Kalau Romo menyebutkan "tokoh masyarakat (dalam agama apa pun)", lebih runyam lagi menentukan mana yang betul-betul "arif". Di kalangan Sangha, apakah semua bhikkhu itu arif? Apakah semua Pandita itu arif? Teorinya ya, tapi kenyataannya kadang-kadang jauh dari harapan. Dalam hal ini, sekali lagi saya selaku Pandita akan menyarankan kepada umat: "Pakailah pertimbanganmu sendiri. Di sinilah setiap orang harus BERTANGGUNG-JAWAB sendiri, dan tidak mengekor kepada orang lain. Bila Anda mengembangkan vipassana, maka Anda sendiri akan menjadi ‘orang arif’, sehingga Anda tidak perlu lagi mencari ‘orang arif’ di luar batin Anda sendiri. Itulah yang dimaksud Sang Buddha dengan: ‘Bila KAMU TAHU SENDIRI bahwa sifat-sifat mental ini dicela/dipuji oleh orang arif …."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, demikianlah menurut hemat saya, di dalam Kalama-sutta Sang Buddha mengajarkan agar setiap orang mandiri untuk menentukan mana yang baik untuk diikuti, dan mana yang buruk untuk dihindari, tanpa bergantung pada legenda, tradisi, bahkan pada kitab suci dan guru sendiri, dan juga tidak bergantung pada pemikiran/perenungan, betapa pun logisnya. Ini berarti bahwa kita BERTANGGUNG-JAWAB untuk mengembangkan kesadaran (melalui meditasi vipassana) untuk bisa ‘TAHU SENDIRI’ mana yang baik dan mana yang tidak baik secara intuitif, bukan dengan pemikiran/perenungan. Dalam hal ini, kalau perlu kadang-kadang kita harus bertentangan dengan tradisi, dengan kitab suci atau dengan guru sendiri. Itulah kebebasan sejati, bukan hanya kebebasan dari hal-hal lahiriah, melainkan juga dari hal-hal batiniah yang didorong oleh pikiran dan si aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa Kalama-sutta seperti ini konsisten dengan sifat ajaran Sang Buddha secara keseluruhan, yakni anjuran agar orang bergantung pada pencerahan batin sendiri, bukan pada pencerahan orang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“atta-dipa atta-sarana, anannya-sarana, dhamma-dipa dhamma sarana.”&lt;br /&gt;(“Jadilah pelita bagi dirimu sendiri, berlindunglah pada dirimu sendiri, bukan pada orang lain; jadikan kebenaran sebagai pelita, berlindunglah pada kebenaran.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: “diri sendiri” (atta) maksudnya pencerahan dalam batin sendiri, bukan pemikiran/perenungan; “kebenaran” (dhamma) berarti pencerahan dalam batin sendiri, bukan ajaran orang lain/Buddha, bukan buku-buku Dhamma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Hudoyo&lt;br /&gt;Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org&lt;br /&gt;Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-2760812917275998207?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/2760812917275998207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/kalama-sutta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2760812917275998207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2760812917275998207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/kalama-sutta.html' title='Kalama Sutta'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-4199174630699743452</id><published>2010-03-08T12:00:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T12:01:38.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kekosongan.Meditasi MMD.Hudoyo Hupodio'/><title type='text'>Kekosongan</title><content type='html'>Kekosongan / Sunyata &lt;&gt; Nihilisme&lt;br /&gt;•    Posted by Thomas on March 11, 2009 at 12:10am in Umum (Belum dikategorikan)&lt;br /&gt;•    Add as Friend   View Discussions&lt;br /&gt;Dalam kitab Kejadian di Alkitab, juga tertulis bahwa awal segala sesuatu adalah kekosongan... Lau-tze dalam buku Tao Teh Cing juga mengatakan hal yang sama bahwa segala sesuatu, baik yang ada dan yang tiada berasal dari kekosongan (Tao)... Dan kekosongan itu selalu ada, dan hanya bisa dialami (lewat meditasi), tidak bisa dikonseptualisasikan dengan kata-kata atau apapun juga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku The Joy of Living menarik bagi saya karena memadukan tradisi 2500 tahun meditasi Buddhis dengan gagasan sains mutakhir. Sejauh pengetahuan saya, untuk memahami diri atau pikiran - tradisi meditator Buddhis adalah tradisi tertua di dunia yang secara khusus mengeksplorasi diri dan pikiran manusia. Saya tergoda menyebutnya sebagai guru/ibu/akar bagi segala ilmu sains pikiran dan psikologi modern. Hal ini terlihat dengan proyek-proyek sains riset kerja sama pakar ilmu pengetahuan dengan meditator Buddhis. Di saat sains masih berusaha mengkonseptualisasikan, meditasi sudah sejak dahulu melampaui segala konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita dimana ayah dari YM Rinpoche, Tulku Urgyen Rinpoche, yang lupa dibius saat operasi bedah perut, dan saat dokter sadar akan hal itu - beliau meminta mereka melanjutkan operasi sampai selesai. Bukan pakai ilmu sakti, tenaga dalam, atau mantra apapun, tapi hanyalah sekadar hasil praktek meditasi kesadaran bertahun-tahun: otot, organ, dan saraf menunjukkan respons yang disebut sakit, tapi tidak ada si aku yang merasa disakiti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YM Rinpoche menjelaskan pencapaian Buddha Gautama sebagai berikut : "a fundamental awareness that was unchanging, indestructible and infinite in scope... which had previously been limited by dualism that deeply rooted in the structure and function of the brain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud adalah kekosongan,&lt;br /&gt;Kekosongan adalah wujud.&lt;br /&gt;Kekosongan tidak lain adalah wujud,&lt;br /&gt;Wujud tidak lain adalah kekosongan.&lt;br /&gt;- Buddha, Sutra Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud dan pikiran ada seperti api dan panas.&lt;br /&gt;- Orgyenpa, Mahamudra: The Ocean of Definitive Meaning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Buku The Joy of Living, Yongey Mingyur Rinpoche &amp;amp; Eric Swanson&lt;br /&gt;Kutipan sebagian dari Bab 4. Kekosongan : Realitas di balik kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekosongan adalah dasar yang membuat segala sesuatu menjadi mungkin.&lt;br /&gt;- Tai Situ Rinpoche XII, Awakening the Sleeping Buddha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasi keterbukaan yang dirasakan oleh orang-orang ketika mereka menenangkan pikiran mereka di dalam istilah Buddhis disebut kekosongan, salah satu kata yang mungkin paling banyak disalahartikan dalam filosofi Buddhis. Kata ini cukup sulit untuk dipahami oleh umat Buddha, dan orang-orang Barat butuh waktu lebih lama lagi untuk memahaminya, karena banyak penerjemah awal teks-teks Buddhis bahasa Sanskrit dan Tibet menginterpretasikan kekosongan sebagai "kenihilan" atau ketiadaan - mereka telah salah menyamakan kekosongan dengan konsep bahwa tidak ada sesuatu pun yang nyata. Tidak ada yang lebih benar daripada kebenaran yang dijelaskan oleh Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Buddha mengajarkan hakikat sejati pikiran - kenyataannya, hakikat sejati semua fenomena - adalah kosong, tidak dimaksudkan bahwa hakikat sejati pikiran itu tidak ada, seperti sebuah ruang hampa. Beliau mengatakan bahwa keadaan ini disebut kekosongan (sunyata), yang dalam bahasa Tibet tersusun menjadi dua kata : tongpa-nyi. Tongpa berarti "kosong", tetapi hanya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang berada di luar jangkauan indra dan kemampuan kita dalam mengonsepkannya. Terjemahan yang lebih baik mungkin adalah "tidak terbayangkan" atau "tidak bisa diberi nama". Sedangkan katanya nyi, tidak mempunyai arti khusus dalam percakapan dalam bahasa Tibet sehari-hari. Ketika kata nyi ditambahkan pada kata yang lain, ia memberi kesan "mungkin" - sebuah kesan bahwa apa saja bisa muncul, apa saja bisa terjadi. jadi ketika orang Buddhis membahas tentang kekosongan, kami tidak berbicara tentang ketiadaan/kenihilan, melainkan lebih kepada potensi tanpa batas bagi apa saja untuk muncul, berubah, dan lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita bisa menggunakan perumpamaan dari para ahli fisika kontemporer yang telah mempelajari fenomena yang aneh dan menarik yang mereka lihat ketika mereka meneliti cara kerja atom dari dalam. Menurut para ahli fisika yang telah berdiskusi dengan saya, dasar dari semua kemunculan fenomena subatomik sering disebut sebagai status hampa, keadaan di mana energi&lt;br /&gt;sangat lemah di dalam dunia subatomik. Dalam status hampa, partikel-partikel terus muncul dan hilang. Jadi, meskipun sepertinya kosong, status ini sebenarnya sangat aktif, penuh dengan potensi untuk menghasilkan apa saja. Dalam hal ini, kehampaan mempunyai beberapa kualitas yang sama dengan "kualitas kekosongan pikiran". Sama seperti kehampaan yang dianggap "kosong", tetapi merupakan sumber dari mana semua jenis partikel muncul, pikiran sebenarnya "kosong" karena pikiran&lt;br /&gt;menantang deskripsi absolut. Tetapi di luar dari pemahaman dasar yang tidak bisa didefinisikan dan tidak lengkap, semua bentuk-bentuk pikiran, emosi, dan sensasi terus muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifat sejati pikiran adalah kekosongan, Anda memiliki kapasitas untuk mengalami bentuk-bentuk pikiran, emosi, dan sensasi apa saja tanpa batas. Bahkan kesalahpengertian akan kekosongan hanyalah sebuah fenomena sederhana yang muncul dari kekosongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah contoh sederhana mungkin bisa membantu Anda untuk mengerti kekosongan melalui pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, seorang siswa meminta saya untuk mengajarkannya kekosongan. Saya memberikan penjelasan dasar dan ia kelihatannya senang - lebih tepatnya bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wow, keren sekali !" katanya di akhir pembicaraan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saya sendiri mengajarkan bahwa kekosongan tidak sebegitu mudah untuk dipahami dalam satu pertemuan, jadi saya menginstruksikannya untuk memeditasikan apa yang sudah ia pelajari selama beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, tiba-tiba ia muncul di depan kamar saya. Dari wajahnya ia terlihat ketakutan. Dengan wajah pucat dan pasrah serta tubuh yang sedikit gemetar, ia perlahan-lahan melangkah masuk ke kamar - seperti hendak mengecek apakah lantai di depannya adalah pasir apung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya ia berhenti di depan saya, ia berkata, "Rinpoche, Rinpoche meminta saya untuk memeditasikan kekosongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kemarin malam, tiba-tiba saya menyadari bahwa jika semuanya kosong, maka seluruh ruangan ini kosong, lantai ini juga kosong, dan tanah di bawah saya juga kosong. Jika ini benar, mengapa kita semua tidak terjeblos menembus lantai hingga masuk ke dalam tanah ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membiarkan ia selesai bicara. Kemudian saya bertanya, "Siapa yang akan jatuh ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memikirkan pertanyaan saya selama beberapa saat, dan kemudian ekspresi wajahnya berubah total. "Oh," sahutnya, "Saya mengerti! Jika gedung ini kosong dan orang-orang juga kosong, tidak ada seorang pun yang jatuh dan tidak ada sesuatu pun yang kejatuhan apa pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendesah cukup lama. Dari gerak-gerik tubuhnya saya pikir ia sekarang sudah merasa aman dan santai. Warna wajahnya juga berubah. Jadi, saya memintanya lagi untuk memeditasikan kekosongan dengan pengertian baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua atau tiga hari kemudian ia datang lagi ke tempat saya dengan tiba-tiba. Dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, ia masuk ke kamar saya. Saya bisa melihat dengan cukup jelas kalau ia berusaha keras untuk menahan nafas; ia takut kepada nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil duduk di depan saya, ia berkata, "Rinpoche, saya bermeditasi dengan obyek kekosongan sebagaimana yang Rinpoche instruksikan, dan saya paham bahwa sama seperti gedung ini dan tanah di bawahnya yang kosong, saya juga kosong. Tetapi ketika saya terus mengikutinya, saya masuk semakin dalam dan semakin dalam lagi hingga akhirnya saya tidak lagi bisa melihat atau merasakan apa-apa. Saya takut jika saya hanyalah kekosongan, saya akan mati. Itulah sebabnya saya bergegas menemui Rinpoche pagi ini. Jika saya hanyalah kekosongan, maka pada dasarnya saya tidak ada, dan tidak ada yang bisa menahan saya untuk terurai menjadi kekosongan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sudah yakin kalau ia sudah selesai bicara, saya kemudian bertanya, "Siapa yang akan terurai ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menunggu beberapa saat hingga ia memahami pertanyaan tersebut, lalu saya melanjutkan. "Anda telah salah mengerti. Kekosongan tidak sama dengan kenihilan (bahwa segala sesuatu tidak ada). Hampir semua orang membuat kesalahan yang sama pada awalnya, mencoba memahami kekosongan sebagai sebuah ide atau konsep. Saya juga melakukan kesalahan yang sama. Tetapi tidak ada satu pun jalan untuk memahami kekosongan secara konsep. Anda hanya bisa memahaminya lewat pengalaman langsung. Saya tidak memaksa Anda untuk percaya kepada saya. Yang saya katakan adalah ketika beberapa kali nanti Anda duduk bermediatasi, tanyakan kepada diri Anda, "Jika sifat alami segala sesuatu adalah kosong, siapa atau apa yang bisa terurai ? Siapa atau apa yang bisa lahir atau siapa atau apa yang bisa mati ? Coba lakukan dan jawabannya mungkin mengejutkan Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendesah, ia setuju untuk mencoba lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, ia datang kembali ke kamar saya, tersenyum penuh kedamaian sambil berkata, "Saya pikir saya mulai mengerti kekosongan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memintanya untuk menjelaskan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mengikuti petunjuk Rinpoche, dan setelah memeditasikan subyek itu untuk waktu yang lama, saya menyadari bahwa kekosongan bukanlah kenihilan, karena harus ada sesuatu sebelum tidak ada sesuatu. Kekosongan adalah segalanya - semua kemungkinan akan keberadaan dan ketidakberadaan yang bisa dibayangkan, muncul/terjadi bergantian. Jadi jika hakikat sejati kita adalah kekosongan, maka tidak ada seorang pun yang bisa dianggap mati atau tidak ada seorang pun yang benar-benar lahir, karena kemungkinan sesuatu terjadi dan tidak terjadi hadir setiap saat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat bagus" puji saya. "Sekarang lupakan semua yang Anda katakan, karena jika Anda mencoba untuk mengingatnya dengan tepat, Anda akan mengubah semua yang Anda pelajari menjadi konsep, dan Anda harus mulai dari awal lagi."&lt;br /&gt; Share&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by Hudoyo Hupudio on March 11, 2009 at 1:26am&lt;br /&gt;Send Message&lt;br /&gt;Mas Thomas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca uraian yang panjang lebar tentang kekosongan di atas, apakah pembaca lalu tercerahkan, seperti murid Rinpoche itu? Saya rasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena uraian yang panjang lebar itu pada dasarnya masih merupakan upaya untuk menjelaskan sesuatu yang menurut penulisnya sendiri pada awal uraian itu dikatakannya "tidak bisa dikonseptualisasikan dengan kata-kata atau apapun juga..." [maksudnya tidak bisa dipikirkan].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi karena penulisnya berasal dari tradisi Vajrayana, maka tidak mengherankan kalau tulisannya bersifat metafisikal sepenuhnya, digabungkan dengan nuansa mistikal ketika menyentuh meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, dalam tradisi Theravada, dari mana MMD berasal, orang tidak berupaya untuk memahami panjang lebar hal-hal yang terletak di luar kemampuan pikiran untuk memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih, orang tetap berada &amp;amp; menyadari 'apa adanya' saat kini, yakni batin yang dipenuhi pikiran &amp;amp; perasaan yang berseliweran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada saat pikiran berhenti, tidak dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah SELURUH latihan MMD. Tidak ada landasan metafisikal tentang kekosongan dsb sedikit pun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;&lt; ... tradisi meditator Buddhis adalah tradisi tertua di dunia yang secara khusus mengeksplorasi diri dan pikiran manusia. Saya tergoda menyebutnya sebagai guru/ibu/akar bagi segala ilmu sains pikiran dan psikologi modern. &gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, "metodologi" meditasi sangat berbeda dengan metodologi sains. Dengan metodologinya yang sekarang, saya rasa sains tidak akan pernah mencapai kesadaran yang dicapai dalam meditasi, betapa pun kepala meditator dipasangi kawat-kawat elektroda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;&lt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pernyataan ini tampak bahwa 'fundamental awareness' itu (mungkin seperti yang dimaksud dalam Udana 8.3), TIDAK BERBEDA dari apa yang "SEBELUMNYA dibatasi oleh dualisme".&lt;br /&gt;Statement ini bisa diperdebatkan kalau orang mau memperdebatkannya. Betulkah 'kesadaran fundamentral' itu SAMA dengan kesadaran pikiran sehari-hari, ataukah suatu tataran lain yang sama sekali berbeda, seperti perbedaan antara mimpi dan bangun?&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak berminat memperdebatkannya, karena hal itu hanya akan merintangi keadaan sadar/eling, dan cuma akan memberikan kepuasan intelektual semata-mata, yang hanya memperkuat ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;&lt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisika teoretis modern tidak sesimpel itu. Teori kuantum yang mutakhir malah memecah para fisikawan teoretis menjadi dua kubu yang saling bertentangan pemahamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, di sini tampak sekali lagi seolah-olah tradisi kontemplasi/meditasi merasa "rendah diri" dan selalu berusaha mencari pembenaran dari sains modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by bodohsatva on May 26, 2009 at 10:04pm&lt;br /&gt;ha ha...&lt;br /&gt;saya koq merasa... telalu panjang di bahas&lt;br /&gt;"yang sederhana" ini akhirnya menjadi rumit ha ha ha.... (karena "Dia" terlalu sederhana untuk dimengerti oleh pikiran yang terlalu kompleks)&lt;br /&gt;bukan berarti tidak usah dibahas sama sekali, tapi harus pas!!! itu yg agak susah... he he he&lt;br /&gt;mohon petunjuk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by Hudoyo Hupudio on May 27, 2009 at 2:41am&lt;br /&gt;Send Message&lt;br /&gt;"Sederhana" dan "rumit" --seperti halnya semua dualitas-- kedua-duanya berasal dari PIKIRAN. Bila PIKIRAN berhenti, tidak ada lagi pengertian 'sederhana' dan 'rumit'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari "yang pas" itu malah akan menambah panjang pembahasan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Petunjuk" dari saya bisa dibaca kembali dalam posting saya dua posting di atas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by bodohsatva on May 30, 2009 at 3:19pm&lt;br /&gt;hmm...&lt;br /&gt;saya sependapat...&lt;br /&gt;((Yang menarik, di sini tampak sekali lagi seolah-olah tradisi kontemplasi/meditasi merasa "rendah diri" dan selalu berusaha mencari pembenaran dari sains modern))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepertinya kebanyakan kita selalu mencari pembenaran diluar diri... yah? (termasuk saya)&lt;br /&gt;ha ha ha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya ingin berbagi filsafat yang mungkin berguna bagi semua (walau saya tidakpaham benar)&lt;br /&gt;dalalm aliran Maitreya ada istilah "真空妙有" untuk menjelaskan kebenran tertinggi yang absolut... terjemahannya kira-kira "kesunyataan sejati - keajaiban rupa (bentuk/wujud)", dikatakan bahwa kekosongan sejati bukan lah kosong??? he he saya juga belum sepenuhnya mengerti... katanya sih yang sunya tidak terpisahakan dari wujud dan wujud tidak meninggalakan sunya... ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ow kalo mau dibahas panjang...&lt;br /&gt;gak di bahas gak ngerti...&lt;br /&gt;he he&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by Hudoyo Hupudio on June 1, 2009 at 10:37am&lt;br /&gt;Send Message&lt;br /&gt;Apakah untuk memahami gerak-gerik aku/diri dan bebas darinya PERLU NGERTI segala macam filsafat seperti itu?&lt;br /&gt;Saya rasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by bodohsatva on June 1, 2009 at 11:38am&lt;br /&gt;memang benar tidak perlu...&lt;br /&gt;namun jika mengerti itu maka akan sendirinya mengeri "diri" sejati...&lt;br /&gt;dan saya kira karena mengerti diri sejatilah muncul filsafat tersebut???&lt;br /&gt;he he&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by Hudoyo Hupudio on June 1, 2009 at 11:48am&lt;br /&gt;Send Message&lt;br /&gt;Tampaknya Anda mencampuradukkan PENGALAMAN dan PIKIRAN (konsep, filsafat), dua hal yang sama sekali berbeda.&lt;br /&gt;Kalau memang begitu pengertian &amp;amp; sikap batin Anda, tidak ada gunanya lagi diskusi ini diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by bodohsatva on June 6, 2009 at 1:46pm&lt;br /&gt;... ... ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by siska on May 28, 2009 at 12:18pm&lt;br /&gt;"Jadi ketika orang Buddhis membahas tentang kekosongan, kami tidak berbicara tentang ketiadaan/kenihilan, melainkan lebih kepada potensi tanpa batas bagi apa saja untuk muncul, berubah, dan lenyap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca ini, saya terpikir, "ketika orang Buddhis membahas tentang kekosongan, kami tidak tahu apa yang kami bicarakan." :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by Hudoyo Hupudio on May 28, 2009 at 3:00pm&lt;br /&gt;Send Message&lt;br /&gt;&lt;&lt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... tapi merasa tahu. :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by siska on May 28, 2009 at 6:09pm&lt;br /&gt;sok tahu, mungkin harus dimasukkan dalam sila nomor 6 - saya bertekad melatih diri menghindari sok tahu? :))&lt;br /&gt;tapi paling cuma akan jadi ritual aneh lagi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Permalink Reply by Hudoyo Hupudio on May 28, 2009 at 6:40pm&lt;br /&gt;Send Message&lt;br /&gt;hahaha ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-4199174630699743452?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/4199174630699743452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/kekosongan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/4199174630699743452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/4199174630699743452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/kekosongan.html' title='Kekosongan'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-7558113283777484547</id><published>2010-03-08T11:49:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T11:51:05.768-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nusantara.Islam Jawa'/><title type='text'>Nusantara Negeri Keramat</title><content type='html'>Herman Sinung Janutama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuswantara&lt;br /&gt;Ujung Selatan Lempeng Eurasia&lt;br /&gt;-Sebuah Negeri Keramat-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun untuk Panitia Malam Tirakatan&lt;br /&gt;Satu Muharram 1431H&lt;br /&gt;Kompleks Perumahan Yadara&lt;br /&gt;Babarsari, Yogyakarta, 2009&lt;br /&gt;Pengantar Diskusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi ini saya tidak menyampaikan suatu sejarah atau historiografi mengenai Nuswantara, karena beberapa alasan. Pertama, institut filsafat “Falsafatuna” tempat saya melakukan berbagai penelitian dan eksplorasi terutama bersitekun pada persoalan-persoalan filsafat. Artinya, studi mengenai keseluruhan filsafat hingga menjumpai berbagai metodologi yang sangat berguna bagi eksplorasi-eksplorasi eidetic, yakni menyelami pemaknaan atas segala sesuatu. Kedua, salah satu metodologi yang terdapat dalam tradisi filsafat -dan selanjutnya saya gunakan sebagai metode dalam studi perihal Nuswantara ini- adalah Semiologi  dan atau Semiotika . Ketiga, dengan demikian diskusi ini adalah sebuah tindakan pembacaaan, sebuah waosan, atau sebuah iqra’. Di mana Nuswantara menjadi ‘teks’nya.&lt;br /&gt;    Pembacaan/waosan/iqra’ semiotik ini meliputi dua titik tinjau. Pertama, secara geo-kultural. Yakni relasi-relasi semiotic antara fakta geologis Nuswantara dengan fakta budayanya. Kedua, pembacaan semiotika-filologis terhadap struktur-struktur numenklaturnya. Pembacaan semiotik terhadap khasanah kekayaan arketip Nuswantara, sesungguhnya mungkin dilakukan. Namun tentu tidak mungkin dipresentasikan pada kesempatan yang sangat terbatas ini.&lt;br /&gt;    Terkait dengan hajat panitia Malam Siji Sura Yadara Ngayogyakarta Hadiningrat, semoga bahan diskusi ini menjadi sebuah alternative worldview, setidaknya menjadi pemantik bagi meditasi-meditasi pencerahan di tengah semangat jaman yang serba kemrungsung dan hampa epistemologi seperti sekarang ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pendahuluan:&lt;br /&gt;Semiotika/ Semiologi Saussure&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan semiotic terhadap fakta kebudayaan Nuswantara konsentrasi Ngayogyakarta Hadiningrat sangat penting mengingat negeri ini adalah suatu negeri kaya signifikasi, baik berupa symbol, sandi, dan tanda-tanda lainnya. Hal ini merupakan efek mekanistik simbolisasi dan signifikasi sistem budaya sanskerta. Dalam sistem budaya demikian apapun gagasan, pemahaman, ataupun agama tersimbolisasi dan tersignifikasi secara mekanistik. Ini adalah Kultuurcharakter budaya sanskerta.&lt;br /&gt;Semiotika/ semiologi dalam tradisi strukturalisme  maupun post-strukturalisme  adalah suatu tindakan pembacaan /waosan /iqra’ atas realitas budaya dan bahasa. Secara lebih umum, adalah pembacaan/ waosan/ iqra’ atas sistem tanda (system of signification).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsuf-Semiolog melihat dan memperhatikan (sistem) tanda yang bergerak lincah di medan pertandaan.  Ia menyebutkan macam-macamnya, bekas-bekas konfigurasinya. Baginya, tanda adalah idea yang bisa diindera .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semiologi terkait dengan tradisi filsafat Perancis dan nama-nama seperti Saussure, Levi Strauss, Barthes, Foucaul, Lyotard, dan Derrida. Dari tradisi Semiotika non-Perancis juga dikenal nama-nama seperti Wittgenstein, Pierce, Hawkes, Hjemslev, Jacobson, dan van Zoest . Ia berasal dari bahasa Grece/ Macedonia semeion yang artinya tanda. Namun dalam kesempatan terbatas ini, saya hanya akan menggunakan semiologi elementer dari Saussure. Ia menjelaskan bahwa sistem tanda memuat kesatuan antara signified dan signifier, atau antara petanda dan penanda, antara persepsi dan ekspresi.&lt;br /&gt;    Signified atau petanda adalah keseluruhan aspek mental dan non-empiris dari sistem tanda, baik berupa persepsi, epistemologi, pengetahuan, mitologi, Weltan-schauung, teori, konsep, gagasan, idealisme, keyakinan, dll.&lt;br /&gt;    Signifier atau penanda adalah keseluruhan aspek material dan empiris dari sistem tanda, baik berupa ekspresi, indeks, clues, tanda, sandi/candi, simbol, bahasa, tulisan, patung/ arca, poster, iklan, klip, film, mitos, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram Sistem Tanda Saussure&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Latar Belakang Strukturalistik&lt;br /&gt;Semiotika/ Semiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semiotika/ Semiologi berpijak pada diskursus filsafat strukturalisme di Perancis. Corak berpikir semacam ini berpijak pada prinsip-prinsip yang dikerucutkan oleh N. Troubetzkoy  sebagaimana di bawah ini.&lt;br /&gt;Pertama, strukturalisme (linguistik) telah bergeser dari studi-studi tentang fenomena sadar, menuju studi infrastruktur fenomena alam luar-sadar.&lt;br /&gt;Kedua, strukturalisme (linguistik) tidak memper-lakukan term-term sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan relasional baik etimologis antar-terma, maupun historis-epistemologis.&lt;br /&gt;Ketiga, strukturalisme (linguistik) menunjukkan sistem-sistem fonemis konkret, kemudian menguraikan struktur sistem-sistem tersebut.&lt;br /&gt;Keempat, tujuan strukturalisme adalah menemukan hukum-hukum umum. Troubetzkoy menuliskan bahwa,”di daerah dan masyarakat manapun di dunia ini memaksa kita untuk meyakini bahwa, … , suatu fenomena yang observable muncul dari hukum-hukum yang general namun tidak empiris.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Tujuan Semiotika/ Semiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Semiologi/ Semiotika merupakan suatu metodologi/ instrumen berpikir pembuka rahasia teks dan penandaan .&lt;br /&gt;2.    Semiologi/ Semiotika merupakan suatu metode untuk membaca tanda-tanda kebudayaan sebagai suatu sistem signifikasi. Barthes menuliskan,”manusia struktural … juga mendengar bisikan alam dalam kebudayaan dan darinya mereka mencerap makna yang tidak begitu mapan, berhingga dan benar. Seperti sebuah mesin yang bergemuruh yang terus menerus diperunakan manusia untuk  menciptakan makna. Tanpa mesin tersebut, mereka tak bisa lagi mengaku sebagai manusia.”&lt;br /&gt;3.    Semiologi/ Semiotika mengkritik asumsi logosentris. Bahwa konsep-konsep muncul lebih dulu dan terlepas dari ekspresinya atau dari representasi sistem tandanya . Dalam terminologi filsafat klasik: teori mendahului praxis. Perdebatan kontraproduktif teori-praxis dengan demikian dilampaui, sehingga tercapai pemahaman bahwa dalam suatu praktek (penanda) terdapat abstraksi epistemiknya (petanda), dan sebaliknya .&lt;br /&gt;4.    Semiologi/ Semiotika merupakan suatu bentuk penghancuran terhadap sistem-sistem makna yang selama ini sudah dianggap selesai dan mapan. Ia mendekonstruksi narasi-narasi besar yang menekan begitu lama. Semiologi/ Semiotika selalu membuka diri terhadap pemaknaan-pemaknaan baru, bahkan yang paling subversif sekalipun.&lt;br /&gt;5.    Semiologi/ Semiotika sebagai metode pembacaan penting diterapkan di Nuswantara/Indonesia. Operasi-operasi metode Semiologis/ Semiotik dapat digunakan untuk membedah sistem-sistem tanda yang sangat banyak terdapat dalam kebudayaan negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Semiological Effects&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Mitos sebagaimana metafor/ sanepa menjadi sebuah “jalan lingkar” menuju kebenaran. Ia suatu metabahasa. Di samping diskursus filsafat dan sistem ilmiah pengetahuan yang merupakan suatu strikeline. Barthes menuliskan bahwa, ”sistem tanda pada tingkatan-I merupakan denotasi/ sistem terminologis. Sedangkan sistem tanda pada tingkatan-II (metabahasa) merupakan konotasi/ sistem retoris/ mitologi.”&lt;br /&gt;2.    Weltanschauung/ idealisme penutur menjadi visible atau observable di mana pengindranya bukan lagi semata panca indra, melainkan pikiran/ intelek.&lt;br /&gt;3.    Persepsi, idea, agama, dll, sebagai aspek mental manusia yang terdapat dalam petanda semiologi, bergerak di luar kesadaran manusia. Maka ia langsung berpengaruh pada alam luar-sadar jiwa manusia sebagaimana definisi psikoanalisis Sigmund Freud.&lt;br /&gt;4.    Fakta-fakta mengenai differ (beda), different (berbeda), difference (perbedaan), seyogyanya mampu membawa homo-jogjaensis modern kepada differance. Yakni istilah Perancis untuk kemampuan mental untuk menunda, menahan diri, bersabar, atau sareh, semeleh dalam bahasa Jawa-Islam. Mental demikian terbentuk karena homo-jogjaensis mampu memahami asal muasal setiap differensiasi (pembedaan). Homo-jogjaensis serta merta menjadi homo-significans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;Meditasi Kritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Terutama Semiologi/ Semiotika pada Barthes, ia merupakan suatu interpretasi kebudayaan. Tetapi maksudnya adalah mengarah kepada produksi makna sebanyak mungkin, tanpa upaya pencapaian makna ultim. Tak ada kebenaran tunggal. Ia bahkan curiga terhadap seluruh ideologi. Ia menyarankan suatu pluralitas makna dan interpretasi yang -dengan demikian- selalu mengingatkan manusia akan perbedaan-perbedaan yang memang nyata dalam kebudayaannya. Barthes menuliskan,”tepatnya dengan metode ini teks, menolak untuk menemukan satu-satunya ‘rahasia’ makna, sebuah makna ultim terhadap teks (termasuk kebudayaan), membebaskan aktifitas nati-teologi, sebuah aktifitas yang sungguh-sungguh revolusioner…”&lt;br /&gt;2.    Namun operasi demikian memerangkap semiologi pada absurdisme. Tak ada tujuan yang jelas atas pembongkaran makna-makna yang dilakukan terhadap kebudayaan. Ia terjebak pada kesia-siaan itu sendiri. Maka filsafat semiologi Barthes menjadi seperti semata-mata ‘main-main’ sebagaimana dituduhkan Juergen Habermas. Ia terdeviasi dari tradisi streben dalam eksplorasi filosofis, yakni mencari kehidupan dan dunia manusia yang lebih baik.&lt;br /&gt;3.    Semiologi/ Semiotika bisa terjebak pada semata-mata demi kesenangan, pleasurea (hedonisme) dan bliss. Pleasurea ini merupakan aktus bersenang-senang dan eforistik yang diakibatkan oleh kecemasan hidup atau angst yang tiba-tiba datang menyergap. Ujungnya adalah sebuah kepuasan absurd. Jebakan kedua adalah apa yang disebut Barthes sebagai bliss. Yakni hilangnya subyek, suatu kekosongan subyek .&lt;br /&gt;4.    Jika demikian maka harus kembali lagi, semiologi harus menyandarkan diri pada sebuah metafisika, sebuah wahyu/ revelasi. Heidegger menuliskan bahwa  “keinginan untuk mengalami aletheia/ ketersingkapan –makna dari suatu sistem tanda- hanya memiliki satu obyek, kebenaran… Sementara kebenaran berarti revelasi.”&lt;br /&gt;5.    Sejauh ini di Indonesia Semiologi/ Semiotika baru dioperasikan dalam ilmu sastra sebagai metode untuk membedah naskah-naskah sastra, sementara filsafatnya belum banyak dimanfaatkan .&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi Semiotika/ Semiologi:&lt;br /&gt;Kasus Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini saya mencobakan semiotika/ semiologi elementer Saussurean sebagai metode pembacaan/ waosan/ iqra’ atas fakta-fakta kebudayaan di Nuswantara/ Ngayogyakarta Hadiningrat. Eksplorasi ini terbagi dalam dua momen.&lt;br /&gt;Pertama, adalah momen “dari petanda ke penanda”. Yakni penelusuran suatu alur sistem tanda dalam budaya Nuswantara/ Jawa yang muncul dari fakta-fakta geologinya. Dari fakta tersebut, dapat terobservasi suatu sistem notasi pengetahuan tradisi-eksotik yang similar dengan sistem notasi pengetahuan ilmiah. Keseluruhan pengetahuan natural tersebut menjadi aspek petanda dalam sistem tanda budaya Nuswantara/ Jawa.&lt;br /&gt;Selanjutnya bagaimana aspek petanda di atas terepresentasikan atau terekspresikan dalam sistem dan tindakan simbolik dan/ terutama dalam notasi numenklatur raja-raja di Nuswantara/ Jawa. Dengan ungkapan lain, ekpresinya dalam aspek penanda.&lt;br /&gt;    Kedua, adalah momen balik atau inversi “dari penanda ke petanda”. Yakni penelusuran suatu alur sistem tanda dalam budaya Nuswantara/ Jawa yang bermula dari etimologi, terminologi, dan numenklatur yang terdapat di Nuswantara/ Jawa. Dari aspek penanda tersebut dapat ditelusuri sistem-sistem pengetahuan, idealisme, Weltanschaung, harapan, cita-cita, doa, dan berbagai aspek mentalnya. Dengan ungkapan lain, abstraksinya dalam aspek petanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Fakta Geokultural Nuswantara/ Jawa&lt;br /&gt;-Dari Petanda ke Penanda-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebut Nuswantara berarti mengacu kepada area kepulauan pra kolonial yang menjadi cikal bakal Indonesia. Efek bola bumi mengijinkan Nuswantara ditinjau sebagai sentrum globe dunia. Menurut laporan Bilveer Singh , konferensi tahunan di Hawaii mengenai Indonesia menyangkut masalah posisinya yang sangat strategis. Nuswantara/Indonesia secara geografis terletak pada jalur perdagangan Internasional. Sekalipun saat ini ekspedisi kargo telah mengalami perkembangan teknologi secara mengagumkan, namun untuk ekspedisi kargo dalam jumlah raksasa hanya dapat dilakukan melalui lautan. Dan jalur transkontinental via lautan dari Amerika ke Eropa-Afrika hanya bisa dilakukan melalui kepulauan Nuswantara.&lt;br /&gt;Lintasan transkontinental ini tak mungkin dilakukan melalui selatan Australia atau utara Kanada. Daerah-daerah tersebut tertutup oleh lautan es. Satu-satunya lintasan hanya melalui Nuswantara. Hal ini telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu, yakni disebut sebagai Jalur Sutra Laut (dari Eropa, Timur Tengah, ke Cina). Sedangkan lintasan darat disebut sebagai Jalur Sutra Darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 1. Nuswantara sentrum dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 2. Jalur Sutra Darat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dua jalur perdagangan purba ini menepis anggapan bahwa masa lalu manusia merupakan peradaban yang statis dan tribalis. Ia adalah peradaban dunia yang mobil dan dinamis.&lt;br /&gt;Secara geologis, seluruh peradaban ini terletak pada sebuah lempengan benua yang disebut sebagai Eurasia atau Euro-Asia. Artinya ia meliputi suatu area benua yang sangat luas. Dari Eropa hingga Cina, dan dari Russia hingga Nuswantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gb. 3. Eurasia di antara lempeng-lempeng dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lempeng Eurasia ini bergerak 3-7 cm/ tahun ke arah selatan menumbuk lempeng Indo-australia yang bergerak 5-7 cm/ tahun ke arah utara. Namun jika diperhatikan, lempeng Eurasia ujung selatannya mengerucut di Nuswantara, sehingga hampir seluruh sisi area Nuswantara merupakan area tumbukan dengan lempeng Indoaustralia. Fisika sederhana menjelaskan fenomena alamiah ini. Momentum tumbukan dengan lempeng Indoaustralia tidak diterima lempeng Eurasia secara merata. Ia semakin besar pada area tumbukan yang meruncing. Akibatnya, ujung Eurasia menderita beban berkali-kali lipat besarnya dibandingkan dengan area lainnya. Ujung lempeng itu adalah Nuswantara, dan ujung selatan Nuswantara adalah Jawa, dan titik tengah Jawa adalah Jawa Tengah sehingga menjadi ”gepeng”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 4. Nuswantara ujung dari Eurasia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, pulau Jawa ”menyangga” beban lempeng Eurasia yang beribu-ribu kali lipat luasannya. Dan tengah-tengah area tumbukan Jawa Tengah adalah Daerah Istimewa Yogyakarta atau Mataram .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 5. Jawa Tengah yang ”gepeng” akibat menyangga beban tumbukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 6. Peta DI Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 7. Citra satelit DI Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fakta geologis ini ditinjau secara semiotika, maka diperoleh sebuah korelasi logis antara ia dengan sistem tanda dan budaya di Nuswantara atau Jawa. Semiotika sederhana menyatakan bahwa ”sistem tanda bergerak, berdinamika di luar kesadaran manusia”. Pengetahuan geologis ini dijaman dahulu, sekalipun belum menjadi sistem ilmu yang diskursif, ia tetap menjadi sistem ”pemahaman”. Sistem abstrak ini dalam semiotika bersifat visible, karena terindera oleh struktur intelek manusia. Dalam sistem tanda semiotik ia menjadi sistem petanda yang terus menerus berkorelasi dengan sistem penanda manusia. Dan sistem ini mempengaruhi manusia secara di luar kesadaran. Artinya, seluruh aktifitas penandaan dalam sistem simbol dan budayanya ”terinspirasi oleh” atau ”dinaungi oleh” sistem petandanya secara automatically atau begitu saja.&lt;br /&gt;Fakta geologis terpahami sebagai pengetahuan non-ilmiyah. Ia menjadi sistem petanda yang mempengaruhi pemahaman akal budi manusia Nuswantara/Jawa. Ini terdeskripsikan dalam salah satu mitos tentang jagad/ dunia di Nuswantara/ Jawa. Yakni mitologi mengenai sanggabuwana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb.8. Diagram Sangga Buwana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta budaya Nuswantara keseluruhannya bersifat religius, mengacu kepada sistem mental manusia Nuswantara yang menempati sebuah area ”genting” atau ”gawat” atau ”keramat”. Hanya struktur mental yang bergayut kepada Tuhan YME semata yang mampu mendiami area seperti itu. Hal ini menjadi reason dari kekayaan khasanah Nuswantara/ Jawa yang sangat signifikan dalam hal artefak-artefak religius. Dari mulai candi-candi, makam-makam keramat, tempat-tempat keramat, dan seni widya yang sarat dengan disiplin moral dan kesalehan keagamaan. Hal ini menjadikan Nuswantara/ Jawa sebagai tanah religius, area suci, regio-more, regio-sacra atau tanah keramat. Bumi keramat hanya bisa dihuni manusia yang juga keramat. Dan manusia keramat adalah manusia-manusia pencapai keluhuran ruhani dan kemuliaan akhlak .&lt;br /&gt;Sistem penanda lainnya adalah terdapat dalam numenklatur (tata nama) raja-raja Nuswantara, khususnya Jawa. Petanda geologis -sebagaimana diterangkan di atas- menjadikan raja-raja Nuswantara/ khususnya Jawa, mengeksitasi diri menjadi manusia keramat kekasih Tuhan YME. Ia menjadi dewaraja yang bukan tiran dan bukan penindas rakyatnya. Melainkan dewaraja yang agnus, gembala, atau bocah angon bagi rakyatnya. Penyangga dan pengokoh bumi (baca: lempeng benua) dalam penderitaan religiusnya. Numenklatur raja Jawa menjadi penanda langsung dari petanda geologisnya. Beberapa kasus di bawah ini mendeskripsikan hal tersebut.&lt;br /&gt;Samaratungga (732M) adalah gelar yang dikenakan kepada salah seorang raja jawa kuno dari wangsa Sanjaya. Numenklatur ini dapat diuraikan berdasarkan suku-suku kata sanskerta dan Kawi sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samaratungga= samara + rat + ratu + tung + tungga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samara=  yang dicintai, yang dikasihi (Tuhan). Rat= alam semesta, jagad mikro dan makro.  Ratu= raja, narendra, sultan. Tung= ujung, pucuk (dunia).  Tungga= tunggak, pasak, penyangga. Sehingga diperoleh makna dan aspek petanda sebagai di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang dikasihi Tuhan yang mengemban tugas menjadi raja/ sultan. Raja/ sultan ini mengemban tugas sebagai penyangga/ pasak dunia yang terletak di area ujung dari dunia tersebut (Nuswantara/ Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situs-situs candi/ sandi seperti Sandi Gedhong  Sanga (920M) dan Sandi Sambisari (850M), terdapat arca dan relief Durgha Mahesa-suramardhini. Jika kita perhatikan dengan seksama, ia memiliki 8 tangan, 4 kanan dan 4 kiri. Tangan kanan-1 menunjuk ke atas dan memegang lempengan ”dunia”.  Suatu posisi tangan kanan yang menyangga dunia/ jagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 9. Durga Mahesasuramardini dan tangan kanannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang raja di masa Majapahit (abad 14M) bergelar Tribuwana Tunggadewi. Secara filologi sanskerta dapat diuraikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tribuwana Tunggadewi= tri + buwana + tungga + dewi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri= tiga. Buwana= jagad, dunia, peradaban. Tungga= tunggak, pasak, penyangga. Dewi= raja, ratu, narendra. Aspek petanda yang diperoleh adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang raja yang membawa tugas untuk menyangga jagad, bumi, dunia, dalam ketiga bagiannya (dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja di era Mataram Islam setelah Sinuhun Sultan Agung (abad 17M, lihat gambar di sebelah), bergelar Sultan Amangkurat. Secara filologis dapat diuraikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amangkurat= amangku + rat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amangku= pemangku, penyangga, penopang.  Rat= jagad, dunia baik mikro maupun makro. Sehingga diperoleh aspek petanda yang serupa dengan yang telah diuraikan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang raja yang membawa tugas untuk menyangga jagad, bumi, dunia baik mikrokosmos (alam esoteris manusia) maupun makrokosmos (peradaban dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar pangeran di Mataram Islam masa palihan nagari (1755M) adalah Mangkubumi. Ia dapat diuraikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkubumi= amangku + bhumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amangku= pemangku, penyangga, penopang. Bhumi= bumi, jagad, peradaban, dunia. Sehingga diperoleh aspek petanda sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang raja yang membawa tugas untuk menyangga jagad, bumi, dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ngayogyakarta Hadiningrat sultannya bergelar Hamengkubuwana (HB, logonya sebagaimana gambar di samping, sejak 1755M s/d sekarang). Numenklatur ini dapat diuraikan sebagai di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamengkubuwana= hamengku + buwana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamengku= memangku, menyangga, menopang. Buwana= bumi, dunia, peradaban. Sehingga diperoleh aspek petanda demikian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang raja yang membawa tugas untuk menyangga jagad, bumi, dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih di Ngayogyakarta Hadiningrat bergelar Sri Paku Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Paku Alam= sri + paku + alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri= Yang Mulia, yang terhormat. Paku= pasak, patok, pen. Alam= alam, jagad, dunia, bumi. Aspek petandanya adalah sbb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang terhormat yang dimuliakan yang berperan juga sebagai pasak, penata, pengokoh jagad, bumi, dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surakarta Hadiningrat sultannya bergelar Sinuhun Paku Buwana. Uraiannya adalah sbb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paku Buwana= paku + buwana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paku=  pasak, pen pengokoh, pen penguat. Buwana= bumi, dunia, peradaban. Aspek petandanya adalah sbb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinuhun raja yang berperan juga sebagai pasak, penata, pengokoh (stabilisator) jagad, bumi, dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja berikutnya di Surakarta Hadiningrat adalah Sinuhun Mangku Negara. Uraian gelar ini adalah sbb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangku Negara= mangku + negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangku= Hamengku= memangku, menyangga, menopang.  Negara= negeri, negara. Sehingga diperoleh aspek petanda sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang raja yang bertugas untuk menyangga jagad, bumi, dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi-fungsi mundial raja-raja Nuswantara/ Jawa demikian ini terdeskripsikan pula dalam sesanti-sesanti, atau noblese obligue, mereka. Panembahan Senapati Ing-Alaga Mataram, sultan pertama kerajaan Islam Mataram, memiliki sesanti hamemangun karyenak tyasing sesami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hamemangun karyenak tyasing sesami= hamemangun + kari + enak + tyas + ing + sasami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membangun negeri yang sentosa lahir-bathin, negeri kenyamanan bagi nurani manusia dan sesamanya. Yakni sesama makhluk Tuhan YME.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, HB VIII, memiliki juga sesanti hamemayu hayuningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hamemayu hayuningrat= hamemayu + hayu + ning + rat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamemayu=  menselamatkan dan mensejahterakan. Hayu= keselamatan, kesejahteraan. Ning= kesucian, kejernihan. Rat= jagad, dunia baik mikro maupun makro. Sehingga diperoleh aspek petanda sbb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membangun dan mempertahankan negeri yang sentosa lahir-bathin, negeri tempat keselamatan nurani manusia dan sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar numeklatur di atas berarti memandu negeri yang sejahtera lahir dan batinnya, mikro-makro kosmosnya, manusia beserta alam dan habitusnya. Sebuah negeri spiritual penyangga kokoh bagi lempeng dunia dan peradaban manusia. Simbolisasi logologinya misalnya terdeskripsikan juga dalam simbol-simbol kerajaannya.&lt;br /&gt;Penanda lainnya adalah pada struktur gelar raja-rajanya. Misalnya Sayidin Panatagama, Ngabdurrahman, Kalipatulah fil ardi, dll. Atau pada gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang diperoleh dari Syarif Makkah di tanah haram, yakni Sultan Mataram Abdul Muhammad Maulana Matarami.&lt;br /&gt;Pada area-area lainnya di Nuswantara tentu terdapat penandaan yang serupa. Namun dalam dalam kesempatan terbatas ini, saya mengambil fenomena di Jawa sebagai sistem penanda representatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Fakta Signifikasi Nuswantara/ Jawa&lt;br /&gt;-Dari Penanda ke Petanda-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi semiotik kedua ini akan menggunakan beberapa nama sebagai preparasi atau obyek investigasi. Dari fakta signifikasi aspek penanda ini diharapkan muncul pengertian-pengertian maknawiyahnya. Prinsip operasinya adalah decoding atau penguraian kode-kode etimologis tersebut berdasarkan konteks budaya dan bahasanya, yakni sanskerta. Dan sistem budaya-bahasa ini independen dan otonom sebagai budaya-bahasa. Ia tidak memiliki konotasi dan relasi khusus dengan agama Hindu dan Buddha, sebagaimana budaya-bahasa lainnya di dunia. Sansekerta merupakan sistem budaya-bahasa yang dapat digunakan dan menjadi signifikasi bagi agama, idealisme, weltanschaung apapun, termasuk Islam.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, sistem signifikasi budaya-bahasa sansekerta tidak lantas berarti “mengandung” ajaran Hindu-Buddha. Ia bisa saja merupakan signifikasi dan simbolisasi ajaran Tao, Konfusius, Nasrani, dan Islam, sebagaimana bahasa Arab, Ibrani, China, dll. Preposisi dalam investigasi ini diawali dengan membebaskan sistem budaya-bahasa sanskerta dari anggapan tak berdasar bahwa sansekerta adalah milik dan sama dengan ajaran agama Hindu-Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menguraikan kata nuswantara ini kepada unsur-unsur etimologinya yang paling elementer dan paling mungkin.&lt;br /&gt;    Pertama, Nuswantara diuraikan menjadi dua suku kata yakni nuswa dan antara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuswantara = nuswa + antara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuswa= negeri kepulauan, negeri perairan yang kaya dengan budaya maritim. Antara= terletak di “antara” dua lautan, dua samudra, dua bangsa, dua peradaban. Namun makna yang diperoleh dari investigasi ini hanya memberikan deskripsi umum saja. Maka dapat dilakukan investigasi lebih renik lagi terhadap etimologinya.&lt;br /&gt;    Kedua, berdasarkan karakternya, bahasa sanskerta memiliki sifat persenyawaan, artinya cenderung menyatu-padukan beberapa kata menjadi satu kata yang paling mungkin dan paling sederhana. Dari karakter ini, maka saya akan menguraikan kata di atas menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuswantara = nuswa + swa + anta + tara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swa= mandiri, berdikari. Anta= kesatriya suci, kesatriya pemberani, satriya-pinandhita, kesatriya pengemban agama. Tara= orang yang dimuliakan, disucikan, diagungkan, dihormati.&lt;br /&gt;Makna yang diperoleh dari operasi penguraian struktur kata dalam bahasa sanskerta ini memberikan kedalaman tertentu. Ia yang memunculkan karakter area nuswantara yang spesifik dan abstraksi idealisme dan weltanschaungnya. Sehingga ia bisa dimaknai sebagai aspek petanda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu negeri perairan, kepulauan, bertradisi maritim yang otonom dan mandiri. Di dalamnya menjadi tempat bermukim para kesatriya pinandhita, kesatriya suci pengemban agama suci (Islam ). Mereka adalah manusia-manusia agung karena keberaniannya, keluhuran ruhaninya, dan kemuliaan budi pekertinya, serta karena kehalusan budaya-bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngayogyakarta Hadiningrat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ngayogyakarta Hadiningrat bisa diuraikan menjadi suku-suku kata dalam bahasa Kawi, sebagai berikut di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngayogya + karta + hadi + ning + rat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngayogya= ngayodya (Kawi), ayodya (sansekerta)= tak bisa dikalahkan . Karta= negeri. Hadi= adi, luhur, tinggi. Ning= suci, jernih, cemerlang. Rat= jagad, buana, alam (mikro/ makro-kosmos). Maka kata tersebut dapat dikenali aspek petandanya sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri yang tak mungkin terkalahkan, di mana/ karena alam, telatah, dan manusianya suci dan luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan di atas akan semakin jelas bila dikaitkan dengan nama kota Surakarta Hadiningrat. Di mana uraiannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta= sura + karta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sura= anta= para kesatriya gagah dan pemberani. Maka diperoleh aspek petanda sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri yang para penghuninya adalah para anta, tempat bermukim para kesatriya pinandhita, kesatriya suci pengemban agama suci (Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ngayogyakarta dan Surakarta memang sepasang negeri kerajaan putra-putri Mataram Islam. Para penghuninya adalah para kesatriya Islam pemberani, sehingga kerajaan Islam tersebut tak mungkin terkalahkan. Ini adalah das Sollen nya, aspek petandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataram dalam beberapa catatan berarti medar-arum. Artinya tersebarnya keharuman. Ia searti juga dengan ngeksi-ganda. Artinya, terlihat keharumannya. Namun investigasi lebih jauh dapat dilakukan dengan menguraikan numenklatur mataram sebagaimana terdapat pada nisan makam Pangeran Dipanegara seda Makassar (1852M) di Sulawesi Selatan (lihat gambar di sebelah). Tertulis dalam huruf Arab pegon, yakni kalimat berbahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab. Kalimatnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punika pasareyanipun Kangjeng Gusti Pangeran Dipanegara Abdul Hamid mathaara-m seda Makasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataram diuraikan dari bahasa Arabnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mathaaram= mathaar + m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mathaar= landasan untuk mengudara, landasan untuk terbang, landasan untuk penyerbuan musuh, negeri basis untuk bertahan dan menyerbu musuh. m= mim mamba, yakni huruf hijaiyah mim yang berarti episentrum, pusat. Aspek petanda ini cukup relevan dengan beberapa fakta.&lt;br /&gt;    Pertama, jika dikaitkan dengan asma dalem Panembahan Senapati ing Alaga Mataram, sultan Mataram pertama (jumeneng 1582M, lihat gambar sebelah). Beliau tidak mengenakan gelar Sultan Mataram, melainkan senapati. Artinya Panglima Perang di medan laga Mataram. Mataram berdiri pasca penyerbuan armada Laut Sultan Trenggana (Demak Bintara) ke Malaka. Ia mencegat armada laut Portugis. Pendirian benteng kerajaan Mataram Islam di Kotagedhe adalah tahun 1506M. Sedangkan pengangkatan Panembahan Senapati tahun 1582M, bertenggang waktu 76 tahun. Artinya, beliau terkait langsung dengan invasi VOC ke Batavia tahun 1602M (20 tahun kemudian).&lt;br /&gt;    Kedua, terkait dengan sultan Mataram Islam ke-3 yakni Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma yang menyerbu VOC di Batavia tahun 1628-29M.&lt;br /&gt;    Ketiga, terkait dengan perlawanan pasukan gerilya dari Pangeran Mangkubumi terhadap Belanda di Jawa (hingga 1755M).&lt;br /&gt;    Keempat, terkait dengan perlawanan Pangeran Dipanegara dalam peperangan Jawa melawan Belanda 1825-30M. Gelar beliau adalah Sultan Abdulkamid Herucakra Kabiril Mukminin Sayidin Panata Agama Khalifatullah Jawa .&lt;br /&gt;    Kelima, terkait dengan semangat perlawanan Sinuhun Sultan Hamengku Buwana Kaping IX dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam melawan Belanda dan melindungi keutuhan RI saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Dwipara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam serat Jangka Jayabaya tertera numeklatur yang dikaitkan dengan nama Nuswantara di masa prasejarah yakni Jawa Dwipara. Dalam serat itu dituliskan bahwa dwipara artinya sifat tuhan yang mustahil terduakan atau terjamakkan. Dengan demikian kata jawa terkait langsung dengan sebutan untuk tuhan yang esa. Kata jawa dapat ditinjau dari budaya-bahasa semitik yang merupakan rumpun budaya ketuhanan sejak jaman purba. Ia dapat diasalkan kepada bahasa Ibrani: Yahweh, atau jehova. Budaya-bahasa rumpun semitik lainnya adalah Arab. Jawa dapat dikaitkan dengan kata Arab: ya-huwa. Evolusi fonologinya dapat diuraikan menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahweh-el-ehud  jehova-el-ehud  ya-huwa-al-ahad&lt;br /&gt; jahuwa dwipara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana dwipara= el-ehud= al-ahad= sang Hyang Tunggal= sang Hyang Widhi Wase. Dan Yahweh= jehova= yahuwa= jahuwa= jawa. Dengan demikian Jawa Dwipara dapat mengandung aspek petanda sebagai “dia Tuhan Yang Maha Tunggal”.&lt;br /&gt;Operasi semiotic ini dapat dikaitkan dengan fakta-fakta dari prasasti Tarumanagara di Jawa Barat. Tapak kaki Purnawarman (395-434 M) pada prasasti Tarumanagara  secara langsung menunjukkan korelasi dengan budaya simbol dunia saat itu. Tradisi menyematkan tapak kaki pada batu/prasasti ini juga terdapat pada tradisi simbol Islam pra-Muhammad, yakni Maqam Ibrahim. Atsar Nabi Ibrahim (3500 SM, abad 34 SM) ini menun-jukkan prakarsanya dalam membangun dan melestarikan baitullah Ka’bah di Haramain.&lt;br /&gt;    Di samping itu tindakan simbolik serupa dilakukan Nabi Muhammad SAWW (571-632M) sebagaimana ter-dapat pada batu tapak Nabi Muhammad SAWW di museum Nasional Turki, di Masjid Jami’ Newdelhi, India, dan di Mesir. Di samping itu di Nuswantara, di bekas area kerajaan Tidore, Maluku, juga terdapat situs yang dipercayai masyarakat setempat sebagai tapak Nabi Muhammad SAWW .&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Searah jarum jam: Tapak Nabi Ibrahim (3500 SM), tapak Purnawarman (395-434M), tapak Nabi SAW (571-632M) di Mesir,  tapak Nabi SAWW di Newdelhi, dan tapak Nabi SAWW di Museum Turki.&lt;br /&gt;    Setidaknya kasus ini menunjukkan kesamaan aspek petanda yang menjadi inspirasi kultural mundial –bahasa filsafatnya: zeitgeist- bagi tindakan-tindakan simbolik seperti ini. Fenomena di atas terkait dengan fakta terdapatnya tradisi Abrahamik di Nuswantara bahkan sebelum penetrasi Islam ke Nuswantara. Fenomena ini tertulis dalam dokumen kaisar Yixi (411M) di China. Di sana tertulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fa Xian jaman Kaisar Yixi (411M) dalam Catatan mengenai Negeri-negeri Buddha menuliskan: kami tiba di Yapoti (Jawa/Sumatera). Di Yapoti agama Braham (Ibrahim/ Abraham) sangat berkembang, sedangkan agama Buddha tidak seberapa pengaruhnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Serat Rerepen&lt;br /&gt;Karya Sinuhun Pakoe Boewana (PB) Kaping X&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkur&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Pamundhut hingsun mring sira&lt;br /&gt;Santana lan kawula kabeh hiki&lt;br /&gt;Hambak taler Jawa tuhu&lt;br /&gt;Tan hala haprayuga&lt;br /&gt;Gayuh suprih yem tentrem hayuning srawung&lt;br /&gt;Wajib netepana warah&lt;br /&gt;Wuruking agama suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nasehatku untuk kalian&lt;br /&gt;Kerabat dan rakyat semuanya ini&lt;br /&gt;Yang menjalani takdir Jawa&lt;br /&gt;Tidak buruk, bahkan utama&lt;br /&gt;Mengharap ketentraman kehidupan sesame&lt;br /&gt;Wajib menetapi ajaran&lt;br /&gt;Petunjuk agama suci)&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Narendra miwah pujangga&lt;br /&gt;Wali lan pandhita jatine kaki&lt;br /&gt;Karsaning Kang Maha Agung&lt;br /&gt;Gunggunging Islam-Jawa&lt;br /&gt;Marmane langgengna tunggal loro hiku&lt;br /&gt;Ja-hana hingkang tinggal Jawa&lt;br /&gt;Lan ja-hana hadoh agami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Para raja dan para pujangga&lt;br /&gt;sesungguhnya para wali dan ulama anakku&lt;br /&gt;Atas Kehendak Yang Maha Agung&lt;br /&gt;Agunglah Islam-Jawa&lt;br /&gt;Karena itu lestarikanlah dwitunggal itu&lt;br /&gt;Jangan sampai ada yang semata Jawa&lt;br /&gt;Dan jangan sampai ada yang menjauhi agama)&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Tinulis sajroning Qur’an&lt;br /&gt;Hantepana dadya laku ban hari&lt;br /&gt;Miwah wanguning Kadhatun&lt;br /&gt;Tindakna klawan takwa&lt;br /&gt;Wit kang mangkana sira jeneng geguru&lt;br /&gt;Ratu habudaya Jawa&lt;br /&gt;Wali panuntun agami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yang telah tertulis dalam Alqur’an&lt;br /&gt;Dihayati menjadi perilaku sehari-hari&lt;br /&gt;Demi indahnya sebuah pemerintahan&lt;br /&gt;Jalankanlah dengan takwa&lt;br /&gt;Karenanya hendaklah engkau berguru&lt;br /&gt;Para raja yang berbudaya Jawa&lt;br /&gt;Juga adalah para wali penuntun agama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Ilmu Kang Kaesthi Kangjeng Sunan Prawata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(34)&lt;br /&gt;Sampun tamtu punika sasana ulun&lt;br /&gt;Kang aran Pangeran&lt;br /&gt;Kang yogya kita ngengeri&lt;br /&gt;Dunya akhir kawengku salaminira&lt;br /&gt;(Tentunya itulah haribaanNya&lt;br /&gt;Yang bernama Tuhan&lt;br /&gt;Tempat engkau berbakti yang semestinya&lt;br /&gt;Dunia akhir tercapai selama-lamanya)&lt;br /&gt;(35)&lt;br /&gt;Denta ulun salat masjid datan ayun&lt;br /&gt;Punika wong Arab&lt;br /&gt;Balik tiyang Jawi&lt;br /&gt;Salat kula inggih cara bangsa Jawa&lt;br /&gt;(Karenanya sholat saya tak hanya di masjid&lt;br /&gt;Itulah orang Arab&lt;br /&gt;Sedangkan orang Jawa&lt;br /&gt;Salat saya juga menggunakan cara orang Jawa)&lt;br /&gt;(36)&lt;br /&gt;Siyang dalu amba Samadhi ing kalbu&lt;br /&gt;Ngesti Wisnu Kresna&lt;br /&gt;Tuwin Sang Hyang Sidajati&lt;br /&gt;Ingsun gayuh campur tunggal lawan kita&lt;br /&gt;(Siang malam hamba selalu khusyuk dalam kalbu&lt;br /&gt;Mengharapkan Wisnu-Kresna&lt;br /&gt;Serta Sang Hyang Sidajati&lt;br /&gt;Kiranya dapat menyatu denganMu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(37)&lt;br /&gt;Gih punika amba sebut gama putus&lt;br /&gt;Ran agama Budha&lt;br /&gt;Tegese anganggep budi&lt;br /&gt;Jatinipun Budha Islam padha uga&lt;br /&gt;(Itulah yang hamba sebut sebagai agama terakhir&lt;br /&gt;Disebut juga sebagai Budha&lt;br /&gt;Artinya memuliakan budi pekerti&lt;br /&gt;Maka sesungguhnya Budha adalah Islam)&lt;br /&gt;(38)&lt;br /&gt;Sang Hyang Wisnu Arab tegesipun Rasul&lt;br /&gt;Yen Kresna Muhammad&lt;br /&gt;Allah Sang Hyang Sidajati&lt;br /&gt;Mung bedane tembung Arab lawan Jawa&lt;br /&gt;(Sang Hyang Wisnu dalam bahasa Arab disebut Rasul&lt;br /&gt;sedangkan Kresna adalah Muhammad&lt;br /&gt;Allah disebut Sang Hyang Sidajati&lt;br /&gt;Hanya perbedaan antara bahasa Arab dan bahasa Jawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Christian Pelras, Manusia Bugis, Penerbit Nalar dan Ecole francais d’Extreme-Orient, Jakarta, 2006.&lt;br /&gt;2.    -, I la Galigo.&lt;br /&gt;3.    Sastrapratedja, M, Manusia Multidimensional, PT Gramedia, 1982.&lt;br /&gt;4.    Octavio Paz, Levi Strauss, Empu Anthropologi Struktural, LKIS, 1997.&lt;br /&gt;5.    Corbin, Henry, Temple and Contemplation, KPI, London and New York, in assosiation with Islamic Publications, London, 1986.&lt;br /&gt;6.    Sumardjo, Jakob, Arkeologi Budaya Indonesia, Pustaka Qalam Yogyakarta, Nopember 2002.&lt;br /&gt;7.    James Danandjaja, Antropologi-Psikologi, Teori, Metode, dan Sejarah Perkembangannya, Rajawali Press, Jakarta, Cet. I, 1988, hal. 51.&lt;br /&gt;8.    Roger Garaudy, Evaluasi Kritis Filsafat Barat di Abad Ini, dalam Islam dan Peradaban Barat Modern, Penerbit Risalah Bandung, Cet I, 1986, hal. 43.&lt;br /&gt;9.    Kees Berten, Panorama Filsafat, pustaka Atma Jaya, 1986.&lt;br /&gt;10.    Peter L. Berger, Langit Suci, Agama sebagai Realitas Sosial, LP3ES, Cet. 1, 1991.&lt;br /&gt;11.    Dr. Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, penerbit Balai Pustaka Jakarta dan Media Wiyata Semarang, cet. 2, 1992.&lt;br /&gt;12.    Roger Garaudy, Promesses de’l Islam.&lt;br /&gt;13.    Sayyid Husein Nashr, Pengetahuan dan Kesucian, penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet. I, Januari 1997, hal. 82, 83.&lt;br /&gt;14.    Kees Bertens (ed.), Fenomenologi Eksistensial, pustaka Atmajaya, 1986.&lt;br /&gt;15.    Ali Shariati, Marxism and Other Western Fallacies, Berkeley, 1980. Terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Mizan, cetakan ke 6, 1996.&lt;br /&gt;16.    Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional, Gramedia, Jakarta,1981.&lt;br /&gt;17.    Faruqi, Ismail R., Lois Lamya, Atlas Kebudayaan Islam, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1992.&lt;br /&gt;18.    JB Suryaganda dan TR Parmadiningrat, Nyengkuyung Hajatdalem Sadranan, Menggali Kembali Tradisi Sadranan di Kagungandalem Pasareyan Wotgaleh, Yogyakarta, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran:&lt;br /&gt;Budaya “Eksotik” Tradisional&lt;br /&gt;Dalam Pandangan Claude Levi-Strauss&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu wawancara dengan Claude Levi-Strauss yang diangkat dari Majalah Spiegel, oleh Dieter Brumm, Karla Fohrbeck, Gustav Stern dan Wolfgang Gust. Der Spiegel, Ham¬burg, No. 53/1971). Diterjemahkan dari “Der Humanismus bedroht den Menschen", Ein SPIEGEL-Gespraech. Dalam: Claude Levi Strauss, Mithos und Bedeutung. Vortraege. Frankfurt, Suhrkamp Verlag, es 1027, Neue Folge Band 27, 1980, him. 219-235. Sebagian teks wawancara tersebut adalah seperti terlampir di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Tuan Levi-Strauss, orang menyatakan bahwa dengan menyelidiki bangsa-bangsa primitif Anda sebetulnya melarikan diri ke dalam suatu dunia yang utuh, sedangkan untuk masyarakat modern Anda meramalkan semacam masa senja (Goeterdaemmerung). Apakah Anda pesimis tentang kebudayaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Saya tidak takut untuk mengatakan sejak awal bahwa saya memang sangat pesimis. Bila saya memilih mengabdikan diri di bidang penelitian masyarakat eksotis yang sangat berbeda dengan masyarakat modern kita, saya memilihnya karena saya merasa kurang senang dengan abad kedua puluh ini, yaitu masa kelahiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Apa dasar pesimisme Anda ?                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Agaknya Anda merepotkan saya dengan menanyakan hal-hal yang tentangnya saya merasa kurang kompeten. Benarlah bahwa saya tidak terlalu optimis tentang masa depan umat manusia yang jumlahnya terus bertambah pesat, sehingga manusialah yang sebenarnya menyesakkan diri sendiri sebelum hal-hal yang paling esensial seperti udara, air, ruang dan sebagainya mulai berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Beberapa filsuf dewasa ini mengecam Anda karena Anda menganggap aturan masyarakat modern bersifat kurang manusiawi dibandingkan masyarakat primitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Nah, saya bukan seorang filsuf. Kebetulan karier membuat saya dan sejumlah rekan etnolog menjadi saksi dari suatu cara hidup yang sungguh berbeda dari cara hidup kita yang sebagian besar bahkan telah melenyapkan&lt;br /&gt;cara hidup primitif. Saya merasa berkewajiban secara moral untuk memberi kesaksian, yaitu membaktikan seluruh hidup dan tenaga demi tercapainya bentuk ma¬syarakat yang memungkinkan bangsa manusia berkembang selama ribuan tahun, tetapi yang kini mulai lenyap karena kita sendiri memang menghendaki supaya hal itu terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Tetapi bagaimanapun Anda membandingkan masyarakat primitif yang Anda pelajari dengan masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Sebenarnya kedua tatanan masyarakat itu tidak dapat lagi dibandingkan. Tidak dapat dibayangkan sama sekali bahwa kita dapat kembali pada keadaan primitif atau menghidupkannya kembali sebab justru kini kemungkinan bagi adanya masyarakat "eksotik" ditiadakan.&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Jadi, apakah kita tidak dapat mengatakan bahwa ma¬syarakat primitif bersifat lebih manusiawi dan mungkin lebih "progresif” daripada tatanan masyarakat modern dewasa ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, tidak dapat diragukan bahwa ma¬syarakat primitif bersifat progresif sebab akhirnya ma¬syarakat primitiflah yang menemukan sejumlah karya seni budaya yang masih menjadi landasan bagi kita de¬wasa ini. Misalnya, penggunaan api, pembuatan tembikar, tenunan, cara mengolah tanah, cara menjinakkan binatang, semuanya itu diupayakan oleh orang-orang pada zaman dan kurun sejarah yang setara dengan seluruh masyarakat "eksotik" yang kini masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Hal itu hanya menyangkut perkembangan teknis. Namun, diskusi filosofis yang terjadi antara Anda dan beberapa pemikir Marxis, seperti juga Sartre, bertitik tolak dari fakta bahwa Anda membandingkan masyarakat primitif dan masyarakat modern atas dasar titik pandang mengenai peranan yang dimainkan oleh perikemanusiaan dan kesadaran historis. Orang mengkritik Anda sebagai bersikap konservatif karena Anda berpendirian bahwa dalam sejarah tidak terdapat hal perikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Anda melontarkan terlalu banyak pertanyaan secara serentak. Baiklah saya akan menyoroti pertanyaan terakhir, yaitu mengenai soal kemajuan. Fakta tentang kemajuan teknologis memang ada. Hal itu sedemikian jelas sehingga saya tidak perlu lagi membahasnya. Namun, hal yang menurut hemat saya sama jelas ialah bahwa kemajuan teknologis itu jugalah yang menyebabkan manusia terpaksa mengorbankan sejumlah nilai yang terikat pada masyarakat "eksotik". Dan tidak terdapat kriteria filosofis maupun moral yang memungkinkan kita mengatakan bahwa yang ini lebih baik daripada yang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Tetapi apakah kita dapat melepaskan diri dari upaya mengembangkan perilaku yang lebih manusiawi dalam masyarakat dewasa ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Di mana-mana perikemanusiaan terutama terdiri dari relasi antarpribadi yang saling mengenai. Itulah sebabnya mengapa hidup dalam suatu kelompok kecil bersifat lebih manusiawi daripada dalam sebuah kota besar karena manusia bukan dipandang sebagai nama dan nomor semata-mata, melainkan sebagai seorang pribadi dengan watak dan temperamen khas yang dikenali oleh semua orang lainnya. Namun Anda menghadapkan saya pada berbagai masalah yang tidak saya gumuli, sebab jenis masyarakat yang saya pelajari sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan masyarakat modern kita dan juga karena saya tidak perlu menganjurkan berbagai resep untuk memperbaiki tatanan masyarakat kita sendiri. Ada orang lain yang menamakan diri pakar sosiologi atau politikus yang berurusan dengan hal itu. Saya bukan seorang sosiolog atau politikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Sartre dan beberapa pengikut Marx lainnya mencela Anda karena strukturalisme mengandung suatu sikap berpaling dari humanisme. Anda mengenal tuduhan yang bagi Anda tentunya bukan hal baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Saya berpendapat bahwa celaan tersebut didasarkan pada suatu kekeliruan ganda, yaitu kekeliruan teoretis dan kekeliruan praktis. Kekeliruan teoretisnya ialah bahwa saya belum pernah menyangkal siapa pun untuk mempelajari manusia pada tingkat penelitian yang dipilihnya. Namun, yang saya bantah adalah pendirian yang disebut monopolistik itu, yakni manusia hanya dapat didefinisikan dan dipelajari pada satu tingkat tunggal saja.&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Tetapi keputusan memilih satu tingkat tertentu juga merupakan suatu prakeputusan dalam penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Jika Anda memandang suatu tetes air dengan mata telanjang, Anda tidak akan melihat apa-apa. Namun jikalau anda menempatkan setetes air itu di bawah sebuah mikroskop elektron yang membesarkannya 50.000 kali, Anda akan melihat hal-hal yang berbeda sama sekali. Demikian pula halnya dengan usaha mempelajari ma¬nusia. Mereka yang menamakan dirinya Humanis me¬mandang manusia menurut sudut pandangan sama seperti orang memandang setetes air yang diperbesar sedikit. Tampaklah sejumlah binatang kecil sebagai makhluk individual yang memang ada, saling memerangi dan saling mencintai. Namun, kita tahu bahwa ilmu hanya ada karena kita telah mengerti bahwa se¬jumlah fenomena tidak bisa dipandang dari satu tingkat saja. Kemampuan pembesaran yang tinggi menyebabkan bahwa makhluk hidup tadi hilang sama sekali. Lantas yang kelihatan hanyalah molekul-molekul saja. Jika pembesaran mikroskop ditingkatkan lagi, Anda dapat mengamati sejumlah atom di balik molekul-molekul tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Kalau demikian, apakah Strukturalisme hanya merupakan suatu metode penelitian dan tidak mempunyai teorinya sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Bukan demikian. Pada dasarnya hal itu hanya menyangkut suatu sikap ilmiah tertentu. Cukuplah mengenai soal kekeliruan teoretis. Namun, masih terdapat aspek kedua, yaitu aspek praktis. Akhirnya, kita harus memberi pertanggungjawaban tentang soal bahwa sikap humanistik yang absolut dan yang meraja sejak zaman Renaisans, dan rupanya berasal dari agama-agama besar di Barat, membawa akibat yang sangat katastrofal. Selama beberapa abad Humanisme menyebabkan peperangan, pemusnahan, kamp konsentrasi, dan pembasmian berbagai jenis makhluk hidup. Kita mempermiskin alam. Sikap yang berlebih-lebihan itulah yang mengancam manusia sendiri, yaitu sikap percaya bahwa dengan sewenang-wenang ia dapat memiliki dan menguasai segala-galanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Orang mempersalahkan strukturalisme, bukan hanya sebagai Anti-Humanisme, melainkan juga sebagai upaya menyisihkan sejarah, yakni suatu usaha yang pada dasarnya tidak bersifat antihistoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Celaan itu sama seperti celaan lainnya yang kurang beralasan. Kami kaum etnolog menelaah masyarakat yang sejarahnya sama panjang dengan sejarah masya¬rakat kita. Hanya masyarakat tradisional dan eksotik itu tidak memperhatikan sejarahnya. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki arsip lewat mana kita dapat menemukan kembali seluruh sejarah masyarakat itu. Untuk mempelajarinya, kita harus menciptakan suatu metode yang dapat menggantikan ketiadaan sejarah tersebut. ltulah situasi yang dihadapi oleh seorang etnolog, ia merasa sungguh puas kalau dapat menggunakan unsur-unsur sejarah yang masih tersisa. Namun, yang saya bantah ialah bahwa sejarah dianggap sebagai suatu hal istimewa diantara segala kemungkinan pengetahuan. Tentu saja sejarah merupakan suatu sarana pengetahuan yang istimewa, sejauh menyangkut tatanan masyarakat Barat modern yang mendefinisikan diri terhadap sejarah. Saya tidak percaya kita dapat mengatakan bahwa hal itu biasanya demikian. Di sini perselisihan hanya dapat muncul dengan mereka yang mengangkat metodenya sendiri sebagai satu-satunya metode yang sah dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Profesor Levi-Strauss, dalam buku Tristes Tropiques (Paris, 1955) Anda secara mencengangkan merujuk pada Richard Wagner. Apakah Anda menaruh perhatian pada Richard Wagner, khususnya di bawah aspek "Goetterdaem-merung?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Sering saya menghabiskan seluruh pekan dengan mendengarkan siaran langsung Wagner dari Bayreuth. Dalam jilid keempat dan terakhir dari Mythologiques (1971) yang diterbitkan dengan judul I’homme nu (Manusia telanjang), saya menjelaskan alasannya. Saya mengatakan bahwa pada saat runtuhnya mitologi sebagai bentuk ekspresi yang dominan, semua struktur pikiran mitis diambil alih oleh musik. Isi dan pesan dari mitos beralih ke Roman, sedangkan bentuk mitos diambil alih oleh musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:   &lt;br /&gt;Kapan hal itu terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Gejala itu bermula dari Bach, berkembang pada para pengikutnya dan mencapai bentuknya yang sadar pada Wagner. Wagnerlah yang dengan suatu intuisi mengagumkan dapat memahami bahwa mitos dan musik semakin saling mendekati. Seakan-akan merupakan takdir mereka untuk bersatu padu. Secara luar biasa Wagner menciptakan jenis perpaduan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Jadi, benarkah Wagner adalah seorang komponis yang Strukturalistis ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Seluruh teori mengenai "Leitmotif" (nada/ide dan sebagainya yang selalu diulang) itu sendiri bersifat strukturalistis. Dan sebagaimana Anda ketahui, Struktural¬&lt;br /&gt;isme sebenarnya memang berasal dari Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Apakah Anda dapat menjelaskan pikiran itu secara lebih rinci ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Orang selalu berkata kepada saya bahwa di Jerman orang merasa sangat segan terhadap Strukturalisme. Namun, apabila kita berusaha menelusuri proses perkembangan, hingga pada saatnya yang paling awal, di manakah Strukturalisme berawal di dunia modern ? Di Eropa, Duerer merupakan awalnya. Dengan terbitnya Vier Buecher von menschlicher Proportion (1928) dan dengan gagasan bahwa kita dapat bertolak dari satu bentuk wajah dan mencapai bentuk wajah yang lain melalui transformasi (pengubahan bentuk) geometris, maka Strukturalisme berawal. Dan oleh Goethe. Dalam karyanya tentang morfologi tumbuhan (1790), dijelaskan bahwa daun dan bunga terbentuk berdasarkan transformasi antara yang satu terhadap yang lainnya, dan pikiran itu bersifat Strukturalistis. Karena itu, sama sekali tidaklah mengherankan bahwa Wagner berada dalam deretan turunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiegel:&lt;br /&gt;Anda mengatakan juga bahwa untuk mengurangi sikap intoleransi tidaklah cukup dengan mengubah ide-ide saja. Kita juga harus mengubah segala syarat alamiah&lt;br /&gt;dalam hubungan antara manusia modern dan alam. Dan bagaimana pandangan Anda mengenai masa depan semua masyarakat primitif yang masih tersebar di dunia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levi-Strauss:&lt;br /&gt;Nasib semua masyarakat primitif itu ialah bahwa mereka akan runtuh dan hilang lenyap. Hal itu membuat saya menjadi sangat sedih.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tentang Penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman Sinung Janutama(42), adalah koordinator pada Kempalan Pangangsu Kawruh ”Tjap Orang Djadzab” Ngayogyakarta Hadiningrat dan Deputy pada Institute of Philosophy ”Falsafatuna” Jakarta. Diwawancarai Majalah Femina untuk edisi khusus awal tahun 2008, mengenai outlook dan prediksi untuk Indonesia tahun 2008. Pengalaman bersekolah di FMIPA UGM Yogyakarta, Jurusan Fisika Murni, dan UIN Suka Yogyakarta, Fakultas Filsafat.&lt;br /&gt;    Karya tulis yangtelah diterbitkan adalah Pisowanan Alit. Sedangkan yang telah diterbitkan secara indie antara lain: Dikiran Pujabekten 1, Dikiran Pujabekten 2, Premis-premis Pembacaan Khasanah Kebudayaan Jawa dan Nuswantara, Ecce Dialecticus - Dialectico In Traditio Demonstrata, Pierre Bourdieu - In Mea Demonstrata, Meditasi atas Modernitas. Saat ini sedang menyelesaikan buku Direktori Makam Kuno dan Tempat Keramat, Kesultanan Majapahit, Pisowanan Pamenang, dan Kyahi Achmad Dachlan dan 17Ajarannya.&lt;br /&gt;Penulis mengasuh forum diskusi spiritualitas di kantor Falsafatuna, Kotagede, Ngayogyakarta Hadiningrat, setiap Jum’at sore (2 mingguan) bersama rekan-rekan terutama Mas Hartono Munandar (Hangno). Forum tersebut dihadiri berbagai kalangan pemerhati budaya di Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-7558113283777484547?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/7558113283777484547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/nusantara-negeri-keramat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7558113283777484547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7558113283777484547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/03/nusantara-negeri-keramat.html' title='Nusantara Negeri Keramat'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-8487765715704611373</id><published>2010-02-27T08:46:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T08:50:29.861-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam Nusantara'/><title type='text'>Melacak jaringan ulama Nusantara</title><content type='html'>Melacak Jaringan Ulama Melayu dan Perannya&lt;br /&gt;NADWAH adalah pertemuan para tokoh berbagai bidang dalam bentuk kajian dan seminar untuk mengenang jasa ulama Nusantara. Nadwah Ulama Nusantara III yang melibatkan Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina berlangsung pada 15-17 April di tapal batas Negeri Pulau Pinang, Malaysia.&lt;br /&gt;Nadwah kali ini bertema ''Ulama Penjana Tamadun Melayu''. Artinya, ulama menjadi penunjang keterwujudan peradaban Islam Melayu. Tema ini cocok karena ulama menjadi penentu corak kehidupan masyarakat. Sangat besar peran mereka dalam mewujudkan peradaban Islam di bumi bangsa-bangsa Melayu terutama dalam membentuk masyarakat berilmu.&lt;br /&gt;Jaringan Ulama&lt;br /&gt;Tidak disangkal, adanya jaringan ulama Nusantara sejak abad 17 telah menunjang penyebaran keilmuan dan keintelektualan Islam di Melayu. Mereka berperan besar dalam menunjang kemajuan dan peradaban Islam. Mereka antara lain Syekh Ahmad Al Fathani, Syekh Nik Mat Kecik Al Fathani, dan Syekh Ahmad Khatib Abdul Latif al-Minangkabawi.&lt;br /&gt;Syekh Ahmad al-Fathani lahir di Jambu, Thailand selatan pada 1856 M/ 1272 H. Dia lahir dalam kondisi negerinya tertindas dan terjajah sehingga bersama orang tuanya merantau ke Makkah. Di kota suci ini dia menunjukkan diri sebagai anak yang rajin belajar dan luar biasa hafalannya. Dalam usia 12 tahun, dia sanggup mengajar ilmu tata bahasa Arab (nahwu, sharaf, dan lain lain).&lt;br /&gt;Dari Makkah, dia menuntut ilmu ke Baitul Muqaddis dan belajar ilmu kedokteran/ilmu tabib. Menurut riwayat, beliaulah orang Melayu pertama yang mahir ilmu tabib dan mendapat pendidikan khusus di bidang itu yang berlainan dengan tabib-tabib tradisional saat itu. Kembali ke Makkah, dia belajar kepada guru-guru Patani, seperti Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani. Setelah itu, dia menuntut ilmu ke Mesir yang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan keislaman dengan kemegahan Al-Azharnya.&lt;br /&gt;Dai orang pertama dari Asia Tenggara yang belajar di Mesir. Sekembali dari Mesir, dia mengajar di Makkah hampir 15 tahun. Dia termasuk salah satu ulama Melayu yang mempunyai ilmu menyeluruh dan menulis 160 kitab. Yang berbahasa Arab 32 buah, berbahasa Melayu 22 buah, dan bidang pentashihan 36 kitab. Dia wafat di Mina ketika berhaji sunnah pada 11 Zulhijah 1325 H dan dimakamkan di Maíla, dekat Umul Mukmin Siti Khadijah.&lt;br /&gt;Hubungan Ulama Melayu-Jawa&lt;br /&gt;Murid utama Syekh Achmad al Fathani adalah Kiai Haji Muhammad Khalil. Dia dari keluarga ulama di Desa Kemayoran, Bangkalan, Madura. Pendidikan dasar agama dia peroleh dari keluarga. Menjelang dewasa, dia dikirim ke berbagai pesantren. Antara lain ke Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan, Tuban, Jatim. Dia melanjutkan pelajarannya ke Makkah. Di sana, bersahabat dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.&lt;br /&gt;Ulama-ulama Melayu di Makkah yang seangkatan dengannya, selain Syekh Nawawi (lahir 1230 H/1814 M) adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani (1233 H/1817 M), Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (1234 H/1818 M), dan Kiai Umar bin Muhammad Saleh Semarang (Kiai Soleh Darat Semarang). Sebelum berangkat ke Makkah, Kiai Khalil menghafal beberapa matan dan yang dia kuasai dengan baik, yaitu matan Alfiyah Ibnu Malik yang terdiri atas 1.000 bait ilmu nahwu. Selain itu, dia adalah hafiz (penghafal Alquran) dengan tujuh cara membacanya (qiraah).&lt;br /&gt;Ketika di Makkah, Kiai Khalil tak pernah lelah belajar, kendati gurunya lebih muda, yaitu Syekh Ahmad al-Fathani. Dia sangat hormat dan tekun mempelajari ilmu yang diberikan sang guru. Sepulang dari sana, dia tersohor sebagai ahli nahwu, fikih, dan tarekat di Jawa. Untuk mengembangkan pengetahuan keislamannya, Kiai Khalil mendirikan pesantren di Desa Cengkebuan. Dia wafat dalam usia 106 tahun pada 29 Ramadan 1341 H atau 14 Mei 1923 M.&lt;br /&gt;Kiai Khalil Al-Maduri termasuk generasi pertama yang mengajarkan karya Syekh Ahmad al-Fathani berjudul Tashilu Nailil Amani, kitab tentang nahwu di pesantrennya di Bangkalan. Karya al-Fathani kemudian berpengaruh dalam kajian ilmu nahwu di Madura dan Jawa sejak itu.&lt;br /&gt;Bahkan, hingga sekarang masih dipelajari di banyak pesantren tradisional (salaf) Jawa dan Madura. Murid-murid Kiai Khalil yang mengikuti jejaknya adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Pesantren Tebuireng, Jombang dan pendiri NU.&lt;br /&gt;Kemudian, KH Abdul Wahhab Hasbullah, pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang; KH Bisri Syamsuri, pendiri Pesantren Denanyar, Jawa Timur; KH Ma'shum, pendiri Pesantren Lasem, Rembang; KH Bisri Mustofa, pendiri Pesantren Raudhatul Thalibin, Rembang; dan KH As'ad Syamsul Arifin, pendiri Pesantren Asembagus, Situbondo, Jatim. (41j)&lt;br /&gt;- Drs H Bedjo Santoso MT, ketua Forum Studi Ekonomi Islam dan Kebijakan FE Unissula Semarang, pemateri pada Nadwah Ulama Nusantara III di Pulau Pinang, Malaysia&lt;br /&gt;http://www.suaramerdeka.com/harian/0604/24/nas17.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-8487765715704611373?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/8487765715704611373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/melacak-jaringan-ulama-nusantara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8487765715704611373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8487765715704611373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/melacak-jaringan-ulama-nusantara.html' title='Melacak jaringan ulama Nusantara'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-500272681528229487</id><published>2010-02-27T08:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T08:46:40.380-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam Nusantara'/><title type='text'>Islam Nusantara masa Kolonial</title><content type='html'>Kaum Muslimin Indonesia di Mekkah pada Masa Kolonial&lt;br /&gt;Tanggal: 24 Februari 2008&lt;br /&gt;Oleh :  Rofiqul-Umam Ahmad&lt;br /&gt;Martin van Bruinessen (1995), seorang sejarawan-peneliti Belanda, menyatakan dalam kosmologi Jawa pusat-pusat kosmis, titik temu antara dunia fans kits dengan islam supranatural memainkan peranan sentral. Setelah penduduk Nusantara banyak menganut agama Islam, pusat kosmis yang semula berupa makam para leluhur, gunung, gua, hutan diganti menjadi Mekkah. Hal ini wajar mengingat dalam ajaran Islam Mekkah merupakan kiblat seluruh ummat Islam dan tempat turunnya (sebagian) wahyu Allah.&lt;br /&gt;Adanya kewajiban pergi haji bagi mereka yang mampu makin mendorong penduduk Nusantara pergi ke Mekkah. Sejarah mengukir, telah ada penduduk Nusantara yang pergi haji sekitar abad ke-15 yakni Menak Kemala Bumi, muballigh terkenal dari Sumatera Selatan (Siswono, 1991). Pengamatan Verthema, seorang pengembara Italia, ketika is singgah di Mekkah pads tahun 1504 mengamati banyaknya jumlah jamaaah haji dan greater India (Anak Benua India) da dari lesser India (Kepulauan Nusantara) (Azyumardi Azra, 1994).&lt;br /&gt;Selanjutnya, makin banyak orang Nusantara yang pergi ke Mekkah. Bahkan bila dibanding jumlah jamgah haji dari negeri lain tergolong cukup menonjol Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke20, jumlah mereka berkisar antara 10 clan 20 persen dari seluruh haji asing. Malah pada dasawarsa 1920an sekitar 40% dari seluruh jamgah haji berasal dari Nusantara. Dalam catatan pemerintah kolonial ada ketimpangan antara jumlah penduduk Nusantara yang pergi haji dengan mereka yang kembali. Antara tahun 1853 dan 1858, jamgah haji yang pulang dari Mekkah ke Hindia Belanda tidak sampai separuh dari jumlah orang yang telah berangkat naik haji (Bruinessen, 1991).&lt;br /&gt;MEKKAH DALAM PANDANGAN PENDUDUK NUSANTARAAKHIRNYA BERFUNGSI DALAM TIGA ASPEK: (1) ASPEK IBADAH; (2) ASPEK ILMU, DAN (3) ASPEK POLITIK. TIDAK MENGHERANKAN BILA SEBELUM MERDEKA BANYAK SEKALI PENDUDUK HINDIA BELANDA YANG MENCITA-CITAKAN ANAKNYA DAPAT PERGI KE MEKKAH DALAM KONTEKS TIGA ASPEK TERSEBUT, DENGAN BIAYA BERAPAPUN DAN RINTANGAN APAPUN.&lt;br /&gt;Makna Mekkah bagi Masyarakat Nusantara&lt;br /&gt;Data ini mengandung fenomena penting dalam perilaku naik haji penduduk Hindia Belanda. Selain faktor meninggal selama di perjalanan - baik karena penyakit, pembunuhan, atau tenggelam di samudra ternyata mereka secara sadar memang tidak mau cepat-cepat kembali ke Nusantara. Setelah menunaikan ibadah haji mereka berproses menjadi bagian masyarakat Nusantara yang tinggal di Tanah Suci (terutama Mekkah) dalam sebuah komuni tas yang dikenal dengan nama "Koloni Jawa" atau "Jawa Mukim" Istilah Jawa dipakai untuk mengidentifikasi orang yang berasal dari Nusantara. Yang dianggap sebagai pusat wibawa "Koloni Jawa" adalah para ulama, guru dan pejuang yang telah hidup lama di lingkungan kota Mekkah. Jumlahnya makin lama makin banyak Menurut pengamatan van der Plas (Bruinessen, 1991) yang pernah menjabat konsul Belanda di Jeddah, jumlah mereka sekurang-kurangnya 10.000 jiwa pada tahun 1931 Dapat dibandingkan dengan jumlah jamaah haji yang waktu itu berkisar sekitar 30.000 jiwa.&lt;br /&gt;Ada tiga hal menonjol dalam perilaku penduduk Nusantara yang menjadi anggota "Koloni Jawa" itu Pertama, kebutuhan untuk terus dapat beribadah di pusat kosmis Islam yang dijanjikan memperoleh pahala berlipat ganda dan tidak sama seperti di tempat-tempat lain. Kedua, sebagai wujud keinginan penduduk Nusantara untuk melepaskan dari cengkeraman kekuasaan Belanda di Nusantara, yang dalam pandangannya adalah orang kafir. Ketiga, kebutuhan akan memperdalam penguasaan ilmu. Saat itu Mekkah dengan pusatnya Masjidil Haram telah beratus-ratus tahun menjadi salah satu corong ilmu di Dunia Islam.&lt;br /&gt;Mekkah -dalam pandangan penduduk Nusantara- akhirnya berfung si dalam tiga aspek: (I) aspek ibadah; (2) aspek ilmu; clan (3) aspek politik Tidak mengherankan bila sebelum merdeka banyak sekali penduduk Hindia Belanda yang mencita-citakan anaknya dapat pergi ke Mekkah dalam konteks tiga aspek tersebut, dengan biaya berapapun clan rintangan apapun. Banyak tokoh Islam Indonesia yang pernah nyantri di Mekkah dalam waktu lama, baik yang tercatat dalam sejarah maupun tidak Sebut saja Syekh Yusu41 AI-Makassari (pe2uang yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan), Nuruddin Ar-Raniri, Abdul Rauf AlSinkili, KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU)&lt;br /&gt;Kehidupan yang bebas di Mekkah dan injakan kaki penjajah menjadikan para haji merasakan nikmatnva sebagai orang bebas (merdeka). Hubungan dengan ribuan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia dalam jangka waktu cukup lama memberi wawasan, pengetahuan dan cakrawala baru. Rasa senasib karena menjadi warga jajahan bangsa Eropa non-Muslim mengentalkan jiwa perlawanan mereka Berbagai tindakan kaum penjajah serta gejolak perlawanan kaum Muslimin menjadi agenda pembicaraan harian. Makin lama bara patriotisme dan anti-penjajahan di kalangan haji dan mukimin makin membesar dan mencari saluran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama Nusantara di Mekkah&lt;br /&gt;Peran ulama yang berasal dariNusantara mengajar di Mekkah sangat besar dalam memperluas wawasan dan memperdalam ilmu para haji dan mukimin. Sebagaimana diketahui, sejak dahulu ulama Hindia Belanda telah menjadi bagian penting dalam kegiatan keilmuan di Tanah Suci, terutama di Mekkah dan terpusat di Masjidil Haram Sementara di luar Masjidil Haram banyak terdapat berbagai madrasah yang sebagiannya juga dikelola para ulama asal Hindia Belanda Mereka punya nama harum di kalangan ulama domestik maupun ulama asing dan kaum mushrnin yang ada di Mekkah Beberapa ulama asal Hindia Belanda yang tersohor saat itu antara lain Nawani Al-Bantani, Ahmad khatib, Mahfuzh Termas, Munsin Ail Musawwa, Ali Baniar, Syekh Yasin Padang.&lt;br /&gt;Betapa pentingnya peran ulama Hindia Belanda di pentas keilmuan di Mekkah memaksa Snouck Hurgronje menulis khusus mengenai "Ulama Jawa yang ada di Mekkah pada Akhir Abad ke-19" (Ahmad Ibrahim dkk, 1989) Dalam tulisannya yang didasarkan kepada pengamatannya langsung ke daerah itu ia mencatat beberapa nama ulama asal Hindia Belanda yang berkiprah di dunia keilmuan di Mekkah la menyebut: Mufti Jamal, Juneid, Khatib Sambas, Abduigani Bima, Ismail Menangkabo, Mujtaba, Muhammad dan Hasan Mustafa dari Garut dan beberapa nama lagi. Mereka semua sebelum menjadi guru yang disegani oleh para muridnya yang datang dari berbagai bangsa tentu berproses lebih dahulu sebagai murid yang berguru kepada para ulama sebelumnya di lingkungan Masjidil Haram.&lt;br /&gt;Sederatan ulama ini diantaranya banyak menulis kitab yang menjadi bahan mengajarnya di Mekkah. Kitab-kitab karya mereka dalam perkembangannya menjadi bacaan wajib (textbook) di ribuan pesantren di Nusantara hingga kini. Pada perkembangannya ulama ini membuat jaringan ulama Timur Tengah yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat Muslim di Nusantara, dimana sebagiannya adalah murid-muridnya dan sebagian lain menjadi pengikut ajarannya yang makin lama makin berkembang ke berbagai daerah. Hilir mudik antara Tanah SuciNusantara yang dilakukan orang Islam yang ada di Tanah Suci maupun penduduk Nusantara dan pengiriman kitab-kitab dari Tanah Suci ke Nusantara makin memperbesar keeratan emosi, idologis dan agama mereka.&lt;br /&gt;Jantung kehidupan keagamaan di Nusantara&lt;br /&gt;Para haji dan mukimin (orang yang tinggal di Mekkah dalam waktu lama dan hidup dalam komunitas "Koloni Jawa") pada akhirnya berkembang menjadi orang yang ingin mengamalkan agamanya secara sungguh-sungguh, memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan cukup tinggi sekaligus menyimpan bara anti penjajahan. Perjalanan haji - dalam pandangan Sartono Kartodirdjo (1984) - telah melahirkan satu benteng solidaritas yang ampuh di dunia Islam clan bahwa orang-orang yang telah menunaikan ibadah itu pulang ke negeri mereka membawa semangat kebesaran dan keagungan Islam. Sesungguhnya, arti yang sangat penting dari perjalanan haji itu harus dicari pada tingkat ideologis.&lt;br /&gt;MEREKA SEMUA SEBELUM MENJADI GURU YANG DISEGANI OLEH PARA MURIDNYA YANG DATANG DARI BERBAGAI BANGSA TENTU BERPROSES LEBIH DAHULU SEBAGAI MURID YANG BERGURU KEPADA PARA ULAMA SEBELUMNYA DI LINGKUNGAN MASJIDIL. HARAM.&lt;br /&gt;Pengamatan Snouck Hurgronje (Aqib Suminto, 1985) sampai pada kesimpulan bahwa di kota Mekkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk muslimin di Indonesia_ la mengkhawatirkan hal ini dapat merupakan gangguan bagi pemerintah kolonial Belanda karena Mekkah menjadi jembatan antara kehidupan rohani di Tanah Suci dengan kehidupan beragama di Hindia Belanda&lt;br /&gt;Harry J Benda (Hamid Alqadri, 1988) memperkuat kesimpulan itu dengan menyatakan bahwa sikap permusuhan orang Islam Indonesia terhadap bangsa Belanda sejak kedatangannya ke Indonesia, memperoleh dorongan baru yang datang dari Timur Dekat (maksudnya Timur Tengah, pen.) dengan para haji menjadi pelopornya. Karena itu kekhawatiran Snouck Hurgronje dan elit kolonial mengenai para haji dan ulama Nusantara yang ada di Mekkah semakin hari semakin menjadi kenyataan. Keunggulan para haji - dalam aspek sosial, ekonomi, pendidikan - dibanding anggota masyarakat lainya menjadikan mereka memiliki kedudukan dan kekuatan politik di tengah masyarakat Nusantara dan menjadi pendorong, penggerak, pelaku dan pemimpin aneka macam perlawanan terhadap kaum penjajah.&lt;br /&gt;Persaingan kekuasaan&lt;br /&gt;Berbagai kerusuhan silih berganti menggoncangkan kedudukan pemenntah kolonial Belanda. Dalam penelitian FGP Jaquet (1980) antara tahun 1816 - 1856 saja ada 35 pemberontakan atau ekspedisi-ekspedisi militer di Indonesia, kira-kira satu penstiwa kekerasan setiap tahun Kampanve-kampanye yang gigih dar: para haji untuk memperkuat sendi-sendi moral keagamaan dan memulihkan cita-cita Islam _yang murni seringkali harus berbenturan dengan kebijakan dan situasi politik pemenntah kolonial yang bertentangan Akibatnya kampanye-kampanye itu seringkali diikuti oleh pemberontakan-pemberontakan yang sesungguhnya terhadap penguasa-penguasa kafir (Sartono Kartodirdjo, 1984)&lt;br /&gt;KAMPANYE-KAMPANYE YANG GIGIH DARI PARA HAJI UNTUK MEMPERKUAT SENDI-SENDI MORAL KEAGAMAAN DAN MEMULIHKAN CITA-CITA ISLAM YANG MURNI SERINGKALI HARUS BERBENTURAN DENGAN KEBIJAKAN DAN SITUASI POLITIK PEMERINTAH KOLONIAL YANG BERTENTANGAN.&lt;br /&gt;Sebagai contoh dua perang yang cukup terkenal yakni Perang Padri tahun 1804 dan Pemberontakan Petani di Banten 1888 melibatkan banyak para haji. Perang Padri berkecamuk setelah pulangnya tiga pemimpin setempat dan Tanah Suci. Pemberontakan Petani di Banten yang mengakibatkan tewasnya 30 orang, l8 diantaranya haji dan dari 13 orang luka-luka terdapat 4 haji. Sedangkan Peristiwa Garut tahun 1919 yang berintikan pembangkangan 116 penduduk untuk menjual sejumlah tertentu hasil padinya kepada pemerintah juga menjadi contoh Pemimpin aksi itu H. Hasan akhirnya tewas bersama 3 lainnya.&lt;br /&gt;, PERAN ULAMA NUSANTARA YANG HIDUP DI MEKKAH, KAUM MUKIMIN YANG MENETAP LAMA DI "KOLONI JAWA" MAUPUN PARA HAJI YANG SUKSES MENGGENGGAM ASPEK IBADAH, ILMU DAN POLITIK SELAMA PERJALANAN PANJANGNYA KE TANAH SUCI PADA MASA KOLONIAL DAHULU TELAH VIEMBERI SUMBANGSIH BE'AR DALAM UPAYA MENCERDASKAN PIKIRAN, MENGOBARKAN PERLAWANAN TERHADAP PENJAJAH&lt;br /&gt;Berbagai literatur sejarah perjuangan anti penjajahan di berbagai pelosok tanah air - dari yang tercatat sampai yang hanya menjadi cerita lisan - mencatat peran yang menentukan dari orang Islam yang pernah menunaikan haji ataupun pernah lama bermukim di Mekkah. Biasanya di tanah air mereka menjadi kiai atau guru yang memiliki sejumlah pengikut dan mempunyal kewibawaan yang menggerogoti dan menyaingi kekuasaan pemerintah jajahan. Pada satu titik yag tidak lagi dapat dihindari, bertemulah dua kekuasaan itu yang tiada berkesudahan dan berlanjut terus sampai kaum penjajah pergi dari Nusantara.&lt;br /&gt;Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa peran ulama Nusantara yang hidup di Mekkah, kaum mukimin yang menetap lama di "Koloni Jawa" maupun para haji yang sukses menggenggam aspek ibadah, ilmu dan politik selama perjalanan panjangnya ke Tanah Suci pada masa kolonial dahulu telah memberi sumbangsih besar dalam upaya mencerdaskan pikiran, mengobarkan perlawanan terhadap penjajah dan menaburkan benih-benih nasionalisme dalam masyarakat Indonesia.***&lt;br /&gt;Rofiqul-Umam Ahmad, Alumni Program Pascasarjana (S-2) Universitas Indonesia Bidang Studi Ilmu Hukum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-500272681528229487?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/500272681528229487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/islam-nusantara-masa-kolonial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/500272681528229487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/500272681528229487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/islam-nusantara-masa-kolonial.html' title='Islam Nusantara masa Kolonial'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-5391472746831615013</id><published>2010-02-27T08:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T08:43:38.254-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam Nusantara'/><title type='text'>Jaringan Ulama Nusantara</title><content type='html'>JARINGAN ULAMA&lt;br /&gt;Oleh : DR.Azyumardi Azra&lt;br /&gt;Sejauh ini, tidak terdapat kajian komprehensif tentang jaringan ulang Timur Tengah dan Nusantara. Meski terdapat kajian-kajian penting tentang beberapa tokoh ulama Melayu-Indonesia pada abad ke-17 dan ke-18, tetapi tak banyak upaya dilakukan untuk mengkaji secara kritis sumber-sumber pemikiran mereka, dan khususnya tentang bagaimana gagasan dan pemikiran Islam mereka transmisikan dari jaringan ulama yang ada dan bagaimana gagasan yang mereka transmisikan itu mempengaruhi perjalanan historis Islam di Nusantara. lebih jauh, ketika jaringan keilmuan itu sedikit disinggung, kajian-kajian yang ada lebih berpusat pada aspek " organisasional" jaringan ulama di Timur Tengah dengan mereka yang datang dari bagian-bagian lain Dunia Muslim. Tidak ada kajian yang membahas " kandungan intelektual" yang terdapat dalam jaringan ulama tersebut. Padahal, kajian tentang aspek intelektual ini sangat penting untuk mengenahui bentuk gagasan dan ajaran yang ditransmisikan melalui jaringan ulama.&lt;br /&gt;Kajian ini berupaya menjawab beberapa masalah pokok :&lt;br /&gt;Pertama, bagaimana jaringan keilmuan terbentuk di antara ualama Timur Tengah dengan murid-murid Melayu-Indonesia ? Bagaimana sifat dan karakteristik jaringan itu ? Apakah ajaran atau tendensi intelektual yang berkembang dalam jaringan ?&lt;br /&gt;Kedua, apa peran ulama Melayu-Indonesia dalam transmisi kandungan intelektual jaringan ulama itu ke Nusantara ? Bagaimana modus transmisi itu ?&lt;br /&gt;Ketiga, apa dampak lebih jauh dari jaringan ulama terhadap perjalanan Islam di Nusantara ?&lt;br /&gt;Berbeda dengan studi-studi yang ada tengang Islam di Indonesia pra abad ke-19, yang biasanya mendasarkan pembahasannya pada sumber-sumber Barat dan lokal, Azyumardi Azra berusaha semaksimal mungkin menggali dan menggunakan sumber-sumber berbahasa Arab. Tampaknya inilah buku pertama yang menggunakan sumber-sumber Arab secara ekstensif dalam pengkajian yang berkenaan dengan sejarah pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;Buku ini adalah edisi revisi yang lebih singkat dari disertasi Ph.D yang diajukan ke Departemen Sejarah, Columbia University, New York, pada akhir 1992. Karena itu, pembaca yang ingin memanfaatkan edisi lengkap karya ini, dipersilahkan melihat disertasi aslinya.&lt;br /&gt;Disertasi ini sendiri merupakan hasil penelitian selama lebih dari dua tahun di berbagai tempat dan perpustakaan, ssejak dari Banda Aceh, jakarta, Ujung Pandang, Yogyakarta, Kairo , Makkah, Madinah, Leiden, New York City sampai ke Ithaca ( New York State ). Karya ini merupakan langkah awal dalam upaya menyelidiki sejarah sosial dan intelektual ulama dan pemikiran Islam di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran Islam di pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah. Saya masih mempunyai obsesi untuk meneliti dan menulis tentang "jaringan ulama" pada abad ke19 dan ke-20 yang tidak tercakup dalam karya ini.&lt;br /&gt;Buku ini atau tepatnya disertasi asli Ph.D, adalah buah dari amanah yang diberikan berbagai pihak kepada penulis untuk menempuh pendidikan doktoral di Columbia University sejak 1986. Disini penulis mengucapkan terima kasih khusus kepada pihak-pihak yang memberikan beasiswa kepada penulis : Ford Foundation, INIS dan Yayasan Supersemar ( untuk penelitian), dan AMINEF (Fulbright) untuk penulisan disertasi.&lt;br /&gt;Juga terima kasih kepada Departemen Agama R.I, khususnya Menteri Agama (waktu itu H.Munawir Sjadzali, M.A) dan Dirjen Binbaga Islam ( waktu itu Drs. Zarkowi Soejoeti), dan pimpinan IAIN Jakarta, yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar di Amerika Serikat, menyediakan bantuan finansial kepada keluarga penulis untuk mendapingi penulis di belantara beton Manhattan.&lt;br /&gt;Dalam menempuh program studi doktoral hingga penyelesaian disertasi, yang selanjutnya menjadi buku ini, penulis banyak berutang budi kepada Professor William R.Roff dan Professor Richard W.bulliet. Tanpa bimbingan dan kesabaran mereka maka karya ini tidak sampai ke tangan pembaca. Selain itu terdapat banyak ahli di berbagai tempat yang tak dapat saya sebutkan satu per satu yang dalam satu dan lain hal turut menyumbangkan pikiran, saran dan kritik untuk penyempurnaan karya ini sejak dari perancangan hingga penulisan. Untuk itu saya ucapkan terima kasih setulus-tulusnya.&lt;br /&gt;Rasa terima kasih saya haturkan pula kepada Penerbit Mizan, khususnya Haidar Bagir, Hernowo, dan Putut Widjanarko yang bersedia menerbitkan karya ini. Merekalah yang terus mendesak saya untuk menyelesaikan penggarapan buku ini ditengah berbagai kesibukan saya. Di sini saya tak bisa pula melupakan jasa baik Saudari Rahmani Astuti yang menerjemahkan sebagian besar buku ini dari teks aslinya dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Akhirnya yang tak kurang sumbangannya dalam penyelesaian karya ini adalah keluarga penulis sendiri. Tanpa dukungan moral dan pengertian mendalam dari kedua orang-tua, isteri dan anak-anak penulis, karya ini sulit terwujud.&lt;br /&gt;Ciputat 24 Ramadhan 1414/ 7 Maret 1994&lt;br /&gt;Azyumardi Azra.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-5391472746831615013?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/5391472746831615013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/jaringan-ulama-nusantara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/5391472746831615013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/5391472746831615013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/jaringan-ulama-nusantara.html' title='Jaringan Ulama Nusantara'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-1858610925484459507</id><published>2010-02-27T08:40:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T08:41:18.072-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam Nusantara'/><title type='text'>Islam Nusantara</title><content type='html'>Mengukuhkan Jangkar Islam Nusantara&lt;br /&gt;Abd. Mun’im DZ&lt;br /&gt;Ada berbagai versi mengenai tahun datangnya Islam ke wilayah Nusantara, tetapi yang jelas ia datang setelah agama besar yang lain seperti Hindu, Budha datang. Tetapi Islam bisa memperluas pengaruhnya di kawasan ini dengan sangat luas dan mendalam dibanding dua agama sebelumnya. Hal itu selain karena Islam mengajarkan kesetaraan dan pembebasan, juga karena strategi penyebarannya. Islam disebarkan melalui perangkat budaya dan bahkan warisan agama lama yang masih ada, yang kemudian diislamisasi yang dalam ushul fiqihnya disebut dengan al-‘adah muhakkamah (adat yang ditetapkan sebagai hukum Islam) sebagaimana banyak dicontohkan sendiri oleh Nabi Muhammad Saw.&lt;br /&gt;Sebenarnya proses ini tidak bersifat sepihak dan satu arah, tetapi dua arah atau bahkan multi arah. Proses Islamisasi budaya Nusantara oleh para wali sejak dan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi Nusa Tenggara hingga Maluku, sebenarnya dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya tidak hanya ketemu, tetapi melebur menjadi entitas baru yang kemudian disebut dengan Islam Jawi atau Islam Nusantara. Dari situ lahir berbagai kitab, serat, seni dan sebagainya. Dalam pengertian itulah Islam Nusantara dipahami dan dijadikan istilah dalam gerakan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dewasa ini, sebagai pewaris Islam yang dibentuk oleh para wali dan para ulama besar yang datang sesudahnya.&lt;br /&gt;Pengukuhan identitas ini penting karena kelompok Islam Ahlus Sunnah bermazhab ini tidak banyak berkesempatan mencitrakan diri, sebaliknya selalu dicitrakan orang lain secara buruk dan semena-mena dan cenderung pejoratif seperti Islam tua, Islam kolot, Islam tradisional, Islam desa, Islam sinkretik dan sebagainya. Dengan penamaan Islam Nusantara ini mengembalikan Islam pada ciri awalnya yang positif, adaptif dan apresiatif terhadap masyarakat serta adat dan kebudayaannya, baru setelah itu diperkenalkan Islam sesuai dengan tarap berpikir dan kesiapan mental mereka.&lt;br /&gt;Sebagai suatu istilah, Islam Nusantara juga sangat memudahkan untuk didefinisikan, karena Istilah Nusantara itu selain bersifat jami’ (mencakup), juga mani (menegasi dan membedakan). Jami’ dalam arti bahwa Islam Nusantara ini meliputi kaum Muslimin yang ada di kawasan Asia Tenggara, baik di Indonesai, Thailand, Malaysia, Brunei, Kamboja, Laos, Vietnam dan Filipina. Sedang mani’ dalam arti bahwa Islam Nusantara berbeda dengan Islam Timur Tengah atau Islam Maghribi dan sebagainya. Mereka ini memiliki akidah, dan tradisi yang sama, karena memiliki jaringan intelektual yang sama, sehingga madzhabnya sama, kitab yang dibaca sama, dan seluruh ekpresi tadisinya juga menunjukkan banyak kesamaan.&lt;br /&gt;Eksistensi Islam Nusantara ini berangsur pudar ketika kolonialisme Inggris, Perancis, Spanyol, Portugis, dan Belanda memecah kawasan ini menjadi tanah jajahan mereka. Mereka tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi juga menjarah sumber-sumber kebudayaan. Bahkan setelah merdeka, masing-masing menjadi negeri sendiri, sehingga hubungan mereka tersekat oleh teritori, sementara jaringan mereka tetap utuh dan berjalan secara intensif, meski disekat secara administratif oleh negara bangsa. Sehingga menjadi jaringan antar negara.&lt;br /&gt;Tetapi tantangan yang lebih parah adalah hadirnya Islam radikal dan Timur Tengah dewasa ini yang merasuk ke pusat Islam Nusantara yang ada di kawasan ini. Tradisi kenusantaraan semakin pudar. Nuansa Timur Tengah yang dipaksakan, belum lagi upaya mereka membawa konflik Timur Tengah ke kawasan ini, sehingga memicu berbagai ketegangan bahkan konflik di kalangan pengikut Islam sendiri dan dengan penguasa setempat. Ini terjadi ketika Islam yang baru datang ini mengubah strategi para wali sehingga kehilangan kemampuan beradaptasi.&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah Islam Nusantara diperkenalkan kembali dengan merajut kembali jaringannya serta memperkukuh jangkarnya dalam budaya setempat, agar Islam kembali tampil sebagai sumber inspirasi dan motivator bagi perkembangan peradaban di kawasan. Tanpa pengukuhan karakter dasar ini Islam tidak akan bisa berbuat banyak menghadapi gelombang modernitas dan globalisasi yang tidak kenal kompromi. Dengan memperkuat jaringan dan memperteguh jangkar Islam Nusantara tidak akan larut dalam kehidupan yang serba pragmatif, permisif dan serba kompetitif. Bahkan diharapkan Islam Nusantara memberikan alternatif bagi proses perjuangan peradaban ini.&lt;br /&gt;Pembentukan Islam Nusantara&lt;br /&gt;Sebagaimana sering disingung dalam buku sejarah bahwa Islam datang ke Nusantara disiarkan oleh para saudagar dari Gujarat dan Kurdistan, bahkan dari Champa dan Cina, bukan langsung dan Arab. Kenyatan ini sering disalahtafsiri, dianggap Islam yang datang ke Nusantara tidak murni bahkan dekaden, karena tercemar oleh berbagai tradisi yang dilalui. Demikian pandangan menyesatkan dari para orientalis dan akademisi pada umumnya. Sebaliknya, dalam pandangan kelompok Ahlus Sunnah, Islam yang datang ke Nusantara melalui berbagai negara tersebut merupakan Islam yang sangat matang, Islam yang sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi berbagai budaya dan tradisi yang dilewati seperti tradisi Persia, India, Cina dan sebagainya, sehingga ketika masuk ke Nusantara mereka bisa menyusun strategi dakwah yang pas. Karena itu, nyaris tidak ada konflik dalam penyiaran agama, bahkan agama baru ini bisa diterima di berbagai pusat kekuasaan.&lt;br /&gt;Dalam penyiaran agama yang pertama kali perlu dikenali terlebih dulu adalah adat masyarakat setempat. Demikian menurut Syekh Abdurauf Sinkel (Syah Kuala) memberi nasehat kepada para santrinya. Hakim Agung pada masa Sultan Iskandar Muda (1607) itu memang ulama yang ahli dalam budaya. Tradisi itu kemudian dikembangkan oleh para muridnya antara lain Syekh Burhanuddin Ulakan dalam menyiarkan Islam di Minangkabau, dengan membiarkan tradisi berkembang walaupun tradisi mereka bertentanagan dengan syariat. Dengan dalih bahwa yang menjadi target hanya kelompok mudanya, dengan metode bermain. Dengan strategi itu, Islam Ahlus Sunnah yang bermadzhab Syafi’i ini berkembang pesat di ranah Pagaruyung itu. Berbeda dengan beberapa kawannya yang menolak nasehat gurunya akhirnya diusir warga dan gagal menyiarkan Islam.&lt;br /&gt;Bahkan jauh sebelumnya pada abad ke-15 ketika Sunan Bonang dan Sunan Derajat pergi hendak berguru ke Mekah, ia betemu dengan ayahnya Maulana Maghribi di Pasai, Aceh, setelah berguru di sana dan ilmunya dianggap cukup disarankan pulang untuk berguru di Jawa saja. Karena justeru mengenal tradisi lebih penting dalam menyiarkan Islam. Demikian juga di Kalimanatan, Syekh Arsyad Al-Banjari menyiarkan Islam dengan penuh bijaksana, demikian Syekh Abdus Shamad Al-Palimbangi di Sumatera Selatan atau Syekh Khatib Sambas di Kalimantan Barat. Strategi dan tradisi mereka relatif sama karena antar para ulama Ahlus Sunnah itu memiliki jaringan yang sama dan mereka bahu-membahu dalam mengembangkan ajarannya.&lt;br /&gt;Para wali di Jawa demikian juga berusaha memperkenalkan Islam melalui jalur tradisi, sehingga mereka perlu mempelajari Kekawian (sastra klasik) yang ada serta berbagai seni pertunjukan, dan dari situ lahir berbagai serat atau kitab. Wayang yang merupakan bagian ritual dan seremonial Agama Hindu yang politeis bisa diubah menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monoteis (tauhid). Ini sebuah kreativitas yang tiada tara, sehingga seluruh lapisan masyarakat sejak petani pedagang hingga bangsawan diislamkan melaui jalur ini. Mereka merasa aman dengan hadirnya Islam, karena Islam hadir tanpa mengancam tradisi, budaya, dan posisi mereka.&lt;br /&gt;Kita saksikan juga para wali dan ulama di Sulawesi dan di Maluku, mereka menulis berbagai gubahan syair, tidak hanya mengenai ajaran Islam, tetapi juga tentang tradisi. Berbagai naskah ditulis untuk mendekatkan masyarakat dengan Islam. Bahkan berbagal ajaran Islam diidentifikasi sebagai produk lokal, sehingga mereka tidak merasa asing. Setelah itu baru dperkenalkan dengan Islam yang sesungguhnya. Langkah strategis itu menunjukkan keberhasilan yang luar biasa, sehingga para pemeluk agama lama bersedia pindah ke Islam, karena Islam melindungi bahkan turut memajukan tradisi mereka.&lt;br /&gt;Tradisi ini bukan tanpa legitimasi dari pusat Islam di Mekah. Dalam kenyataannya para ulama Nusantara banyak belajar dan bahkan mukim di Tanah Suci. Mereka menjadi imam dan syekh yang sangat terhormat di Haramain, sehingga didatangi santri dari seluruh penjuru dunia. Namun demikian mereka tidak lupa mengemban tugas menjaga kelestarian Islam Nusantara. Setelah para santri belajar dengan berbagai ulama di sana, mereka menyepuhkan (mematangkan) ilmunya dengan para ulama Nusantara, sehingga ketika kembali ke nusantara tidak berbenturan dengan umat dan tradisi yang ada.&lt;br /&gt;Para alumni Mekah itu kemudian kembali membuat jaringan Islam Nusantara, mereka saling mengarang kitab dan saling mengajakan di pesantren masing-masing. Misalnya kitab karangan Syekh Burhanuddin Ar-Raniri dikembangkan oleh Syekh Arsyad Al-Banjari, yang kemudian kitab itu dicetak secara luas oleh Syekh Salim Al Fathani di Mekah, dan diajarkan pada muridnya di Patani, Brunei, Malaysia, dan Pilipina.&lt;br /&gt;Pemangku Islam Nusantara&lt;br /&gt;Tradisi keagamaan dan keilmuan Nusantara itu dikembangkan di pesantren yang ada di Nusantara. Melalui jaringan keulamaan dan kepesantrenan itulah tradisi Islam Nusantara dikembangkan. Langkah ini membuat seluruh masyarakat Nusantara menjadi pendukung tradisi Islam Ahlus Sunnah bermazhab empat. Kalangan ini tidak eksklusif dan pasif. Terbukti ketika Portugis, Belanda, dan Inggris datang menjajah kawasan ini dengan memaksakan sistem pendidikan Eropa dengan merongrong pendidikan lokal, maka kalangan ulama pesantren dengan tegas mempertahankan sistem pendidikan mereka sendiri. Pesantren bersikap non koperatif, menolak segala bentuk kerjasama dengan kolonial untuk melegitimasi penjajahannya. Dan pendidikan pesantren itulah jaringan keilmuan Nusantara berkembang semakin intensif, sehingga bisa mengatasi segala tekanan kolonial, bahkan akhirnya bisa menjadi basis perlawanan terhadap penjajahan.&lt;br /&gt;Untuk merespon bebagai perkembangan yang ada di masyarakat, baik karena berkembangnya tingkat pemikiran masyarakat, adanya pengaruh kuat dan kebangkitan nasional, maupun menghadapi tantangan kolonialisme, kalangan pemangku Islam Nusantara yang lekat dengan tradisi ini berkembang secara luas di kawasan Nusantara dan Indonesia khususnya, menghimpun diri dalam berbagai organisasi. Masyarakat Islam Sumatera Barat mendirikan Persatuan Tarbiyah; masyarakat Aceh, Sumatera Utara mendirikan Al-Washliyah; masyarakat Islam Jawa mendirikan Nahdlatul Ulama; masyarakat Sulawesi mendirikan Darud Dakwah wal Irsyad; masyarakat Nusa Tenggara mendirikan Nahdlatul Wathon; dan masyarakat Sulawesi-Maluku mendirikan Al-Khairat, dan masih banyak lagi. Mereka itulah pendukukung dan penyangga Islam Nusantara yang militan hingga saat ini. Konsolidasi ini penting terutama setelah kelompok Wahabi yang menguasasi Mekah tahun 1924-1925 mengusir mukimin Nusantara yang ada di Tanah suci. Kelompok ini tercerai-berai, sehingga mereka terpaksa sebagian kembali ke tanah air dan mengkonsolidasi dalam bentuk organisasi untuk mempertahankan paham keagamaan mereka.&lt;br /&gt;Dengan adanya organisasi yang solid dan tersebar secara luas dengan dukungan yang sangat kuat dari masyarakat, Islam Nusantara berkembang sangat pesat dan berhasil mengambangkan tradisinya hingga terus berkembang dan lestari hingga saat ini. Dengan adanya keislaman seperti ini, kehidupan di Nusantara tetap rukun dan damai. Karena itu mengukuhkan jangkar Islam Nusantara yang berupa pengembangan tradisi ini merupakan jangkar penting bagi terlaksananya kehidupan damai di kawasan ini.&lt;br /&gt;Islam Jenis ini tidak hanya membawa keamanan, tetapi turut memberikan kontribusi besar bagi tumbuhnya peradaban Nusantara. Bebagai seni arsitektur, seni sastra (filsafat), budaya, dan berbagai ekspresi kebudayaan yang lain. Ekspresi keislaman ini yang membedakan keislaman Nusantara dengan Islam di Timur Tengah dan Islam Maghribi pada umumnya.&lt;br /&gt;Perbedaan ini bukan untuk mengekslusi, tetapi untuk memperkaya ekspresi keislaman. Berbeda dengan Islam puritan dan kelompok Islam radikal yang menolak keanekaragaman ekspresi keagamaan, yang hanya menghendaki satu ekpresi yaitu ekspresi Timur Tengah bahkan hanya ekspresi Arab atau Afganistan saja. Apalagi tanpa disertai proses seleksi dan asimilasi, sehingga Islam tampil asing di tengah masyarakat Islam sendiri, sehingga mengalami ketegangan dengan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;Di sinilah Islam Nusantara sebagaimana dirintis dan dikembangkan para wali dan para ulama terdahulu, penting untuk dikukuhkan kembali agar Islam kembali menjadi agama yang dekat dan akrab dengan masyarakat Nusantara. Selain itu, sistem pendidikan pesantren yang merupakan sistem pendidikan khas Nusantara, merupakan sistem pendidikan paling penting dalam proses ini, dan ia merupakan salah satu jangkar Islam Nusantara. Dengan adanya pesantren, Islam Nusantara yang dimaksudkan itu ada dan bisa berkembang. Di pesantren itulah nilai-nilai kesusastraan diwariskan dan diajarkan. Hingga saat ini, hanya di pesantren salaf yang tetap mengajarkan berbagai kitab klasik dan melahirkan ulama. Ini sama sekali tidak bisa digantikan oleh pendidikan modern model sekolah.&lt;br /&gt;Karakter Dasar Islam Nusantara&lt;br /&gt;Islam Nusantara disebut sebagai suatu entitas karena memiliki karakter yang khas yang membedakan Islam di daerah lain, karena perbedaan sejarah dan perbedaan latar belakang geografis dan latar belakang budaya yang dipijaknya. Selain itu, Islam yang datang ke sini juga memiliki strategi dan kesiapan tersendiri antara lain: Pertama, Islam datang dengan mempertimbangkan tradisi, tradisi berseberangan apapun tidak dilawan tetapi mencoba diapresiai kemudian dijadikan sarana pengembangan Islam. Kedua, Islam datang tidak mengusik agama atau kepercayaan apapun, sehingga bisa hidup berdampingan dengan mereka. Ketiga, Islam datang mendinamisir tradisi yang sudah usang, sehingga Islam diterima sebagai tradisi dan diterima sebagai agama. Keempat, Islam menjadi agama yang mentradisi, sehingga orang tidak bisa meninggalkan Islam dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt;Dengan kenyataan ini maka bisa disaksikan agama Islam dipeluk oleh seluruh penjuru Nusantara, tidak hanya di kota, tetapi sampai ke pelosok desa bahkan ke daerah pedalaman paling dalam sekalipun yang susah dijangkau. Bagi yang memperoleh pengetahuan keagamaan memadai mereka menjadi Islam santri yang taat. Sementara bagi mereka yang kurang pemperoleh pengatahuan keagamaan, yang disebut dengan Islam abangan, mereka secara ritual tidak taat, tetapi mereka kukuh memegang tradisi, yang semuanya itu telah bernuansa Islami. Bagi kalangan Islam Nusantara, mereka ini telah dianggap sebagai Muslim, sementara kelompok Islam yang lain menganggap mereka sebagai orang belum muslim. Ketegangan Islam dengan kelompok abangan ini tercermin dalam ketegangan kelompok Islam dan nasionalis.&lt;br /&gt;Bagi kalangan Islam Nusantara, perbedaan itu tidak signifikan, sebab yang membedakan hanya tradisi, sementara secara akidah relatif sama. Karena itu, mereka diterima sebagai komunitas atau umat Islam yang sesungguhnya. Memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, maupun dalam berbangsa dan bernegara, tanpa sedikit pun mendiskriminasi, hanya karena beda tradisi keislamannya.&lt;br /&gt;Makna Keberadaan Islam Nusantara&lt;br /&gt;Hadirnya Islam Nusantara ini memiliki implikasi besar dan mendalam terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ditandai antara lain: pertama, dengan kuatnya hubungan agama dengan tradisi dan bumi yang dipijak (tanah air) maka sejak awal Islam ini gigih menolak kehadiran imperialisme atau penjajahan bangsa asing. Bahkan pesantren dijadikan basis perlawanan terhadap imperialisme: baik imperialisme politik maupun imperialisme kebudayaan berupa hedonisme dan konsumerisme.&lt;br /&gt;Kedua, sejak awal Islam Nusantara turut aktif dalam membela kemerdekaan, mendirikan negara termasuk ikut menyusun konstitusi yang bersifat nasional dan tetap berpijak pada agama dan tradisi, sehingga lahirlah Pancasila sebagai konsensus bersama menjelang bangsa ini merdeka. Ketiga, dengan kecintaaannya pada tradisi dan tanah air, Islam ini terbukti dalam sejarah bahwa Islam ini tidak pernah memberontak terhadap pemerintah yang absah, karena pemberontakan ini dianggap pengkhiatan terhadap negara yang telah dibangun bersama.&lt;br /&gt;Dengan kenyataan ini ada baiknya saat ini jaringan Islam Nusantara yang telah terbentuk selama beberapa abad itu diaktualisasikan kembali. Ini akan lebih kuat ketika seluruh organisiasi Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah yang memangku Islam Nusantara ini bersatu melakukan kerja sama. Ini bukan sebagai langkah mundur justru sebagai pijakan untuk maju ke depan. Semakin jauh rancangan kita ke depan dituntut untuk mencari pijakan yang kuat agar loncatan kita sampai pada arah yang dituju. Dengan memiliki akar dan legitimasi tradisi itu program yang kita rencanakan untuk membangun Islam yang toleran, dan apresiatif terhadap budaya lokal serta peduli terhadap nasib masyarakat setempat akan tercapai. Islam yang diperkenalkan bukan Islam yang mengancam, tetapi Islam yang memberikan pengharapan, memberikan perlindungan dan memberikan dorongan serta motivasi untuk kehidupan, baik dunia dan akhirat. Di situlah peran para rohaniawan para ulama itu sangat dibutuhkan agar kehidupan yang dibangun Iebih berisi dan Iebih bermakna. []&lt;br /&gt;Abdul Mun’im DZ&lt;br /&gt;Ketua LajnahTa’lif wan Nasyr (LTN)NU dan Direktur NU Online.&lt;br /&gt;Ia juga Redaktur Jurnal Tashwirul Afkar&lt;br /&gt;http://www.lakpesdam.or.id/publikasi/308/mengukuhkan-jangkar-islam-nusantara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-1858610925484459507?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/1858610925484459507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/islam-nusantara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1858610925484459507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/1858610925484459507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/islam-nusantara.html' title='Islam Nusantara'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-7361905349935228515</id><published>2010-02-27T08:37:00.001-08:00</published><updated>2010-02-27T08:38:42.306-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='herman A Ma&apos;ruf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesultanan majapahit.TOJ'/><title type='text'>Kesultanan Majapahit 3</title><content type='html'>KESULTANAN MAJAPAHIT 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI CANDRA SENGKALA&lt;br /&gt;“ILANG SIRNA KERTANING BHUMI”  (1478) HINGGA&lt;br /&gt;ARMADA SABILILLAH DEMAK&lt;br /&gt;(1521)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1466-74&lt;br /&gt;Bhre Pandan Salas/ Singha Wikrama Wardhana memerintah Majapahit Barat di Bhreng Daha&lt;br /&gt;selama 8 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Pandan Salas bergelar Prabu Singha Wikrama Wardhana. Putranya bernama Rana Wijaya dipersiapkan menggantikan tahtanya. Beliau memerintah Majapahit Barat berpusat di Bhreng Daha (Kediri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1466M/ 1388 Saka&lt;br /&gt;(Dwi Naga Salira Wani)&lt;br /&gt;Masjid Demak Bintara Mulai Dibangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Panglima Demak Bintara pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan, memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/ Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.&lt;br /&gt;2.    Candra sengkala ini terdapat di pintu utama masjid Demak. Angka tahun ini besar kemungkinan menunjukkan tahun awal pendirian masjid Demak.&lt;br /&gt;3.    Kyai Ageng Sela pada awal pembangunan masjid Demak “memegang” petir di halaman Masjid Demak. Beliau melakukan hal itu di hadapan wali-wali lainnya. Peristiwa ini kemudian abadikan sebagai ornamen pintu utama masjid. Peristiwa ini merupakan pertanda mulai dibangunnya Demak Bintara.&lt;br /&gt;4.    Kyahi Ageng Sela  bernama Sayyid Abdurrahman adalah putra Kyahi Ageng Sayyid Getas Pendawa (Kyahi Ageng Tarub III),  cucu dari Kyahi Ageng Tarub II (Kyahi Ageng Sayyid Bondhan Kejawan) + Dewi Nawangsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi Maneges&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi manages. Beliau berkelana dan berguru kepada Sunan Ngampel di Ngampel Denta , Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi Menjadi Adik Ipar Sunan Ngampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ngampel Denta Bhre Kertabhumi dinikahkan dengan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Gusti Ayu Andarawati Al Akbar adalah adik Sunan Ngampel atau R. Rakhmat Al Akbar. Beliau berdua adalah putra-putri Syekh Ibrahim Al Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja). Jadi silsilah beliau berdua adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Rakhmat Al Akbar dan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar bin/binti Syekh Ibrahim Al Akbar (Campa) bin Syekh Maulana Al Akbar (Gujarat, India).&lt;br /&gt;Nama-nama Al Akbar-As Shaghir, Al Kubro-As Sughro, adalah nama-nama khas keturunan Imam Besar Ali bin Abithalib. Beliau adalah Amirul Mukminin, Khalifah Umat Islam seluruh dunia bertahta di Kuffah tahun 656-661M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1468-78&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi (Bhrawijaya V) menobatkan diri sebagai raja Majapahit Timur di Tumapel&lt;br /&gt;selama 10 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertabumi menjadi raja Majapahit Timur dan berpusat di Kota Tumapel, bekas ibukota Majapahit Timur (di masa Wikrama Wardhana). Ia adalah putra Bhre Pamotan/ Rajasa Wardhana, sebelum masa vakum pemerintahan Majapahit. Bhre Wirabhumi bergelar Sultan Bhrawijaya V. Beliau adalah cikal bakal raja-raja di Jawa. Memiliki banyak istri dan 117 anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1474-1519&lt;br /&gt;Rana Wijaya/ Girindra Wardhana memerintah Majapahit Barat di Breng Daha selama 45 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Sunan Giri Sepuh/ Prapen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1478M/ 1400 Saka:&lt;br /&gt;Prapanca’s Ilang Sirna Kertaning Bhumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu Prapanca memperkirakan akan datangnya sebuah era keruntuhan Islam di seluruh dunia. Sesanti beliau berbunyi ilang sirna kertaning bhumi yang juga sebagai candra sengkala (penanda tahun oleh para pujangga jaman dahulu) sebagai 1400 tahun saka atau 1478 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1478: Sultan Girindrawardhana Menyatukan Kembali Majapahit Barat-Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1478, Sultan Girindrawardhana mempersatukan kembali Majapahit. Bhre Kertabhumi menyerahkan tahta Tumapel. Majapahit bersatu kembali dan diperintah Girindra Wardhana selama 41 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) Berkelana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengundurkan diri dari tahta Majapahit Timur di Tumapel, Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) melarikan diri/ berkelana ke Barat. Beliau lalu mempersiapkan berdirinya Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara. Hal ini dilakukan demi menghalau masuknya Portugis ke Selat Malaka. Sebagaimana diramalkan oleh Ulama Besar Majapahit Mpu Prapanca.&lt;br /&gt;Beliau mempersiapkan semua ini bersama-sama para wali tanah Jawa. Di samping itu juga melibatkan putra-putra beliau, antara lain:&lt;br /&gt;1.    R. Fatah Al Akbar/ P. Jimbun/ Sayyid R. Bagus Kusen dari Ibunda Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Beliau adalah putra Sultan Bhrawijaya V yang kelak terpilih menjadi Panglima Perang Armada Sabilillah Lautan Majapahit. Gelarnya Syah Alam Akbar I.&lt;br /&gt;2.    R. Harya Katong/ Bethara Katong/ P. Lembu Kanigara/ R. Joko Piturun (Dari istri Nyahi Ageng Bagelen, dimakamkan di Bagelen, Purworejo). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Ponorogo. Ulamanya Kyahi Ageng Mirah/ Kyahi Ageng Muslim putra bin Kyahi Ageng Gribig , Jatinom (Klaten). Mereka dimakamkan di Ponorogo.&lt;br /&gt;3.    R. Harya Gugur / P. Lembu Kenanga/ R. Kudha Penoleh (juga dari istri Nyahi Ageng Bagelen ). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Pamekasan, Madura.&lt;br /&gt;4.    Kangjeng Ratu Pembayun, istri Kyahi Ageng Wuking I/ Sri Hamengkurung Handayaningrat yang menjabat sebagai Adipati Majapahit di Pengging . Makam beliau berada di Masaran, Butuh, Sragen.&lt;br /&gt;5.    Pangeran Bondhan Kejawan/ R. Lembu Peteng/ Kyahi Ageng Tarub III. Makam beliau di Sela, Purwadadi.&lt;br /&gt;6.    Pangeran Bondhan Surati, seperti kakaknya juga menjadi Kyahi Ageng Bondhan Surati. Makam beliau berada di wilayah Sada, Paliyan, Gunung Kidul.&lt;br /&gt;7.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1479M/1401 Saka: Candra Sengkala Penyu (Kura-kura) di Masjid Demak, berdirinya Masjid Demak Bintara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Candra sengkala penyu di dinding pengimaman Masjid Demak ini menunjukkan tahun berdirinya masjid Demak Bintara. Kepala berarti angka 1, kakinya berjumlah empat berarti angka 4, badan penyu berarti angka 0, dan ekor penyu berarti angka 1. Jadi keseluruhan simbol tersebut berarti angka tahun 1401 Saka atau 1479 masehi.&lt;br /&gt;2.    Masjid Demak Bintara didirikan oleh Wali Sanga. Teras masjid Demak ini merupakan pusaka dari Majapahit sebagai tanda restu dan legalitas Majapahit atas berdirinya Kerajaan Demak Bintara. Pusaka Majapahit tersebut berupa saka pendapa Majapahit Timur di Tumapel, yang diantarkan langsung oleh Prabu Brawijaya V dan putra beliau Pangeran Bondan Kejawan dan Pengeran Bondan Surati.&lt;br /&gt;3.    Pangeran Bondan Kejawan ini mengundurkan diri sebagai penerus Brawijaya V, ia memilih hidup sebagai ulama-kyai bernama Kyahi Ageng Tarub III .&lt;br /&gt;4.    Pangeran Bondan Surati juga menjadi Ulama-Kyahi diwilayah selatan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1480(?): Adipati Yunus Lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Yunus lahir. Beliau adalah putra R. Muhammad Yunus (Wong Agung Jepara, adipati MAjapahit di Jepara) + putri Pembesar Majapahit. Nama beliau sesungguhnya adalah R. Abdul Qadir Al Idrus. Silsilahnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;R. Abdul Qadir Al Idrus bin R. Muhammad Yunus Al Idrus bin Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam.&lt;br /&gt;Ayah Pati Unus adalah R. Muhammad Yunus Al Idrus seorang Bupati Majapahit di Jepara. Beliau bergelar Wong Agung Jepara. &lt;br /&gt;Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam, leluhur Pati Unus adalah seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husayn (Qaddasallohu Sirruhu)  putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra.&lt;br /&gt;1481: Syah Alam AkbarI Dinobatkan&lt;br /&gt;Senapati Sarjawala di Demak Bintara yang pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan. Beliau memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/ Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.&lt;br /&gt;A. Ong Tien (Putri Ming Hong Ki) datang ke Cirebon&lt;br /&gt;Putri Kaisar Ming Hong Ki yakni putri Ong Tien datang ke Cirebon. Beliau dikirimkan ayahandanya untuk bergabung dengan Sunan Gunung Jati. Putri Ong Tien akhirnya menjadi istri Sunan Gunung Jati. Pernikahn inisekaligus menjadi lambang dukungan Kaisar Ming terhadap Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala.&lt;br /&gt;Sebagai cenderamata kepada S. Gunung Jati, Kaisar Ming menghadiahkan nama China untuk beliau yakni Tan Beng Hoat. Di samping itu beliau dihadiahi sepasang dipan yang terbuat dari batu Giok.&lt;br /&gt;Sunan Gunung Jati ketika itu berusia 40 tahun. Istri beliau yang keturunan raja Sunda baru saja wafat. Beliau bernama Nyahi Ageng Pakungwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sunan Gunung Jati dinobatkan Menjadi Imam Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    S. Gunung Jati  dinobatkan menjadi Imam di Nuswantara. Beliau bergelar: Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala. Hal ini dilakukan Orang muslim Nuswantara untuk mengantisipasi runtuhnya wewenang Islam di Eropa dan Timur Tengah. Upacara ini dilakukan di Masjid Cipta Rasa, Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1486: Putri Ong Tien Wafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala, yakni Gusti Ayu Ong Tien, wafat. Beliau baru 5 tahun mendampingi sang Khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Maret 1492&lt;br /&gt;Runtuhnya Granada di Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara perlahan-lahan seluruh wilayah daulat Islamiyah di Spanyol -yang sebelumnya dikuasai Dinasti Ummayah- menyerahkan diri kepada Ratu Isabella (Spanyol) dan Raja Ferdinand (Portugis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 April 1492&lt;br /&gt;Dekrit Alhambra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“April Mop”, Jum'at Wage, 1 April 1492M, 23 Jumadilawal 1409, tahun Wawu, Windu Kuntara, 23 Jumadilawal 897H adalah hari diberlakukannya Dekrit Alhambra. Dekrit Alhambra yang ditandatangani oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, diberlakukan. Masjid Alhambra yang terbesar kedua di dunia, kemudian berubah fungsi menjadi gereja Katolik Kerajaan Spanyol.&lt;br /&gt;Dengan berlakunya dekrit ini, seluruh dunia muslim (Islamistand) dianggap telah menjadi hak milik Spanyol dan Portugis. Islamistand dibagi menjadi dua wilayah, yakni Hindia Timur (Oost Indische) atau Nuswantara dan Hindia Barat (West Indische) atau benua Amerika sekarang.&lt;br /&gt;Hal ini merupakan suatu pernyataan dari kaum Kolonial bahwa seluruh Islamistan secara legal-formal telah menjadi milik Spanyol dan Portugis. Raja Ferdinand segera menyiapkan Armada besar untuk menguasai Oost Indische/ Hindia Timur/ Nuswantara. Mereka menyandarkan hak mereka atas wilayah tersebut kepada Dekrit Alhambra ini.&lt;br /&gt;Denikian halnya dengan Spanyol, mereka menyiapkan Armada yang dipimpin Christopher Colombus ke West Indische (Amerika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekrit Alhambra&lt;br /&gt;“The Kings Ferdinand and Isabella, by the grace of God, King and Queen of Castile, Leon, Aragon and other dominions of the crown - to the prince Juan, to dukes, marquees, counts, the holy orders, priors, knight commanders, lords of the castles, cavaliers, and to all Jews, men and women of whatever age, and to anyone else this letter may concern - that health and grace be unto them. It is well known that in our dominion, there are certain bad Christians that became 'Judaized' and committed apostasy against our Holy Catholic faith, much of it the cause of interactions between Jews and Christians. Therefore, in the year 1480, we ordered that the Jews be separated from the cities and towns in our domains and that they be given separate sectors, hoping that with such separation the situation would be remedied, and we ordered that the Inquisition be established in such domains; and at the end of twelve years it has worked and the Inquisition has found many guilty persons. Furthermore we are informed by the Inquisition and others of the great harm that persists to the Christians as they interact with the Jews, and in turn these Jews try by all manners to subvert our Holy Catholic faith and are trying to prevent faithful Christians to grow close to their beliefs.&lt;br /&gt;These Jews have instructed these Christians in the ceremonies and observances of their laws, circumcising their children, and giving them books with which to pray, and declaring unto them the days of fasting, and meeting with them to teach them the histories of their laws, notifying them when to expect the celebration of Passover and how to observe it, giving them the unleavened bread and ceremonially prepared meats, and instructing them in things from which they must abstain, both with regard to food items and other things requiring observance of the laws of Moses, making them fully understand that there is no other law or truth outside of this. And this is made clear based on the confessions from such Jews as well as those perverted by them that it has resulted in great damage and detriment of our Holy Catholic faith.&lt;br /&gt;And since we knew the true remedy of such damages and difficulties lay in the interfering of all communications between the said Jews and the Christians and sending them forth from all our dominions, we sought to content ourselves with ordering the said Jews from all the cities and villages and places of Andalusia where it appeared that they had done the most damage, and believing that this would suffice so that those and other cities and villages and places in our reigns and holdings would be effective and would cease to commit the aforesaid. And because we have been informed that neither this, neither is the case nor the justices done for some of the said Jews found very culpable in the said crimes and transgressions against our Holy Catholic faith have been a complete remedy to obviate and to correct such opprobrium and offense. And to the Christian faith and religion it appears every day that the said Jews increase in continuing their evil and harmful purposes wherever they reside and converse; and because there is no place left whereby to more offend our holy faith, as much as those which God has protected to this day as in those already affected, it is left for this Holy Mother Church to mend and reduce the matter to its previous state, due to the frailty of the human being, it could occur that we could succumb to the diabolical temptation that continually combats us, therefore, if this be the principal cause, the said Jews if not converted must be expelled from the kingdom.&lt;br /&gt;Because when a grave and detestable crime is committed by some members of a given group it is reasonable that the group be dissolved or annihilated, and the minors by the majors will be punished one by the other; and those who permit the good and honest in the cities and the villages, and by their contact may harm others, must be expelled from the group of peoples, and despite minor reasons, will be harmful to the Republic, and all the more so for the majority of these crimes, would be dangerous and contagious. Therefore, the Council of eminent men and cavaliers of our reign and of other persons of knowledge and conscience of our Supreme Council, and after much deliberation, it is agreed and resolved that all Jews and Jewesses be ordered to leave our kingdoms and that they not be allowed to ever return.&lt;br /&gt;We further order in this edict that all Jews and Jewesses of whatever age that reside in our domain and territories leave with their sons and daughters, servants and relatives large or small, of all ages, by the end of July of this year, and that they dare not return to our lands and that they do not take a step across, such that if any Jew who does not accept this edict is found in our kingdom and domains or returns will be sentenced to death and confiscation of all their belongings.&lt;br /&gt;We further order that no person in our kingdom, notwithstanding social status, including nobles, that hide or keep or defend any Jew or Jewess, be it publicly or secretly, from the end of July and following months, in their homes or elsewhere in our reign, risking as punishment loss of all their fiefs and fortresses, privileges and hereditary rights.&lt;br /&gt;So be it that the Jews may dispose of their households and belongings in the given time period, for the present we provide our compromise of protection and security so that by the end of the month of July they may sell and exchange their belongings and furniture and any other item, and dispose of them freely per their assessment, that during said time no one is to do them harm or injury or injustice to their persons or to their goods, which would be unjustified, and those who would transgress this shall incur the punishment that befalls those who violate our royal security. We grant and give permission to the above mentioned Jews and Jewesses to take with them and out of our reigns their goods and belongings, by sea or by land, excepting gold and silver or minted money or any other item prohibited by the laws of the kingdom. Therefore, we order all councils, magistrates, cavaliers, shield-bearers, officials, good men of the city of Burgos and of other cities and villages of our kingdom and dominions, and all our vassals and subjects, that they observe and comply with this letter and all that is contained in it, and that they give all the type of help and favor necessary for its execution, subject to punishment by our sovereign grace and by confiscation of all their goods and offices for our royal house. And so that this may come to the notice of all, and that no one may pretend ignorance, we order that this edict be proclaimed in all the plazas and meeting places of all cities and in the major cities and villages of the diocese, that it be done by the town crier in the presence of the public scribe, and that no one nor anybody do the contrary of what has been defined, subject to the punishment by our sovereign grace and annulation of their offices and confiscation of their goods to whosoever does the contrary. And we order that it be evidenced and proven to the court with signed testimony specifying the manner in which the edict has been carried out.&lt;br /&gt;Given in this city of Granada the thirty first day of March in the year of our Lord Jesus Christ 1492. Signed, I, the King, I the Queen, and Juan de Coloma, Secretary of the King and Queen who has written it by order of our Majesties.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1493&lt;br /&gt;Perjanjian Caetera&lt;br /&gt;Antara Potugis dan Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1494&lt;br /&gt;Perjanjian Tor de Silas&lt;br /&gt;Antara Portugis dan Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1500: R. Abdul Qadir Al Akbar Al Idrus (Adipati Yunus) Menikah dengan Gusti Ayu binti Al Fatah Al Akbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 20 tahun, Adipati Yunus menikah dengan Gusti Ayu putri binti P. Fatah Al Akbar. P. Fatah juga memiliki darah Champa/ China dari ibunya Ratu Ayu Andarawati istri Brawijaya V dan Arya Damar (sebagai garwa triman). Dari pernikahan ini mendapat dua orang putra gagah berani. Yang pertama sebut saja Cucu R. Fatah (belum diperoleh keterangan) dan yang kedua dikenal sebagai Sayyid R. Abdullah Al Idrus.&lt;br /&gt;    Setelah pernikahan ini beliau diangkat menjadi Adipati Majapahit di Jepara (meneruskan ayahnya: R. Muhammad Yunus, Wong Agung Jepara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1506&lt;br /&gt;Pelayaran I Christophorus Colombus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Christophorus Colombus mantan terpidana mati di Spanyol ditugaskan Ratu Isabela untuk berlayar melintasi lautan Pasifik menuju ke daratan Amerika, atau disebut juga sebagai Hindia Barat. Amerika kemudian menjadi tempat pembuangan bagi para narapidana dari Spanyol.&lt;br /&gt;2.    Perjanjian Tor de Silas&lt;br /&gt;3.    Pelayaran Vasco de Gama&lt;br /&gt;4.    Pelayaran Alburqurque&lt;br /&gt;5.    Pelayaran Magelhans&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1509&lt;br /&gt;Benteng Mataram Islam Kotagedhe berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Benteng Mataram Kotagedhe didirikan ketika Demak Bintara baru 36 tahun berdiri. Pemrakarsanya Kyai Ageng Sela (Sayyid Abdurrahman) dan putranya Kyai Ageng Anis/ Henis/ Ngenis dari Grobogan, Boyolali. Kyai Ageng Henis dimakamkan di Makam Pajang Laweyan, belakang Masjid peninggalan Pajang di Laweyan, Solo. Sedangkan makam Nyai Ageng Henis dimakamkan di tengah langgar/ mushala pusaka Kerajaan Islam Mataram Kotagedhe.&lt;br /&gt;2.    Di lingkungan Benteng Mataram Kotagede sudah tinggal keluarga Pangeran Jayaprana (keturunan Majapahit) dan keluarga Kyai Ageng Mangir.&lt;br /&gt;3.    Peristiwa dan situs ini menjadi penanda bagi sistem petanda bahwa Kerajaan Islam Mataram telah dipersiapkan 77 tahun sebelumnya oleh para raja, wali, ulama, dan kyai di tanah Jawa.&lt;br /&gt;4.    Hal ini terjadi karena para leluhur tanah Jawa telah mempersiapkan sebuah benteng pertahanan Islam di pesisir selatan pulau Jawa.&lt;br /&gt;5.    Panembahan Senapati kelak dinobatkan menjadi Panglima Perang di area pertahanan ini tahun 1586M (77 tahun kemudian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1510-47&lt;br /&gt;Sultan Daeng Matanre&lt;br /&gt;bertahta di Gowa-Tallo, Sulawesi Selatan&lt;br /&gt;selama 37 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Daeng Matanre menyatukan seluruh kekuatan di Sulawesi Selatan menjadi satu kekuatan Gowa-Tallo . Peristiwa ini menjadi penting terkait dengan dukungan ahli-ahli pembuat kapal kayu dalam mempersiapkan 375 unit kapal untuk Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1511: Malaka Jatuh ke Tangan Portugis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Kerajaan Malaka penjaga selat Malaka, dikuasai Portugis. Selat malaka adalah pintu masuk pintu masuk Armada Kolonial ke Nuswantara.&lt;br /&gt;2.    Adipati Yunus Al Idrus dinikahkan dengan Putri Ayu binti Sunan Gunung Jati Al Athas. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang putra gagah berani yang gugur syahid di medan perang Malaka.&lt;br /&gt;3.    Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah Al Athas juga keturunan China dari Dinasti Ming Islam, sehingga memiliki nama China sebagai Tan Eng Hoat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Secara probabilistik di Nuswantara Majapahit terbentuk wajah-wajah kombinasi Parsi-China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Yunus Diangkat Menjadi Senapati Sarjawala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah Al Athas sebagai sesepuh para waliyullah mengangkat Adipati Yunus sebagai Senapati Sarjawala. Beliau menjadi Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Majapahit. Armada ini merupakan gabungan dari Demak-Banten-Cirebon. Markas besarnya adalah di Pelabuhan Armada Laut Majapahit Demak Bintara.&lt;br /&gt;1512: P. Pandanaran Hijrah ke Selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Pangeran Adipati Majapahit di Pandanarang I, hijrah dari pesisir utara (Semarang) ke pesisir selatan (Tembayat, Klaten). Di Tembayat beliau bergelar Sunan Tembayat/ Sunan Pandanarang/ Risang Guru Hyang Wisnumurti.&lt;br /&gt;2.    Beliau hijrah bersama istrinya dan dikawal oleh Syeh Dumba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1512: Kerajaan Samudra Pasai Jatuh ke Tangan Portugis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penjaga selat Malaka yakni Kerajaan Samudra Pasai jatuh ke tangan Portugis. Putra Mahkota kerajaan bernama Tubagus Pasai/ Fatahillah/ Faletehan/ Faltehan melarikan diri ke Demak dan bergabung dengan Armada Laut Sabilillah. Kelak beliau ini menggantikan posisi Adipati Yunus.&lt;br /&gt;Jatuhnya Malaka dan Pasai ke Portugis merupakan ancaman bagi keindahandan ketentraman hidup di Nuswantara yang muslim sejak dahulu kala. Apalagi Portugis membawa Naskah Alhambra (1492), Caetera (1493), dan Tor de Sillas (1494). Ini berarti awal dari sebuah penguasaan atas seluruh tanah Hindia Timur atau Nuswantara oleh Armada Kolonial/ Portugis.&lt;br /&gt;Dengan demikian ramalan Prapanca terbukti. Bahwa Nuswantara yang tata titi tentrem kerta raharja dan gemah ripah loh jinawi akan segera sirna. Akan segera berganti dengan jaman Kalabendu, yakni jaman penguasaan Armada Kolonial di seluruh dunia muslim. Ilang sirna kertaning bhumi.&lt;br /&gt;Maka untuk menghalau mahapralaya ini tidak ada kemungkinan lain kecuali melawannya dengan perang suci, perang sabilillah. Para wali di tanah Jawa dan seluruh Nuswantara kemudian bersatu dan seia sekata untuk maju kemedan laga. Sesepuh untuk peperangan sabilillah Nuswantara ini adalah Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah/ Sayyid R. Tan Eng Hoat. Seorang ulama keturunan Parsi-China dan berdarah keturunan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomi Pires (mata-mata Portugis) masuk ke Tuban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelana dan mata-mata Portugis bernama Tomi Pires datang keTuban. Ia datang satu abad setelah Gan Eng Cu menulis tentang kekagumannya di Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1513: Ekspedisi Pengintaian Dikirim ke Malaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Gunung Jati mengirim sepasukan pengintai yang bertugas menembus Benteng Portugis di Malaka. Pasukan ini kembali ke Demak Bintara dan melaporkan betapa dahsyatnya persiapan dan kesiapan Armada Laut Kolonial Portugis. Tak ada jalan lain bagi Armada Laut Majapahit Nuswantara, selain melakukan persiapan secepatnya secara besar-besaran.&lt;br /&gt;    Armada Majapahit Nuswantara segera menghubungi saudaranya yang berada di Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka adalah para “sayyid Bugis” jago-jago maritim yang terkenal ke seluruh dunia. Mereka menguasai area maritime yang sangat luas dari Formosa/ Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Maluku hingga ke Australia. Para sayyid Bugis ini dikenal sebagai Penguasa Lautan di Benua Timur.&lt;br /&gt;    Dengan bantuan dari sesama “sayyid”/ keturunan Rasulullah SAW di Gowa, maka Armada Sabilillah Laut Majapahit membangun 375 buah kapal dengan ukuran besar.&lt;br /&gt;    Di samping itu di daratan, terjadi persiapan dan penataan para wali, ulama, dan kyahi demi menghadapi kemungkinan terburuk dari mahapralaya ini. Bala bencana akan segera datang sebagai air bah dan badai yang dahsyat. Tak mungkin melawannya dan takmungkin membendungnya, seakan sudah menjadi ketetapan Ilahi. Maka yang bisa dilakukan kaum muslimin hanya memohon pertolongan Allah SWT belaka.&lt;br /&gt;    Sejak saat itu maka seluruh Nuswantara/ Majapahit hanya memiliki satu tekad yakni melaksanakan perang suci, sabilillah. Tak ada jalan lain. Kolonialisme adalah sebuah takdir yang harus diterima kaum Muslimin dunia, termasuk yang hadup di Nuswantara/ Majapahit. Sudah 1000 tahun sejak Rasulullah SAW masih hidup, kaum muslimin menjadi Tuan bagi ummat manusia, sayyidul ummah. Di atas hamparan geografis yang maha luas, meliputi seluruh dunia. Dan melaksanakan perang suci, sabilillah menjadi satu-satunya kewajiban dan pilihan yang bisa dilakukan kaum muslimin saat itu. Hanya dengan ini saja cara kaum muslimin bertahan.&lt;br /&gt;    Maka sejak Kyahi Ageng Prapanca menyatakan sabdanya ilang sirna kertaning bhumi, menandakan akan terjadinya sebuah perubahan. Perubahan besar pada jaman dan dunia tempat manusia menggantungkan hidupnya. Tak mungkin manusia menghindari. Sunan Kalijaga berpesan dalam hal ini, manuta mili playuning banyu, nanging ywa kongsi keli. Ikutilah arus perubahan jaman itu, namun jangan sampai hanyut. Sebuah pilihan yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1513: Sultan Daeng Matanre Membangun Kapal-kapal Armada Sabilillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli teknologi maritim dari Gowa-Tallo sejak 1513 mulai membuat kapal-kapal laut untuk Armada Laut Sabilillah Nuswantara/ Majapahit. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara benar-benar sebuah Armada Kesatuan seluruh Nuswantara.  Bukan hanya Demak-Banten-Cirebon (di P. Jawa) yang bersatu, namun juga Gowa-Tallo berikut seluruh sekutunya di seluruh Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Australia.&lt;br /&gt;Sementara yang bela adalah Kekuatan Islam di Sumatera Utara. Terutama Kerajaan Malaka dan Pasai sebagai penjaga arus masuknya kapal layar ke Nuswantara dari Selat Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1521: Perang Sabilillah Melawan Kumpeni Portugis di Selat Malaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demak Bintara: Syah Alam Al Akbar II/ Adipati Unus/ P. Sabrang Lor/ Senapati Sarjawala  menghadang Portugis di Selat Malaka. Peristiwa ini disebut sebagai ekspedisi Sabrang Lor, terjadi peperangan selama 3 hari 3 malam. Armada Kolonial Kumpeni Portugis saat itu sudah menguasai Malaka dan Pasai.&lt;br /&gt;Penguasaan Portugis terhadap wilayah raja Malaka dan Pasai merupakan langkah awal bagi mereka dalam melaksanakan 3 Naskah (Dekrit Alhambra, Caetera, dan Tor de Sillas) di perairan Nuswantara.&lt;br /&gt;Meskipun tidak diakhiri dengan perjanjian dengan Pihak Portugis di Selat Malaka, namun Perang Besar Sabilillah di Selat Malaka ini menjelaskan mengapa Kumpeni Portugis kemudian mengarahkan ekspedisinya ke Indonesia Timur seperti Manado, Ambon, dan Maluku. Kumpeni Portugis mengurungkan niatnya memasuki Jawa.&lt;br /&gt;Para syuhada yang gugur syahid pada Sabilillah ini adalah Adipati Yunus sendiri, berikut dua orang putra beliau. Satu cucu dari R. Fatah dan satunya lagi cucu dari Sunan Gunung Jati. Panglima sementara dipegang oleh R. Hidayat sampai seluruh Armada Sabilillah Majapahit kembali ke Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Demak Bintara: Syah Alam III (Raden Trenggana) menghadang Portugis di Selat Malaka, bersama-sama dengan Cirebon dan Banten. Mobilisasi ini sekaligus mengakhiri kepemimpinan Demak Bintara, karena penerus Trenggana (Sunan Prawata) memilih menjadi ulama-kyahi dari pada menjadi putra mahkota Demak.&lt;br /&gt;2.    Putra Trenggana (Raden Prawata) mengundurkan diri sebagai calon pengganti Sultan Syah Alam III. Beliau menjadi ulama-kyai bergelar Batara Guru/ Sunan Prawata. Sunan Prawata beristrikan Ratu Kalinyamat.&lt;br /&gt;3.    Sunan Prawata tewas dibunuh Arya Penangsang. Istrinya (Ratu Kalinyamat) didampingi 2 orang saudarinya (sebut saja Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2) melakukan munajat/ bertapa, menuntut balas kematian Sunan Prawata.&lt;br /&gt;4.    Ratu Kalinyamat bertemu Danang Sutawijaya (kelak menjadi Panembahan Senapati). DS berjanji akan menuntutkan balas kepada Arya Penangsang.&lt;br /&gt;5.    Arya Penangsang mengundurkan diri dari menghendaki tahta Demak dan Pajang dan wafat sebagai kyai bergelar Seda Lepen. Makamnya terdapat di Kadilangu dan Kaliwungu.&lt;br /&gt;6.    Sebagai rasa terima kasih, Ratu Kalinyamat mengawinkan DS dengan Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2. Dari perkawinannya dengan mereka, DS dikaruniai seorang putera yang kelak sangat sakti mandraguna bernama Raden Rangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Terjadi eksodus para sunan, wali, dan kyahi dari pesisir utara ke pesisir selatan. Peristiwa ini menunjukkan terjadinya perpindahan pusat pemerintahan dalam menghadapi kolonialisme dari Demak ke Mataram. Kerajaan Pajang sebagai pengantara saja.&lt;br /&gt;2.    Sultan Hadiwijaya (Raja Pajang) mempersiapkan berdirinya Mataram dengan menugaskan Tiga Serangkai: Kyai Ageng Pemanahan, Panembahan Senapati, dan Kyai JuruMartani.&lt;br /&gt;3.    Sultan Hadiwijaya bertahta di Pajang didampingi penasihat Kyai Ageng Singaprana II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1515&lt;br /&gt;Belanda menjadi Negara Bagian (Jajahan) Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Belanda menjadi jajahan Kerajaan Spanyol di bawah duli Ratu Isabela. Kerajaan Spanyol waktu itu baru 19 tahun menguasai Andalusia. Dalam masa ini maskapai dagang orang-orang Belanda ikut meramaikan wilayah jajahan Spanyol termasuk Nuswantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1518: R. Fatah Al Akbar/ P. Jin Bun Wafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Laut Pertama, yakni Raden Fatah/ Pangeran Jin Bun/ Raden Bagus Kasan, bergelar Syah Alam Al Akbar I, wafat. Sunan Gunung Jati dan Armada Sabilillah harus memilih pemimpin baru. Mereka harus mengangkat kembali seseorang yang telah dipersiapkan Allah SWT untuk memimpin Armada Sabilillah Laut Majapahit ini. Seseorang yang akan  memagku amanat dan bergelar Syah Alam Al Akbar II (tsaniy).&lt;br /&gt;Sebelum wafat, R. Bagus Kasan berwasiat  supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Adipati Demak Bintara berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Sayyid R. Abdul Qadir bin Yunus Al Akbar Al Idrus, Adipati Majapahit di Jepara. Beliau menjadi Syah Alam Al Akbar II atau AtsTsaniy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1519-21: Rana Wijaya/ Prabu Girindra Wardhana Raja Majapahit wafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1537: Sunan Pandanarang wafat di Tembayat, Wedi, Klaten&lt;br /&gt;1.    Sunan Pandanaran/ Sunan Tembayat (ketika masih di Semarang bernama Pangeran Adipati (Majapahit) di Pandanarang I) wafat di Tembayat, Wedi, Klaten.&lt;br /&gt;2.    Beliau wafat setelah mukim 25 tahun di sana. Metode syiar Islamnya disebut sebagai anjala wukir kamulyanta. Artinya, menjaring para kesatriya (arab: mujahid) yang hidup dalam kemulyaan dan keluhuran budi pekerti. Kelak Sultan Agung Hanyakrakusuma memindah makam beliau ke puncak bukit Tembayat tahun 1633, demi memuliakan beliau. Dan membangun candi “bla-bla?” sebagai pintu-pintu gerbang menuju Makam Sunan Tembayat.&lt;br /&gt;3.    Juga bergelar Risang Guru Hyang Wisnumurti, artinya Sang juru dakwah/ ulama yang mengajarkan perihal keutamaan Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1542: Candi Sukuh berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Sukuh berdiri di lereng Lawu, Sukaharja. Candi ini dipersembahkan untuk Sultan Brawijaya V dari putra beliau Syah Alam Al Akbar I (Pangeran Jimbun/ R. Fatah/ Sayyid Raden Bagus Kusen Al Akbar) di Demak Bintara. Hal ini bisa dilihat dari lambang penyu/ kura-kura yang menjadi simbul utama candi. Simbul penyu’ kura-kura ini merupakan simbol Demak Bintara (terdapat di dinding pengimaman Masjid Demak).&lt;br /&gt;Candi ini sebagaimana raja-raja Majapahit sebelumnya (misal, Candi Tigawangi dan Wanacala di Kedhiri), digunakan untuk menyepi dan tahanuts. Hal ini ditandai dengan relief Sudamala (artinya pertobatan, pensucian diri dari kehidupan dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1544: Mata-mata Portugis Antonio de Paiva dari Malaka menyusup ke Gowa-Tallo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1549: Sunan Prawata wafat&lt;br /&gt;1.    Sunan Prawata adalah sultan ke IV Demak Bintara. Ia bergelar Sultan Syah Alam IV. Ia adalah adik Sultan Syah Alam III/ Raden Trenggana.&lt;br /&gt;2.    Permaisurinya adalah Ratu Kalinyamat. Selir-selirnya antara lain adalah Putri Semangkin dan Putri Prihatin.&lt;br /&gt;3.    Sunan Prawata wafat dibunuh Arya Penangsang, yang menuntut tahta Kesultanan Demak Bintara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-7361905349935228515?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/7361905349935228515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit-3_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7361905349935228515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/7361905349935228515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit-3_27.html' title='Kesultanan Majapahit 3'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-6563206603933335735</id><published>2010-02-27T08:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T08:38:37.830-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='herman A Ma&apos;ruf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesultanan majapahit.TOJ'/><title type='text'>Kesultanan Majapahit 3</title><content type='html'>KESULTANAN MAJAPAHIT 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI CANDRA SENGKALA&lt;br /&gt;“ILANG SIRNA KERTANING BHUMI”  (1478) HINGGA&lt;br /&gt;ARMADA SABILILLAH DEMAK&lt;br /&gt;(1521)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1466-74&lt;br /&gt;Bhre Pandan Salas/ Singha Wikrama Wardhana memerintah Majapahit Barat di Bhreng Daha&lt;br /&gt;selama 8 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Pandan Salas bergelar Prabu Singha Wikrama Wardhana. Putranya bernama Rana Wijaya dipersiapkan menggantikan tahtanya. Beliau memerintah Majapahit Barat berpusat di Bhreng Daha (Kediri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1466M/ 1388 Saka&lt;br /&gt;(Dwi Naga Salira Wani)&lt;br /&gt;Masjid Demak Bintara Mulai Dibangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Panglima Demak Bintara pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan, memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/ Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.&lt;br /&gt;2.    Candra sengkala ini terdapat di pintu utama masjid Demak. Angka tahun ini besar kemungkinan menunjukkan tahun awal pendirian masjid Demak.&lt;br /&gt;3.    Kyai Ageng Sela pada awal pembangunan masjid Demak “memegang” petir di halaman Masjid Demak. Beliau melakukan hal itu di hadapan wali-wali lainnya. Peristiwa ini kemudian abadikan sebagai ornamen pintu utama masjid. Peristiwa ini merupakan pertanda mulai dibangunnya Demak Bintara.&lt;br /&gt;4.    Kyahi Ageng Sela  bernama Sayyid Abdurrahman adalah putra Kyahi Ageng Sayyid Getas Pendawa (Kyahi Ageng Tarub III),  cucu dari Kyahi Ageng Tarub II (Kyahi Ageng Sayyid Bondhan Kejawan) + Dewi Nawangsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi Maneges&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi manages. Beliau berkelana dan berguru kepada Sunan Ngampel di Ngampel Denta , Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi Menjadi Adik Ipar Sunan Ngampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ngampel Denta Bhre Kertabhumi dinikahkan dengan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Gusti Ayu Andarawati Al Akbar adalah adik Sunan Ngampel atau R. Rakhmat Al Akbar. Beliau berdua adalah putra-putri Syekh Ibrahim Al Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja). Jadi silsilah beliau berdua adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Rakhmat Al Akbar dan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar bin/binti Syekh Ibrahim Al Akbar (Campa) bin Syekh Maulana Al Akbar (Gujarat, India).&lt;br /&gt;Nama-nama Al Akbar-As Shaghir, Al Kubro-As Sughro, adalah nama-nama khas keturunan Imam Besar Ali bin Abithalib. Beliau adalah Amirul Mukminin, Khalifah Umat Islam seluruh dunia bertahta di Kuffah tahun 656-661M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1468-78&lt;br /&gt;Bhre Kertabhumi (Bhrawijaya V) menobatkan diri sebagai raja Majapahit Timur di Tumapel&lt;br /&gt;selama 10 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertabumi menjadi raja Majapahit Timur dan berpusat di Kota Tumapel, bekas ibukota Majapahit Timur (di masa Wikrama Wardhana). Ia adalah putra Bhre Pamotan/ Rajasa Wardhana, sebelum masa vakum pemerintahan Majapahit. Bhre Wirabhumi bergelar Sultan Bhrawijaya V. Beliau adalah cikal bakal raja-raja di Jawa. Memiliki banyak istri dan 117 anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1474-1519&lt;br /&gt;Rana Wijaya/ Girindra Wardhana memerintah Majapahit Barat di Breng Daha selama 45 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Sunan Giri Sepuh/ Prapen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1478M/ 1400 Saka:&lt;br /&gt;Prapanca’s Ilang Sirna Kertaning Bhumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu Prapanca memperkirakan akan datangnya sebuah era keruntuhan Islam di seluruh dunia. Sesanti beliau berbunyi ilang sirna kertaning bhumi yang juga sebagai candra sengkala (penanda tahun oleh para pujangga jaman dahulu) sebagai 1400 tahun saka atau 1478 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1478: Sultan Girindrawardhana Menyatukan Kembali Majapahit Barat-Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1478, Sultan Girindrawardhana mempersatukan kembali Majapahit. Bhre Kertabhumi menyerahkan tahta Tumapel. Majapahit bersatu kembali dan diperintah Girindra Wardhana selama 41 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) Berkelana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengundurkan diri dari tahta Majapahit Timur di Tumapel, Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) melarikan diri/ berkelana ke Barat. Beliau lalu mempersiapkan berdirinya Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara. Hal ini dilakukan demi menghalau masuknya Portugis ke Selat Malaka. Sebagaimana diramalkan oleh Ulama Besar Majapahit Mpu Prapanca.&lt;br /&gt;Beliau mempersiapkan semua ini bersama-sama para wali tanah Jawa. Di samping itu juga melibatkan putra-putra beliau, antara lain:&lt;br /&gt;1.    R. Fatah Al Akbar/ P. Jimbun/ Sayyid R. Bagus Kusen dari Ibunda Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Beliau adalah putra Sultan Bhrawijaya V yang kelak terpilih menjadi Panglima Perang Armada Sabilillah Lautan Majapahit. Gelarnya Syah Alam Akbar I.&lt;br /&gt;2.    R. Harya Katong/ Bethara Katong/ P. Lembu Kanigara/ R. Joko Piturun (Dari istri Nyahi Ageng Bagelen, dimakamkan di Bagelen, Purworejo). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Ponorogo. Ulamanya Kyahi Ageng Mirah/ Kyahi Ageng Muslim putra bin Kyahi Ageng Gribig , Jatinom (Klaten). Mereka dimakamkan di Ponorogo.&lt;br /&gt;3.    R. Harya Gugur / P. Lembu Kenanga/ R. Kudha Penoleh (juga dari istri Nyahi Ageng Bagelen ). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Pamekasan, Madura.&lt;br /&gt;4.    Kangjeng Ratu Pembayun, istri Kyahi Ageng Wuking I/ Sri Hamengkurung Handayaningrat yang menjabat sebagai Adipati Majapahit di Pengging . Makam beliau berada di Masaran, Butuh, Sragen.&lt;br /&gt;5.    Pangeran Bondhan Kejawan/ R. Lembu Peteng/ Kyahi Ageng Tarub III. Makam beliau di Sela, Purwadadi.&lt;br /&gt;6.    Pangeran Bondhan Surati, seperti kakaknya juga menjadi Kyahi Ageng Bondhan Surati. Makam beliau berada di wilayah Sada, Paliyan, Gunung Kidul.&lt;br /&gt;7.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1479M/1401 Saka: Candra Sengkala Penyu (Kura-kura) di Masjid Demak, berdirinya Masjid Demak Bintara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Candra sengkala penyu di dinding pengimaman Masjid Demak ini menunjukkan tahun berdirinya masjid Demak Bintara. Kepala berarti angka 1, kakinya berjumlah empat berarti angka 4, badan penyu berarti angka 0, dan ekor penyu berarti angka 1. Jadi keseluruhan simbol tersebut berarti angka tahun 1401 Saka atau 1479 masehi.&lt;br /&gt;2.    Masjid Demak Bintara didirikan oleh Wali Sanga. Teras masjid Demak ini merupakan pusaka dari Majapahit sebagai tanda restu dan legalitas Majapahit atas berdirinya Kerajaan Demak Bintara. Pusaka Majapahit tersebut berupa saka pendapa Majapahit Timur di Tumapel, yang diantarkan langsung oleh Prabu Brawijaya V dan putra beliau Pangeran Bondan Kejawan dan Pengeran Bondan Surati.&lt;br /&gt;3.    Pangeran Bondan Kejawan ini mengundurkan diri sebagai penerus Brawijaya V, ia memilih hidup sebagai ulama-kyai bernama Kyahi Ageng Tarub III .&lt;br /&gt;4.    Pangeran Bondan Surati juga menjadi Ulama-Kyahi diwilayah selatan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1480(?): Adipati Yunus Lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Yunus lahir. Beliau adalah putra R. Muhammad Yunus (Wong Agung Jepara, adipati MAjapahit di Jepara) + putri Pembesar Majapahit. Nama beliau sesungguhnya adalah R. Abdul Qadir Al Idrus. Silsilahnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;R. Abdul Qadir Al Idrus bin R. Muhammad Yunus Al Idrus bin Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam.&lt;br /&gt;Ayah Pati Unus adalah R. Muhammad Yunus Al Idrus seorang Bupati Majapahit di Jepara. Beliau bergelar Wong Agung Jepara. &lt;br /&gt;Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam, leluhur Pati Unus adalah seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husayn (Qaddasallohu Sirruhu)  putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra.&lt;br /&gt;1481: Syah Alam AkbarI Dinobatkan&lt;br /&gt;Senapati Sarjawala di Demak Bintara yang pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan. Beliau memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/ Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.&lt;br /&gt;A. Ong Tien (Putri Ming Hong Ki) datang ke Cirebon&lt;br /&gt;Putri Kaisar Ming Hong Ki yakni putri Ong Tien datang ke Cirebon. Beliau dikirimkan ayahandanya untuk bergabung dengan Sunan Gunung Jati. Putri Ong Tien akhirnya menjadi istri Sunan Gunung Jati. Pernikahn inisekaligus menjadi lambang dukungan Kaisar Ming terhadap Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala.&lt;br /&gt;Sebagai cenderamata kepada S. Gunung Jati, Kaisar Ming menghadiahkan nama China untuk beliau yakni Tan Beng Hoat. Di samping itu beliau dihadiahi sepasang dipan yang terbuat dari batu Giok.&lt;br /&gt;Sunan Gunung Jati ketika itu berusia 40 tahun. Istri beliau yang keturunan raja Sunda baru saja wafat. Beliau bernama Nyahi Ageng Pakungwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sunan Gunung Jati dinobatkan Menjadi Imam Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    S. Gunung Jati  dinobatkan menjadi Imam di Nuswantara. Beliau bergelar: Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala. Hal ini dilakukan Orang muslim Nuswantara untuk mengantisipasi runtuhnya wewenang Islam di Eropa dan Timur Tengah. Upacara ini dilakukan di Masjid Cipta Rasa, Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1486: Putri Ong Tien Wafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala, yakni Gusti Ayu Ong Tien, wafat. Beliau baru 5 tahun mendampingi sang Khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Maret 1492&lt;br /&gt;Runtuhnya Granada di Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara perlahan-lahan seluruh wilayah daulat Islamiyah di Spanyol -yang sebelumnya dikuasai Dinasti Ummayah- menyerahkan diri kepada Ratu Isabella (Spanyol) dan Raja Ferdinand (Portugis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 April 1492&lt;br /&gt;Dekrit Alhambra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“April Mop”, Jum'at Wage, 1 April 1492M, 23 Jumadilawal 1409, tahun Wawu, Windu Kuntara, 23 Jumadilawal 897H adalah hari diberlakukannya Dekrit Alhambra. Dekrit Alhambra yang ditandatangani oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, diberlakukan. Masjid Alhambra yang terbesar kedua di dunia, kemudian berubah fungsi menjadi gereja Katolik Kerajaan Spanyol.&lt;br /&gt;Dengan berlakunya dekrit ini, seluruh dunia muslim (Islamistand) dianggap telah menjadi hak milik Spanyol dan Portugis. Islamistand dibagi menjadi dua wilayah, yakni Hindia Timur (Oost Indische) atau Nuswantara dan Hindia Barat (West Indische) atau benua Amerika sekarang.&lt;br /&gt;Hal ini merupakan suatu pernyataan dari kaum Kolonial bahwa seluruh Islamistan secara legal-formal telah menjadi milik Spanyol dan Portugis. Raja Ferdinand segera menyiapkan Armada besar untuk menguasai Oost Indische/ Hindia Timur/ Nuswantara. Mereka menyandarkan hak mereka atas wilayah tersebut kepada Dekrit Alhambra ini.&lt;br /&gt;Denikian halnya dengan Spanyol, mereka menyiapkan Armada yang dipimpin Christopher Colombus ke West Indische (Amerika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekrit Alhambra&lt;br /&gt;“The Kings Ferdinand and Isabella, by the grace of God, King and Queen of Castile, Leon, Aragon and other dominions of the crown - to the prince Juan, to dukes, marquees, counts, the holy orders, priors, knight commanders, lords of the castles, cavaliers, and to all Jews, men and women of whatever age, and to anyone else this letter may concern - that health and grace be unto them. It is well known that in our dominion, there are certain bad Christians that became 'Judaized' and committed apostasy against our Holy Catholic faith, much of it the cause of interactions between Jews and Christians. Therefore, in the year 1480, we ordered that the Jews be separated from the cities and towns in our domains and that they be given separate sectors, hoping that with such separation the situation would be remedied, and we ordered that the Inquisition be established in such domains; and at the end of twelve years it has worked and the Inquisition has found many guilty persons. Furthermore we are informed by the Inquisition and others of the great harm that persists to the Christians as they interact with the Jews, and in turn these Jews try by all manners to subvert our Holy Catholic faith and are trying to prevent faithful Christians to grow close to their beliefs.&lt;br /&gt;These Jews have instructed these Christians in the ceremonies and observances of their laws, circumcising their children, and giving them books with which to pray, and declaring unto them the days of fasting, and meeting with them to teach them the histories of their laws, notifying them when to expect the celebration of Passover and how to observe it, giving them the unleavened bread and ceremonially prepared meats, and instructing them in things from which they must abstain, both with regard to food items and other things requiring observance of the laws of Moses, making them fully understand that there is no other law or truth outside of this. And this is made clear based on the confessions from such Jews as well as those perverted by them that it has resulted in great damage and detriment of our Holy Catholic faith.&lt;br /&gt;And since we knew the true remedy of such damages and difficulties lay in the interfering of all communications between the said Jews and the Christians and sending them forth from all our dominions, we sought to content ourselves with ordering the said Jews from all the cities and villages and places of Andalusia where it appeared that they had done the most damage, and believing that this would suffice so that those and other cities and villages and places in our reigns and holdings would be effective and would cease to commit the aforesaid. And because we have been informed that neither this, neither is the case nor the justices done for some of the said Jews found very culpable in the said crimes and transgressions against our Holy Catholic faith have been a complete remedy to obviate and to correct such opprobrium and offense. And to the Christian faith and religion it appears every day that the said Jews increase in continuing their evil and harmful purposes wherever they reside and converse; and because there is no place left whereby to more offend our holy faith, as much as those which God has protected to this day as in those already affected, it is left for this Holy Mother Church to mend and reduce the matter to its previous state, due to the frailty of the human being, it could occur that we could succumb to the diabolical temptation that continually combats us, therefore, if this be the principal cause, the said Jews if not converted must be expelled from the kingdom.&lt;br /&gt;Because when a grave and detestable crime is committed by some members of a given group it is reasonable that the group be dissolved or annihilated, and the minors by the majors will be punished one by the other; and those who permit the good and honest in the cities and the villages, and by their contact may harm others, must be expelled from the group of peoples, and despite minor reasons, will be harmful to the Republic, and all the more so for the majority of these crimes, would be dangerous and contagious. Therefore, the Council of eminent men and cavaliers of our reign and of other persons of knowledge and conscience of our Supreme Council, and after much deliberation, it is agreed and resolved that all Jews and Jewesses be ordered to leave our kingdoms and that they not be allowed to ever return.&lt;br /&gt;We further order in this edict that all Jews and Jewesses of whatever age that reside in our domain and territories leave with their sons and daughters, servants and relatives large or small, of all ages, by the end of July of this year, and that they dare not return to our lands and that they do not take a step across, such that if any Jew who does not accept this edict is found in our kingdom and domains or returns will be sentenced to death and confiscation of all their belongings.&lt;br /&gt;We further order that no person in our kingdom, notwithstanding social status, including nobles, that hide or keep or defend any Jew or Jewess, be it publicly or secretly, from the end of July and following months, in their homes or elsewhere in our reign, risking as punishment loss of all their fiefs and fortresses, privileges and hereditary rights.&lt;br /&gt;So be it that the Jews may dispose of their households and belongings in the given time period, for the present we provide our compromise of protection and security so that by the end of the month of July they may sell and exchange their belongings and furniture and any other item, and dispose of them freely per their assessment, that during said time no one is to do them harm or injury or injustice to their persons or to their goods, which would be unjustified, and those who would transgress this shall incur the punishment that befalls those who violate our royal security. We grant and give permission to the above mentioned Jews and Jewesses to take with them and out of our reigns their goods and belongings, by sea or by land, excepting gold and silver or minted money or any other item prohibited by the laws of the kingdom. Therefore, we order all councils, magistrates, cavaliers, shield-bearers, officials, good men of the city of Burgos and of other cities and villages of our kingdom and dominions, and all our vassals and subjects, that they observe and comply with this letter and all that is contained in it, and that they give all the type of help and favor necessary for its execution, subject to punishment by our sovereign grace and by confiscation of all their goods and offices for our royal house. And so that this may come to the notice of all, and that no one may pretend ignorance, we order that this edict be proclaimed in all the plazas and meeting places of all cities and in the major cities and villages of the diocese, that it be done by the town crier in the presence of the public scribe, and that no one nor anybody do the contrary of what has been defined, subject to the punishment by our sovereign grace and annulation of their offices and confiscation of their goods to whosoever does the contrary. And we order that it be evidenced and proven to the court with signed testimony specifying the manner in which the edict has been carried out.&lt;br /&gt;Given in this city of Granada the thirty first day of March in the year of our Lord Jesus Christ 1492. Signed, I, the King, I the Queen, and Juan de Coloma, Secretary of the King and Queen who has written it by order of our Majesties.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1493&lt;br /&gt;Perjanjian Caetera&lt;br /&gt;Antara Potugis dan Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1494&lt;br /&gt;Perjanjian Tor de Silas&lt;br /&gt;Antara Portugis dan Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1500: R. Abdul Qadir Al Akbar Al Idrus (Adipati Yunus) Menikah dengan Gusti Ayu binti Al Fatah Al Akbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 20 tahun, Adipati Yunus menikah dengan Gusti Ayu putri binti P. Fatah Al Akbar. P. Fatah juga memiliki darah Champa/ China dari ibunya Ratu Ayu Andarawati istri Brawijaya V dan Arya Damar (sebagai garwa triman). Dari pernikahan ini mendapat dua orang putra gagah berani. Yang pertama sebut saja Cucu R. Fatah (belum diperoleh keterangan) dan yang kedua dikenal sebagai Sayyid R. Abdullah Al Idrus.&lt;br /&gt;    Setelah pernikahan ini beliau diangkat menjadi Adipati Majapahit di Jepara (meneruskan ayahnya: R. Muhammad Yunus, Wong Agung Jepara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1506&lt;br /&gt;Pelayaran I Christophorus Colombus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Christophorus Colombus mantan terpidana mati di Spanyol ditugaskan Ratu Isabela untuk berlayar melintasi lautan Pasifik menuju ke daratan Amerika, atau disebut juga sebagai Hindia Barat. Amerika kemudian menjadi tempat pembuangan bagi para narapidana dari Spanyol.&lt;br /&gt;2.    Perjanjian Tor de Silas&lt;br /&gt;3.    Pelayaran Vasco de Gama&lt;br /&gt;4.    Pelayaran Alburqurque&lt;br /&gt;5.    Pelayaran Magelhans&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1509&lt;br /&gt;Benteng Mataram Islam Kotagedhe berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Benteng Mataram Kotagedhe didirikan ketika Demak Bintara baru 36 tahun berdiri. Pemrakarsanya Kyai Ageng Sela (Sayyid Abdurrahman) dan putranya Kyai Ageng Anis/ Henis/ Ngenis dari Grobogan, Boyolali. Kyai Ageng Henis dimakamkan di Makam Pajang Laweyan, belakang Masjid peninggalan Pajang di Laweyan, Solo. Sedangkan makam Nyai Ageng Henis dimakamkan di tengah langgar/ mushala pusaka Kerajaan Islam Mataram Kotagedhe.&lt;br /&gt;2.    Di lingkungan Benteng Mataram Kotagede sudah tinggal keluarga Pangeran Jayaprana (keturunan Majapahit) dan keluarga Kyai Ageng Mangir.&lt;br /&gt;3.    Peristiwa dan situs ini menjadi penanda bagi sistem petanda bahwa Kerajaan Islam Mataram telah dipersiapkan 77 tahun sebelumnya oleh para raja, wali, ulama, dan kyai di tanah Jawa.&lt;br /&gt;4.    Hal ini terjadi karena para leluhur tanah Jawa telah mempersiapkan sebuah benteng pertahanan Islam di pesisir selatan pulau Jawa.&lt;br /&gt;5.    Panembahan Senapati kelak dinobatkan menjadi Panglima Perang di area pertahanan ini tahun 1586M (77 tahun kemudian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1510-47&lt;br /&gt;Sultan Daeng Matanre&lt;br /&gt;bertahta di Gowa-Tallo, Sulawesi Selatan&lt;br /&gt;selama 37 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Daeng Matanre menyatukan seluruh kekuatan di Sulawesi Selatan menjadi satu kekuatan Gowa-Tallo . Peristiwa ini menjadi penting terkait dengan dukungan ahli-ahli pembuat kapal kayu dalam mempersiapkan 375 unit kapal untuk Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1511: Malaka Jatuh ke Tangan Portugis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Kerajaan Malaka penjaga selat Malaka, dikuasai Portugis. Selat malaka adalah pintu masuk pintu masuk Armada Kolonial ke Nuswantara.&lt;br /&gt;2.    Adipati Yunus Al Idrus dinikahkan dengan Putri Ayu binti Sunan Gunung Jati Al Athas. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang putra gagah berani yang gugur syahid di medan perang Malaka.&lt;br /&gt;3.    Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah Al Athas juga keturunan China dari Dinasti Ming Islam, sehingga memiliki nama China sebagai Tan Eng Hoat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Secara probabilistik di Nuswantara Majapahit terbentuk wajah-wajah kombinasi Parsi-China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adipati Yunus Diangkat Menjadi Senapati Sarjawala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah Al Athas sebagai sesepuh para waliyullah mengangkat Adipati Yunus sebagai Senapati Sarjawala. Beliau menjadi Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Majapahit. Armada ini merupakan gabungan dari Demak-Banten-Cirebon. Markas besarnya adalah di Pelabuhan Armada Laut Majapahit Demak Bintara.&lt;br /&gt;1512: P. Pandanaran Hijrah ke Selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Pangeran Adipati Majapahit di Pandanarang I, hijrah dari pesisir utara (Semarang) ke pesisir selatan (Tembayat, Klaten). Di Tembayat beliau bergelar Sunan Tembayat/ Sunan Pandanarang/ Risang Guru Hyang Wisnumurti.&lt;br /&gt;2.    Beliau hijrah bersama istrinya dan dikawal oleh Syeh Dumba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1512: Kerajaan Samudra Pasai Jatuh ke Tangan Portugis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penjaga selat Malaka yakni Kerajaan Samudra Pasai jatuh ke tangan Portugis. Putra Mahkota kerajaan bernama Tubagus Pasai/ Fatahillah/ Faletehan/ Faltehan melarikan diri ke Demak dan bergabung dengan Armada Laut Sabilillah. Kelak beliau ini menggantikan posisi Adipati Yunus.&lt;br /&gt;Jatuhnya Malaka dan Pasai ke Portugis merupakan ancaman bagi keindahandan ketentraman hidup di Nuswantara yang muslim sejak dahulu kala. Apalagi Portugis membawa Naskah Alhambra (1492), Caetera (1493), dan Tor de Sillas (1494). Ini berarti awal dari sebuah penguasaan atas seluruh tanah Hindia Timur atau Nuswantara oleh Armada Kolonial/ Portugis.&lt;br /&gt;Dengan demikian ramalan Prapanca terbukti. Bahwa Nuswantara yang tata titi tentrem kerta raharja dan gemah ripah loh jinawi akan segera sirna. Akan segera berganti dengan jaman Kalabendu, yakni jaman penguasaan Armada Kolonial di seluruh dunia muslim. Ilang sirna kertaning bhumi.&lt;br /&gt;Maka untuk menghalau mahapralaya ini tidak ada kemungkinan lain kecuali melawannya dengan perang suci, perang sabilillah. Para wali di tanah Jawa dan seluruh Nuswantara kemudian bersatu dan seia sekata untuk maju kemedan laga. Sesepuh untuk peperangan sabilillah Nuswantara ini adalah Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah/ Sayyid R. Tan Eng Hoat. Seorang ulama keturunan Parsi-China dan berdarah keturunan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomi Pires (mata-mata Portugis) masuk ke Tuban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelana dan mata-mata Portugis bernama Tomi Pires datang keTuban. Ia datang satu abad setelah Gan Eng Cu menulis tentang kekagumannya di Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1513: Ekspedisi Pengintaian Dikirim ke Malaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Gunung Jati mengirim sepasukan pengintai yang bertugas menembus Benteng Portugis di Malaka. Pasukan ini kembali ke Demak Bintara dan melaporkan betapa dahsyatnya persiapan dan kesiapan Armada Laut Kolonial Portugis. Tak ada jalan lain bagi Armada Laut Majapahit Nuswantara, selain melakukan persiapan secepatnya secara besar-besaran.&lt;br /&gt;    Armada Majapahit Nuswantara segera menghubungi saudaranya yang berada di Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka adalah para “sayyid Bugis” jago-jago maritim yang terkenal ke seluruh dunia. Mereka menguasai area maritime yang sangat luas dari Formosa/ Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Maluku hingga ke Australia. Para sayyid Bugis ini dikenal sebagai Penguasa Lautan di Benua Timur.&lt;br /&gt;    Dengan bantuan dari sesama “sayyid”/ keturunan Rasulullah SAW di Gowa, maka Armada Sabilillah Laut Majapahit membangun 375 buah kapal dengan ukuran besar.&lt;br /&gt;    Di samping itu di daratan, terjadi persiapan dan penataan para wali, ulama, dan kyahi demi menghadapi kemungkinan terburuk dari mahapralaya ini. Bala bencana akan segera datang sebagai air bah dan badai yang dahsyat. Tak mungkin melawannya dan takmungkin membendungnya, seakan sudah menjadi ketetapan Ilahi. Maka yang bisa dilakukan kaum muslimin hanya memohon pertolongan Allah SWT belaka.&lt;br /&gt;    Sejak saat itu maka seluruh Nuswantara/ Majapahit hanya memiliki satu tekad yakni melaksanakan perang suci, sabilillah. Tak ada jalan lain. Kolonialisme adalah sebuah takdir yang harus diterima kaum Muslimin dunia, termasuk yang hadup di Nuswantara/ Majapahit. Sudah 1000 tahun sejak Rasulullah SAW masih hidup, kaum muslimin menjadi Tuan bagi ummat manusia, sayyidul ummah. Di atas hamparan geografis yang maha luas, meliputi seluruh dunia. Dan melaksanakan perang suci, sabilillah menjadi satu-satunya kewajiban dan pilihan yang bisa dilakukan kaum muslimin saat itu. Hanya dengan ini saja cara kaum muslimin bertahan.&lt;br /&gt;    Maka sejak Kyahi Ageng Prapanca menyatakan sabdanya ilang sirna kertaning bhumi, menandakan akan terjadinya sebuah perubahan. Perubahan besar pada jaman dan dunia tempat manusia menggantungkan hidupnya. Tak mungkin manusia menghindari. Sunan Kalijaga berpesan dalam hal ini, manuta mili playuning banyu, nanging ywa kongsi keli. Ikutilah arus perubahan jaman itu, namun jangan sampai hanyut. Sebuah pilihan yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1513: Sultan Daeng Matanre Membangun Kapal-kapal Armada Sabilillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli teknologi maritim dari Gowa-Tallo sejak 1513 mulai membuat kapal-kapal laut untuk Armada Laut Sabilillah Nuswantara/ Majapahit. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara benar-benar sebuah Armada Kesatuan seluruh Nuswantara.  Bukan hanya Demak-Banten-Cirebon (di P. Jawa) yang bersatu, namun juga Gowa-Tallo berikut seluruh sekutunya di seluruh Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Australia.&lt;br /&gt;Sementara yang bela adalah Kekuatan Islam di Sumatera Utara. Terutama Kerajaan Malaka dan Pasai sebagai penjaga arus masuknya kapal layar ke Nuswantara dari Selat Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1521: Perang Sabilillah Melawan Kumpeni Portugis di Selat Malaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demak Bintara: Syah Alam Al Akbar II/ Adipati Unus/ P. Sabrang Lor/ Senapati Sarjawala  menghadang Portugis di Selat Malaka. Peristiwa ini disebut sebagai ekspedisi Sabrang Lor, terjadi peperangan selama 3 hari 3 malam. Armada Kolonial Kumpeni Portugis saat itu sudah menguasai Malaka dan Pasai.&lt;br /&gt;Penguasaan Portugis terhadap wilayah raja Malaka dan Pasai merupakan langkah awal bagi mereka dalam melaksanakan 3 Naskah (Dekrit Alhambra, Caetera, dan Tor de Sillas) di perairan Nuswantara.&lt;br /&gt;Meskipun tidak diakhiri dengan perjanjian dengan Pihak Portugis di Selat Malaka, namun Perang Besar Sabilillah di Selat Malaka ini menjelaskan mengapa Kumpeni Portugis kemudian mengarahkan ekspedisinya ke Indonesia Timur seperti Manado, Ambon, dan Maluku. Kumpeni Portugis mengurungkan niatnya memasuki Jawa.&lt;br /&gt;Para syuhada yang gugur syahid pada Sabilillah ini adalah Adipati Yunus sendiri, berikut dua orang putra beliau. Satu cucu dari R. Fatah dan satunya lagi cucu dari Sunan Gunung Jati. Panglima sementara dipegang oleh R. Hidayat sampai seluruh Armada Sabilillah Majapahit kembali ke Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Demak Bintara: Syah Alam III (Raden Trenggana) menghadang Portugis di Selat Malaka, bersama-sama dengan Cirebon dan Banten. Mobilisasi ini sekaligus mengakhiri kepemimpinan Demak Bintara, karena penerus Trenggana (Sunan Prawata) memilih menjadi ulama-kyahi dari pada menjadi putra mahkota Demak.&lt;br /&gt;2.    Putra Trenggana (Raden Prawata) mengundurkan diri sebagai calon pengganti Sultan Syah Alam III. Beliau menjadi ulama-kyai bergelar Batara Guru/ Sunan Prawata. Sunan Prawata beristrikan Ratu Kalinyamat.&lt;br /&gt;3.    Sunan Prawata tewas dibunuh Arya Penangsang. Istrinya (Ratu Kalinyamat) didampingi 2 orang saudarinya (sebut saja Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2) melakukan munajat/ bertapa, menuntut balas kematian Sunan Prawata.&lt;br /&gt;4.    Ratu Kalinyamat bertemu Danang Sutawijaya (kelak menjadi Panembahan Senapati). DS berjanji akan menuntutkan balas kepada Arya Penangsang.&lt;br /&gt;5.    Arya Penangsang mengundurkan diri dari menghendaki tahta Demak dan Pajang dan wafat sebagai kyai bergelar Seda Lepen. Makamnya terdapat di Kadilangu dan Kaliwungu.&lt;br /&gt;6.    Sebagai rasa terima kasih, Ratu Kalinyamat mengawinkan DS dengan Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2. Dari perkawinannya dengan mereka, DS dikaruniai seorang putera yang kelak sangat sakti mandraguna bernama Raden Rangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Terjadi eksodus para sunan, wali, dan kyahi dari pesisir utara ke pesisir selatan. Peristiwa ini menunjukkan terjadinya perpindahan pusat pemerintahan dalam menghadapi kolonialisme dari Demak ke Mataram. Kerajaan Pajang sebagai pengantara saja.&lt;br /&gt;2.    Sultan Hadiwijaya (Raja Pajang) mempersiapkan berdirinya Mataram dengan menugaskan Tiga Serangkai: Kyai Ageng Pemanahan, Panembahan Senapati, dan Kyai JuruMartani.&lt;br /&gt;3.    Sultan Hadiwijaya bertahta di Pajang didampingi penasihat Kyai Ageng Singaprana II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1515&lt;br /&gt;Belanda menjadi Negara Bagian (Jajahan) Spanyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Belanda menjadi jajahan Kerajaan Spanyol di bawah duli Ratu Isabela. Kerajaan Spanyol waktu itu baru 19 tahun menguasai Andalusia. Dalam masa ini maskapai dagang orang-orang Belanda ikut meramaikan wilayah jajahan Spanyol termasuk Nuswantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1518: R. Fatah Al Akbar/ P. Jin Bun Wafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Laut Pertama, yakni Raden Fatah/ Pangeran Jin Bun/ Raden Bagus Kasan, bergelar Syah Alam Al Akbar I, wafat. Sunan Gunung Jati dan Armada Sabilillah harus memilih pemimpin baru. Mereka harus mengangkat kembali seseorang yang telah dipersiapkan Allah SWT untuk memimpin Armada Sabilillah Laut Majapahit ini. Seseorang yang akan  memagku amanat dan bergelar Syah Alam Al Akbar II (tsaniy).&lt;br /&gt;Sebelum wafat, R. Bagus Kasan berwasiat  supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Adipati Demak Bintara berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Sayyid R. Abdul Qadir bin Yunus Al Akbar Al Idrus, Adipati Majapahit di Jepara. Beliau menjadi Syah Alam Al Akbar II atau AtsTsaniy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1519-21: Rana Wijaya/ Prabu Girindra Wardhana Raja Majapahit wafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1537: Sunan Pandanarang wafat di Tembayat, Wedi, Klaten&lt;br /&gt;1.    Sunan Pandanaran/ Sunan Tembayat (ketika masih di Semarang bernama Pangeran Adipati (Majapahit) di Pandanarang I) wafat di Tembayat, Wedi, Klaten.&lt;br /&gt;2.    Beliau wafat setelah mukim 25 tahun di sana. Metode syiar Islamnya disebut sebagai anjala wukir kamulyanta. Artinya, menjaring para kesatriya (arab: mujahid) yang hidup dalam kemulyaan dan keluhuran budi pekerti. Kelak Sultan Agung Hanyakrakusuma memindah makam beliau ke puncak bukit Tembayat tahun 1633, demi memuliakan beliau. Dan membangun candi “bla-bla?” sebagai pintu-pintu gerbang menuju Makam Sunan Tembayat.&lt;br /&gt;3.    Juga bergelar Risang Guru Hyang Wisnumurti, artinya Sang juru dakwah/ ulama yang mengajarkan perihal keutamaan Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1542: Candi Sukuh berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Sukuh berdiri di lereng Lawu, Sukaharja. Candi ini dipersembahkan untuk Sultan Brawijaya V dari putra beliau Syah Alam Al Akbar I (Pangeran Jimbun/ R. Fatah/ Sayyid Raden Bagus Kusen Al Akbar) di Demak Bintara. Hal ini bisa dilihat dari lambang penyu/ kura-kura yang menjadi simbul utama candi. Simbul penyu’ kura-kura ini merupakan simbol Demak Bintara (terdapat di dinding pengimaman Masjid Demak).&lt;br /&gt;Candi ini sebagaimana raja-raja Majapahit sebelumnya (misal, Candi Tigawangi dan Wanacala di Kedhiri), digunakan untuk menyepi dan tahanuts. Hal ini ditandai dengan relief Sudamala (artinya pertobatan, pensucian diri dari kehidupan dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1544: Mata-mata Portugis Antonio de Paiva dari Malaka menyusup ke Gowa-Tallo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1549: Sunan Prawata wafat&lt;br /&gt;1.    Sunan Prawata adalah sultan ke IV Demak Bintara. Ia bergelar Sultan Syah Alam IV. Ia adalah adik Sultan Syah Alam III/ Raden Trenggana.&lt;br /&gt;2.    Permaisurinya adalah Ratu Kalinyamat. Selir-selirnya antara lain adalah Putri Semangkin dan Putri Prihatin.&lt;br /&gt;3.    Sunan Prawata wafat dibunuh Arya Penangsang, yang menuntut tahta Kesultanan Demak Bintara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-6563206603933335735?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/6563206603933335735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit-3.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/6563206603933335735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/6563206603933335735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit-3.html' title='Kesultanan Majapahit 3'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-2395822137048379576</id><published>2010-02-27T08:35:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T08:37:07.209-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='herman A Ma&apos;ruf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesultanan majapahit.TOJ'/><title type='text'>Kesultanan Majapahit 2</title><content type='html'>KESULTANAN MAJAPAHIT 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI SILATURAHMI&lt;br /&gt;CHENG-HO (1405)&lt;br /&gt;HINGGA&lt;br /&gt;MASA VACUUM&lt;br /&gt;1403-06&lt;br /&gt;Paragreg (Gegeran Agung) di Majapahit&lt;br /&gt;selama 3 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 17 tahun terbagi menjadi dua wilayah, tahun 1403 terjadi upaya menyatukan kembali Majapahit. Hal ini dilakukan oleh sultan-sultan dan para pembesar Majapahit. Majapahit dipersatukan kembali oleh Prabu Wikrama Wardhana dan Ratu Kusuma Wardhani.&lt;br /&gt;Bhre Wirabhumi menyerahkan pemerintahan kepada kakak dan iparnya atas seluruh kerajaan Majapahit baik di Barat maupun di Timur. Beliau memilih hidup menyepi dan berkelana mencari kesejatian hidup. Kejadian ini  menimbulkan kegemparan di Majapahit selama kurang lebih 3 tahun.&lt;br /&gt;Insight:&lt;br /&gt;1405-07&lt;br /&gt;Pelayaran I Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho&lt;br /&gt;Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho berdasarkan dekrit KaisarYung Ho (dengan wewenang tak terbatas) berlayar untuk pertamakalinya ke Majapahit di Nuswantara. Bertolak dari Nanking:&lt;br /&gt;1. 60 buah Kapal Laut besar ukuran 134x55 m.&lt;br /&gt;2. 225 buah kapal pengiring.&lt;br /&gt;3.28.000 prajurit dari Fukien&lt;br /&gt;4.Haji Wan Jing Hong sebagai Wakil Cheng Ho&lt;br /&gt;5. Haji Yoe Hsien/ Al Husein menjadi asisten Panglima&lt;br /&gt;6. Haji Al Hasan (Imam di Si An) sebagai Juru Bahasa&lt;br /&gt;7. Haji Ma Huan dan Haji Fei Shin sebagai Juru Pencatat&lt;br /&gt;Sebelum sampai di Cho-po/ Jowo/ Jawa, mereka berlabuh di Kerajaan Muslim Champa. Selama di Champa:&lt;br /&gt;1. Menumpas Armada Bajak Laut Co Chin&lt;br /&gt;2. Haji Bong Tak Keng  diangkat menjadi duta besar Champa&lt;br /&gt;3. Membangun masjid dan shalat berjamaah&lt;br /&gt;Berlabuh di Kerajaan Siam:&lt;br /&gt;1. Menghentikan Upeti dari Raja Malaka berupa 40 pohon emas&lt;br /&gt;2. Membangun Puri untuk duta besar&lt;br /&gt;3. Membangun masjid dan shalat berjamaah&lt;br /&gt;Berlabuh di Kerajaan Sambas di Puni (Kalbar), Cheng Ho mendirikan Perserikatan Muslim Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1406-29&lt;br /&gt;Wikrama Wardhana memerintah Majapahit selama 23 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majapahit yang telah bersatu kembali diperintah oleh Prabu Wikrama Wardhana dan Ratu Kusuma Wardhani. Wikrama Wardhana/ Bhre Hyang Wisesa mempersiapkan putrinya (cucu Bhre Wirabhumi) yang bernama Suhita menjadi penggantinya. Dengan bertahtanya Suhita (putri Wikrama Wardhana dan cucu Bhre Wirabhumi), maka Majapahit bersatu dapat dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan I Laksamana Sayyid Haji Muhammad Cheng Ho&lt;br /&gt;1406: Silaturahmi ke Kabupaten Majapahit di Tuban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho bermaksud memulihkan persahabatan dengan Majapahit. Hal ini dilakukan karena dahulu Khubilai Khan (1254-1294) pernah menyerbu Jawa di masa Singasari. Singasari adalah leluhur Majapahit.&lt;br /&gt;    Cheng Ho adalah seorang She-Ma (Muslim) dari Kerajaan Muslim Ming di Tiongkok. Ia dari suku Han, nama dan gelarnya antara lain: Ma  Ho, Tay Jien, Sam Poo Kong/ San Pao Kung , Sam Po Bo, dan Geng He.&lt;br /&gt;    Rombongan silaturrahmi Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho, masuk melalui pelabuhan Majapahit di Tuban. Beliau disambut oleh Syah Bandar Tuban, seorang Muslim (keturunan) Arab. Di Tuban, Rombongan Cheng Ho melakukan berbagai aktifitas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Mendirikan Masjid dan Shalat berjamaah&lt;br /&gt;2.    Mendirikan serikat Muslim Tionghoa&lt;br /&gt;3.    Membuka kantor dagang&lt;br /&gt;4.    Kyahi Abdurrakhim  hidup sekitar masa ini. Beliau adalah ayah dari Arya Teja I/ Haji Gan Eng Cu. Beliau pernah ditugaskan ke Mannallah/ Manila/ Filipina namun kembali lagi ke Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahmi ke Breng Daha pusat Majapahit melalui Gresik dan Canggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cheng Ho mengirim 170 utusan untuk menyampaikan surat kepada Sultan Majapahit di Breng Daha (Majapahit Barat). Namun akibat sisa kerusuhan Paregreg, rombongan utusan Cheng Ho dikira hendak menambah kekacauan. Maka terpaksa semua utusan dibunuh oleh pasukan Sultan Wikramawardhana yang telah menguasai Bhreng  Daha.&lt;br /&gt;Cheng Ho dan rombongan, silaturahmi ke Tumapel (Majapahit Timur, sekitar Malang Mojokerto). Beliau menemui Sultan Wikramawardhana. Akibat kesalahpahaman tersebut Laksamana Cheng Ho menuntut ganti rugi dari Sultan Wikrama Wardhana sebesar 60.000 tail emas. Sang Prabu menyetujui. Laksamana Cheng Ho kemudian menyanggupi untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Membangun masjid-masjid di hampir seluruh kota Majapahit. Antara lain Lasem, Tuban, Tse Tsun/ Gresik, Jiao Tung/ Joratan, Cangki/ Mojokerto, dll.&lt;br /&gt;2.    Membangun kantor-kantor dagang di pelabuhan Majapahit.&lt;br /&gt;3.    Membentuk Komunitas Cina Muslim Hanafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hendak balik ke Tiongkok, Sultan Wikrama Wardhana hanya mampu memenuhi 1/6 dari tuntutan Laksamana Cheng Ho. Namun hal itu bisa dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahmi ke Semarang, Cirebon, dan Sunda Kelapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bhreng Daha, Canggu dan Gresik, Rombongan Cheng Ho bersilaturrahmi ke Semarang, Cirebon, dan Sunda Kelapa (kelak menjadi Jayakarta/ Batavia/ Jakarta). Di kota-kota besar Majapahit tersebut Cheng Ho dan rombongannya membentuk Komunitas China Muslim Hanafi, membangun masjid, dan shalat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi ke Palembang (Kukang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan Cheng Ho singgah di Kadipaten Majapahit di Palembang. Di sana mereka melakukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Menumpas Bajak Laut Chen Tsu Yi, seorang asal Hokkian.&lt;br /&gt;2.    Mengangkat Shi Chin Qing, seorang Muslim China yang mukim di Palembang, menjadi Ketua Komunitas China Muslim Hanafi di Kukang/ Palembang. Shi Chin Qing ini juga sangat besar jasanya dalam penumpasan Bajak Laut Chen Tsu Yi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mereka juga singgah ke Bandar-bandar besar Nuswantara saat itu seperti Kuala Tungkal dan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi ke Malaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bersilaturahmi ke Bandar Malaka, rombongan Cheng Ho disambut baik oleh Prameshwara/ Sultan Iskandar Syah. Oleh Prameshwara rombongan diperkenankan bertempat tinggal di sebuah bukit. Sampai sekarang bukit itu dinamakan Bukit China.&lt;br /&gt;Raja Bandar Malaka berterimakasih kepada Cheng Ho atas berhentinya upeti kepada Raja Siyam. Untuk itu dibuat sebuah Prasasti Cheng Ho di Bandar Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1407&lt;br /&gt;Prameshwara Malaka/ Sultan Iskandarsyah&lt;br /&gt;Bersilaturrahmi ke Kanton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prameswara Malaka/ Sultan Iskandarsyah ikut ke Tiongkok untuk bersilaturahmi. Beliau disertai oleh 540 orang pengiringnya. Di Kanton beliau disambut oleh Haji Ha Shoui dan berkenan tinggal beberapa lama di Kanton.&lt;br /&gt;Sepulang dari Kanton, beliau Sultan Malaka Iskandarsyah, mendirikan pangkalan armada laut Islam di Malaka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1408: Kunjungan II Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armada Cheng Ho mendirikan masjid-masjid dan kantor-kantor dagang di Semarang, Sembung /Cirebon, dan Ancol/ Sunda Kelapa (Kelak menjadi Jayakarta/ Batavia/ Jakarta). Setelah itu mereka menuju ke Seilon (Srilanka) dan Kalikut/ India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1409: Kunjungan III Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1413: Kunjungan IV Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Armada Cheng Ho membawa 63 kapal&lt;br /&gt;2.    Setelah singgah di Nuswantara, Cheng Ho meneruskan perjalanannya ke Teluk Aden&lt;br /&gt;3.    Menyumbang satwa liar untuk kebun binatang Sultan Burma/ Chempa.&lt;br /&gt;4.    Armada Laksamana Sayyid Haji Muhammad Cheng Ho singgah selama 1 bulan di Semarang untuk perbaikan kapal. Masjid Tionghoa Hanafi Semarang sering kali digunakan untuk shalat berjamaah. Antara lain juga oleh Sayyid Ma Hwang dan Haji Feh Tsin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1414: Sultan Muhammad Syah bertahta di Malaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Iskandar Syah wafat di tahun ini. Kemudian putra beliau diangkat menjadi penggantinya, bergelar Sultan Muhammad Syah. Selama satu setengah abad Malaka menjaga perairan Nuswantara/ Majapahit. Sultan-sultan berikutnya adalah Sultan Mudhafar Syah, sultan Mansyur Syah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksamana Hang Tuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Muncul tokoh bernama Hang Tuah terkenal sebagai pelaut Malaka yang gagah berani. Dialah senopati laut armada Malaka yang setia menjaga selat Malaka. Penjaga gerbang laut Nuswantara ini pernah berkunjung ke pusat Majapahit di Jawa Timur.&lt;br /&gt;    Keadaan kerta raharja atau tentram, aman dan sejahtera ini terus bertahan hingga nanti masuknya Armada Portugis tahun 1511.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1416:&lt;br /&gt;Berdirinya kota Demak Bintara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demak Bintara semula berupa area hutan Danalaya. Kemudian oleh para wali, ulama, kyahi Jawa mulai dibuka dalam rangka mempersiapkan armada sabilillah laut Jawa menghadapi berbagai perubahan konstelasi dunia saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1416: Kunjungan V Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada silaturahmi ini Cheng Ho melalui Haji Bong Tak Keng mengutus Haji Gan Eng Cu untuk menangani Komunitas China Muslim Hanafi di Manila (Mannallah), Filipina. Pada saat bertugas di Mannallah/ Manila/ Filipina ini, lahirlah putri beliau yang kemudian disebut Nyahi Ageng Manila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1419: Laksamana Haji Kung Wu Ping Wafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Bong Tak Keng bertugas di Campa, menangani Komunitas Cina Muslim Hanafi.&lt;br /&gt;Salah satu pembesar Cheng Ho, Laksamana Haji Kung Wu Ping wafat di Ancol, Jayakarta/ Batavia/ Jakarta. Beliau dimakamkan di Masjid Ancol yang didirikan oleh Cheng Ho .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1421: Kunjungan VI Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Armada Cheng Ho membawa 41 kapal besar&lt;br /&gt;2.    Haji Gan Eng Cu dipindahkan dari Mannallah/ Manila/ Filipina ke Tuban. Beliau memboyong seluruh keluarganya termasuk Nyahi Ageng Manila. Di sana beliau diangkat menjadi Kapitan China Muslim di Tuban. Beliau bergelar Adipati Tuban Arya Teja I .&lt;br /&gt;3.    Majapahit juga mengangkat dua orang duta besar bernama Sayyid  Haji Ma Hong Fu dan Haji Bong Tak Keng (anak mantu dan mertua). Mereka mukim di Majapahit Timur (Tumapel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1424-49: Sayyid Haji Muhammad Hong Fu (Ma Hong Fu) menjadi Duta Besar Muslim Ming di Tumapel (Majapahit Timur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Haji Muhammad Hong Fu dibantu oleh saudaranya  Sayyid Haji Muhammad Yung Long. Ma Yung Long adalah penulisdan sekaligus “kurir” sehingga sering kali bepergian bolak-balik Majapahit-Peking/ China.&lt;br /&gt;Sayyid Haji Ma Hong Fu adalah putra dari Sayyid Panglima Perang Yunnan. Beliau juga adalah menantu Haji Bong Tak Keng yang juga mukim di Tumapel, Majapahit Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insight:&lt;br /&gt;1424-25&lt;br /&gt;Kaisar IV Ming: Hsung Tsi&lt;br /&gt;Berkuasa Selama 1 Tahun di China&lt;br /&gt;    Kaisar III Ming: Yung Lo wafat tahun 1424. Beliau diganti oleh putra beliau: Hsung Tsi. Kaisar ini sangattidak menyukai Cheng Ho, sehingga ekspedisinya tertahan selama beberapa waktu. Namun beliau hanya berkuasa selama setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1425-36&lt;br /&gt;Kaisar V Ming: Hsuan Te/ Hsun Tung&lt;br /&gt;Berkuasa Selama 11 Tahun di China&lt;br /&gt;    Kaisar IV Ming Hsung Tsi wafat tahun 1425. Beliau digantikan putranya: Hsuan Te. Beliau berkuasa selama 11 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1429: Wikrama Wardhana lengser keprabon (wafat?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1429-47&lt;br /&gt;Prabhustri Suhita memerintah Majapahit selama 17 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Dinobatkan demi persatuan Majapahit. Bergelar Prabhustri Suhita. Catatan Muhammad Yung Long/ Ma Yung Long  menyebut beliau ini sebagai Raja Su Keng Ta, jadi bukan Prabuistri.&lt;br /&gt;2.    Memerintah Majapahit selama 17 tahun dengan dibantu oleh saudara lelakinya: Kertawijaya. Ia adalah salah seorang putra dari Wikrama Wardhana juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1430: Kunjungan VII (terakhir) Cheng Ho ke Nuswantara/ Majapahit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Saat itu Cheng Ho sudah berusia 60 tahun. Beliau membuat sebuah prasasti di Fukien yang berisi kisah perjalannya sebanyak 7 kali dan mengunjungi 30 negeri.&lt;br /&gt;2.    Armada beliau membawa 36 kapal besar, 20.000 orang pasukan, dan ratusan jung/ kapal kecil. Negeri-negeri yang dikunjungi untuk bersilaturahmi antara lain Sailon, Kalkuta, Arabia, Parsi, Aden, Madagaskar, Ormuz, Aden, dan Mogadhisu. Perjalanan pulang, armada ini singgah dulu di berbagai kota di Nuswantara/ Majapahit seperti Malaka, Siam, Champa, Kalimantan dan pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1432: Cheng Ho Membantu Prabhuistri Suhita menyatukan Majapahit Timur (Tumapel) dan Majapahit Barat (Bhreng Daha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumapel (Majapahit Timur) akhirnya menyatukan diri dengan Bhreng Daha (Majapahit Barat). Hal ini bisa terjadi karena Suhita adalah putri Wikrama Wardhana dari salah satu istri beliau. Ibu Suhita (Istri Wikrama Wardhana) ini ternyata adalah putri dari Wirabhumi, iparnya. Karenanya darah Wikrama Wardhana dan Wirabhumi menyatu kembali pada diri Prabuistri Suhita.&lt;br /&gt;Laksamana Muhammad Cheng Ho terlibat langsung pada peristiwa ini. Beliau dibantu oleh R. Arya Teja I (Bupati Tuban/ Haji Gan Eng Cu). Setelah peritiwa itu saudara R. Arya Teja I/ Haji Gan Eng Cu yang bernama Haji Gan Eng Wan (bergelar R. Arya Suganda), ditugaskan untuk menjadi Adipati Tumapel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1432: dari Maret-Juli, Armada Cheng Ho berlabuh di Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ini adalah silaturahmi terakhir Laksamana Sayyid Haji Muhammad Cheng Ho. Sepulang dari Majapahit, beliau wafat di kampung kelahirannya Kun Ming, Tiong Kok. Kamunitas Muslim China Hanafi Semarang melaksanakan shalat ghaib di Masjid Sam Poo Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1447-51&lt;br /&gt;Prabu Kertawijaya memerintah Majapahit selama 4 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Prabuistri Suhita wafat di tahun ini. Penggantinya adalah Prabu Kertawijaya yang masih saudara tiri Suhita. Beliau juga putra Wikrama Wardhana.&lt;br /&gt;2.    Setelah Suhita dinobatkan menjadi raja Majapahit demi perdamaian negeri, Kertawijaya membantu pemerintahan tersebut. Ketika Suhita wafat, Kertawijaya dinobatkan menjadi raja berikutnya.&lt;br /&gt;3.    Namun karena sudah termasuk tua, beliau hanya sebentar (4 tahun) memerintah Majapahit.&lt;br /&gt;4.    Ia bergelar Wijaya Parakrama Wardhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1448: Haji Gang Eng Wan (bergelar R. Arya Suganda) wafat di Tumapel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1448: Sunan Gunung Jati Lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1451-53&lt;br /&gt;Sri Rajasawardhana/ Bhre Pamotan memerintah Majapahit selama 2 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Bhre Pamotan yang bergelar Shri Rajasawardhana adalah masih putra dari Wikrama Wardhana. Jadi ia adalah masih saudara seayah Prabhustri Suhita dan Kertawijaya/ Wijaya Parakrama Wardhana.&lt;br /&gt;2.    Sebelum menjadi raja, beliau membantu kedua saudaranya dalam memerintah Majapahit. Namun Bhre Pamotan juga sudah sangat tua, sehingga hanya 2 tahun memerintah Majapahit. Pada tahun 1453 ia meninggal dunia.&lt;br /&gt;3.    Bhre Pamotan/ Rajasa Wardhana berputra Bhre Kertabhumi (kelak Bhrawijaya V). Namun karena terdapat masa vacuum Majapahit, ia akhirnya tidak bertahta, mungkin karena ia masih sangat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1453-56&lt;br /&gt;Masa Interegnum&lt;br /&gt;Majapahit Vacuum of Power&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-2395822137048379576?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/2395822137048379576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit-2.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2395822137048379576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2395822137048379576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit-2.html' title='Kesultanan Majapahit 2'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-162428206291587872</id><published>2010-02-27T08:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T08:35:14.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='herman A Ma&apos;ruf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesultanan majapahit.TOJ'/><title type='text'>Kesultanan Majapahit</title><content type='html'>HERMANUS SINUNG JANUTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJAPAHIT&lt;br /&gt;DARUSSALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Penulisan Sejarah&lt;br /&gt;Islam Jaman Majapahit&lt;br /&gt;Lembaga hikmah dan Kebijakan Publik&lt;br /&gt;PDM Kota Yogyakarta&lt;br /&gt;SEKAPUR SIRIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur kehadirat Allah SWT atas karunia kesempatan yang telah dilimpahkanNya. Dan juga berterimakasih kepada junjungan kita Gusti Kangjeng Nabi Agung Muhammad SAW yang senantiasa melimpahkan berkah dan syafaat beliau. Juga kepada seluruh leluhur tanah Jawa dan Nuswantara –baik yang tercatat dalam sejarah maupun yang tidak- yang telah rela, tulus dan ikhlas meninggalkan jejak-jejak, petunjuk-petunjuk, maupun riwayat-riwayat sejarah Islam di Nuswantara. Berkat jejak-jejak tersebut akhirnya kami para anak-cucu ini dapat melacak dan mengeksplorasi. Sekalipun untuk itu, kami harus bekerja ekstra keras. Tidak hanya itu, kami juga harus mengikuti laku leluhur untuk bekerja dengan titi, nastiti, lan ngati-ati atas sejarah Nuswantara ini.&lt;br /&gt;Tak lupa saya juga mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh rekan-rekan penulis, peneliti, dan pendukung yang terlibat dalam Tim Penulisan Sejarah Majapahit, terutama kepada Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, lebih khusus lagi pengurus Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik. Atas inspirasi, bantuan, dan dorongan beliau-beliau ini, saya akhirnya memberanikan diri menuliskan gagasan-gagasan dan temuan-temuan menarik sepanjang sejarah Islam di Nuswantara, khususnya sejarah Majapahit Darussalam.&lt;br /&gt;Mengapa Darussalam? Karena, dalam bahasa Kawi ia setara dengan istilah hadiningrat. Istilah ini sesungguhnya cukup akrab di telinga kita. Mengingat ia masih dipergunakan hingga saat ini terutama di Jawa Tengah. Misalnya Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;br /&gt;Penulisan sejarah Majapahit Darussalam ini seharusnya didahului dengan penulisan dan penelitian yang seksama di seputar masa awal Islam di Nuswantara. Yakni dari masa Gusti Kangjeng Nabi SAW masih hidup, setidaknya hingga era akhir Singasari (1292). Mungkin tulisan ini akan disusun kemudian setelah buku ini dianggap cukup untuk diterbitkan.&lt;br /&gt;Namun untuk memberikan penjelasan singkat mengenai hal ini, saya menyertakan sekelumit singkat tentang sejarah Nuswantara muslim sebelum Majapahit. Meskipun tidak secara kronologis, namun diharapkan penjelasan serba singkat itu dapat memberikan cukup penjelasan mengenai Majapahit sebagai negeri muslim Nuswantara.&lt;br /&gt;Kerja keras Tim Penyusun ini sungguh menimbulkan keheranan dan kagum dari pribadi saya. Kemauan dan tekad yang sangat gigih mendorong bapak-bapak ini untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi. Misalnya ekspedisi yang langsung menyangkut Majapahit yakni dengan melakukan kunjungan ke Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur. Mereka dengan swadana yang apa adanya -hingga pengantar ini selesai ditulis- telah berkunjung ke Trowulan sebanyak 5 kali. Bahkan sedang direncanakan untuk mengadakan ekspedisi ke Museum Nasional “Fatahillah”, Museum Uang, Museum Maritim, dan berkunjung ke Perpustakaan Nasional, serta Pusat Dokumentasi di Jakarta.&lt;br /&gt;Di samping itu bapak-bapak ini juga melakukan kunjungan kepada para akademisi dan pakar yang terkait dengan sejarah Nuswantara muslim. Antara lain berkunjung dan wawancara dengan Prof. Dr. Tulus Warsito (UMY), Prof. Dr. Damardjati Supadjar (F. Filsafat, UGM), Prof. Dr. Timbul Haryono (FIB, UGM), Prof. Dr. Ribut (FIB, UGM), Prof. Dr. Popi Romli, Dr. Andi (FIB, UGM), dll. Semuanya adalah narasumber penting dalam penulisan ini.&lt;br /&gt;Namun, demikian yang kepentingannya melampaui semua itu adalah, tekad dan niyatan suci dan ikhlas dari seluruh rekan-rekan. Dengan begitu –termasuk penulis- berharap agar buku ini dapat menjadi amal saleh dan persembahan suci/ dharmasiksa ke hadirat Allah SWT. Sehingga dengan upaya penulis yang tak berharga ini dapat memperoleh ampunan serta rahmat dari Allah SWT. Allahumma taqobbal minnaa, yaa arhamarraahimiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 5 Juni 2009 (Susunan I)&lt;br /&gt;Yogyakarta, 14 Juni 2009 (Susunan II)&lt;br /&gt;Herman Sinung Janutama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-162428206291587872?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/162428206291587872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit_27.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/162428206291587872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/162428206291587872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/kesultanan-majapahit_27.html' title='Kesultanan Majapahit'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-2436882097706470445</id><published>2010-02-27T06:04:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T06:09:39.199-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalur Sutra Laut.Majapahit. TOJ'/><title type='text'>Jalur Sutra Laut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S4knEIJsJlI/AAAAAAAAABs/zrvX422o8pg/s1600-h/1_jalursutra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 227px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S4knEIJsJlI/AAAAAAAAABs/zrvX422o8pg/s320/1_jalursutra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442924576515040850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-2436882097706470445?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/2436882097706470445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/jalur-sutra-laut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2436882097706470445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/2436882097706470445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/jalur-sutra-laut.html' title='Jalur Sutra Laut'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S4knEIJsJlI/AAAAAAAAABs/zrvX422o8pg/s72-c/1_jalursutra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-201038601651259995</id><published>2010-02-27T05:21:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T06:03:34.153-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesultanan majapahit.TOJ'/><title type='text'>Surya majapahit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S4kc5Q6IHwI/AAAAAAAAABk/1juzFY2v4eo/s1600-h/0_judul.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S4kc5Q6IHwI/AAAAAAAAABk/1juzFY2v4eo/s320/0_judul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442913394770845442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-201038601651259995?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/201038601651259995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/surya-majapahit.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/201038601651259995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/201038601651259995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/surya-majapahit.html' title='Surya majapahit'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/S4kc5Q6IHwI/AAAAAAAAABk/1juzFY2v4eo/s72-c/0_judul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-8107281761987025911</id><published>2010-02-27T05:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T05:13:55.930-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Majapahit.Geologi.Bencana Alam'/><title type='text'>Bencana alam Masa Majapahit</title><content type='html'>Pararaton 1296 Caka : Bencana “Pagunung Anyar” dan Sandyakala ning Majapahit&lt;br /&gt;Awang Harun Satyana&lt;br /&gt;Judul di atas maksudnya adalah menurut Kitab Pararaton yang diterjemahkan Brandes (1896), bahwa pada tahun 1296 Caka atau 1374 Masehi telah terjadi sebuah bencana bernama “Pagunung Anyar” yang memundurkan Majapahit, kerajaan Nusantara terbesar. Apakah bencana Pagunung Anyar ? Saya menafsirkannya, itu adalah erupsi gununglumpur ala semburan LUSI (!)&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah catatan2 saya setelah mempelajari buku2 sejarah, geologi, dan folklore yang berselang lebih dari 100 tahun penerbitannya. Dimulai dari Daldjoeni (1984, 1992) “Geografi Kesejarahan”, lalu bersambung ke depan dan ke belakang menuju Purwadi (2001) “Babad Tanah Jawi : Menelusuri Jejak Konflik”, Slamet Muljana (1968, 2005) “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara”, Slamet Muljana (1965, 2005) “Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)”, Denys Lombard (1990) “Le Carrefour Javanais”, James Nash (1932), “Enige voorlopige opmerkingen omtrent de hydrogeologie der Brantas vlakte - Handelingen van 6de Ned. Indische Natuur Wetenschappelijke Congres”, H.J. de Graaf (1949) “de Geschiedenis van Indonesie”, J. Brandes (1896) “Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit”, buku2 geologi karya Duyfjes (1936-1938) untuk pemetaan wilayah Kendeng bagian timur (“Zur geologie und stratigraphie des Kendenggebietes zwischen Trinil und Soerabaja” dan “Toelichting bij blad 115,109, 110, 116), juga karya masterpiece van Bemmelen (1949, 1972) “The Geology of Indonesia”, dan buku folklore karya James Danandjaja (1984) “ Folklor Indonesia : Ilmu gossip, dongeng, dan lain2”&lt;br /&gt;Maksud hati ingin menelusuri tulisan2 sejarah tentang kronik kejadian Bledug Kuwu di selatan Purwodadi agar bisa mencari analogi untuk kronik semburan LUSI, ternyata penelusuran buku2 di atas malahan membawa saya ke pemikiran bahwa : selain oleh alasan politik, Majapahit MUNGKIN telah mundur oleh deformasi Delta Brantas akibat rentetan erupsi gununglumpur Jombang-Mojokerto-Bangsal pada kawasan sepanjang 25 km. Mari kita lihat sisik-meliknya.&lt;br /&gt;Kita mulai dari panorama sebuah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk dan tokoh2 kerajaan sejak Mpu Sindok, Erlangga, dan para pengikutnya : Gunung Penanggungan. Gunung Penanggungan, sebuah gunung setinggi 1659 meter di utara Gunung Arjuno-Welirang, adalah gunung paling dekat ke lokasi semburan LUSI. Gunung ini terletak di sebelah selatan Sungai Porong dan masih ke sebelah selatan dari Gawir Watukosek, sebuah gawir sesar hasil deformasi Sesar Watukosek yang juga membelokkan Sungai Porong , melalui titik2 semburan lumpur panas termasuk LUSI, juga melalui gunung2 lumpur di sekitar Surabaya dan Bangkalan Madura.&lt;br /&gt;Dalam sejarah kerajaan2 Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990). Kerajaan2 yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai Brantas, kerajaan2 itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). Daerah genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Sindok dan Erlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit. Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan2 itu, maka Gunung Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. Erlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru. Penanggungan pun dijadikan tempat2 untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Erlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Erlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam2 keramat ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus2 tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.&lt;br /&gt;Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Menurut Nash (1932) – “hydrogeologie der Brantas vlakte”, Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.&lt;br /&gt;Menurut penelitian Nash pada tahun 1930, tanah Delta Brantas itu tidak stabil karena di bawahnya masih terus saja bergerak tujuh jajaran antiklin sebagai sambungan ujung Pegunungan Kendeng yang mengarah ke Selat Madura. Misalnya, pernah terjadi kenaikan tanah di sekitar sambungan (muara) Kali Brantas dengan Kali Mas; palung sungai bergeser ke kiri sehingga airnya mengalir ke barat. Setelah mengisi ledokan yang dinamai Kedunglidah (di sebelah barat Surabaya sekarang), kemudian mengalir menuju laut dan bermuara di dekat Gresik. Menurut catatan sejarah, Kedunglidah itu masih ada pada tahun 1838.&lt;br /&gt;Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 “Le Carrefour Javanais - Essai d’Histoire Globale” (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang “Prasasti Kelagyan” zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana “Banyu Pindah” dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.&lt;br /&gt;Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh). Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaan Erlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai maritim.&lt;br /&gt;Daldjoeni (1984) menulis bahwa mulai mundurnya Majapahit pada akhir tahun 1300-an mungkin bukan hanya karena sepeninggal patih Gajah Mada (1364 M) atau Raja Hayam Wuruk (1389 M), tetapi juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis yang dalam buku-buku sejarah tidak pernah ditulis. Namun, sebagai gejala alami, Kitab Pararaton mencatat hal-hal yang menarik untuk kita perhatikan. Kitab Pararaton menurut Prof. Slamet Muljana ditulis pada tahun 1613 M. Kitab Pararaton menceritakan kronik Singhasari sejak Ken Arok sampai habisnya Kerajaan Majapahit. Pararaton adalah sumber sejarah penting Majapahit di samping Negara Krtagama karangan Mpu Prapanca (Mpu Prapanca hidup sezaman dengan Gajah Mada).&lt;br /&gt;Dalam hubungan dengan kemunduran Majapahit, kitab Pararaton mencatat (Brandes, 1896: “Pararaton” terbit lagi tahun 1920 setelah diedit oleh N.J. Krom) :&lt;br /&gt;•    Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “BANYU PINDAH” (terjadi tahun 1256 Caka atau 1334 M).&lt;br /&gt;•    Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “PAGUNUNG ANYAR” (terjadi tahun 1296 Caka atau 1374 M)&lt;br /&gt;Secara harafiah, Banyu Pindah=Air Pindah, Pagunung Anyar = Gunung Baru.&lt;br /&gt;Penelitian selanjutnya (Nash, 1932) telah menemukan bukti-bukti bahwa telah terjadi berbagai deformasi tanah yang pangkalnya adalah bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang, kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung. Akhirnya gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di sebelah barat lokasi semburan LUSI sekarang). Di dekat Bangsal ada sebuah desa yang namanya GUNUNG ANYAR. Begitu juga di tempat pangkal bencana terjadi di selatan Jombang ada nama desa serupa yaitu DENANYAR yang semula bernama REDIANYAR yang berarti gunung baru.&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa nama GUNUNG ANYAR juga dipakai sebagai nama sebuah kawasan di dekat Surabaya yang sekarang menjadi terkenal dalam hubungan dengan kasus semburan LUSI sebab ternyata GUNUNG ANYAR adalah sebuah mud volcano yang membentuk kelurusan dengan LUSI.&lt;br /&gt;Nah, apakah bencana alam yang memundurkan era keemasan Majapahit yang dalam kitab Pararaton disebut bencana “Pagunung Anyar” adalah bencana-bencana terjadinya erupsi jalur gununglumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal ? Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Kalau erupsi semua gununglumpur itu sedahsyat seperti semburan LUSI sekarang, bisa dibayangkan bagaimana terganggunya kehidupan di Majapahit pada akhir tahun1300-an dan pada awal 1400-an. Serangan fatal mungkin terjadi karena rusaknya pelabuhan Canggu di dekat Mojokerto, sehingga Majapahit yang merupakan kerajaan maritim menjadi terisolir dan perekonomiannya mundur. Zaman itu, Canggu di Mojokerto masih bisa dilayari dari laut sekitar Surabaya sekarang.&lt;br /&gt;Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan LUSI, masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), yang menurut Nash (1932) di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil. Aktivitas deformasi di bagian timur Kendeng ini secara detail digambarkan oleh Duyfjes (1936) yang memetakan lembar peta 109 (Lamongan), 110 (Mojokerto), 115 (Surabaya), dan 116 (Sidoarjo) pada skala 1 : 100.000. Beberapa gambar2-nya dimuat di buku van Bemmelen (1949) yang juga mengatakan bahwa secara struktural deformasi di wilayah Kendeng bagian timur ini terjadi melalui gravitational tectogenesis sebab geosinklin Kendeng timur-Madura Strait masih sedang menurun. Kondisi elisional semacam ini tentu memudahkan piercement structures seperti mud volcano eruption. Dari geosinklin menjadi antiklinorium jelas melibatkan sebuah sistem elisional.&lt;br /&gt;Sepeninggal Hayam Wuruk, raja-raja Majapahit kurang cakap memimpin negara, banyak perang saudara, seperti Paregreg, yang melemahkan negara sampai akhirnya Majapahit musnah pada tahun 1527 M saat diserang kerajaan Islam pertama di Jawa : Demak. Suksesi tidak berjalan dengan baik, one-man show mendominasi pemerintahan selama Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tak ada regenerasi ke penerusnya. Sepeninggal pasangan Gajah Mada-Hayam Wuruk, negara melemah. Tetapi, catatan2 tak tertulis di buku sejarah, kecuali Pararaton beserta kondisi geologis-geomorfologis Delta Brantas menunjukkan, bahwa bencana alam erupsi gununglumpur ala semburan LUSI juga patut diperhitungkan sebagai penyebab kemunduran Majapahit.&lt;br /&gt;Cerita rakyat atau dongeng Jawa Timur “Timun Mas” (seperti pernah di-posting Pak Dwi-PetroChina dan kita diskusikan tahun lalu dalam hubungannya dengan semburan LUSI) berasal dari sekitar zaman Kahuripan di Delta Brantas sekitar abad ke-11 (James Danandjaja, 1984 : “Folklor Indonesia”). Kemunculan raksasa yang selalu disertai gempa, garam yang dilempar Timun Mas yang menjadi lautan, dan terasi yang dilempar Timun Mas yang menjadi lumpur panas yang akhirnya menenggelamkan sang raksasa, secara samar menggambarkan kondisi bagaimana kalau sebuah mud volcano ala LUSI meletus. Kita melihatnya sekarang, lumpur panas dan genangan seperti laut dengan air asin menengelamkan desa2 Sidoarjo yang dulunya adalah wilayah Kahuripan. Apakah dongeng Timun Mas sebenarnya menggambarkan bahwa dulu pun kasus seperti LUSI pernah terjadi ? Walahualam, tetapi penelusuran buku2 sejarah, geologi, dan folklore Timun Mas rasanya memungkinkan hal itu.&lt;br /&gt;Apakah bencana LUSI sekarang akan memundurkan Jawa Timur atau bahkan Indonesia ? Sekitar 500-600 tahun yang lalu mungkin hal yang sama telah terjadi terhadap Majapahit ! Lima ratus tahun kemudian, mestinya kini kita tak semudah itu patah diterjang bencana bukan ?&lt;br /&gt;Awang H S&lt;br /&gt;Geologist Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-8107281761987025911?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/8107281761987025911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/bencana-alam-masa-majapahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8107281761987025911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/8107281761987025911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/bencana-alam-masa-majapahit.html' title='Bencana alam Masa Majapahit'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-935807384589395582</id><published>2010-02-27T05:07:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T05:09:06.836-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam Jawa. TOJ'/><title type='text'>Islam Jawa</title><content type='html'>Islam di Indonesia: Hamemayu Hayuning Rat&lt;br /&gt;Oleh: Herman Sinung Janutama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim di Nuswantara –sejak awalnya- secara budaya sosial-politik sangat berbeda dengan negeri-negeri di Timur Tengah. Keluarga Gusti Kangjeng (GK) Nabi Muhammad SAW sangat dihormati, bahkan menjadi semangat dan inspirasi tradisi dan budaya Nuswantara. Hal ini dilakukan sebagai konsekuensi dari penghormatan terhadap GK Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Namun penghormatan ini tidak menjulang hingga mengkultuskan mereka. Apalagi sampai menghujat dan melaknat para khulafaur rasidin.&lt;br /&gt;Di Timur Tengah respon terhadap penistaan terhadap keluarga Suci GK Nabi SAW menciptakan masyarakat pemuja Imam Agung Baginda Ngali dan keluarganya . Mereka juga membalas dengan menghujat tiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) dan sahabat-sahabat GK Nabi SAW lainnya.&lt;br /&gt;Di Nuswantara tidak demikian halnya. Tiga khalifah dan para sahabat nabi tetap dihormati dan dimuliakan sebagai suri teladan. Sifat dan karakter muslim Nuswantara karenanya menjadi santun, aristokrat, dan unik. Perhatikan wejangan (dalam pupuh dhandhanggula) Sunan Kalijaga di bawah ini. Beliau adalah seorang ulama besar dan qodli (hakim syariat agama) sejak abad ke 16M di Majapahit, Demak, dan Nuswantara pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggupakaning warak sakalir&lt;br /&gt;Nadyan arca myang sagara alas&lt;br /&gt;Temahan rahayu kabeh&lt;br /&gt;Sarwa sarira ayu&lt;br /&gt;Ingideran ing widadari&lt;br /&gt;Rinekseng malaekat&lt;br /&gt;Sakhatahing rusul&lt;br /&gt;Pan dadya sarira tunggal&lt;br /&gt;Ati Adam, utekku Baginda Esis&lt;br /&gt;Pangucapku ya Musa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, bahkan hingga semua bangsa binatang. Ataupun batuan, arca, dan hutan belantara. Semuanya mendapatkan berkah dan salam. Mendapatkan hati yang indah dan suci. Yang dikelilingi para bidadari. Disaksikan para malaikat, serta sebanyak-banyak utusan Allah. Semuanya akan menyatu dalam hati sanubari. Nuraniku seperti Nabi Adam As. Pikiranku seperti Nabi Syits As. Kalamku seperti Nabi Musa As .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napasku Nabi Ngisa linuwih&lt;br /&gt;Nabi Yakub pamiyarsaningwang&lt;br /&gt;Yusup ing rupaku reke&lt;br /&gt;Nabi Dawud swaraku&lt;br /&gt;Njeng Suleman kasekten mami&lt;br /&gt;Ibrahim kang anyawa&lt;br /&gt;Idris ing rambutku&lt;br /&gt;Sayyid Ngali kulitingwang&lt;br /&gt;Abu Bakar getih daging Ngumar singgih&lt;br /&gt;Balung Baginda Ngusman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jiwaku suci seperti nabi Isa As. Penglihatanku seperti nabi Yakub As. Wajahku rupawan bagaikan Yusuf As. Suaraku indah bagaikan Dawud As. Gagah berani seperti nabi Sulaiman As. Semangat dan jiwaku dari nabi Ibrahim As. Kerapian tatanan hatiku seperti nabi Idris As. Semuanya terbungkus dalam akhlaq Imam Agung Ali bin Abithalib ra. Sifat Sayyidina Abu Bakar mengalir dalam darahku. Ketampanan Sayyidina Umar dalam dagingku. Dan ditopang kokohnya Sayyidina Utsman bin Affan ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungsumku Patimah kang linuwih&lt;br /&gt;Aminah kang bebayuning angga&lt;br /&gt;Ngayub minangka ususe&lt;br /&gt;Sakehe wulu tuwuh&lt;br /&gt;Ing sarira tunggalan Nabi&lt;br /&gt;Cahyaku ya Muhammad&lt;br /&gt;Panduluku rasul&lt;br /&gt;Pinayungan adam syara’&lt;br /&gt;Sampun jangkep sakathahing nabi wali&lt;br /&gt;Dadya sarira tunggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, Sayyidah Fathimah Az Zahra menjadi tulang sumsum hidupku. Sayyidah Siti Aminah adalah penyejuk hati. Tata cara makan sebagai Nabi Ayyub As. Sebanyak apapun bagaikan bulu yang tumbuh di kulit. Menyatu dalam hati sebagai cahaya Nabi Muhammad SAW yang menerangi hidupku. Penglihatanku semoga seperti penglihatan para rasul. Yang ternaungi oleh syariat agama. Telah genap seluruh nabi dan wali. Semoga menyatu dan membentuk sifat mulia dalam diriku .&lt;br /&gt;    Demikianlah, pandangan seorang muslim di Nuswantara. Muslim tak perlu memaki para khulafaur rasyidin, apalagi memaki keluarga Nabi Muhammad SAW. Ora elok, kata orang Jawa. Hal itu pantang dilakukan, karena tidak sesuai dengan keindahan budi pekerti, atau akhlak karimah. Karenanya, muslim Nuswantara –sejak awalnya- telah melampaui semua perdebatan, permusuhan, dan persengketaan antara mazhab Sunni-Syiah, maupun aliran-aliran lainnya di Timur Tengah. Islam di Nuswantara bukan jenis muslim epigon. Meniru dan berpura-pura seperti Timur Tengah, Barat atau China. Ia adalah genre muslim yang unik. Subhanallah wa bihamdih. Secara ekstrapolatif, religiusitas Islam di Nuswantara pantas menjadi agama dunia di masa depan. Agama yang membawa dunia kepada perdamaian dan keluhuran kemanusiaan. Hamemayu hayuning rat, begitu dituliskan dalam bahasa sansekerta, Kawi, dan Jawa Kuno.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5122876144975466938-935807384589395582?l=hangnohartono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hangnohartono.blogspot.com/feeds/935807384589395582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/islam-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/935807384589395582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5122876144975466938/posts/default/935807384589395582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hangnohartono.blogspot.com/2010/02/islam-jawa.html' title='Islam Jawa'/><author><name>Hangno Blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16502394136362475822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_QtL9EzRR-r0/Sh4cy1ZR3CI/AAAAAAAAAAM/Sl8gPX1Ka40/S220/hangno+(18).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5122876144975466938.post-1403129036735979948</id><published>2010-02-20T09:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T09:27:43.172-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herman A Ma&apos;ruf. TOJ. Majapahit.Kesultanan'/><title type='text'>Kesultanan Majapahit</title><content type='html'>HERMANUS SINUNG JANUTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESULTANAN&lt;br /&gt;MAJAPAHIT&lt;br /&gt;REALITAS SEJARAH YANG DISEMBUNYIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Penulisan Sejarah Islam Era Majapahit&lt;br /&gt;Lembaga hikmah dan Kebijakan Publik&lt;br /&gt;PDM Kota Yogyakarta&lt;br /&gt;SEKAPUR SIRIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur kehadirat Allah SWT atas karunia kesempatan yang telah dilimpahkan. Dan juga berterimakasih kepada junjungan Gusti Kangjeng Nabi Agung Muhammad SAW yang senantiasa melimpahkan berkah dan syafaat beliau. Juga berterimaksih kepada seluruh sayyid ulama leluhur tanah Jawa dan Nuswantara. Baik yang tercatat dalam sejarah maupun yang tidak. Yang telah rela, tulus dan ikhlas meninggalkan jejak-jejak, petunjuk-petunjuk, maupun riwayat-riwayat sejarah Islam di Nuswantara. Berkat jejak-jejak tersebut kami para anak-cucu ini dapat melacak dan mengeksplorasi. Sekalipun untuk itu, kami harus bekerja ekstra keras. Dan kami juga harus mengikuti laku leluhur untuk bekerja dengan titi, nastiti, lan ngati-ati.&lt;br /&gt;Terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh rekan-rekan penulis, peneliti, dan pendukung lainnya. Yang rela melibatkan diri dalam Tim Penulisan Sejarah Islam Majapahit. Terutama kepada Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Lebih khusus lagi kepada Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik atas inspirasi, bantuan, dan dorongannya. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan gagasan-gagasan dan temuan-temuan menarik sepanjang sejarah Islam di Nuswantara, khususnya sejarah Kesultanan Majapahit.&lt;br /&gt;Kesultanan, sepanjang pengertiannya memang pantas di kenakan kepada negeri Majapahit. Hal ini disebabkan oleh rajanya yang memang telah muslim sejak awalnya. Di samping itu, Majapahit juga dengan demikian adalah sebuah Darussalam. Mengapa Darussalam? Karena, dalam bahasa Kawi ia setara dengan istilah hadiningrat. Istilah ini sesungguhnya cukup akrab di telinga kita. Mengingat ia masih dipergunakan hingga saat ini terutama di Jawa Tengah. Misalnya Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Penulisan sejarah Majapahit Darussalam ini seharusnya didahului dengan penulisan dan penelitian yang seksama di seputar masa awal Islam di Nuswantara. Yakni dari masa Gusti Kangjeng Nabi SAW masih hidup, setidaknya hingga era akhir Singasari (1292). Mungkin tulisan ini akan disusun kemudian setelah buku ini dianggap cukup untuk diterbitkan.&lt;br /&gt;Namun untuk memberikan penjelasan singkat mengenai hal ini, saya menyertakan sekelumit singkat tentang sejarah Islam di Nuswantara sebelum Majapahit. Meskipun hanya sekilas, namun diharapkan penjelasan serba singkat itu dapat memberikan latar belakang bagi negeri Majapahit muslim Nuswantara.&lt;br /&gt;Kerja keras Tim Penyusun ini sungguh menimbulkan keheranan dan kagum dari pribadi saya. Kemauan dan tekad yang sangat gigih mendorong bapak-bapak ini untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi. Ekspedisi yang langsung ke situs-situs peninggalan Majapahit. Misalnya kunjungan ke Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur. Ini adalah kunjungan swadana yang apa adanya. Hingga pengantar ini selesai ditulis, komunitas Lembaga Hikmah telah berkunjung ke Trowulan sebanyak 8 kali, sejak Desember 2008. Bahkan sedang merencanakan ekspedisi ke Museum Nasional “Fatahillah”, Museum Uang, Museum Maritim, dan berkunjung ke Perpustakaan Nasional, serta Pusat Dokumentasi di Jakarta.&lt;br /&gt;Di samping itu bapak-bapak Lembaga Hikamh juga melakukan kunjungan kepada para akademisi dan pakar yang terkait. Antara lain berkunjung dan wawancara dengan Prof. Dr. Tulus Warsito (UMY), Prof. Dr. Damardjati Supadjar (F. Filsafat, UGM), Prof. Dr. Timbul Haryono (FIB, UGM), Prof. Dr. Ribut (FIB, UGM), Prof. Dr. Popi Romli, Dr. Andi (FIB, UGM), dll. Semuanya adalah narasumber penting dalam penulisan ini.&lt;br /&gt;Namun, melampaui semua itu adalah, tekad, niatan suci, dan keikhlasan dari seluruh rekan-rekan. Dengan begitu –termasuk penulis- berharap agar buku ini dapat menjadi amal saleh dan persembahan suci/ dharmasiksa ke hadirat Allah SWT. Sehingga dengan upaya penulis yang tak seberapa ini dapat memperoleh ampunan serta rahmat dari Allah SWT. Allahumma taqobbal minnaa, yaa arhamarraahimiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAWACANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALUR SUTRA LAUT YANG MENGAGUMKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebut Nuswantara berarti mengacu kepada area kepulauan pra kolonial yang menjadi cikal bakal Indonesia. Efek bola bumi mengijinkan Nuswantara ditinjau sebagai sentrum globe dunia. Menurut laporan Bilveer Singh , konferensi tahunan di Hawaii mengenai Indonesia menyangkut masalah posisinya yang sangat strategis. Nuswantara/Indonesia secara geografis terletak pada jalur perdagangan Internasional. Sekalipun saat ini kargo telah mengalami perkembangan teknologi secara mengagumkan, namun untuk kargo dalam jumlah raksasa hanya dapat dilakukan melalui lautan. Dan jalur transkontinental via lautan dari Amerika ke Eropa-Afrika hanya bisa dilakukan melalui kepulauan Nuswantara.&lt;br /&gt;Lintasan transkontinental ini tak mungkin dilakukan melalui selatan Australia atau utara Kanada. Daerah tertutup oleh lautan es. Satu-satunya lintasan hanya melalui Nuswantara. Hal ini telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu, yakni disebut sebagai Jalur Sutra Laut (dari Eropa, Timur Tengah, ke Cina). Sedangkan lintasan darat disebut sebagai Jalur Sutra Darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 1. Nuswantara sentrum dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. 2. Jalur Sutra Darat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dua jalur perdagangan purba ini menepis anggapan bahwa masa lalu manusia merupakan peradaban yang statis dan tribalis. Ia adalah peradaban dunia yang mobil dan dinamis. Jalur Sutra Darat menghubungkan Muslim Timur Tengah dengan Muslim China melalui Arab, Persia, Afganistan, melalui Pegunungan Tianshan, terus ke Qinghai, Gansu, Cang An/ Xian.&lt;br /&gt;Sedangkan Jalur Sutra Laut menghubungkan Muslim Timur Tengah, Muslim Nuswantara, dan Muslim China. Yakni melalui Teluk Parsi atau Laut Arab, melalui Teluk Bengala, lalu masuk ke Selat Malaka (Gerbang Barat Nuswantara). Dari gerbang barat Nuswantara ini terdapat dua jalur laut. Pertama, melalui Laut China Selatan, Brunai, Ma’man Allah / Manila, tiba di Guangzhou/ Hong Chu, Quanzhou, Hangzhou, Yangzhou, dll, termasuk kota pelabuhan Kanton.&lt;br /&gt;Kedua, karena Laut China Selatan termasuk lautn bergelombang besar, pelayaran dunia cenderung ke selatan melalui Palembang, Banten, Cirebon, Tuban (Majapahit), Warugasik/ Gresik (Majapahit), Watugaluh/ Surabaya (Majapahit), Banjarmasin, melalui Selat Makassar atau Perairan Maluku (Gerbang Timur Nuswantara), terus ke Ma’man Allah/ Manila hingga ke Kanton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGITIGA EMAS NUSWANTARA KARUNIA TUHAN YME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah karunia Tuhan YME kepada muslim di Nuswantara/ Indonesia. Yakni berwujud nuswa (sansekerta) atau nesos (yunani) yang artinya negeri kepulauan, negeri patirtan/ perairan. Negeri-negeri muslim di seluruh Nuswantara berada di ”segitiga emas”. Yakni dari Gerbang Barat (Selat Malaka), ke ujung Selatan di (pojok, ujung) Zawiyah/ Jawa, hingga Gerbang  Timur (Perairan Sulawesi-Maluku).&lt;br /&gt;Dengan adanya Jalur Sutra Laut, maka seluruh perdagangan dan kargo yang melintasi lautan harus memasuki perairan Nuswantara. Konsekuensinya, setiap kapal dari seluruh dunia harus berlabuh di Nuswantara. Dan mereka harus membayar beaya labuhnya itu (semacam charge). Karenanya muslim Nuswantara merupakan muslim terkaya dan paling makmur di seluruh Islamistand/ negeri-negeri muslim. Baik yang berada di Timur Tengah maupun yang berada di China. Masuk akal bila banyak pedagang asal Timur Tengah maupun asal China memutuskan untuk mukim di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Dan negeri-negeri manapun di Nuswantara adalah negeri yang mensejahterakan rakyat dan kawulanya. Mereka bebas mukim di Nuswantara di bawah raja-raja muslim ahli sufi dan tasawuf, atau imperial cult . Mereka membangun negeri-negeri yang saling bersaudara baik dalam hal agama Islam, maupun dalam arti genetik sesama keturunan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Seluruh pemimpin dan kawula di bumi Nuswantara hanya tinggal beribadah dan berbakti kepada Tuhan YME. Dinamika perdagangan Jalur Sutra Laut telah menjadikan Nuswantara negeri yang tata titi tentrem kertaraharja. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KILASAN SEJARAH ISLAM NUSWANTARA&lt;br /&gt;SEBELUM KESULTANAN MAJAPAHIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 675M, abad 7M, atau sejak 650, telah terbentuk sebuah segitiga silaturrahmi di Nuswantara, yakni antara daulat Ta Jik (Ta Ce di Swarnabhumi/ Sumatera Utara), Ho Ling (Kalingga di pesisir utara Jawadwipa)- Kanton (Kwang Tung di China Selatan). Pada era Ratu Sima bertahta di daulat Kalingga (Jepara sekarang), telah terjadi relasi silaturrahmi antara daulat-daulat muslim di Nuswantara dengan daulat muslim di China. Jaringan ini meliputi berbagai aspek kehidupan dari mulai perdagangan, pemerintahan, hingga pendidikan agama Islam . Inilah salah satu jaringan (network) yang terjalin semenjak Imam Agung Ali bin Abithalib berkelana selama sekitar 23 tahun (632-655) keluar dan di luar pusat kepemimpinan Islam dunia, kota suci Madinah, dan Timur Tengah pada umumnya.&lt;br /&gt;Saat itu Timur Tengah, khususnya di kota suci Madinah, kota suci Kuffah, dan markas pembangkang Muawiyah bin Abusufyan di Damaskus, tengah terjadi konflik politik berkepanjangan. Konflik itu telah mengakibatkan beberapa hal penting dalam sejarah muslim dunia. Pertama, berpindahnya pusat kepemimpinan Islam dunia (gingsir kedhaton) dari kota suci Madinah Munawwarah ke kota suci Kuffah di Persia (656M). Gingsir kedhaton ini dilakukan atas titah Baginda Ngali atau Imam Agung Ali bin Abithalib yang jumeneng natapandhita (bertahta sebagai Imam, sebagai sayyidin Panatagama Khalifatullah) selama 6 tahun dari 655-661M. Kelak gingsiring kadhaton Islam ini menjadi “sunnah” atau tradisi yang lazim dilakukan oleh daulat-daulat muslim di Nuswantara. Peristiwa ini terkait dengan peletakkan pondasi kosmologis purba bagi sebaran Islam -yang rahmatan lil ‘alamin- ke seluruh dunia . Lisan Jawa kuno menyebut prinsip ini sebagai “kiblat papat, kalima pancer” untuk makrokosmos. Untuk mikrokosmos, “sedulur papat, kalima pancer”. Pancer artinya sentrum/ pusat, yaitu “khalifatullah” yang memancarkan rahmat Allah ke seluruh penjuru bumi.&lt;br /&gt;Kedua, wafatnya Imam Agung Ali bin Abithalib tahun 661 di pusat kepemimpinan Islam, kota suci Kuffah di Persia. Era kepemimpinan Baginda Ali diwarnai dengan pembangkangan beberapa elit Arab terhadap kedhaton Kuffah. Beberapa peperangan internal terjadi. Misalnya perang Jamal, adalah pembangkangan Siti Aisyah bersama Tolhah dan Zubair . Siti Aisyah adalah putri Khalifah Abu Bakar, Khalifah Islam pertama (632-634). Beliau juga termasuk salah seorang janda GK Nabi Muhammad SAW. Peperangan kecil ini berakhir dengan menyerahnya Ibu Aisyah, sehingga terjadi perdamaian. Meskipun demikian dalam peperangan ini putra angkat Ibu Aisyah, Tolhah dan Zubair, wafat.&lt;br /&gt;Perang Shiffin, adalah peperangan Imam Agung Ali bin Abithalib dengan kaum pembangkang. Mereka dipimpin oleh Muawiyah bin Abusufyan. Muawiyah adalah termasuk salah seorang sahabat GK Nabi Muhammad SAW. Namun karir kepemimpinannya didasari oleh delik-delik politik semata. Bahkan tega melakukan penipuan politik terhadap Imam Agung Baginda Ngali dan sahabat-sahabat GK Nabi SAW lainnya. Kota Damaskus, markas besarnya, menjadi tempat berkumpul para petualang politik. Mereka berambisi untuk menguasai semua asset kepemimpinan Islam –sejak jaman GK Nabi SAW- yang luar biasa kaya. Damaskus juga merupakan kota besar dengan pelabuhan Libanon yang sangat ramai. Pelabuhan ini menghadap ke selat Gibraltar. Sebuah selat yanbg ramai dengan perdagangan sejak jaman kuno.&lt;br /&gt;Sementara di kota suci Kuffah berkumpul para sahabat yang ahli ibadah, para sufi, dan para pekerja ilmu. Mereka tetap bekerja dengan ikhlas meskipun dalam kondisi terjepit. Mereka harus bekerja cepat (hanya dalam tempo 6 tahun) dan sistematis, karena serbuan dan penipuan politik yang dilakukan muslim Damaskus (Damsyik). Salah satu amanat ilmiyah daulat Kuffah adalah menata sistem-sistem harakat dalam metode pembacaan Al Quran . Sulit membayangkan Alquran seperti yang dibaca muslim hari ini, tanpa penataan dan kerja keras Imam Agung Baginda Ngali dan para pekerja ilmu di Kuffah saat itu .&lt;br /&gt;Mungkin sudah menjadi takdir Allah, kerja-kerja suci dan ilmiyah selalu memperoleh tentangan keras dari para petualang politik muslim. Mereka hanya berpikir seputar kekuasaan dan kelimpahan harta benda. Mereka tak pernah mau memahami betapa penting dan krusialnya penataan ilmiyah yang dilakukan Imam Agung Baginda Ngali bagi masa depan Islam, bahkan bagi masa depan kehidupan dunia secara keseluruhan. Mereka silau dengan gemerlapnya kekuasaan dunia muslim yang terhampar mahaluas ke seantero dunia saat itu .&lt;br /&gt;Berturut-turut setelah wafatnya Imam Agung Baginda Ngali tahun 661, adalah wafatnya penerus kepemimpinan Islam dunia. Adalah Imam Hasan putra sulung Baginda Ngali di kota suci Kuffah. Setelah itu adalah wafatnya Imam Husein putra kedua Baginda Ngali di padang suci Karbala, dekat kota suci Kuffah (682M). Ketiga Imam Agung ini terbunuh oleh muslim petualang politik dan pecandu kekuasaan dari Damaskus. Bahkan pembunuhan ini telah terjadi sejak dua khalifah Islam sebelumnya. Mereka adalah Khalifah ke-2 Sayyidina Umar  bin Khaththab dan Khalifah ke-3 Sayyidina Utsman bin Affan .&lt;br /&gt;Menarik dicermati, orang-orang Yahudi dahulu membunuh nabi-nabi pemimpin agung mereka sendiri. Dan hal yang sama dilakukan muslim Arab saat itu, yaitu membunuh para Khalifah dan Imam (natapandhita dalam lisan Nuswantara), pemimpin agung mereka sendiri. Berikutnya, semenjak tahun 661M, kepemimpinan Islam dunia berbalik sifat dan karakternya. Para Khalifah dan Imam Agung sebelum itu menjadi pemimpin bagi pencerahan moral dan pengetahuan manusia, pembawa rahmat Allah ke seluruh dunia. Sedangkan kepemimpinan kuasa Arab baik Umayyah (661-1492) maupun Abbasiyyah (750-996) adalah kepemimpinan kekaisaran dunia. Capaian-capaian kuasa mereka semata bersifat politik dan penguasaan harta benda. Karakter kuasa politik dan harta benda semata ini, mengakhiri ajaran suci Islam untuk membawa rahmat suci bagi semesta alam raya. Kepemimpinan rahmatan Islam (kasih sayang), menjadi kekuasaan pedang dan kekejaman.&lt;br /&gt;Demikianlah karakter kuasa Arab yang berkembang setelah itu di sebagian dunia. Di Nuswantara berkembang kepemimpinan Islam dengan karakter yang sangat berbeda. Islam di Nuswantara sejak awal merupakan Islam yang indah dan santun. Islam yang mengutamakan kezuhudan seperti para pendeta, namun gagah berani seperti kesatriya. Kesatuan sifat jamaliyah Allah dan sifat jalaliyah Allah menyempurna menjadi sifat kamaliyah Allah. Hal ini mengingatkan kita kepada sabda GK Nabi Muhammad SAW. “Siang seperti singa, malam seperti pendeta….” . Karakter Islam demikian ini dikatakan dengan lugas oleh Panembahan Senapati  ing Alaga Mataram (1586-1601): hamemangun karyenak tyasing sesama. Islam santun yang rahmatan lil ‘alamin. Islam yang menjadi rumah tempat berteduh bagi semua hati manusia dan kemanusiaan .&lt;br /&gt;Ketiga, berakhirnya tradisi ilmiyah di Kuffah. Selama enam tahun di kota suci Kuffah, Imam Agung Baginda Ngali membangun semacam “serikat sahabat pekerja ilmu”. Serikat ini dibentuk demi membangun sistem ilmu pengetahuan dunia. Amanat ilmiyah pekerja ilmu ini menata system tanda harakat bagi aksara Al Quran sebagaimana telah dijelaskan di atas. Di samping itu yang cukup fenomenal, adalah rekonstruksi atas system dan notasi angka-angka dan huruf dari seluruh peradaban ilmiyah dunia saat itu. Kerja ilmiyah ini, membuka peluang bagi terbentuknya suatu system notasi dan angka yang dapat dipahami seluruh peradaban dunia. Tanpa upaya ilmiyah di kota suci Kuffah ini, sulit bagi kita membayangkan sebuah dunia dengan sistem angka dan aksara yang tunggal seperti sekarang.                       &lt;br /&gt;Keempat, penistaan terhadap keluarga dan keturunan Gusti Kangjeng Nabi Muhammad SAW, khususnya terhadap keluarga Sayyidina Baginda Ngali. Delik politik memalukan dan tidak senonoh ini dilakukan oleh kedua rejim Kaisar Arab baik Dinasti Umayyah maupun Abassiyah. Kaisar Umayyah berkuasa di Damaskus selama 89 tahun (661-750), kemudian di Andalusia, Eropa, selama 742 tahun (750-1492). Kaisar Dinasti Abassiyah berkuasa di Baghdad selama 250 tahun (750-1000). Mereka adalah penguasa baru dunia Islam Arab. Hal ini berlangsung hampir selama 1000 tahun di dunia Islam Timur Tengah. Mereka menghina dan mencela Imam Agung Baginda Ngali, istri beliau Sayyidah Fathimah Zahra dan putra-putra beliau seperti Imam Hasan dan Husein. Bahkan wajib menghina Imam Agung Baginda Ngali dan keluarganya serta keturunannya di mimbar-mimbar suci seperti khutbah jum’at, khutbah Idul Fithri, khutbah Idul Adha, dan khutbah-khutbah lainnya.&lt;br /&gt;Tentu saja situasi seperti ini membentuk budaya agama dan religiusitas yang tidak sehat. Secara psikologis, hal ini menjadi penyebab terjadinya was-was, histeria kolektif, dan truthphobia (takut kepada kebenaran). Mereka menjadi muslim yang keras, arogan, materialistik, dan menyukai kekejaman. Karakter yang demikian itu masih dapat kita saksikan dalam perilaku muslim di Timur Tengah hingga saat ini.&lt;br /&gt;Keempat, terjadinya eksodus duriyah Nabi dan tradisi ilmiyah Kuffah ke China (lewat Jalur Sutra Darat) dan ke perairan Nuswantara (lewat Jalur Sutra Laut). Situasi sosial budaya yang tidak sehat di Timur Tengah seperti dijelaskan di atas, mengakibatkan para durriyah dan pendukungnya harus meninggalkan Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim Nuswantara: Hamemayu Hayuning Rat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durriyah artinya keturunan GK Nabi Muhammad SAW. Terutama perkawinan keluarga Sayyid Baginda Ngali dan Sayyidah Fatimah Az Zahra. Baginda Ngali adalah sepupu GK Nabi SAW. Beliau putra pamanda Abu Thalib pamanda dan pembela GK Nabi SAW. Sementara Sayyidah Fatimah Az Zahra adalah putri bungsu GK Nabi Muhammad SAW. Di Nuswantara, khususnya Jawa, beliau juga disebut sebagai Gusti Ayu Partimah, Ibu Pertimah, Dewi Sri Pertimah, atau Dewi Sri. Budaya nasab resmi dan formalistik orang Arab sesungguhnya bersifat paternalistik. Ia tidak mengijinkan penyebutan nasab dari jalur seorang perempuan.&lt;br /&gt;Di Nuswantara, hal ini diijinkan. Nasab tidak ditinjau semata-mata formalisme dan resmi saja. Budaya muslim Nuswantara menghormati perempuan lebih dari budaya dunia manapun. Misalnya dapat disaksikan pelestarian hal ini dalam budaya maternalistik di Minangkabau. Bahkan kepemimpinan perempuan di Nuswantara juga diijinkan. Misalnya kepemimpinan Sri Ratu Sima (Kalingga, 670), Sri Ratu Pramodhawardhani (Sailendra, 833), Sri Ratu Isyanatunggawijaya putri Mpu Sendok (Watugaluh, 947), Sri Putri Nurul A’la (Perlak, 1110), Sri Ratu Galuh Candrakirana (Kediri, 1117), Sri Ratu Ken Dedes (Singasari, 1222), Sri Ratu Gayatri Rajapadni (Majapahit, 1328), Sri Ratu Tribuana Tunggadewi (Dyah Wyat Kahuripan, 1328), Sri Ratu Rajadewi (Breng Daha, 1328), Sri Ratu Pramowardhani (Majapahit, 1389), dan Sri Ratu Suhita (Majapahit, 1429). Panglima-panglima dalam peperangan melawan Kumpeni  di Nuswantara, juga lazim dilakukan oleh perempuan.  Misalnya Cut Nyak Dien (Aceh), Cut Mutia (Aceh), Martha Tyahahu (Maluku), Nyahi Ageng Serang (Yogyakarta, 1829), Panglima Gusti Ayu Jayaningrat (Madiun, 1829), dan Panglima Gusti Ayu Sri Sumirah (Yogyakarta, 1829). Dunia pergerakan pendidikan Indonesia modern juga dipenuhi oleh kepemimpinan perempuan seperti RA Kartini (Jepara, 1921), dan Ibu Dewi Sartika (Bandung, 1925).&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, budaya sosial-politik muslim di Nuswantara –sejak awal- sangat berbeda dengan negeri-negeri Timur Tengah. Keluarga GK Nabi Muhammad SAW sangat dihormati, bahkan menjadi semangat dan inspirasi tradisi dan budaya Nuswantara. Hal ini dilakukan sebagai konsekuensi dari penghormatan terhadap GK Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Namun penghormatan ini tidak menjulang hingga mengkultuskan mereka. Apalagi sampai menghujat dan melaknat para khulafaur rasidin.&lt;br /&gt;Di Timur Tengah respon terhadap penistaan menciptakan masyarakat pemuja Imam Agung Baginda Ngali dan keluarganya . Mereka juga juga balas menghujat tiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) dan sahabat-sahabat Nabi SAW. Di Nuswantara tidak demikian halnya. Penghormatan terhadap Imam Agung Baginda Ngali dan keluarga beliau tidak disertai penghujatan terhadap tiga khalifah dan para sahabat nabi. Bahkan mereka tetap dihormati dan dimuliakan sebagai suri teladan. Sifat dan karakter muslim Nuswantara karenanya menjadi santun, aristokrat, dan unik. Perhatikan wejangan (dalam pupuh dhandhanggula) Sunan Kalijaga di bawah ini. Beliau adalah seorang ulama besar dan Qadli (hakim syariat agama) di Majapahit, Demak, dan Nuswantara umumnya pada abad ke 16M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggupakaning warak sakalir&lt;br /&gt;Nadyan arca myang sagara alas&lt;br /&gt;Temahan rahayu kabeh&lt;br /&gt;Sarwa sarira ayu&lt;br /&gt;Ingideran ing widadari&lt;br /&gt;Rinekseng malaekat&lt;br /&gt;Sakhatahing rusul&lt;br /&gt;Pan dadya sarira tunggal&lt;br /&gt;Ati Adam, utekku Baginda Esis&lt;br /&gt;Pangucapku ya Musa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, bahkan hingga semua bangsa binatang. Ataupun batuan, arca, dan hutan belantara. Semuanya mendapatkan berkah dan salam. Mendapatkan hati yang indah dan suci. Yang dikelilingi para bidadari. Disaksikan para malaikat, serta sebanyak-banyak utusan Allah. Semuanya akan menyatu dalam hati sanubari. Nuraniku seperti Nabi Adam As. Pikiranku seperti Nabi Syits As. Kalamku seperti Nabi Musa As .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napasku Nabi Ngisa linuwih&lt;br /&gt;Nabi Yakub pamiyarsaningwang&lt;br /&gt;Yusup ing rupaku reke&lt;br /&gt;Nabi Dawud swaraku&lt;br /&gt;Njeng Suleman kasekten mami&lt;br /&gt;Ibrahim kang anyawa&lt;br /&gt;Idris ing rambutku&lt;br /&gt;Sayyid Ngali kulitingwang&lt;br /&gt;Abu Bakar getih daging Ngumar singgih&lt;br /&gt;Balung Baginda Ngusman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jiwaku suci seperti nabi Isa As. Penglihatanku seperti nabi Yakub As. Wajahku rupawan bagaikan Yusuf As. Suaraku indah bagaikan Dawud As. Gagah berani seperti nabi Sulaiman As. Semangat dan jiwaku dari nabi Ibrahim As. Kerapian tatanan hatiku seperti nabi Idris As. Semuanya terbungkus dalam akhlaqku yang seperti Imam Agung Ali bin Abithalib ra. Sifat Sayyidina Abu Bakar mengalir dalam darahku. Ketampanan Sayyidina Umar dalam dagingku. Dan ditopang kokohnya Sayyidina Utsman bin Affan ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungsumku Patimah kang linuwih&lt;br /&gt;Aminah kang bebayuning angga&lt;br /&gt;Ngayub minangka ususe&lt;br /&gt;Sakehe wulu tuwuh&lt;br /&gt;Ing sarira tunggalan Nabi&lt;br /&gt;Cahyaku ya Muhammad&lt;br /&gt;Panduluku rasul&lt;br /&gt;Pinayungan adam syara’&lt;br /&gt;Sampun jangkep sakathahing nabi wali&lt;br /&gt;Dadya sarira tunggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, Sayyidah Fathimah Az Zahra bagaikan sumsum hidupku. Sayyidah Siti Aminah adalah penyejuk hati. Tata cara makan sebagai Nabi Ayyub As. Sebanyak apapun bagaikan bulu yang tumbuh di kulit. Menyatu dalam hati sebagai cahaya Nabi Muhammad SAW yang menerangi hidupku. Penglihatanku semoga seperti penglihatan para rasul. Yang dinaungi oleh syariat manusiawi. Telah genap seluruh nabi dan wali. Semoga menyatu dan membentuk sifat mulia dalam diriku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Demikianlah, di Nuswantara, seorang muslim tak perlu memaki para khulafaur rasyidin, apalagi memaki keluarga Nabi Muhammad SAW. Ora elok, kata orang Jawa. Hal itu pantang dilakukan, karena tidak sesuai dengan keindahan budi pekerti, atau akhlak karimah. Karenanya, muslim Nuswantara –sejak awalnya- telah melampaui semua perdebatan, permusuhan, dan persengketaan antara mazhab Sunni-Syiah, maupun aliran-aliran lainnya di Timur Tengah. Islam di Nuswantara sejak awalnya bukan jenis muslim epigon. Meniru dan berpura-pura seperti Timur Tengah, Barat atau China. Ia adalah genre muslim yang unik. Subhanallah wa bihamdih. Secara ekstrapolatif, religiusitas Islam di Nuswantara pantas menjadi agama dunia di masa depan. Agama yang membawa dunia kepada perdamaian dan keluhuran kemanusiaan. Hamemayu hayuning rat, begitu dituliskan dalam bahasa sansekerta dan Kawi/ Jawa Kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Kuffah di Nuswantara, Mongol, dan China&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana politik di pusat kepemimpinan dunia Islam di Timur Tengah, mengakibatkan terjadinya eksodus para duriyah Nabi berikut tradisi ilmiyah Kuffah. Melalui Jalur Sutra Laut, para duriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah ini melarikan diri ke perairan Nuswantara, lalu ke Kanton (China Selatan). Sedangkan lewat Jalur Sutra Darat mereka melarikan diri ke Xin Jiang (China Barat Laut).&lt;br /&gt;Arus eksodus para duriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah ke Xin Jiang (China Barat Daya, efek Jalur Sutra Darat) dan sekitarnya ini menjadi cikal bakal bagi Islam di Mongol. Sedangkan arus eksodus duriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah ke Nuswantara lalu ke Kanton (China Selatan, efek Jalur Sutra Laut) menjadi cikal bakal Islam di perairan Nuswantara dan China. Perairan Nuswantara ketika itu meliputi Swarnabhumi utara (Pali), Swarnabhumi Selatan (Sriwijaya Malayu), Jawadwipa Kulwan (Sunda), Jawadwipa tengah dan timur (Holing/ Kalingga), dan Bakulapura atau kawasan Indonesia Tengah dan Timur sekarang.&lt;br /&gt;Masuknya para durriyah dari Timur Tengah ke Nuswantara ini sering disamakan atau disebut dengan “para pelarian dari India” atau pelarian orang “keeling/ kaling”. Demikian juga dengan para petualang dagang dari Arab sebelum GK Nabi Muhammad SAW lahir. Bangsa Arab termasuk dalam kategori orang Semit, bersama dengan bangsa Yahudi. Sedangkan bangsa India sekarang, termasuk dalam kategori orang Arya, bersama dengan bangsa Jerman, Iran, Afganistan, dll. Namun secara fisiologi umumnya mereka memiliki ciri-ciri yang hampir sama, sebagaimana umumnya orang-orang Timur Tengah. Sejarawan Gerini mencatat bahwa sekitar tahun 606 telah banyak pengikut GK Nabi Muhammad SAW yang mukin di Nuswantara. Mereka masuk melalui Barus dan Aceh di Swarnabumi utara. Dari sana menyebar ke seluruh Nuswantara hingga ke China selatan. Sekitar tahun 615 sahabat GK Nabi Muhammad SAW, Ibnu Mas’ud bersama kabilah Thoiyk, datang dan bermukim di Aceh. Mereka mendirikan kabilah Thoiyk. Catatan China menyebutnya Ta Chi atau Ta Jik. Catatan Nuswantara menyebut mereka sebagai Ta Ce atau Taceh (sekarang Aceh). Sekitar tahun 670 kepemimpinan durriyah di Jawadwipa berdiri dengan munculnya Sri Ratu Sima dari Kalinggawangsa (Jepara, Jawa Tengah). Mereka bisa jadi adalah para duriyah pelarian Timur Tengah yang mukim di Jawadwipa. Mereka juga disebut dari “keling”. Tahun 800, datang rombongan pelarian Timur Tengah ke Taceh. Mereka berjumlah sekitar 100 orang yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah. Semua muslim di Swarnabumi utara ini kemudian membentuk kerajaan Perlak. Yakni dari nama kayu peureula (sejenis kayu jati) yang sangat baik untuk bahan pembuatan kapal waktu itu. Dan mereka menamakan pelabuhan internasional di Perlak waktu itu sebagai Bandar Khalifah. Jadi jika di Timur Tengah berdiri kepemimpinan rejim Arab berupa Dinasti Umayyah dan Abassiyah, maka “Nakoda Khalifah” atau kepemimpinan khalifatullah fil ard, sayyidin panatagama, berdiri kokoh di Nuswantara .&lt;br /&gt;Percampuran para durriyah dengan orang-orang Nuswantara melestarikan genetika GK Nabi Muhammad SAW dan keluarga suci beliau. Hampir semua orang Nuswantara sekarang ini keturunan GK Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian mereka juga keturunan keluarga Imam Agung Baginda Ngali dan Sayyidah Fathimah Az Zahra. Di samping itu, dari uraian di atas tradisi Islam di Nuswantara merupakan kelanjutan dari tradisi para sahabat, ahli ibadah, para sufi, dan juga budaya ilmiyah dari kota suci Kuffah. Hanya saja bahasa yang digunakan adalah bahasa dan tradisi sansekerta, kemudian Melayu kuno, dan Jawa kuno.&lt;br /&gt;Tradisi ilmiyah Kuffah di Timur Tengah melanjutkan diri dengan menerjemahkan buku-buku dari hampir seluruh budaya dunia ke dalam bahasa Arab. Misalnya menerjemahkan buku-buku karya Plato dari Yunani. Orang-orang Eropa kelak kemudian, memahami bahasa Yunani dari buku-buku terjemahan bahasa Arab ini. Jadi mereka tidak langsung mengenal bahasa Yunani seperti citra yang terjadi sekarang. Di Nuswantara, tradisi Kuffah ini melanjutkan diri juga dengan menerjemahkan buku-buku dari berbagai budaya dunia ke dalam bahasa Jawa Kuno atau Melayu Kuno. Misalnya penerjemahan Kakawin Ramayana karya Walmiki dari bahasa sansekerta ke bahasa Jawa kuno oleh seorang ulama Mdang Poh Pitu bernama Mpu Yogiswara (Sanjayawangsa, 900).&lt;br /&gt;Fenomena unik yang khas Islam Nuswantara (kelanjutan dari tradisi ilmiyah di Kuffah) berikutnya adalah berdirinya universitas-universitas agama Islam. Khalifah dan para ulama durriyah di Swarnabhumi utara (Perlak) mendirikan universitas Islam Dyah Bukit de Cerek (840) dan Dyah Cotkala (850). Mereka didirikan untuk mengembangkan ajaran dan tradisi ilmiyah Islam di Nuswantara. Fenomena unik ini terjadi bahkan sebelum muncul tradisi sekolah di Andalusia dan Baghdad. Di Jawadwipa pengajaran dilakukan para ulama dengan membangun monumen-monumen berupa candi yang merupakan teks simbolik ajaran Islam sebagai pembawa rahmat ke seluruh alam raya. Hal ini kemudian juga diajarkan kepada durriyah di Champa sekitar abad 10. Sri Sultan Jayawarman (990) dari Champa ketika muda sempat belajar membuat candi ke kesultanan Sriwijaya, di Malayu, Swarnabumi Selatan. Tahun 730, seluruh Swarnabhumi/ Sumatera telah menjadi daulat-daulat Islam. Sri Sultan Jayawarman juga belajar Islam dan teknologi candi di Jawadwipa selama kurang lebih 2 tahun. Di samping itu di Jawa (Timur) di sekitar Warugasik-Watugaluh kelak kemudian berdiri Madrasah Giri .&lt;br /&gt;Struktur budaya sansekerta adalah budaya simbol, maka menjadi penting bagi para ulama durriyah saat itu untuk mempelajari dan menggunakan pranata simbol demi mensosialisasikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Hal ini harus dilakukan demi menetapi dhawuh atau titah GK Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan risalah Islam secara “bi lisani qoumihi”. Menyesuaikan dengan dinamika tradisi dan budaya sesuai konteks peradabannya.&lt;br /&gt;Karenanya sungguh mengherankan jika di kalangan dunia Islam saat sekarang ini, ada upaya-upaya untuk memaksakan Arabisasi sebagai satu-satunya pola pengajaran Islam. Hal ini sudah tentu bertentangan dengan dhawuh GK Nabi Muhammad SAW di atas. Konteks social budaya Islam demikian itu diperburuk dengan upaya-upaya pelarangan penggunaan symbol-simbol, dengan alasan rasionalitas konvensional. Tentu saja hal ini membuat muslim modern di Nuswantara terputus dengan konteks sejarahnya. Mereka tak lagi mampu membaca budayanya sendiri. Mereka menjadi “tuna budaya” dan terjauhkan dari sejarahnya. Sungguh besar efek dari kondisi social budaya Islam modern hari ini. Mereka menjadi masyarakat yang gagal. Gagal menjadi diri mereka sendiri, gagal memahami diri sendiri, gagal melakukan introspeksi, dan gagal merencanakan masa depan.&lt;br /&gt;Kegagalan di atas menyudutkan muslim modern kepada pragmatisme akut. Mereka menjadi pemuja keberhasilan material, harta benda, dan kuasa politik. Semua itu menjadi satu-satunya orientasi hidup dan seluruh gerak kehidupannya. Inilah semangat dan inspirasi hidup muslim modern saat ini yang “sama dan identik” dengan orientasi hidup kaum materialis, sekuler, dan tanpa iman. Dalam kebutaan cultural seperti itu maka ruh “amal perjuangan” berubah menjadi radikalisme, terorisme, dan anarkisme. Semua kehilangan aspek kesuciannya karena semata berlandaskan rasa iri, dengki, dan dendam kesumat, lantaran kalah dalam perebutan gemerlapnya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mongol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, arus eksodus duriyah Nabi SAW dan tradisi ilmiyah dari kota suci Kuffah yang melalui Jalur Sutra Darat, menjadi cikal bakal Islam di Mongol, membentuk tradisi Kerajaan Islam Mongol. Semenjak Jengis Khan, Mongol sudah menjadi imperium Islam di Asia Tengah. Imperium ini memuncak pada abad 10 dan 11. Yakni ketika Hulagu, Pangeran Muslim Mongol, membumihanguskan Baghdad (996). Beliau saat itu menggunakan slogan-slogan sebagai “Pembawa Bencana dari Allah untuk Menghukum Para Pendosa (Baghdad)”. Karena dinasti Kaisar Abassiyah Baghdad, selama 3 abad telah menjadi penguasa (Islam) yang tiran, kejam, dan penista duriyah Nabi SAW.&lt;br /&gt;Kesamaan latar sejarah ini juga menjelaskan kepentingan kunjungan utusan Imperium Mongol ke Singasari. Yaitu ketika jaman Sri Sultan Kertanegara (1268-1292) bertahta di Singasari. Kunjungan I Khubilai Khan, Kaisar Mongol, mengutus Meng Chei. Kunjungan II, setahun kemudian, mereka mengutus Shieh Pie, dkk. Namun fenomena histories ini masih memerlukan penelitian lebih jauh. Kelak kemudian tahun 1408 Laksamana Muhammad Ceng Ho meminta maaf atas kesalahpahaman mendiang Kubilai Khan Sultan Mongol, kepada Sri Ratu Suhita di Daha, Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuswantara-China&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus eksodus duriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah dari Timur Tengah ini menjadi latar belakang histories terjadinya “segitiga silaturrahmi” Tajik/Taceh-Kalingga-China/ Champa. Dan relasi silaturrahmi ini akan terus terjalin secara harmonis di Nuswantara berabad-abad kemudian. Bahkan jaringan  kekerabatan antar durriyah ini membentuk negeri perairan muslim duriyah yang disebut Nuswantara. Penataan, penjagaan, dan pengamanan terhadap kawasan muslim duriyah di segitiga Nuswantara (hingga China) ini sering dan terus menerus dilakukan. Bisa jadi untuk mengantisipasi kedatangan armada kaisar Dinasti Umayyah (Andalusia, Spanyol sekarang) dan kaisar Dinasti Abassiyah (Baghdad). Di jaman Khalifah Utsman (645-655), Muawiyah bin Abusufyan dititahkan Khalifah membentuk Armada Maritim Khalifah Islamiyah di Damaskus. Muawiyah bin Abusufyan diangkat menjadi Al Amirul Bahr (atau Admiral dalam lisan Eropa). Namun setelah Khalifah Utsman wafat, armada ini tidak lagi dipergunakan untuk kepentingan Islam, melainkan untuk kepentingan kuasa politik kaisar Muawiyah.&lt;br /&gt;Demikian halnya setelah tahun 750, berdirinya Dinasti kaisar Abbasiyah di Baghdad menjadi pesaing politik dinasti kaisar Umayyah. Secara maritim kaisar Abassiyah juga membangun armada untuk kepentingan kerajaannya. Namun tabiat politiknya sama dengan dinasti Umayyah. Ia juga yaitu menistakan keluarga suci GK Nabi Muhammad SAW, khususnya keluarga Imam Agung Baginda Ngali. Mereka juga menghujat keluarga GK Nabi SAW dan keluarga Baginda Ngali dalam khutbah-khutbahnya. Dua daulat politik ini menjadi ancaman bagi kepemimpinan durriyat di Nuswantara. Namun kepemimpinan durriyat  di Nuswantara diuntungkan fakta sejarah, bahwa mereka kemudian lebih direpotkan oleh peperangan menghadapi Eropa dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspedisi Maritim Internal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, secara historis tercatat ekspedisi-ekspedisi maritim dari sultan-sultan muslim di Nuswantara/ Jawa. Semuanya bertujuan menjaga silaturrahmi dan keamanan perairan Nuswantara. Hal ini terus berlangsung selama kurun 1000 tahun (sekitar tahun 800 sampai 1800).&lt;br /&gt;Tahun 840, abad 9M, berdiri Kesultanan muslim duriyah-Kuffah di Perlak, Aceh sekarang, di sisi barat Selat Malaka. Kerajaan ini merupakan kebangkitan kepemimpinan para duriyah-Kuffah di dunia Islam. Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak adalah keturunan duriyah-Kuffah sejak jaman Tajik tahun 650. Gelar “Saiyidin Maulana” secara jelas menunjukkan identitas duriyahnya.&lt;br /&gt;Kemudian tahun itu juga Bandar Perlak berganti nama menjadi Bandar Khalifah. Pergantian nama ini seakan mengumumkan kepada dunia Islam bahwa Pelabuhan dan negeri Perlak di Nuswantara adalah kekhalifahan yang sesungguhnya. Kepemimpinan Islam dunia dari para durriyah Nabi SAW yang meneruskan Imamah dan Nubuwah. Di sisi lain, bandar ini sangat strategis karena merupakan gerbang (Selat Malaka) memasuki perairan Nuswantara-China.&lt;br /&gt;Kepemimpinan duryah-Kuffah di Nuswantara ini juga membangun Universitas Islam non-Timur Tengah pertama di dunia. Yaitu Universitas Islam Dyah Bukit de Cerek di Perlak Tunong dan Universitas Islam Cotkala di Perlak Baroh. Kepemimpinan muslim di Swarnabhumi utara ini dipegang oleh dua keluarga duriyah-Kuffah, yaitu keluarga Azizah dan Makhdum. Universitas ini –dan juga universitas Islam lainnya di Nuswantara- kelak menjadi tempat menimba ilmu para ulama dan pelajar dari mancanegara.&lt;br /&gt;Tahun 947, abad 10M, Sri Baginda Sultan Sendok  (Mpu Sendok, duriyah turunan dari Ratu Sima, Kalingga) membentuk kota Watugaluh bersama turunan keluarga duriyah Makhdum dari Perlak. Kolaborasi duriyah Isyana -Makhdum ini mengembangkan pelabuhan Warugasik/ Gresik  dan Watugaluh  menjadi pelabuhan internasional di Jalur Sutra Laut.&lt;br /&gt;Kolaborasi dua keluarga duriyah ini (Isyana-Makhdum) yang juga symbol kekerabatan Jawadwipa-Swarnabhumi kelak menurunkan sultan-sultan yang ulama (satriya pinandhita). Mereka adalah sultan-sultan di Jawadwipa seperti kesultanan Kahuripan, Kadhiri, Singhasari, Majapahit, Demak, Cirebon (dari turunan Sunda), Pajang, Mataram, hingga Yogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sekarang.&lt;br /&gt;Di samping itu mereka juga menurunkan trah ulama “pangemban praja” (pandhita sinatriya). Keturunan Isyana menjadi para Sunan atau Wali tanah Jawi seperti Sunan Giri. Dan trah Makhdum seperti Kyahi Ageng (Syekh Al akbar) Hibatullah Makhdum, Kyahi Ageng Maimun Makhdum, Kyahi Ageng Abu Kasan (suami Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, wafat 1082), Syekh Ngali Syamsu Zein ,  bahkan kelak menurunkan para Sunan/ Wali tanah Jawi seperti Sunan Ngampel, Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Sunan Drajat, dll.&lt;br /&gt;Singkatnya, duriyah Nabi SAW di Nuswantara membentuk pasangan “priyagung/ priyayi agung” tanah Jawa/ Nuswantara, yakni jalur Janandaru atau satriya pinandhita, atau raja-pemerintah ulama. Dan jalur Dewandaru atau ulama pangemban praja . Pasangan priyayi agung demikian inilah yang disebut oleh peneliti anthropolog politik asal USA, Prof. Dr. Mark Read Woodward , sebagai imperial cult. Kelak kepemimpinan sultan dan ulama di nagari Kedhiri (1117-1222) menjadi ahli waris dari imperium Islam besar Isyana-Makhdum dengan aset pelabuhan internasional (Jalur Sutra Laut selatan) Warugasik (Gresik sekarang) dan Watugaluh (Ngampel, Surabaya sekarang).&lt;br /&gt;Tahun 996-1006, abad 11M, Sri Sultan Dharmawangsa Teguh penerus duriyah dari Isyanawangsa melakukan ekspedisi ke selat Malaka. Beliau memerintah di Watugaluh, Jawadwipa Timur. Ekspedisi ini bisa jadi untuk pengamanan perairan duriyah-Kuffah Nuswantara. Di samping itu beliau juga memblokade pelabuhan Palembang (Sriwijaya) untuk menyelenggarakan musyawarah perdamaian “sesama duriyah-Kuffah” baik dari Kesultanan Perlak, Kesultanan Sriwijaya, maupun Kesultanan Jawadwipa. Kesultanan di Perlak waktu itu sedang terjadi pertikaian sengit antara Perlak Baroh (keluarga Azizah) dengan Perlak Tunong (keluarga Makhdum).&lt;br /&gt;Kedaulatan Sri Sultan Dharmawangsa Teguh di Watugaluh saat itu didukung oleh keluarga besar duriyah dari Gusti Ayu Fatimah binti Maimun dan suami beliau Kyahi Ageng Sayyid Abu Kasan. Paman Fatimah (adik Kyahi Ageng Maimun Makhdum) yang bernama Kyahi Ageng Sayyid Muhammad Saleh adalah menantu Sultan Perlak saat itu, yakni SMAM Ibrahim SJB (976-1012). Sri Sultan Dharmawangsa Teguh sendiri memiliki permaisuri putri Perlak . Bahkan hampir semua sultan di Jawadwipa hampir bisa dipastikan memiliki permaisuri putri keturunan durriyat Malayu dan atau Perlak. Hal itu terdapat dalam catatan-catatan mengenai sultan-sultan Sunda, Medang Poh Pitu (Gresik), Kahuripan, Kediri, Singhasari, Majapahit, bahkan sampai Mataram, Ngayogyakarta, dan Surakarta Hadiningrat sekarang ini.&lt;br /&gt;Tahun 1042, Watugaluh pusat pemerintahan Isyanawangsa (Mdang ) berganti nama menjadi kesultanan Kahuripan dengan pusat kepemimpinan di kota Wutan Mas. Yang bertahta saat itu adalah Sri Sultan Airlangga. Beliau membangun Kota Wutan Mas, membangun Pelabuhan Watugaluh, memperbaiki pelabuhan Kambang Putih di Tuban. Singkatnya, Jawadwipa mencapai salah satu masa keemasannya di kala itu. Hal ini kelak juga diwariskan kepada Kadhiri/ Panjalu di Daha/ Dahanapura.&lt;br /&gt;Tahun 1117, abad 12M, Sri Sultan Kamesywara (Bamesywara, 1117-1130) cucu Sri Sultan Airlangga di Jenggala/ Wutan Mas, Kahuripan, menikah dengan Putri Candrakirana. Putri Galuh Candrakirana. Gusti Ayu Galuh Candrkirtana ini juga cucu Sri Sultan Airlangga dari Daha/ Dahanapura, Kedhiri Panjalu. Pernikahan ini menyatukan kembali negeri Kedhiri (semula Kahuripan) dari era palihan nagari  tahun 1049 (menjadi Jenggala/ Kahuripan dan Daha/ Kedhiri). Kesultanan Islam warisan Sultan Airlangga ini  kembali mencapai era kejayaan dan kemakmuran bagi kawula muslim Jawa. Kesultanan ini berpusat di Kedhiri Panjalu dengan pusat kepemimpinan di Daha atau Dahanapura. Kemakmuran Kedhiri Panjalu demikian ini kemudian dilanjutkan oleh Sang Prabu Sri Sultan Jayabaya. Beliau adalah adik  dari Sri Sultan Kamesywara atau Bamesywara.&lt;br /&gt;Sri Sultan Kamesywara dan Permaisurinya, terkenal sebagai pasangan legendaris dalam cerita Raden Inu Kertapati dan Dewi Galuh Candrakirana. Mereka juga dusebut sebagai Pangeran Panji Semirang Asmarataka dan Putri Galuh Candrakirana dalam Serat Smaradhana. Serat ini dituliskan oleh seorang ulama Kedhiri bernama Mpu Dharmajaya. Adik beliau, Sang Napanji Sri Sultan Jayabhaya ketika jumeneng nata (bertahta) terkenal dengan karya Serat Jangka Jayabaya atau Nubuwwah Al Islamiyyah (dalam bahasa arab). Kemakmuran dan tradisi intelektual Islam seperti ini menjadi latar kejayaan kesultanan Majapahit.&lt;br /&gt;Tahun 1270, abad 13M, Sri Sultan Kertanagara dari kesultanan Singasari (semula Kedhiri Jenggala) melakukan pengamanan dan silaturrahmi ke seluruh Nuswantara, terutama sekitar selat Malaka. Ekspedisi itu disebut sebagai Pamalayu. Beliau bersilaturrahmi ke Malayu atau Sriwijaya di Swarnabhumi Selatan (Jambi dan Palembang sekarang) dan Champa (Thailand, Vietnam, dll). Permaisuri Kertanegara adalah duriyat dari Malayu/ Swarnabhumi. Adik perempuan Sri Sultan Kertanegara bahkan diboyong hijrah ke Mekah untuk naik haji dan diperistri Syarif Mekah saat itu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan Kesultanan Majapahit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1328, abad 14M, Mahamantri Gajahmada (Gajah Ahmada?) menjalankan ekspedisi Palapa atas seluruh wilayah kepemimpinan durriyat antara Nuswantara dan China. Ekspedisi silaturrahmi ini atas titah Ratu muslim Majapahit Rajapadni, Sri Ratu Tribhuana WTW, dan Prabu Sri Sultan Hayam Wuruk (hayyun wara’= hidup prihatin, apa adanya, sederhana).&lt;br /&gt;Di samping itu Sri Sultan Hayam Wuruk sendiri melakukan silaturrahmi ke wilayah-wilayah internal di Majapahit. Hal mana dicatat dalam Kitab Nagarakertagama. Secara letterlijk Negarakertagama searti dengan madinah dalam bahasa arab. Negarakertagama atau madinah berarti negeri tempat agungnya kemuliaan agama. Era Majapahit ini kepemimpinan durriyah Nabi SAW termasuk mengalami salah satu kejayaannya lagi di Nuswantara.&lt;br /&gt;Silaturrahmi dan pengamanan perairan kepemimpinan duriyyah di Nuswantara oleh Mahamantri Gajahmada ini memperoleh banyak dukungan. Dukungan itu antara lain dari Laksamana Hang Tuah (Selat Malaka), dari Adipati Adityawarman (Pelabuhan Palembang), dan dari Mahapatih Mpu Nala (lautan timur Nuswantara). Mereka bersama-sama menjaga gerbang maritim dan lautan Barat Nuswantara.&lt;br /&gt;Tahun 1405, abad 15M, giliran Laksamana Muhammad Cheng Ho bersilaturrahmi ke seluruh wilayah durriyah di Nuswantara, bahkan sampai ke Mekkah. Nama lengkapnya dalam lisan arab adalah Muhammad Husen bin Ali (Ma Ho Sen Li). Jadi beliau adalah keturunan Ma atau GK Nabi Muhammad SAW, Nabi dan Rasulullah Agung. Saat itu secara teoritik syarif Mekkah dijabat oleh Syeh Hassan II. Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho juga membangun ratusan mesjid di wilayah kepemimpinan para durriyah ini. Termasuk pembangunan masjid-masjid di wilayah Majapahit saat itu. Jadi menurut catatan terdapat banyak sekali masjid di Majapahit. Ia terdapat di hampir setiap kadipaten Majapahit. Semua ini atas prakarsa Kaisar Yung Lo (1403-1424), dan Kaisar Hsuan Te (1425-1436). Mereka adalah para kaisar muslim dari Dinasti Ming di China. Ketika Laksamana Muhammad Cheng Ho wafat, seluruh umat Islam Majapahit/ Nuswantara melakukan shalat ghaib di masjid-masjid yang telah didirikan Cheng Ho, baik di seluruh Majapahit dan di  seluruh Nuswantara. Namun ratusan masjid ini bisa jadi telah lapuk dan musnah karena terbuat dari kayu. Atau telah dipugar menjadi bangunan masjid modern. Namun beberapa masjid era Majapahit masih dapat kita jumpai, misalnya di daerah Majenang dan Karanganyar, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Tahun 1481, adalah era Sunan Gunung Jati/ Pangeran Syarif Hidayatullah (1448-1578), putra Syarif Mekkah Syeh Barakat I (1425-55) dan Gusti Ayu dari kesultanan Sunda. Beliau bermarga Al Atthas atau Alatas. Beliau dinobatkan tahun itu sebagai Imam Agung bagi kepemimpinan para duriyah di Nuswantara atau bahkan dunia muslim internasional. Beliau bergelar “Gusti Kangjeng Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala Sayyidin Panatagama”. Beliau berkraton di Masjid Ciptarasa, Cirebon. Sementara itu, dunia Islam di seluruh Timur Tengah sudah powerless (tak lagi memeiliki kuasa) akibat Perang Salib (1130) dan runtuhnya Granada di Andalusia (1492).&lt;br /&gt;Beliau juga menobatkan Raden Patah, atau Pangeran Jinbun, atau Raden Sayyid Kasan Al Akbar, menjadi Panglima Armada Sabilillah Laut di pelabuhan Majapahit, Demak Bintara. Beliau bergelar Syah Alam Akbar I. Kepemimpinan atas Armada Sabilillah Majapahit di Demak Bintara ini terus bergulir hingga Syah Alam Akbar Tsaniy (II, Sayyid Adipati Yunus Al Idrus). Kemudian berlanjut dengan Syah Alam Akbar III, yaitu Sayyid Raden Trenggana Al Akbar, dan lalu Syah Alam Akbar IV, yaitu Sayyid Sunan Prawata Al Akbar.&lt;br /&gt;Khalifah Rasulullah Syarif Hidayatullah juga memprakarsai ekspedisi Perang Sabilillah Armada Majapahit di Demak Bintara ke Selat Malaka (1521). Ekspedisi Selat Malaka abad 16M ini demi menyelamatkan gerbang Maritim Nuswantara dari serbuan Kumpeni Portugis (tahun 1512 mereka berhasil menduduki Malaka). Peperangan sabilillah di Selat Malaka ini, membawa Syah Alam Akbar Tsaniy atau Adipati Yunus Al Idrus ke gerbang syahid. Perang sabilillah ini, kelak terus menerus berlanjut dengan peperangan sabilillah berikutnya di tanah Jawa/ Nuswantara. Bahkan tidak pernah berhenti selama kaum kolonial bercokol di Nuswantara.&lt;br /&gt;Buku sederhana ini akan memperjelas diskusi mengenai Majapahit ini. Yakni rentang waktu antara abad 13 sampai 16. Salah satu era keemasan kepemimpinan Islam di Nuswantara. Namun untuk kelengkapan latar belakang, narasi dan deskripsi mengenai kilasan sejarah Islam di Nuswantara akan dilanjutkan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Tahun 1613-1645, abad 17M, adalah era kepemimpinan durriyah Nuswantara dibawah Yang Mulia Sultan Agung Hanyakrakusuma. Secara nasab, beliau keturunan durriyat dari Sayyid Abdurrahman atau Kyahi Ageng Selo . Sultan Agung Hanyakrakusuma juga bergelar Maulana Mataram Abdul Muhammad Sultan Matarami. Tahun 1627-1629 beliau menitahkan peperangan sabilillah Mataram menggempur Batavia dari cengkeraman JP Coen. Beliau menggempur Batavia sekaligus untuk mengenang dan memuliakan 100 tahun berdirinya kesultanan Islam  Jayakarta (sebelum menjadi Batavia), yaitu tahun 1527.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Majapahit: Peperangan Sabilillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Andalusia runtuh (1492), daulat-daulat durriyah di Nuswantara menjadi sasaran utama kolonialisme. Dinasti Abassiyah telah lama runtuh (1006). Dinasti-dinasti arab kemudian hanya menjadi kerajaan-kerajaan kecil di Timur Tengah. Mereka mudah ditaklukkan karena mudah sekali tersulut konflik internal dan perpecahan. Sementara daulat-daulat durriyah di Nuswantara terbentengi oleh luasnya perairan laut yang gerbangnya terletak di Selat Malaka.&lt;br /&gt;Di atas telah dijelaskan bahwa Khalifah Rasulullah Syarif Hidayatullah memprakarsai ekspedisi Perang Sabilillah Armada Majapahit ke Selat Malaka (1521). Pangkalan armada tempur ini terletak di Demak Bintara. Peperangan armada sabilillah laut Majapahit ini demi menyelamatkan gerbang maritim Nuswantara dari serbuan Kumpeni Portugis (tahun 1512 mereka berhasil menduduki Malaka). Sabilillah laut ini, membawa Adipati Yunus Al Idrus ke gerbang syahid. Perang sabilillah kelak akan terus menerus berlanjut selama kaum kolonial bercokol di Nuswantara.&lt;br /&gt;Kumpeni tidak pernah mengakui kekalahannya di selat Malaka ini. Namun fakta sejarah menunjukkan, bahwa berkat perang agung sabilillah lautan ini, kumpeni portugis urung memasuki area selatan perairan Nuswantara. Mereka tidak berani ke perairan Jawa. Mereka meluaskan wilayah jajahannya ke timur, yaitu ke perairan Maluku.&lt;br /&gt;Tahun 1613-1645, abad 17M, daulat durriyah Nuswantara dalam kepemimpi
